BAB II PENGATURAN PENGURUSAN DAN PEMBERESAN
B. Tugas Dan Wewenang Kurator Dalam Kepailitan
Pertama sekali sebelum membahas tugas dan wewenang kurator tujuan utama kepailitan adalah untuk melakukan pembagian antara para kreditor atas kekayaan debitor pailit oleh kurator. Kepailitan dimaksud untuk menghindari terjadinya sitaan terpisah atau eksekusi terpisah oleh kreditor dan menggantinya dengan mengadakan sistem bersama sehingga kekayaan debitor dapat dibagi kepada semua kreditor sesuai dengan hak masing masing.97
97Elvira Dewi Ginting, Analisis hukum mengenai reorganisasi perusahaan dalam hukum kepailitan,(Medan: Usu Press, 2010), hal. 12.
Kurator pada pokoknya bekerja sama dengan hakim pengawas. Pada pengurusan harta pailit hakim pengawas melakukan pengawasan terhadap pengurusan dan pemberesan harta pailit yang berwenang untuk mendengar keterangan saksi atau memerintahkan penyelidikan oleh para saksi untuk memperoleh kejelasan tentang segala hal mengenai kepailitan. Menurut Pasal 66 UU No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan PKPU yang intinya sama dengan ketentuan 64 Failissementsverordening. Pengadilan wajib mendengar pendapat Hakim Pengawas, sebelum mengambil suatu keputusan mengenai pengurusan atau pemberesan harta pailit, sedangkan Kurator menurut ketentuan Pasal 70 Ayat (1) UU No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan PKPU, kurator yang dimaksud adalah Balai Harta Peninggalan dan kurator lainnya, yang dapat menjadi kurator adalah:
a. Perorangan atau persekutuan perdata yang berdomisili di Indonesia, yang memiliki keahlian khusus yang dibutuhkan dalam rangka mengurus dan membereskan harta pailit; dan
b. telah terdaftar pada kementrian yang lingkup tugas dan tanggung jawabnya di bidang hukum dan peraturan perundang-undangan (Pasal 70 Ayat (2) UU No.37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan PKPU).
Kurator merupakan lembaga yang diadakan oleh undang-undang untuk melakukan pemberesan terhadap harta pailit. Dalam setiap putusan pailit oleh pengadilan, maka didalamnya terdapat pengangkatan kurator yang ditunjuk untuk melakukan pengurusan dan pengalihan harta pailit dibawah pengawasan hakim pengawas.98Setelah debitor dinyatakan pailit oleh pengadilan, debitor pailit tersebut demi hukum tidak berwenang melakukan pengurusan dan/ atau pengalihan terhadap harta kekayaannya yang sudah menjadi harta pailit.
98M. Hadi Shubhan, Op.Cit, hal. 108.
Kuratorlah yang melakukan segala tindakan hukum baik pengurusan maupun pengalihan terhadap harta pailit, dibawah pengawasan hakim pengawas. Dari proporsi ini , maka tampak bahwa kurator sangat menentukan terselesaikannya pemberesan harta pailit. Karena itu, undang-undang sangat ketat dan rinci sekali memberikan kewenangan apa yang dimiliki oleh kurator serta tugas apa saja yang harus dilakukan kurator.99
Kurator diajukan oleh debitor atau kreditor pailit. Dalam hal debitor atau kreditor Pailit tidak mengajukan usulan ke pengadilan untuk pengangkatan kurator, maka Balai Harta Peninggalan yang akan ditunjuk sebagai kurator.100 Pengangkatan kurator termuat dalam Putusan Pernyataan Pailit,101Kurator yang diangkat harus independen, tidak memiliki benturan kepentingan dengan debitor atau kurator dan tidak menangani lebih dari tiga (3) perkara Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU).102
Pencantuman sanksi pidana dalam Pasal 234 ayat (2) menunjukkan Undang-Undang Kepailitan tidak main-main dengan mencantumkan ketentuan kurator harus indenpenden. Namun demikian, Undang-undang Kepailitan maupun penjelasannya juga tidak benar-benar konsisten dalam pencantuman sanksi pidana ini, karena sama sekali tidak ada menyebutkan bentuk-bentuk sanksi yang dapat dikenakan kepada kurator yang terbukti tidak independen, demikian juga dalam
99Ibid.
100Pasal 15 Ayat (2), Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang.
101Pasal 15 Ayat (1), Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang.
