• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Penerapan Asas Proporsionalitas Dalam Kepailitan

Dalam dokumen TESIS. Oleh. DANIEL CENDRICO /M.Kn (Halaman 110-0)

BAB II PENGATURAN PENGURUSAN DAN PEMBERESAN

C. Analisis Penerapan Asas Proporsionalitas Dalam Kepailitan

1. Asas dalam Undang-Undang Kepailitan

Pengertian asas secara umum antara lain sebagai berikut :196

a. Dasar, alasan, fundamen, misalnya batu yang baik dalam pendirian rumah b. Suatu kebenaran yang menjadi pokok dasar atau tumpuan berpikir dan

berpendapat.

c. Cita-cita yang menjadi dasar.

Menurut George Whitecross, asas merupakan “alam pikiran yang dirumuskan dengan luas dan mendasar dari adanya suatu norma hukum (suatu prinsip atau asas merupakan alasan umum yang menjadi dasar dari aturan hukum).”197

Menurut van Eikema Hommes, “asas hukum itu penting karena asas hukum menjadi dasar atau petunjuk arah dalam pembentukan hukum positif.”

Pendapat senada dikemukakan Theo Huijbers, yang mengatakan bahwa“asas hukum adalah prinsip-prinsip yang dianggap dasar atau fundamen hukum. Asas hukum dapat menjadi titik tolak bagi pembentuk undang-undang dan interpretasi bagi undang-undang tersebut.”198 Demikian juga hal dengan penerapan dalam Undang-undang Kepailitan. Didalam Undang-undang kepailitan dalam penerapannya memegang 4 macam asas yaitu :199

a. Asas Keseimbangan

Undang-Undang ini mengatur beberapa ketentuan yang merupakan perwujudan dari asas keseimbangan, yaitu di satu pihak, terdapat ketentuan yang dapat mencegah terjadinya penyalahgunaan pranata dan lembaga kepailitan oleh

196Monang Siahaan, Falsafah dan Filosofi Hukum Acara Pidana, (Jakarta: Gramedia, 2017) hal. 84.

197Ibid.

198Ibid.

199Undang undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, pada penjelasan umum tentang asas asas kepailitan.

Debitor yang tidak jujur, di lain pihak,terdapat ketentuan yang dapat mencegah terjadinya penyalahgunaan pranata dan lembaga kepailitan oleh Kreditor yang tidak beritikad baik.

b. Asas Keberlangsungan Usaha

Dalam Undang-Undang ini, terdapat ketentuan yang memungkinkan perusahaan Debitor yang prospektif tetap dilangsungkan.

c. Asas Keadilan

Dalam kepailitan asas keadilan mengandung pengertian, bahwa ketentuan mengenai kepailitan dapat memenuhi rasa keadilan bagi para pihak yang berkepentingan. Asas keadilan ini untuk mencegah terjadinya Kesewenang-wenangan pihak penagih yang mengusahakan pembayaran atas tagihan masing-masing terhadap Debitor, dengan tidak mempedulikan Kreditor lainnya.

d. Asas integrasi

Asas Integrasi dalam Undang-Undang ini mengandung pengertian bahwa sistem hukum formil dan hukum materiilnya merupakan satu kesatuan yang utuh dari sistem hukum perdata dan hukum acara perdata nasional.

Mengkaitkan asas dalam Undang-undang Kepailitan dengan teori yang dipakai pada penelitian ini yakni teori keadilan dari Aristoteles yang menekankan kepada keadilan yang sifatnya distributif dan keadilan yang sifatnya korektif, artinya makna dari keadilan harus bersifat sama, sama dalam arti pembagiannya harus sesuai dengan kedudukannya masing-masing dan perlakuan kedudukan tersebut sama derajatnya dihadapan hukum hal ini terlihat dalam asas Keadilan mengutamakan dari sisi Keadilan. Maksud dari pembuat Undang-undang Kepailitan apabila menelusuri pengertian dari asas keadilan ada 2 (dua):200

a. Ketentuan Kepailitan untuk memenuhi rasa keadilan bagi para pihak.

b. Undang-Undang Kepailitan dibentuk mencegah kesewenangan pihak penagih (kreditor).

