• Tidak ada hasil yang ditemukan

5 KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN DAN KARAKTERISTIK RESPONDEN KOPI ARABIKA GAYO

6 ANALISIS STRUCTURE, CONDUCT, PERFORMANCE (SCP) PASAR KOPI ARABIKA GAYO

Bab 6 membahas sistem pemasaran kopi Arabika Gayo di Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah dengan menggunakan pendekatan stucture, conduct, dan performance (SCP). Stuktur pasar (market stucture) yang dianalisis yaitu pangsa pasar, konsentrasi pasar, dan hambatan masuk pasar. Analisis perilaku pasar (market conduct) terkait aktivitas pemasaran, penentuan harga serta kerjasama lembaga pemasaran. Analisis kinerja pasar (market performance) mencakup marjin pemasaran, farmer share dan integrasi pasar vertikal. Setiap analisis akan diuraikan secara sistematis berdasarkan tujuan penelitian. Pada Bab 6 akan diuraikan secara deskriptif pengintegrasian elemen-elemen penyusun didalam SCP, sehingga terlihat benang merah yang menghubungkan hasil analisis stuktur pasar berpengaruh terhadap perilaku dan kinerja pasar atau sebaliknya. Implikasi yang terjadi dikaitkan dengan teori-teori yang mendasari keterkaitan elemen-elemen SCP dalam menentukan pola pembentukan harga.

Analisis Struktur Pasar (Market Structure)

Analisis struktur pasar kopi Arabika Gayo bertujuan untuk mengidentifikasi tingkat persaingan yang terjadi dalam pasar kopi Arabika Gayo di Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah. Perhitungan dilakukan dengan menggunakan analisis pangsa pasar, hambatan masuk pasar konsentrasi pasar (concentration ratio). Konsentrasi pasar yang dianalisis menggunakan konsentrasi rasio empat perusahaan eksportir terbesar (CR4) dan untuk hambatan masuk pasar akan dianalisis menggunakan Minimum Efficiency Scale (MES).

Pangsa Pasar dan Konsentrasi Pasar

Pada sistem pemasaran kopi Arabika Gayo di Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah, sebagian besar produksi kopi yang dihasilkan (80%) di pasarkan ke pasar dunia (Disperindagkop Provinsi Aceh 2012). Selama tahun 2012, ekspor kopi yang berasal dari Provinsi Aceh mencapai 18 ribu ton dan sebagian besar (68.37%) diekspor ke negara Amerika Serikat. Menurut TransFair USA1, sekitar 85 persen kopi Fairtrade yang dijual ke pasar Amerika Serikat bersertifikat organik (Weber 2007). Oleh karena itu, perusahaan ekspor kopi yang berasal dari Provinsi Aceh sebagian besar (87%) memiliki sertifikat organik dan fairtrade dalam pemasaran kopi Arabika Gayo (AEKI 2013).

Banyaknya volume kopi yang dipasarkan ke pasar dunia menunjukkan bahwa eksportir memiliki peran strategis dalam pasar kopi Arabika Gayo. Saat ini jumlah eksportir kopi Arabika Gayo yang terdaftar sebagai anggota Asosiasi Ekportir Kopi Indonesia (AEKI) Daerah Aceh sebanyak 28 unit. Keterlibatan eksportir dalam keanggotaan AEKI dikarenakan sebelum tahun 2011 tata cara pelaksanaan ekspor harus melampirkan fotokopi bukti iuran yang dibayarkan

1

TransFair USA merupakan salah satu anggota FLO (Fairtrade Internasional) dan satu-satunya

kepada AEKI. Namun, setelah dikeluarkannya Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) No.10/M-DAG/PER/5/2011 tentang Ketentuan Ekspor Kopi. Permendag memberlakukan penghapusan tentang ketentuan persyaratan fotokopi bukti pembayaran iuran kepada Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI). Namun karena sebagian besar eksportir yang ada di Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah telah melakukan ekspor sebelum peraturan ini dikeluarkan. Maka, pada saat itu pendaftaran sebagai anggota AEKI menjadi wajib untuk dilakukan.

