BAB IV PENERAPAN PRINSIP KEADILAN, KEPASTIAN
D. Kemanfaatan bagi Kreditor Pajak dan Kreditor Separatis
Berdasarkan teori hukum yang dipakai pada penelitian tesis ini adalah pandangan dari Gustav Radbruchyang pada intinya menyebutkan adanya tiga unsur cita hukum yang harus ada secara proporsional, yaitu kepastian hukum (rechtssicherkeit), keadilan (gerechtigkeit) dan kemanfaatan (zweckmasigkeit)”.Hukum adalah segala yang berguna bagi rakyat, sebagai bagian dari cita hukum (idéedes recht), keadilan dan kepastian hukum membutuhkan pelengkap yaitu kemanfaatan. Kemanfaatan dapat diartikan sebagai kebahagiaan (happiness).251
Ukuran kemanfaatan (kebahagiaan) memang kerap sangat dipengaruhi faktor ruang dan waktu. Contohnya, kemerdekaan pada tahun 1945 bagi bangsa Indonesia tentu dihayati secara sangat berbeda dengan bangsa Belanda yang memaknainya sebagai “kehilangan tanah jajahan”. Disisi lain, tidak semua kemanfaatan itu identik dengan kesenangan yang dapat diberikan ukuran-ukuran kuantitatif (commensurable). Antara makan enak dan tidur enak, misalnya sangat tidak mudah untuk ditentukan mana yang lebih tinggi derajat kesenangan atau kemanfaatannya.252
251Fence M Wantu, Op.Cit. 395.
252Antonius Cahyadi dan Donny Danardono, Sosiologi Hukum Dalam Perubahan, (Jakarta:Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2009), hal.253.
Demikian halnya juga terhadap subjek hukum saat para pihak terutama kreditor dari debitor pailit dihadapkan kepada pelunasan utang debitor pailit yang bersangkutan. Pembagian harta debitor pailit akan menjadi tolak ukur untuk menentukan seberapa besar kemanfaatan bagi masing-masing kreditor akan diterima dan faktor faktor seperti kondisi keadaan harta pailit yang tidak cukup untuk melunasi utang debitor yang menjadi pertimbangan dari kurator dalam membagi harta pailit akan menentukan sikap dan prilaku kemanfaatan (kebahagiaan) bagi masing-masing kreditor. Disatu sisi pembagian harta pailit yang dilakukan oleh kreditor bagi Kreditor Separatis sudah cukup sesuai sebagaimana yang diharapkan oleh kreditor tersebut, akan tetapi dimaknai berbeda oleh Kreditor Pajak yang menilai pembagian harta pailit oleh kurator tidak sesuai dengan peraturan ketentuan Undang-undang yang mendahulukan hak dari Kreditor Pajak tersebut.
Terlepas dari tolak ukur masing-masing kreditor baik dari Kreditor Preferen maupun Kreditor Separatis yang memiliki prinsip kemanfaatan yang menurut mereka adalah benar dan telah sesuai dengan peraturan undang-undang yang berlaku, pada dasarnya tetap harus dipandang positif mengingat dari sisi pelunasan pajak, hasil dari piutang yang didapat oleh Kreditor Pajak bukan semata-mata untuk kepentingan pribadi atau perorangan Kreditor Pajak tersebut melainkan nantinya utang yang telah dilunasi oleh debitor pailit akan dipakai untuk alokasi alokasi di sektor-sektor yang telah ditetapkan pemerintah.
Pajak mempunyai fungsi mengatur, penerimaan pajak digunakan untuk kebijakan fiskal pemerintah. Kebijakan fiskal pemerintah mempunyai dua sisi,
yaitu sisi penerimaan dan sisi pengeluaran. Sisi penerimaan berkaitan dengan kebijakan perpajakan itu sendiri. Fungsi mengatur pada sisi ini berkaitan dengan kebijakan-kebijakan di bidang perpajakan untuk mengarahkan kegiatan perekonomian agar sesuai dengan tujuan tertentu. Fungsi mengatur pajak dapat dilihat dari arah dan sifat penggunaan uang pajak tersebut. Secara garis besar fungsi mengatur dari pajak dapat dikategorikan menjadi :253
a. Fungsi alokasi
Fungsi alokasi dalam kebijakan fiskal pada dasarnya berupa penetapan alokasi penggunaan sumber daya ekonomis nasional untuk tujuan penyediaan barang-barang publik dan barang-barang-barang-barang privat. Barang publik disediakan oleh pemerintah (negara), sementara penyediaan barang privat dapat dilakukan oleh swasta. Melalui pajak yang dipungut dan penggunaannya untuk penyediaan barang publik, kebijakan fiskal telah memenuhi fungsi alokasi sumber data ekonomis dalam masyarakat.