200Undang undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, pada penjelasan umum tentang asas asas kepailitan salah satunya adalah asas keadilan.

Memaknai Undang-undang Kepailitan melihat dari pemenuhan rasa keadilan saja tidak cukup terlebih lagi dalam praktiknya seperti yang terjadi pada kasus penelitian ini terkadang pembagian sudah dibagi menurut ketentuan yang diatur dalam Undang-undang Kepailitan tetapi tetap saja tidak memuaskan hak beberapa pihak. Oleh sebab itu mengacu pada pengertian asas seperti yang dijelaskan sebelumnya merupakan dasar atau fundamen dalam pembentukan hukum positif dalam hal ini undang-undang kepailitan sehingga tidak saja makna keadilan yang harus dipenuhi dalam menerapkan aturan dalam Undang-undang Kepailitan melainkan semua asas tersebut harus saling melengkapi dalam penerapannyayakni asas keseimbangan, keberlangsungan usaha dan asas integrasi,. Sehingga dengan demikian dalam penerapan Undang-undang Kepailitan tidak terjadi salah atau multitafsir bagi pihak-pihak yang berkepentingan atas pembagian dan pemberesan harta pailit debitor.

2. Analisis Penerapan prinsip pari passu pro rata partekedudukan Kreditor Preferen dan Separatis apabila harta debitor pailit tidak cukup

Mengambil titik tolak pada pemberesan harta pailit yang dilakukan oleh kurator berdasarkan kasus penelitian tesis ini terdapat pokok masalah utama yakni antara lain :201

201Dalam Nota Pembelaan Kurator dalam Putusan Pengadilan Niaga Nomor : 57/ PDT.

SUS- RENVOI PROSEDUR /2011 /PN.NIAGA.JKT.PST tentang kurator mempertanyakan tuntutan Pemohon tersebut apakah bukan suatu bentuk kesewenang- wenangan yang memaksakan kehendak sedangkan boedel pailit tidak dapat memenuhi semua tagihan kreditor dan apakah kreditor separatis Tennant Metals Pty Ltd dengan tagihan sebesar Rp.34.677.720.000,- (tiga puluh empat milyar enam ratus tujuh puluh tujuh juta tujuh ratus dua puluh ribu rupiah) juga tidak akan melakukan hal yang sama jika Termohon hanya akan mementingkan utang pajak dari Pemohon sementara saldo yang ada adalah sebesar Rp.4.701.119.492 (empat milyar tujuh ratus satu juta seratus sembilan belas ribu empat ratus sembilan puluh dua rupiah).

a. Terhadap harta pailit debitor tidak cukup untuk melunasi piutang kreditor pajak b. Terhadap harta pailit debitor apabila melunasi piutang kreditor pajak maka menyebabkan kreditor separatis dan kreditor lainnya menjadi tidak dapat sementara kreditor separatis memiliki hak untuk menagih.

Mengkaji persoalan tersebut diatasmaka dapat dikaji dari penerapan asas proporsionalitas dalam kepailitan. Dalam praktik penerapan di pengadilan niaga proporsionalitas lebih sering diartikan sebagai pembagian yang adil dan seimbang, keadilan dan keseimbangan yang menciptakan proporsionalitas.Dalam pembagian piutang pailit terdapat tingkatan prefensi masing-masing kreditor untuk menghindari terjadinya ketidakpastian hukum, saling berebut dan ketidakadilan bagi masing-masing kreditor saat kepailitan terjadi. Hal ini sejalan dengan pelaksanaan prinsip debt pooling. Prinsip debt pooling merupakan prinsip yang menganut bagaimana kekayaan harta pailit harus dibagi diantara para kreditornya.