Selama tahun 2012 perusahaan yang melakukan ekspor kopi Arabika Gayo dari Provinsi Aceh hanya 10 perusahaan. Sisanya sebanyak 18 perusahaan tidak melakukan ekspor. Oleh karena itu, dalam perhitungan pangsa pasar dan konsentrasi kopi Arabika Gayo di Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah hanya menggunakan data realisasi rata-rata pembelian kopi Arabika gayo dari 10 perusahaan. Pada Tabel 11 terlihat nilai pangsa pasar pada setiap perusahaan (eksportir) di Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah.

Tabel 11 Pangsa pasar dan konsentrasi pasar 10 eksportir kopi Arabika Gayo di Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah, tahun 2012

No. Nama perusahaan Rata-rata volume pembelian kopi (kg/bulan)

Pangsa pasar

(w) CR4

1 KSU. Permata Gayo 4 728 119 0.2494 0.7112

2 CV. Aridalta Mandiri 3 719 554 0.1962

3 PT. Ihtiyeri Keti Ara 3 023 797 0.1595

4 KBQ. Baburrayan 2 011 441 0.1061 5 Koperasi GLOC 1 905 276 0.1005 6 CV. Putra Darma 1 799 112 0.0949 7 CV. Ateutamount 587 697 0.0310 8 CV. Alfi Datinggoco 496 699 0.0262 9 PT. Fajar Jeumpa 407 596 0.0215 10 PT. Sumatera Arabika Gayo 278 682 0.0147 Jumlah 18 957 974 1.0000

Hasil analisis four firm concentration ratio (CR4) menunjukkan bahwa empat perusahaan terbesar menguasai 71.12 persen dari total ketersediaan kopi Arabika Gayo di Provinsi Aceh. Artinya tingkat persaingan perusahaan ekspor kopi Arabika Gayo di Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah terkonsentrasi dengan tingkat persaingan yang kecil. Kondisi ini menggambarkan bahwa pasar cenderung berada dalam struktur pasar oligopsoni. Ini sesuai dengan pendapat Kohls dan Uhl (2002) yang menyatakan apabila rasio konsentrasi empat perusahaan terbesar lebih besar dari 50 persen, maka struktur pasar cenderung berada pada kondisi oligopsoni.

Perusahaan yang memiliki pangsa pasar kopi Arabika Gayo terbesar adalah KSU. Permata Gayo (24.94%), selanjutnya diikuti oleh CV. Aridalta Mandiri (19.62%), PT. Ihtiyeri Keti Ara (15.95%) dan KBQ. Baburrayan (10.61%). Koperasi Serba Usaha (KSU) Permata Gayo dan Koperasi Baitul Qiradh (KBQ) Baburrayan merupakan perusahaan ekspor yang berbadan hukum koperasi. Kedua perusahaan ini memiliki sistem manajemen yang hampir sama. Pada proses penyediaan pasokan, perusahaan melibatkan pedagang pengumpul

(kolektor) dan petani anggota. Hal ini menunjukkan adanya kerjasama yang terjalin antara perusahaan dan petani.

Jumlah petani yang menjadi anggota KBQ. Baburrayan dan KSU. Permata Gayo telah mencapai 12 ribu petani yang tersebar di Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah atau setara dengan 20.46 persen dari total petani yang mengikuti program sertifikasi produk (57 ribu orang) di kedua kabupaten ini. Besarnya jumlah petani anggota yang dimiliki perusahaan menunjukkan bahwa perusahaan secara tegas telah memiliki pembagian wilayah pembelian yang jelas, sehingga daerah produsen seolah-olah terbagi menjadi beberapa segmen yang masing- masing dikuasai oleh perusahaan (eksportir) yang berbadan hukum koperasi. Bagi petani, penjualan melalui koperasi merupakan satu-satunya alternatif untuk memasarkan produk kopi Arabika Gayo ke pasar kopi bersertifikat. Hal ini disebabkan, hanya koperasi saja yang memiliki lisensi sertifikasi produk seperti organic certified, fairtrade dan rainforest. Oleh karenanya, dengan kelebihan tersebut eksportir mempunyai kekuatan besar dalam mengontrol pasar.