102Pasal 15 Ayat (3), Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang.
peraturan-peraturan pelaksana Undang-undang Kepailitan juga tidak ada satu ketentuan pun yang menyinggung mengenai hal ini.103
Adapun tugas dan wewenang yang dirinci lebih lanjut penting bagi kurator sebagaimana diamanatkan undang-undang adalah antara lain sebagai berikut, bahwa kurator berhak menerima salinan putusan permohonan pernyataan pailit dari pengadilan paling lambat 3 (tiga) hari setelah tanggal putusan atas permohonan pernyataan pailit diucapkan. Kurator harus membuat pencatatan harta pailit paling lambat 2 (dua) hari setelah menerima surat putusan yang menyatakan sifat, jumlah piutang dan utang harta pailit, nama dan tempat tinggal kreditor beserta jumlah piutang masing-masing kreditor.Dalam jangka waktu paling lambat 5 (lima) hari setelah tanggal putusan pernyataan pailit diterima oleh kurator dan hakim pengawas, kurator mengumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia dan paling sedikit 2 (dua) surat kabar harian yang ditetapkan oleh hakim pengawas, mengenai iktisar putusan pernyataan pailit yang memuat hal-hal sebagai berikut :104
a. nama, alamat dan pekerjaan debitor;
b. nama hakim pengawas;
c. nama, alamat dan pekerjaan kurator;
d. nama, alamat dan pekerjaan anggota panitia kreditor sementara, apabila telah ditunjuk; dan
e. tempat dan waktu penyelenggaraan rapat pertama kreditor.
Pada fase-fase terakhir kepailitan, menurut pasal 202 ayat (3) Undang-Undang Kepailitan, maka kurator harus mengumumkan berakhirnya kepailitan dalam Berita Negara Republik Indonesia, setelah daftar pembagian penutup
103 Sriti Hesti Astiti, Pertanggungjawaban Pidana Kurator Berdasarkan Prinsip Independensi Menurut Hukum Kepailitan, Jurnal Hukum dan Peradilan, Volume 5 Nomor 2, Juli 2016 : 277-298 hal. 287.
104M. Hadi Shubhan, Op.Cit, hal. 112.
memperoleh kekuatan hukum tetap. Setelah itu kurator wajib memberikan pertanggungjawaban mengenai pengurusan dan pemberesan yang telah dilakukannya kepada hakim pengadilan paling lama 30 (tiga puluh) hari setelah berakhirnya kepailitan.105
2. Tanggung jawab kurator dalam pembagian dan pemberesan harta pailit
Seorang kurator dan hakim pengawas memiliki hubungan terkait dengan pembagian dan pemberesan harta pailit.Hakim Pengawas mempunyai tugas mengawasi pengurusan dan pemberesan harta pailit. Hal tersebut sebagaimana diatur Pasal 65 Undang-Undang Kepailitan dan PKPU, menyatakan hakim pengawas mengawasi pengurusan dan pemberesan harta pailit berupa melakukan penetapan pembagian harta pailit, merubah penetapan pembagian harta pailit, penetapan insolvensi, membuat berita acara baik dalam pengurusan dan pemberesan harta pailit.106
Kurator harus menyampaikan laporan (bersifat terbuka untuk umum) kepada hakim pengawas mengenai keadaan harta pailit dan pelaksanaan terkait dengan pengurusan kepailitan. Adapun tugas kurator disini adalah1071).kurator harus menyampaikan laporan kepada hakim pengawas mengenai keadaan harta pailit dan pelaksanaan tugasnya setiap 3 (tiga) bulan; 2). Laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bersifat terbuka untuk umum dan dapat dilihat oleh setiap
105Pasal 202 Ayat (3), Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang.
106Wawancara dengan Bapak Juncai selaku kurator swasta di Medan pada tanggal 14 September 2017.
107Pasal 74, Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang.
orang dengan cuma-cuma; 3). hakim pengawas dapat memperpanjang jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Undang-Undang Kepailitan .