Dalam melakukan pendistribusian aset tersebut, kurator akan memegang prinsip pari passu prorata parte dan prinsip creditorium.202

Prinsip Proporsionalitas diartikan juga dengan Prinsip pari passu pro rata parte yang memiliki arti yang sama yakni pada dasarnya membagi secara proporsionalitas. Menurut Hadi Shubhan mengemukakan bahwa “prinsip pari passu pro rata parte berarti bahwa harta kekayaan jaminan bersama untuk para kreditor dan hasilnya harus dibagikan secara proporsional antara mereka, kecuali

202Hadi Shubhan, Op.Cit, hal. 41.

jika antara para kreditor itu ada yang menurut Undang-undang harus didahulukan dalam menerima pembayaran tagihan”.203

Sutan Remy Sjahdeini mengemukakan secara implisit maksud dari prinsip pari passu pro rata parte bahwa “prinsip tersebut telah dikenal dalam hukum kepailitan yang berkembang di zaman Romawi”. Lahirnya prinsip pari passu pro rata parte awalnya berasal dari adagium “mission in bona” yang artinya bahwa harta kekayaan debitor dapat dijual untuk melunasi utang kepada kreditornya.

Dari hasil penjualan harta kekayaan tersebut debitor akan melunasi utang-utangnya itu secara proporsional sesuai dengan besarnya tagihan masing-masing kreditor.204

Prinsip pari passu pro rata parte dan paritas creditoriumdidasari pada ketentuan Pasal 1132 KUHPerdata yang berbunyi: “Kebendaan tersebut menjadi jaminan bersama-sama bagi semua orang yang mengutangkan padanya, pendapatan penjualan benda-benda itu dibagi-bagi menurut keseimbanganya itu menurut besar kecilnya piutang masing-masing, kecuali apabila di antara para berpiutang itu ada alasan-alasan yang sah untuk didahulukan”

Menganalisis kalimat dari Pasal 1132 KUH Perdata “kecuali bila diantara para kreditor itu ada alasan-alasan sah untuk didahulukan" dalam hal ini jika

“alasan kreditor yang harus didahulukan” ialah karena kedudukan kreditor tersebut merupakan kreditor istimewa tentu tidak menjadi permasalahan, akan tetapi kedudukan yang istimewa tersebut harus juga memperhatikan situasi dan kondisi harta pailit, sebab tentunya menjadi tidak tepat apabila memaknai seluruh

203Ibid, hal.29.

204Sutan Remy Sjahdeini, Op.Cit, hal.11.

harta debitor pailit didahulukan kepada kreditor istimewa sementara harta pailit apabila digunakan melunasi piutang dari kreditor istimewa mengakibatkan kreditor lain tidak dapat tentunya akan menyebabkan ketidakadilan. Hal ini tentu tidak mencerminkan asaspari passu pro rata parte, sebab pembagian secara proporsional.205

Prinsip pari passu pro rata parte dan paritas creditorium menekankan pada dasarnya pelunasan piutang atas hasil eksekusi bagi para kreditor dilaksanakan secara seimbang.206Namun demikian prinsip paritas creditorium masih dirasa tidak adil, hal ini dapat dilihat bahwa para kreditor berkedudukan sama antara satu kreditor dengan kreditor lainnya. Prinsip paritas creditorium tidak membedakan perlakuan terhadap kondisi kreditor baik itu kreditor yang memiliki piutang besar maupun kreditor yang memiliki piutang kecil, baik kreditor yang memegang jaminan maupun kreditor yang tidak memegang jaminan.207 Ditambah lagi Prinsip paritas creditorium mengenal pengecualian yaitu golongan kreditor yang memegang hak agunan atas kebendaan dan golongan kreditor yang haknya didahulukan berdasarkan Undang-Undang Kepailitan dan perundang-undangan lainnya sehingga asas ini hanya berlaku bagi kreditor saja.

Hal ini dikarenakan apabila ini diterapkan maka akan terasa sangat tidak adil bagi kreditor pemegang hak jaminan kebendaan dan kreditor preferen lainnya yang

205Wawancara dengan Bapak Juncai selaku kurator swasta di Medan pada tanggal 14 September 2017.

206J.Andy Hartanto Op.Cit. hal. 121.