Berbeda halnya untuk dua perusahan terbesar lainnya, CV. Aridalta Mandiri dan PT. Ihtiyeri Keti Ara. Kedua perusahaan ini merupakan badan usaha yang hanya bergerak dalam perdagangan kopi Arabika Gayo. Pada sistem manajemennya, CV. Aridalta Mandiri dan KBQ. Baburrayan dikelola olah orang yang sama. Perbedaannya adalah bila di KBQ. Baburrayan orang tersebut menjadi manajer koperasi, sedangkan di CV. Aridalta Mandiri menjadi pemilik perusahaan. Hal ini tentu saja mempengaruhi pangsa pasar dan kekuatan dalam mempengaruhi keputusan-keputusan pembelian dan penjualan. Kebijakan internal perusahaan maupun koperasi akan berdampak terhadap kondisi pasar yang dihadapi oleh petani.

Kerjasama yang terjalin antar eksportir akan memberikan peluang besar dalam melakukan kolusi harga. Sehingga, konsekuensi petani dalam menghadapi struktur pasar oligopsoni adalah petani cenderung sebagai penerima harga (price taker) dan posisi tawar (bargaining position) petani lemah dalam proses penentuan harga. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Saputra (2012) dalam pasar kopi organik di Kabupaten Aceh Tengah dan Shumeta et al. (2012) dalam pasar kopi di Ethiopia yang menunjukkan bahwa terdapat pelaku pemasaran yang dominan dalam menentukan harga dan petani cenderung sebagai penerima harga (price taker). Penjelasan lebih lanjut terkait sistem penentuan harga di tingkat petani akan dikaji melalui analisis perilaku pasar.

Hambatan Masuk Pasar

Setiap perusahaan di luar pasar memiliki peluang dan kesempatan untuk bersaing. Persaingan yang terjadi merupakan persaingan yang potensial. Namun, hambatan masuk pasar yang ada dapat menimbulkan penurunan kesempatan atau mempengaruhi cepat atau lambat masuknya pesaing baru dalam suatu pasar. Hambatan masuk pasar dapat dihitung menggunakan Minimum Efficiency Scale (MES). Nilai MES diperoleh dari volume pembelian kopi Arabika Gayo oleh perusahaan terbesar di Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah terhadap total ketersediaan kopi Arabika Gayo. Jika nilai MES > 10 persen mengindikasikan terdapat hambatan masuk dalam pasar kopi Arabika Gayo.

Hasil analisis menunjukkan bahwa selama tahun 2007 sampai 2012 perusahaaan yang membeli kopi Arabika Gayo terbesar di Kabupaten Aceh

Tengah dan Bener Meriah memiliki nilai rata-rata MES sebesar 29.83 persen. Hal ini mengindikasikan adanya hambatan masuk dalam perdagangan kopi Arabika Gayo di tingkat eksportir. Setiap tahunnya nilai MES yang terbentuk cenderung fluktuatif. Pada tahun 2007 nilai MES mencapai 40.21 persen dan pada tahun 2011 sebesar 24.17 persen. Fluktuasi terjadi karena adanya perubahan jumlah pembelian kopi Arabika Gayo yang dilakukan oleh perusahaan. Walaupun demikian, nilai MES yang terbentuk selalu lebih besar dari 10 persen. Jika pesaing baru memasuki pasar dengan nilai dibawah rata-rata maka pesaing tersebut tidak dapat bersaing dengan perusahaan-perusahaan yang telah ada. Namun, apabila pesaing baru ingin tetap masuk, maka perusahaan harus menanggung biaya yang lebih tinggi untuk dapat bersaing dengan perusahaan-perusahaan lainnya. Tabel 12 menunjukkan perkembangan nilai Minimum Efficiency Scale (MES) selama tahun 2007 sampai 2012.