b. Fungsi distribusi
Tugas pemerintah adalah menciptakan distribusi pendapatan dan kekayaan yang adil. Konsep pemerataan hasil pembangunan merupakan dasar dari tugas ini. Melalui pajak yang dipungut serta penggunaannya, pemerataan hasil pembangunan akan dapat dilaksanakan.
c. Fungsi stabilisasi
Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu tujuan dari pembangunan disamping pemerataan. Pemerintah akan selalu berusaha untuk mencapai pertumbuhan ekonomi tertentu dari tahun ke tahun. Disamping itu, penyediaan lapangan kerja yang cukup juga merupakan sisi lain dari pembangunan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi, penyediaan lapangan kerja, stabilitas harga serta keseimbangan neraca perdagangan dan neraca pembayaran merupakan rangkaian usaha stabilitas yang akan diupayakan oleh pemerintah.
Mengingat begitu banyak kontribusi pajak bagi negara dan pembangunan maka tunggakan pajak yang ditunggak oleh debitor harus terus ditagih sampai tunggakan pajak tersebut lunas. Langkah yang diambil oleh kreditor pajak dalam kepailitan dapat dinilai telah tepat meskipun putusan hakim berpendapat lain akan
253Soemarso, Perpajakan : Pendekatan Komperehensif, (Jakarta : Salemba, 2007), hal. 19-20.
tetapi setidaknya jumlah tunggakan pajak meski tidak seluruhnya dari debitor pailit dalam perkara kepailitan dapat dilunasi sehingga hal ini dapat memberikan manfaat yang baik bagi kreditor pajak untuk digunakan bagi kepentingan Negara.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan
1. Pengurusan dan pemberesan pembagian harta pailit terhadap kedudukan kreditor pajak terhadaptagihan pajaknya merupakan hak yang harus mendahului dari negara yang mempunyai kedudukan dan tingkatan hak prefensi lebih tinggi dari kreditor separatis sehingga dalam pengurusan dan pembagian harta pailit terhadap kreditor pajak atas tagihan pajak harus didahulukan terlebih dahulu,sementara itu kedudukan kreditor separatis yang kedudukannya sebagai pemegang jaminan kebendaan memiliki tingkat prefensi pertama yang tidak dapat dikurangi dan bersifat terpisah dari kreditor lainnyatetapihak kreditor separatis masih dibatasi dengan beberapa hak mendahului lainnya sebagaimana dalam undang-undang yaitu terhadap piutang yang diistimewakan (privilege) secara khusus untuk benda tertentu yang dalam hal ini adalah biaya perkara pelelangan barang jaminan dan hak mendahulu dari kreditor separatis masih kalah menurut undang undang tersendiri seperti tagihan utang pajak, biaya kepailitan dan fee kurator dengan demikian dalam pengurusan dan pemberesan pembagian boedel pailit diutamakan kepada kreditor pajak terlebih dahulu kemudian dilanjutkan dengan kepada kreditor separatis.
2. Penerapan Asas Pari Passu Prorata Parte yang merupakan prinsip dalam pembagian harta pailit tidak tumpang tindih dengan Undang Undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan, akan tetapi dalam situasi tertentu dalam pelaksanaankhususnya terhadap pembagian harta
pailit yang tidak cukup dapat berpotensi terjadi tumpang tindih dalam pendahuluan pembayaran utang pailitsebab menurut ketentuan Undang-undang Pajak kedudukan utang pajak harus didahului terlebih dahulu dibandingkan dengan kedudukan kreditor lainnya tetapi berbeda dengan Penerapan Asas proporsionalitas dalam kepailitan yang mengutamakan pembagian sesuai dengan porsinya masing-masing. Menyikapi masalah tersebut dapat diterapkan asas hukum lex spesialis derogat legi generali dimana undang-undang khusus lebih diutamakan dari undang-undang yang sifatnya umum, sehingga apabila terhadap pembagian dan pemberesan harta pailit yang dalam pembagiannya dilakukan oleh kurator merupakan ranah hukum kepailitan maka ketentuan Undang-undang Pajak harus mengikuti ketentuan sebagaimana pembagian diatur oleh kurator yang menganut asas pembagian Pari Passu Prorata Parte.