207Bintang Partogi Mangaratua Sibuea, Prinsip Creditorium Dalam Kepailitan, artikel hukum Pedia.com diakses dari http://www.hukumpedia.com/bintangpartogi/prinsip-paritas creditorium-dalam-kepailitan pada tanggal 14 Mei 2017.

posisinya disetarakan sebagai kreditor konkuren dengan mendapat pembagian yang sama rata tanpa ada didahulukan.208.

Disisi lain apabila prinsip paritas creditoriumditerapkan pada permasalahan harta pailit tidak cukup untuk dibagi kepada para kreditor maka juga akan menyebabkan ketidakadilan juga sebab prinsip paritas creditoriumpada dasarnya hanya memandang menjamin pelunasan utang debitor sekalipun pelunasan tersebut nantinya harus menggunakan harta kekayaan debitor itu sendiri. Jaminan ini semata-mata untuk menjamin hak pembayaran utang kreditor, dan Prinsip paritas creditorium tidak membedakan perlakuan terhadap kondisi kreditor baik itu kreditor yang memiliki piutang besar maupun kreditor yang memiliki piutang kecil, baik kreditor yang memegang jaminan maupun kreditor yang tidak memegang jaminan. Apabila prinsip ini diterapkan pada pembagian harta pailit yang tidak cukup tentunya juga tidak akan adil, ketidakadilan justru akan timbul dari pihak kreditor preferen sebab kedudukan preferen harus diutamakan terlebih dahulu, terlebih lagi dalam hukum kepailitan terdapat kreditor sepataris dan konkuren sehingga dengan pembagian harta dibagi sama rata dengan kreditor konkuren tentunya makna status kedudukan dari kreditor preferen akan kabur sebagai kreditor yang menurut undang-undang harus didahulukan.209

Gambaran ketidakadilan prinsip paritas creditorium adalah sebagai berikut seorang debitor pailit mempunyai harta kekayaan yang masuk kedalam boedel pailit sebesar 50 (lima puluh) miliar rupiah, debitor pailit tersebut mempunyai 5 (lima) kreditor diantaranya PT. A sebesar 20 (dua puluh)miliar, PT.

208J.Andy Hartanto Op.Cit. hal. 121.

209Wawancara dengan Bapak Juncai selaku kurator swasta di Medan pada tanggal 14 September 2017.

B sebesar 15 (lima belas) miliar, PT.C sebesar 15 (lima belas) miliar, PT. D sebesar 20 (dua puluh) miliar dan PT. E sebesar 30 (tiga puluh) miliar, jadi jumlah total hutang debitor pailit itu sebesar 100 (seratus) miliar.Apabila prinsip Pari Passu Prorata Parte ini tidak ada maka kedudukan kreditor tersebut mempunyai kedudukan yang sama, kekayaan debitor pailit sebesar 50 (lima puluh) miliar tersebut akan dibagi rata kepada para kreditor dimana kreditor yang memiliki jumlah piutang yang paling besar akan mendapatkan sama besar dengan kreditor yang memiliki piutang dengan jumlah yang lebih kecil, disinilah letak ketidakadilan prinsip paritas creditorium, oleh karena itu keberadaan prinsip Pari Passu Prorata Parte dapat mengatasi ketidakadilan tersebut yang mengharuskan pembagian piutang kepada kreditor harus secara proporsional.210

Kesimpulan yang dapat ditarik adalah penerapan prinsip pari passu pro rata parte seyogianya harus dihubungkan dengan rasa keadilan yang proporsional.