Tanggung jawab kurator berkaitan dengan pengerjaan tersebut. Dalam pasal 72 Undang-Undang Kepailitan dikatakan bahwa kurator bertanggung jawab terhadap kesalahan atau kelalaiannya dalam melaksanakan tugas pengurusan dan/atau pemberesan yang menyebabkan kerugian terhadap harta pailit. Dalam kaitan dengan pertanggungjawaban kurator tersebut, maka kurator harus menyampaikan laporan kepada hakim pengawas mengenai keadaan harta pailit dalam pelaksanaan tugasnya selama 3 (tiga) bulan.108Selain bertanggung jawab terhadap pengerjaan pengurusan dan pemberesan harta pailit yang secara teknis harus menyampaikan laporan kepada hakim pengawas, seorang kurator dapat dimintakan pertanggungjawaban terhadap kesalahan atau kelalaiannya dalam melaksanakan tugas Pengurusan dan/atau pemberesan yang menyebabkan kerugian terhadap harta pailit. Istilah kesalahan atau kelalaian disini hendaklah diberi pengertian yang jelas dan luas. Sebab bila tidak, tentu akan menimbulkan permasalahan bagi kurator dalam menjalankan tugasnya, dalam arti ia tidak akan dapat mengambil tindakan yang cepat karena dibayangi adanya kesalahan atau kelalaian. Untuk itu diperlukan standar penilaian yang dikeluarkan oleh sebuah asosiasi. Selain itu perlu ditekankan bahwa hendaknya tanggung jawab kurator baru dapat timbul jika dalam kesalahan baik berupa kesengajaan ataupun kelalaian
108M. Hadi Shubhan, Op.Cit, hal. 116.
itu terdapat unsur kesengajaan atau adanya kecerobohan yang dilakukan tanpa pertimbangan yang jelas.109
Meskipun dalam Undang-Undang Kepailitan ada mencantumkan mengenai sanksi pidana, namun dengan tidak diaturnya aspek-aspek hukum pidana didalamnya berakibat tidak berlaku asas lex specialis derogate legi generalis dengan ketentuan yang ada dalam KUHP. Sehingga dalam menanggulangi tindak pidana terhadap para pelaku kepailitan, diberlakukanlah ketentuan-ketentuan umum dalam KUHP. Hal tersebut juga untuk menjaga kekurangan yang ada dalam Undang-Undang Kepailitan. Atas dasar hal tersebut, maka ketentuan Pasal 234 ayat (2) UU Kepailitan sepanjang frasa dijatuhi sanksi pidana merupakan ketentuan yang tidak memiliki makna.110
Menganalisa perbuatan kurator yang diduga melakukan tindak pidana, perlu terlebih dahulu memahami secara mendalam mengenai tugas dan kewajiban Kurator, serta kriteria perbuatan tersebut memenuhi kualifikasi sebagai perbuatan pidana atau tidak. Selain itu, tidak kalah penting adalah apakah di dalamnya terkandung alasan pembenar atau pemaaf dari perbuatan yang dilakukannya tersebut. Untuk itulah, proses penegakan hukum yang dilakukan terhadap kasus-kasus yang melibatkan kurator, sangat diperlukan sikap kehati-hatian dalam menentukan suatu tindakan pengurusan dan atau pemberesan terhadap harta pailit memenuhi kategorisebagai perbuatan pidana, atau sesungguhnya hanya merupakan pelanggaran kode etik ataukah pelanggaran hukum perdata.111
109Sunarmi, Hukum Kepailitan, (Jakarta : Softmedia, 2010), hal. 142.
110Ibid., hal. 142.
111Ibid., hal. 288.
Kurator dalam perkara kepailitan bekerja atas dasar melaksanakan amanat undang-undang. Untuk itu diharapkan aparat penegak hukum sungguh-sungguh mengkaji kebenaran dari setiap kasus yang melibatkan kurator dalam ranah hukum pidana. Untuk itu, dalam hal menentukan adanya kesalahan kurator dalam perkara pidana, maka harus memenuhi persyaratan yaitu : melakukan tindak pidana (sifat melawan hukum), di atas umur tertentu dan mampu bertanggungjawab, mempunyai suatu bentuk kesalahan disebabkan oleh kesengajaan ataupun kelalaian, dan tidak ada alasan pemaaf yaitu alasan yang dapat menghapuskan kesalahan terdakwa atau karena perbuatan yang dilakukan oleh terdakwa tetap merupakan perbuatan melawan hukum atau tetap merupakan tindak pidana, namun pada akhirnya tidak dipidana karena tidak adanya kesalahan.112Mengenai hal ini KUHP sendiri telah memberikan jalan keluar melalui Pasal 50 KUHP yang menyatakan “barang siang melakukan perbuatan untuk melaksanakan ketentuan undang-undang tidak dipidana”. Sehingga, sepanjang dapat dibuktikan kurator melaksanakan tugas pemberesan dalam koridor melaksanakan amanat undang-undang dan tidak punya pilihan selain harus melakukannya dalam rangka pengamanan harta pailit, maka dia tidak dapat dipersalahkan atau dipidana.113
C. Pengaturan Pengurusan Dan Pemberesan Dalam Pembagian Harta Pailit