3. Putusan perkara kepailitan dinilai telah sesuai penerapan asas kepastian hukum keadilan dan kemanfaatan. Hal ini dapat dilihat dari pertimbangan hakim majelis pada tingkat pengadilan niaga yang menolak gugatan dari Kreditor Pajak mengenai jumlah utang pajak yang dianggap oleh hakim tidak mencerminkan asas keadilan dan kepastian hukum sebab berdasarkan fakta terhadap porsi yang layak diterima kantor pajak memperoleh aset bebas ditambah dengan presentase dari fidusia sebesar 50% (lima puluh persen) akan tetapi sebenarnya jaminan benda fidusia merupakan porsi dari kreditor separatis maka hal ini tidak adil ditambah hakim mempertimbangkan kedudukan kreditor separatis Tennan Metals merupakan kreditor yangmemiliki usaha sehingga mampu memberikan penghidupan berupa lapangan pekerjaan
bagi para pekerja sebelum ia pailit sehingga hakim memandang rasa keadilan dalam hal ini harus seimbang. Sisi lain Putusan perkara kepailitan memberikan manfaat bagi kreditor khususnya dalam menagih utang pajak pasca debitor dinyatakan pailit, meski tagihan pajak tidak seluruhnya dapat ditagih tetapi setidaknya melalui putusan pengadilan niaga sudah memberikan kepastian hukum bagi para pihak yang berperkara.
B. Saran
1. Kepada para kreditor sebagai pihak yang berpiutang dalam perkara kepailitan khususnya dari tahapan permohonan sampai dengan pemberesanharta pailit yang dilakukan oleh kurator sudah sepantasnya menyerahkan dan tunduk pada proses pemberesan harta pailit kepada kurator sebab meskipun masing-masing kreditor memiliki kedudukan hak tersendiri dalam menuntut haknya terhadap harta debitor pailit akan tetapi harus diperhatikan juga dalam kasus tertentu terkadang dalam pembagian harta pailit tidak mencukupi untuk menutup seluruh piutang kreditor pailit dan disaat bersamaan kurator yang bertugas membagi harta pailit akan melakukan pembagian tentu dilandasi dengan asas proposional sehingga dengan demikian sudah sepantasnya pembagian dari kurator terhadap harta yang tidak cukup tersebut dapat diterima oleh para pihak.
2. Sudah seharusnya dibutuhkan peranan setiap instansi terkait baik dari kurator, hakim pengawas, dan hakim pengadilan niaga dalam memahami betul penerapan prinsip Pari Passu Prorata Parte disaat yang tepat, dan khususnya kepada kreditor pajak meskipun utang pajak memiliki kedudukan yang harus
didahului akan tetapi harus juga memperhatikan kedudukan dari kreditor lain khususnya dalam pembagian harta pailit, seperti dalam penelitian ini dimana kedudukan kreditor separatis yang dalam hal ini merupakan perusahaan yang memiliki karyawan yang harus digaji untuk keberlangsungan hidup karyawannya, sehingga tidak semata-mata mementingkan kedudukan dari utang pajak saja melainkan menyerahkan sepenuhnya pembagian tersebut kepada kurator untuk dapat bertindak adil.
3. Putusan dari hakim pengadilan yang menjadi objek penelitian ini dapat dijadikan yurisprudensi hukum sebagai salah satu sumber hukum formil bagi para hakim dalam mengadili perkara yang serupa, sebab dalam penelitian terhadap putusan hakim dapat disimpulkantelah menciptakankeadilan hukum yang mengacu kepada nilai-nilai moral dan hati nurani bukan hanya berdasarkan acuan undang-undang semata hal ini dapat dilihat dari pernyataan pertimbangan hakim yang mempertimbangkan kedudukan kreditor separatis yang merupakan investor, dan sebagai investor tentu memiliki pekerja yang harus dihidupi dengan layak dan sepantasnya serta kepastian hukum terhadap para pihak khususnya bila melihat fakta jumlah harta yang memang pada saat pembagian tidak mencukupi menutup jumlah dari tuntutan kreditor preferen.
DAFTAR PUSTAKA A. BUKU
Ali, Zainuddin, 2009, Metode Penelitian hukum, Jakarta : Sinar Grafika.