Rasa keadilan dan proporsional tidak boleh saling berdiri sendiri, apabila mereka saling berdiri sendiri maka tidak akan didapat rasa keadilan yang proporsional tersebut. Makna keadilan akan dimunculkan sendiri oleh masing-masing pihak, adil menurut kreditor preferen karena haknya didahulukan akan tetapi tidak adil menurut kreditor separatis dan konkuren sebab hak mereka tidak disisakan sama sekali karena diberikan seluruhnya kepada kreditor preferen, demikian juga apabila proporsional berdiri sendiri maka akan memunculkan pemikiran sendiri bagi para pihak, pembagian proporsional adil menurut kreditor separatis dan konkuren akan tetapi bagi kreditor preferen tentu tidak adil sebab ia memaknai

210Wawancara dengan Bapak Juncai selaku kurator swasta di Medan pada tanggal 14 September 2017

keadilan didapat atas dasar undang-undang yang haknya harus didahului terlebih dahulu.

3. Analisis harmonisasi kedudukan Undang Pajak dengan Undang-Undang Kepailitan dalam pengaturan kedudukan kreditor

Parameter suatu Undang-Undang yang baik adalah diukur dari aspek filosofis, sosiologis, dan yuridis.211 Undang-Undang yang idealnya mempunyai kekuatan berlaku mengikat karena memang peraturan tersebut diterima secara sukarela oleh masyarakat bukan karena dipaksakan berlakunya oleh penguasa.212 Undang No 4 Tahun 1998 saat ini telah berubah menjadi Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 seyogianya memuat asas-asas dan ketentuan yang dapat diterima secara global.213Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya apabila hukum Kepailitan mempunyai fungsi yang sangat penting yaitu melalui hukum Kepailitan akan diadakan suatu penyitaan umum (eksekusi massal) terhadap seluruh harta kekayaan Debitor, yang selanjutnya akan dibagikan kepada para kreditor secara seimbang dan adil dibawah pengawasan petugas yang berwenang.214 Pembagian secara seimbang dan adil inilah wujud dari asas proporsionalitas seperti yang dijelaskan pada sub bab sebelumnya.

Menjalankan apa yang dikehendaki oleh Undang-Undang Kepailitan yang berwenang dalam hal ini adalah kurator. Kurator dituntut untuk membagi harta pailit kepada para kreditor secara seimbang. Dengan berlandaskan kepada asas kepailitan.Disisi lain halnya dengan Undang-Undang Pajak yang mengatur

211Satjipto Rahardjo, Ilmu hukum, (Jakarta:Citra Aditya, 1991), hal.20.

212Nurhasan Ismail, Korelasi Hukum Akomodif Terhadap Tingkat Akseptasi Masyarakat dalam Sunarmi, Prinsip Keseimbangan Dalam Hukum Kepailitan Di Indonesia, Op.Cit., hal.15.

213Ibid.

214Ibid., hal.13.

tentang kedudukan utang dalam hal ini utang pajak sebagai hak yang harus dibayarkan terlebih dahulu, sebab utang pajak merupakan hak subjek hukum yang termasuk dalam kategori Kreditor Preferen.

Penerapan Undang-Undang Pajak dengan hak yang harus didahulukan dari utang kreditor lain tentu dapat diterima terlebih lagi bukan hanya Undang-Undang Pajak yang mengatakan demikian akan tetapi KUH Perdata juga mengakui kedudukan kreditor preferen lebih tinggi dari kedudukan kreditor lainnya termasuk terhadap utang pajak dan dikuatkan dengan putusan yang telah menjadi yurisprudensi hukum yakni dalam Putusan Mahkamah Agung Nomor 070 PK/PDT.SUS/2009 Perkara Peninjauan Kembali Perdata Khusus antara KPP Pratama Jakarta Tanah Abang Dua melawan Kurator PT.Artika Optima Inti (dalam pailit) dan PT.Bank Mandiri (Persero) Tbk

Berangkat dari isi putusan tersebut dalam pertimbangan hakim pada dasarnya kedudukan kreditor preferen yang merupakan Negara adalah benar hak mendahului untuk tagihan pajak dalam Pasal 21 ayat (1) UU KUP) dan demikian juga hak-hak buruh dalam perkara kepailitan harus diutamakan dengan pertimbangan kepentingan sosial/kepentingan kemanusiaandan pertimbangan para kreditor yang sama-sama mempunyai hak yang perlu perlindungan hukum, sementara harta pailit tidak mencukupi , maka berdasarkan asas-asas dari hukum kepailitan yaitu asas keadilan dan keseimbangan adalah telah tepat, alasan dan pertimbangan Pengadilan Niaga Jakarta Pusat.215

215Salah satu pertimbangan hakim berdasarkan Putusan Nomor 070 PK/Pdt.Sus/2009.