Tabel 12 Minimum Efficiency Scale (MES) pasar kopi Arabika Gayo di Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah tahun 2007-2012

No Tahun MESa (%) Keterangan

1 2007 40.21 Ada hambatan masuk

2 2008 27.91 Ada hambatan masuk

3 2009 30.94 Ada hambatan masuk

4 2010 30.61 Ada hambatan masuk

5 2011 24.17 Ada hambatan masuk

6 2012 25.14 Ada hambatan masuk

Rata-rata 29.83

a

Persentase pembelian kopi Arabika Gayo terbesar dari suatu perusahaan terhadap total persediaan kopi Arabika Gayo di Provinsi Aceh

Bagi perusahaan, tingginya hambatan masuk pasar antara lain disebabkan oleh besarnya modal yang dibutuhkan, kerjasama antar perusahaan dan jaringan rantai pasok yang kuat dengan koperasi dan pedagang pengumpul (kolektor). Pada Tabel 13 menunjukkan bahwa rata-rata modal usaha yang diperlukan oleh pedagang berkisar antara 67 juta sampai 1.7 milyar rupiah selama musim panen. Tabel 13 Rata-rata modal, sumber modal, dan lama melakukan perdagangan kopi

menurut golongan pedagang, tahun 2013

Modal/ sumber modal Satuan Kolektor Koperasi Eksportir

(n=14) (n=3) (n=3)

1. Rata-rata modala (juta Rp) 67 580 1 700

2. Seluruh modal sendiri (% ) - - -

3. Modal Internalb (% ) 28.57 30.00 28.57 4. Modal pinjaman (% ) 71.43 70.00 71.43 5. Sumber pinjaman a. Perbankan (% ) 55.00 78.00 90.00 b. Pedagang lain (% ) 45.00 22.00 10.00 6. Frekuensi pembelian dalam 1 bulanc (kali) 3 8 2 a

modal awal yang digunakan dalam aktivitas pembelian kopi, tidak termasuk modal tetap (gedung, tanah); bmodal yang bersumber dari keuntungan perusahaan; cpembelian dilakukan pada musim panen (kg/minggu)

Di tingkat eksportir, untuk mencapai skala efisiensi ekonomis perusahaan akan mengekspor kopi dalam kapasitas yang besar (≥ 19 ton). Hal ini bertujuan agar dapat menutupi biaya usaha yang dikeluarkan seperti untuk pembelian kopi, proses pengolahan, standardisasi, pengemasan kopi dan promosi. Di sisi lain, keterbatasan sarana transportasi di daerah produsen juga menyebabkan eksportir harus mengeluarkan biaya yang besar. Kondisi jalan yang buruk dan rawan longsor harus dihadapi pada jalan lintas Kabupaten Aceh Tengah-Bireuen. Sekitar 57.14 persen eksportir menyatakan bahwa keterbatasan sarana dan prasarana transportasi menjadi salah satu hambatan dalam pemasaran kopi Arabika Gayo. Selain itu, keterikatan kerjasama yang dibangun secara horizontal (antara eksportir dengan eksportir) atau secara vertikal antara eksportir dengan koperasi menyebabkan perusahaan baru sulit untuk masuk dan membangun saluran pemasaran baru. Kerjasama yang terjalin dapat berupa permodalan, karakteristik produk (standardisasi dan sertifikasi), ikatan kontrak yang telah berlangsung dan kepercayaan. Tabel 14 menunjukkan beberapa bentuk hambatan masuk bagi setiap lembaga pemasaran dalam pasar kopi Arabika Gayo di Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah.

Tabel 14 Bentuk hambatan bagi pesaing baru untuk memasuki pasar kopi Arabika Gayo pada setiap tingkat lembaga pemasaran

Tingkat lembaga Bentuk hambatan Persentase responden (%)

Petani (n = 60) Standardisasi (sertifikasi) 50.00 Kolektor (n = 14) Modal Kerjasama vertikal 43.71 71.43 Koperasi (n = 5) Modal Manajemen koperasi Lisensi Sertifikasi

Kerjasama horizontal dan vertikal

75.00 75.00 75.00 100.00 Eksportir (n =5 ) Modal Teknologi (standardisasi) Sortasi/ grading Transportasi

Kerjasama horizontal dan vertikal Skala usaha ekonomi

100.00 85.71 65.70 57.14 71.43 71.43 Di tingkat koperasi, hambatan masuk dalam pasar kopi Arabika Gayo antara lain adalah modal, manajemen, teknologi dan lisensi. Koperasi sebagai pemegang sertifikasi produk, memerlukan manajemen (pengolaan) yang baik dalam memasarkan produk kopi. Setiap tahun, lembaga sertifikasi (FLO-cert) akan melakukan inspeksi terhadap pengelolaan kopi berserfikat. Mulai dari operasional koperasi, dokumen (arsip) terkait sertifikasi, pedagang pengumpul (kolektor) hingga ke petani. Pentingnya sinergisitas antar pelaku pemasaran hanya dapat dibangun apabila koperasi memiliki manajemen yang dan baik dan memiliki kerjasama antara pedagang pengumpul (kolektor) dan petani. Oleh karennya, kerjasama vertikal mulai dari eksportir, koperasi, pedagang pengumpul (kolektor) hingga ke petani menjadi hambatan masuk bagi perusahaan lain.