Ashshofa, Burhan, 1996, Metode Penelitian Hukum, Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Ali, Achmad, 2002, Menguat Tabir Hukum (Suatu Kajian Filosofis dan Sosiologis), Jakarta: Toko Gunung Agung Tbk,
Brata, Sumadi Surya, 1998, Metodologi Penelitian , Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Badrulzaman, Mariam Darus, 1991, Bab-Bab Tentang Credietverband, Gadai dan Fiducia, Bandung: PT. Citra Aditya Bakti.
Bachtiar, 2015, Mahkamah Konstitusi Pada Pengujian UU Terhadap UUD, Jakarta:Raih Asa Sukses.
Cahyadi, Antonius dan Donny Danardono, 2009, Sosiologi Hukum Dalam Perubahan, Jakarta:Yayasan Pustaka Obor Indonesia.
Darmodiharjo, Darji dan Shidarta, 2006, Pokok pokok Filsafat Hukum, Jakarta:Gramedia.
Friedrich , Carl Joachim, 2004, Filsafat Hukum : Perspektif Historis, Bandung:
Nuansa dan Busamedis.
Floyd , Curtis dan B, 1996 , Komunikasi Bisnis dan Profesional, Bandung:
Remaja Rosdakarya.
Fuady, Munir, 2002, Hukum Pailit Dalam Teori dan Praktek, (Bandung: PT Citra Aditya Bakti.
H.M Fauzan, 2014, Kaidah Penemuan Hukum Yurisprudensi Bidang Hukum Perdata, Jakarta:Prenadamedia Group.
Goesniadhie, Kusnu, 2006, Harmonisasi Hukum Dalam Persfektif perundang-undangan; Lex Specialis Suatu Masalah, Surabaya : JP Books.
Ginting, Elvira Dewi, 2010, Analisis hukum mengenai reorganisasi perusahaan dalam hukum kepailitan, Medan : Usu Press.
Hoff , Jerry, 2001, Undang Undang Kepailitan di Indonesia (Idonesian Bankruptcy Law), diterjemahkan oleh Kartini Muljadi, Jakarta:Tatanusa.
Ibrahim, Johnny, 2008, Teori dan Metodologi Penelitian Hukum Normatif, cet IV, Jawa Timur: BayuMedia Publishing.
Ikhsanuddin, Moch Fasluki, 2016, Skripsi berjudul Utang Pajak Sebagai dasar Permohonan Pailit, Surabaya : Universitas Erlangga.
Irianto, Sulistyowati, 2008, Runtuhnya Sekat Perdata Dan Pidana:Studi Peradilan Kasus Kekerasan terhadap Perempuan, Jakarta:Yayasan Obor Indonesia.
J. Andy Hartanto, 2015, Hukum Jaminan dan Kepailitan, Surabaya : LaksBang Justitia Surabaya.
Jono, Hukum Kepailitan, 2008, Jakarta : PT Sinar Grafika.
Judisseno, Rimsky K, 2004, Perpajakan Edisi Revisi, Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
---, 2005, Pajak dan Strategi Bisnis, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Kholis, Efi Laila, 2008, Putusan Mahkamah Konstitusi, Depok: Pena Multi Media.
Lubis , M.Solly, 1994, Filsafat Ilmu dan Penelitian,Bandung : Mandar Maju.
Mulyadi, Lilik, 2010, Perkara Kepailitan Dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) Teori dan Praktik : Dilengkapi Putusan-Putusan pengadilan Niaga, Bandung : Alumni.
Muljadi, Kartini, 2001, Actio Paulina dan Pokok-pokok tentang Pengadilan Niaga, Bandung : Alumni.
Manan , Bagir, Hukum Positif Indonesia, Yogyakarta: FH UII Press, 2004
Manudji , Soejono Soekanto dan Sri, Penelitian Hukum Normatif Suatu Tingkatan Singkat, Jakarta : Raja Grafindo Indonesia, 1995
Maleonf, Lexi J, 1993, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung:Remaja Rosdakarya.
Nating ,Imran, 2004, Peran dan Tanggung Jawab Kurator dalam Pengurusan Dan Pemberean Harta Pailit, Jakarta :Raja Grafindo Persada.
Nurdin, Andriani, 2012, Kepailitan BUMN Persero Berdasarkan Asas Kepastian Hukum, Bandung : PT. Alumni.
ND , Mukti Fajar dan Yulianto Achmad, 2010, Dualisme Penelitian Hukum Normatif dan Empiris,Jakarta:Pustaka Pelajar
_____________2007, Panduan Bantuan Hukum Indonesia, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Poesoko, Herowati, 2007, Parate Eksekusi Objek Hak Tanggungan, Yogyakarta : Laksbang Pressindo.