Dari pertimbangan hakim diatas dapat disimpulkan apabila kedududukan kreditor preferen pajak adalah sama dengan kedudukan kreditor separatis terutama dalam pembagian harta pailit yang tidak cukup, hakim membagi harta dengan asas kepailitan yaitu keadilan dan keseimbangan. Terlepas dari pada itu hakim membagi dengan prinsip keadilan dan keseimbangan.

Apabila memperhatikan posisi Undang-Undang Pajak jo KUH Perdata jo Yurisprudensi yang menguatkan kedudukan kreditor pajak selaku kreditor yang harus didahului pemenuhan pembagian harta pailit tentunya praktik dilapangan tetap saja pihak kreditor pajak dapat menggunakan ketentuan Undang-Undang Pajak jo KUH Perdata jo yurisprudensi hakim sebagai dasar hukum untuk memperoleh haknya secara keseluruhan sebagaimana yang diatur dalam ketentuan undang-undang tersebut tanpa memandang apakah harta tersebut cukup atau tidak seperti yang terjadi pada kasus yang dibahas dalam penelitian ini. Disinilah potensi terjadinya disharmonisasi dalam penerapan pembagian harta pailit tersebut sebab disatu sisi Kreditor Pajak menggunakan dasar hukum Undang-Undang Pajak jo KUH Perdata jo yurisprudensi hakim disisi lain juga Kreditor Separatis dan Kurator dalam membagi harta pailit berdasarkan prinsip yang dianut oleh Undang-Undang Kepailitan yakni prinsip keadilan dan keseimbangan.

Mengkaji disharmonisasi biasanya dapat terjadi dalam tataran normatif, norma atau kaidah adalah peraturan yang memiliki rumusan yang jelas untuk dijadikan pedoman perilaku. Terdapat peraturan yang lebih abstrak dari norma yaitu asas, dan diatas asas terdapat aturan yang paling abstrak yaitu nilai. Jika disusun hierarkis, maka asas sebenarnya lebih tinggi kedudukannya dari norma.

Atas dasar hal itu maka jika terjadi disharmoni antara norma-norma hukum, solusi penyelesaianya adalah dengan menerapkan asas asas hukum.216

Menurut Sidharta pada saat melakukan harmonisasi dapat terjadi beberapa kemungkinan yang menyebabkan terjadinya disharmonisasi dalam sistem hukum yaitu :217

a. Terjadi inkonsistensi secara vertikal dari segi format peraturan yakni peraturan yang hierarkinya lebih rendah bertentangan dengan hierarki peraturan yang lebih tinggi, misalnya antara peraturan pemerintah dengan undang undang.

b. Terjadi inkonsistensi secara vertikal dari segi waktu, yakni beberapa peraturan yang secara hierarkis sejajar tetapi yang satu lebih dulu berlaku daripada yang lain.

c. Terjadi inkonsistensi secara horisontal dari segi substansi peraturan yakni beberapa peraturan yang secara hierarkis sejajar tetapi substansi peraturan yang satu lebih umum dibandingkan substansi peraturan lainnya.

d. Terjadi inkonsistensi secara horisontal dari segi substansi dalam satu peraturan yang sama, misalnya ketentuan pasal 1 bertentangan dengan ketentuan pasal 15 dari satu undang undang yang sama,

e. Terjadi inkonsistensi antara sumber formal hukum yang berbeda, misalnya antara undang-undang dan putusan hakim atau antara undang undang dan kebiasaan.

Menjembatani masalah tersebut dapat dengan menggunakan salah satu asas hukum yaitu lex spesialis derogat legi generali dimana undang-undang khusus lebih diutamakan dari undang-undang yang sifatnya umum.