Bagi pedagang pengumpul (kolektor), hambatan untuk memasuki pasar kopi Arabika Gayo antara lain adalah jumlah modal (43.71%) dan ikatan kerjasama (71.43%) dengan petani maupun koperasi. Walaupun, secara informal petani sebagai anggota koperasi menyetujui menjual kopi kepada koperasi. Namun, peran pedagang pengumpul (kolektor) untuk menumbuhkan kepercayaan petani agar menjual kopi kepada mereka tidak mudah. Sebagian besar pedagang pengumpul (kolektor) memberikan pinjaman kepada petani, sehingga secara tidak langsung petani terikat untuk menjual kopinya kepada pedagang (kolektor). Pinjaman yang diberikan memerlukan sumber permodalan yang tidak sedikit. Namun dengan adanya jaminan pasar melalui kerjasama yang dibangun kolektor dengan koperasi dan kemampuan kolektor untuk memperoleh sumber permodalan dari pihak perbankan. Maka, sebagian besar kolektor (56.29%) tidak menjadikan modal sebagai hambatan untuk masuk pasar kopi Arabika Gayo. Menurut kolektor, hambatan terbesar adalah adanya kerjasama vertikal yang perlu dibangun oleh kolektor dengan petani maupun pihak koperasi.

Berbeda halnya dengan petani, menurut sebagian petani (50%) hambatan masuk ke dalam pasar kopi Arabika Gayo adalah standardisasi. Persyaratan standar kopi organik merupakan syarat mutlak yang harus dimiliki untuk mengikuti program sertifikasi produk. Standardidasi diperlukan untuk menjaga kualitas kopi yang dipasarkan. Oleh karenanya, petani memerlukan keahlian dan pengetahuan yang baik dalam proses pemupukan, pemeliharaan dan pengendalian hama penyakit. Namun sebesar 50 persen petani tidak menjadikan standardisasi sebagai hambatan masuk pasar. Kondisi ini disebabkan petani sejak awal telah menerapkan standar kopi organik walaupun belum dilakukan secara sempurna. Salah satu aktivitas tersebut adalah petani tidak menggunakan pupuk kimia sintetis secara berlebihan. Sehingga, untuk memenuhi standar kopi organik petani hanya memerlukan kebun kopi dan tenaga kerja. Umumnya, setiap rumah tangga penduduk di daerah ini telah memiliki kebun sendiri seluas 0.5 sampai 1 hektar dan penggunaan tenaga kerja dalam keluarga merupakan tradisi lama yang tidak memerlukan biaya besar. Pada Tabel 15 terlihat kondisi struktur pasar yang dihadapi oleh setiap lembaga pemasaran.

Tabel 15 Karakteristik dan struktur pasar kopi Arabika Gayo di Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah

Karekteristik Pemasaran di tingkat

Petani Kolektor Koperasi Eksportir Penjual Petani (banyak) Kolektor (terpusat) Koperasi (11 unit) Eksportir (10 unit) Pembeli Kolektor (terpusat) Koperasi (11 unit) Eksportir (10 unit) Importir (5 negara) Produk Homogen Homogen Homogen Diferensiasi Hambatan

masuk pasar

Ada Ada Ada Ada

Berdasarkan hasil analisis pangsa pasar, konsentrasi pasar dan hambatan masuk pasarmenunjukkan bahwa dengan tingginya konsentrasi pasar dan tingginya hambatan masuk pasar (barrier to entry) pada tingkat eksportir dan koperasi, maka struktur pasar yang terbentuk di tingkat produsen adalah oligopsoni, dengan jumlah pedagang pengumpul (kolektor) yang terpusat sebagai pembeli. Sehingga, peran eksportir dalam penentuan harga kopi Arabika Gayo lebih dominan di bandingkan lembaga pemasaran lainnya. Hal ini disebabkan, eksportir langsung berhadapan dengan konsumen (importir) dan memiliki daya tawar yang lebih tinggi. Penjelasan lebih lanjut terkait mekanisme penentuan harga akan dikaji melalui analisis perilaku pasar.