Riduan, Metode & Teknik Menyusun Tesis, 2004, Bandung : Bina Cipta.
Rido, R. Ali. 2002, Badan Hukum dan Kedudukan Badan Hukum Perseroan, Perkumpulan, Koperasi, Yayasan, Wakaf, Bandung: Alumni.
Rahardjo, Satjipto, 1991, Ilmu hukum, Jakarta:Citra Aditya.
Sidharta, 2005, Menuju harmonisasi system hukum sebagai Pilar pengelolaan Wilayah Pesisir, Jakarta: Bapenas.
Subekti, 1996, Pokok pokok Hukum Perdata, Jakarta: Pembimbing Masa.
Siahaan, Monang, 2017, Falsafah dan Filosofi Hukum Acara Pidana, Jakarta:
Gramedia.
Sunarmi, 2009,Hukum Kepailitan, Medan : USU Press.
---, 2010, Prinsip Keseimbangan Dalam Hukum Kepailitan Di Indonesia Edisi 2, Jakarta : SoftMedia.
---, 2010, Hukum Kepailitan Edisi 2, Jakarta : Softmedia.
Suci, Ivida Dewi Amrih, 2011, Hak Kreditor Separatis Dalam Mengeksekusi Benda Jaminan Debitor Pailit, Yogyakarta:Laksbang Pressindo.
Sinaga, Syamsudin M, 2012, Hukum Kepailitan Indonesia. Cetakan Pertama,Jakarta:Penerbit Tata Nusa.
Soeroso ,R., 2001 Praktek Hukum Acara Perdata:Tata Cara Dan Proses Persidangan, Jakarta, Sinar Grafika, Edisi 4.
Shubban , Hadi, Hukum Kepailitan, 2009, Jakarta : Kencana,.
---, Hadi, 2008, Hukum Kepailitan: Prinsip, Norma dan Praktik di Peradilan, Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Suci , Ivida Dewi Amrih, 2011, Hak Kreditor Separatis Dalam Mengeksekusi Benda Jaminan Debitor Pailit, Yogyakarta:Laksbang Pressindo.
Seminar Sehari Revitalisasi, 2004, Tugas dan Wewenang Kurator/Pengurus, Hakim Pengawas dan Hakim Niaga dalam Rangka Kepailitan, Jakarta : Pusat Pengkajian Hukum.
Sjahdeini, Sutan Remy, 2010, Hukum Kepailitan:Memahami Undang undang No 37 tahun 2004 tentang Kepailitan, Jakarta : Pustaka Utama Grafiti Pers.
Sunggono , Bambang, 2003, Metodologi Penelitian hukum,Suatu Pengantar, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
Soemarso, 2007, Perpajakan : Pendekatan Komperehensif, Jakarta : Salemba Soekanto , Soerjono, 1981,Pengantar Penelitian Hukum,Jakarta: UI Press.
---,1986,Pengantar Penelitian Hukum, Jakarta:Universitas Indonesia.
Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, 2009, Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan Singkat, Cetakan ke – 11. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.
Soejono dan H. Abdurrahman, 2005, Metode Penelitian : Suatu Pemikiran dan Penerapan, Jakarta: Rineka Cipta.
Sumaryono, E, 2002, Etika dan Hukum : Relevansi Teori Hukum Kondrat Thomas Aquinas, Yogyakarta : Kanisius.
Sayuti , Husin, 1989, Pengantar Metodologi Riset, Jakarta: CV. Fajar Agung.
Tutik, Titik Triwulan, 2008, Hukum Perdata dalam Sistem Hukum Indonesia, Jakarta: Prenada Media Group.
Wijaya, Gunawan dan Ahmad Yani, 2009, Seri Hukum Bisnis Kepailitan (Jakarta : Raja Grafindo Persada.
Wuisman ,J.J.J M, 1996,Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial,Jilid 1 ,Jakarta: Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
B.Peraturan Perundang-undangan
Republik Indonesia, Undang Undang No 37 tahun 2004 Tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang
Republik Indonesia, Kitab Undang-Undang Hukum Perdata ( Burgerlijke Wetboek)
Undang Undang Nomor 28 Tahun 2007 Tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan.
Putusan Pengadilan Niaga Nomor : 57/ PDT. SUS- RENVOI PROSEDUR/2011/PN.NIAGA.JKT.PST
Putusan Mahkamah Agung Nomor 511 K/Pdt.Sus-Pailit/2014.