Hukum kepailitan ini dasar umumnya adalah KUHPerdata,218khususnya Pasal 1131 dan Pasal 1132 KUHPerdata. Kedua pasal tersebut mengisyaratkan bahwa hukum menghendaki adanya jaminan kepastian hukum terhadap perlindungan hak-hak kreditor dan paksaan bagi debitor untuk melunasi utang-utangnya.

216Sidharta, Menuju harmonisasi system hukum sebagai Pilar pengelolaan Wilayah Pesisir, (Jakarta: Bapenas, 2005), hal. 14.

217Ibid.

218Andriani Nurdin, Kepailitan BUMN Persero Berdasarkan Asas Kepastian Hukum, (Bandung : PT. Alumni, 2012), hal. 143.

Dalam pelaksanaan asas lex spesialis derogat legi generalis ada beberapa prinsip yang harus diperhatikan agar tidak terjadi disharmonisasi peraturan perundang-undangan. Aturan-aturan yang terkandung dalam hukum kepailitan harus memperhatikan prinsip-prinsip tersebut agar tidak menimbulkan ketidakpastian hukum. Prinsip-prinsip tersebutadalah:219

a. Ketentuan dalam aturan hukum umum tetap berlaku kecuali yang diatur khusus dalam aturan hukum khusus tersebut.

b. Ketentuan lex spesialis harus sederajat dengan ketentuan lex generalis

c. Ketentuan lex spesialis harus berada dalam lingkungan hukum yang sama dengan lex generalis

Menganalisis uraian diatas jika dihubungkan Undang-undang Kepailitan dengan KUH Perdata keduanya memiliki derajat aturan hukum yang sama.

Ketentuan hukum umum yang diatur dalam KUH Perdata tetap berlaku dalam Undang-undang Kepailitan seperti halnya pembagian hak kreditor pailit sebagaimana diatur dalam penejelasan Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Kepailitan, penjabaran tersebut juga diatur dalam KUH Perdata sebagaimana telah dijelaskan pada sub bab sebelumnya.

Ditinjau dari segi pelaksaaannya permasalahan dalam hal pembagian harta pailit kepada masing-masing kreditor yang dianggap berhak berdasarkan proses verifikasi utang piutang yang dilakukan oleh kurator merupakan ranah hukum kepailitan, selain itu juga hukum kepailitan memungkinkan bagi para pihak yang merasa tidak puas dengan pembagian hasil dari kurator untuk menuntut ke pengadilan niaga.

219 A.A. Oka Mahendra, Harmonisasi Peraturan Perundang-Undangan, www.ditjenpp.kemenkumham.go.id,Kamis 1 April 2010, diakses tanggal 16 Desember 2017.

Pengadilan yang menangani perkara kepailitan juga telah diatur secara khusus melalui pengadilan niaga. Pengadilan niaga ini dibentuk pada masa berlakunya Undang-undang Kepailitan, sedangkan pada masa peraturan kepailitan masih menggunakan FV, pengadilan yang berwenang memeriksa dan memutus perkara kepailitan adalah pengadilan negeri. Dengan adanya ketentuan penyelesaian perkara kepailitan melalui pengadilan niaga maka penyelesaian perkara kepailitan melalui pengadilan negeri tidak lagi berlaku.220

Dengan demikian karena penyelesaian permasalahan pembagian harta pailit terhadap kreditor telah masuk ke ranah pengadilan niaga, sehingga kewenangan dan hasil putusan akan menjadi kewenangan dari hakim pengadilan niaga untuk menciptakan keadilan hukum yang seadil-adilnya bagi para pihak yang berperkara.

Sebagaimana diketahui tujuan hukum adalah kepastian, keadilan dan kemanfaatan, jadi seharusnya hukum dan keadilan dapat berjalan

Sebagaimana diketahui tujuan hukum adalah kepastian, keadilan dan kemanfaatan, jadi seharusnya hukum dan keadilan dapat berjalan

Dalam dokumen TESIS. Oleh. DANIEL CENDRICO /M.Kn (Halaman 110-0)