Putusan Nomor 72 PK/Pdt.Sus-Pailit.2015.
C.Makalah dan Jurnal
Astiti, Sriti Hesti, Pertanggungjawaban Pidana Kurator Berdasarkan Prinsip Independensi Menurut Hukum Kepailitan, Jurnal Hukum dan Peradilan, Volume 5 Nomor 2, Juli 2016
Murniati, Rilda, Jurnal Pengurusan dan Pemberesan Harta Pailit oleh Balai Harta Peninggalan Akibat Hukumnya, (Bandar Lampung:Fakultas Hukum Universitas Lampung, 2011.
Muljadi, Kartini, Makalah Pengertian dan Prinsip-prinsip Umum Hukum Kepailitan, Jakarta, 2000,.
Rahmat, Pupu Saeful,” Jurnal Penelitian Kualitatif”, Equilibrium vol.5 no.9 diakese dari http://yusuf.staff.ub.ac.id/files/2012/11/Jurnal-Penelitian-Kualitatif.pdf
Respationo, HM Soerya, Putusan Hakim: Menuju Rasionalitas Hukum Refleksi dalam Penegakan Hukum, Jurnal Hukum Yustisia, No.86 Mei-Agustus 2013,( Surakarta :Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta)
Rusli, Hardijan, “Metode Penelitian Hukum Normatif: Bagaimana?”, Law Review Fakultas Hukum Universitas Pelita Harapan, Volume V No. 3 Tahun 2006
Rochmawanto, Munif, Upaya Hukum Dalam Perkara Kepailitan, Jurnal Independent Vol. 3 Nomor 2
Syahdeini, Sutan Remy, Pengertian Utang Dalam Kepailitan, (Jurnal Hukum Bisnis, Volume 7, Januari 2002
Sutiyoso, Bambang, Impelementasi Gugatan Legal Standing dan class Action dalam Praktek Peradilan di Indonesia, Jurnal hukum Ius Quia Iustum, Vol.26 No 11 Mei 2004, (Yogyakarta: FH UII),
Wijayanta, Tata, Asas Kepastian hukum, keadilan dan kemanfaatan dalam kaitannya dengan putusan pengadilan niaga Jurnal Dinamika Hukum Vol 14 No.2 Mei 2014, (Yogyakarta: Fakultas hukum universitas Gadjah Mada),
Wantu, Fence M, Antinomi Dalam Penegakan Hukum Oleh Hakim, Jurnal Berkala Mimbar Hukum, Vol. 19, Yogyakarta: Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, 2007.
---, Mewujudkan Kepastian Hukum, Keadilan dan Kemanfaatan dalam Putusan Hakim di Peradilan Perdata, Jurnal Dinamika Hukum Vol 12 No 3 September 2012, (Gorontalo:Universitas Negeri Gorontalo, 2012
D.Media Internet
Bintang Partogi Mangaratua Sibuea, Prinsip Creditorium Dalam Kepailitan,
artikel hukum Pedia.com diakses dari
http://www.hukumpedia.com/bintangpartogi/prinsip-paritas-creditorium-dalam-kepailitan pada tanggal 14 Mei 2017.
Alur Perkara Kepailitan diakses dari website Pengadilan Negeri Medan
http://www.pn-medankota.go.id/mdn/index.php/layanan-hukum/prosedur-pengajuan-dan-biaya-perkara/457-alur-pailit
Harmonisasi Peraturan Perundang-Undangan, A.A. Oka Mahendra, diakses dari , www.ditjenpp.kemenkumham.go.id,
Putusan Pailit Gunawan Tjandra Dicabut, Berdasarkan Pasal 18 UU Kepailitan, pengadilan berwenang mencabut pernyataan pailit, diakes dari
http://www.hukumonline.com/berita/baca/lt4cc82ed19f548/putusan-pailit-gunawan-tjandra-dicabut pada tanggal 05 September 2017
Klinik hukum mengenai perbedaan sifat mengikat antara preseden dengan yurisprudensi diakses melalui website hukum online.com ,
http://www.hukumonline.com/klinik/detail/cl1679/perbedaan-sifat-mengikat-antara-preseden-dengan-yurisprudensi pada tanggal 07 September 2017.
E. HASIL WAWANCARA
Wawancara dengan Bapak Erintuah Damanik,selaku Hakim Pengadilan Negeri Medan Kelas I –A Khusus
Wawancara dengan Bapak Juncai selaku kurator swasta di Medan