Analisis Perilaku Pasar (Market Conduct)

Perilaku pasar kopi Arabika Gayo di Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah dianalisis secara deskriptif. Analisis perilaku pasar akan menggambarkan perilaku setiap lembaga pemasaran dalam menghadapi struktur pasar yang ada. Adapun elemen-elemen yang terdapat didalam perilaku pasar meliputi lembaga dan praktek fungsi pemasaran yang didalamnya akan terlihat kondisi kerjasama antar lembaga pemasaran (Dahl dan Hammond 1977), saluran pemasaran, mekanisme penentuan harga dan sistem pembayaran.

Lembaga dan Praktek Fungsi Pemasaran

Secara umum pemasaran kopi Arabika Gayo di Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah di bagi menjadi dua kategori yaitu pemasaran sertifikasi dan pemasaran konvensional. Pada pemasaran sertifikasi, produk kopi yang dihasilkan merupakan produk kopi arabika yang telah disertifikasi. Umumnya sertifikasi produk yang dimiliki lebih dari satu jenis sertifikasi (dual certified coffee) yaitu sertifikasi organik dan fairtrade. Pada pemasaran konvensional, produk kopi yang dihasilkan tidak bersertifikat dan berasal dari kopi non-organik. Sebagian besar (86%) kopi arabika non-organik dari Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah dipasarkan ke pasar domestik. Oleh karenanya, sesuai dengan ruang lingkup penelitian ini. Maka kajian pemasaran kopi Arabika Gayo yang akan dikaji adalah kopi Arabika Gayo yang telah memiliki sertifikasi produk.

Lembaga pemasaran merupakan badan usaha atau individu yang menyelenggarakan kegiatan atau fungsi pemasaran sehingga produk atau jasa akan berpindah dari produsen ke konsumen. Adapun lembaga pemasaran yang terlibat dalam pemasaran kopi Arabika Gayo meliputi petani, pedagang pengumpul (kolektor), koperasi dan eksportir.

a. Petani merupakan pemilik produk yang mempunyai lahan sendiri. Petani merupakan anggota koperasi serta mengikuti program sertifikasi produk. b. Pedagang Pengumpul, yaitu pedagang yang mengumpulkan kopi Arabika Gayo

dari petani. Pedagang pengumpul biasanya disebut sebagai kolektor karena memiliki kerjasama dengan koperasi.

c. Koperasi, yaitu sebuah badan usaha yang dibentuk oleh sekelompok orang yang memiliki tujuan yang sama. Koperasi beranggotakan petani, pedagang pengumpul (kolektor) dan pemilik modal. Pihak koperasi memiliki lisensi sertifikat atas produk kopi yang dihasilkan petani.

d. Eksportir, yaitu perusahaan atau lembaga yang memasarkan produk kopi Arabika Gayo ke luar negeri. Eksportir memperoleh kopi dari koperasi dan menjual langsung ke importir (negara lain).

Setiap lembaga mampu menciptakan nilai (value) secara spesifik untuk produk atau jasa yang ditawarkan (Levens 2010). Penciptaan nilai ini dapat dilakukan melalui fungsi-fungsi pemasaran. Fungsi pemasaran dapat dikelompokkan dalam tiga kategori yaitu fungsi pertukaran (pembelian, penjualan), fungsi fisik (pengolahan, transportasi/pengangkutan, penyimpanan) dan fungsi fasilitas (standardisasi, penanggulangan risiko, pembiayaan, informasi pasar) (Kohls dan Uhl 2002). Berikut ini akan diuraikan fungsi-fungsi pemasaran yang dilakukan oleh setiap lembaga pemasaran kopi Arabika Gayo di Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah.

a. Petani

Sejak tahun 1992, petani telah melakukan kegiatan budidaya kopi Arabika Gayo berdasarkan pada standar organik yang telah di tetapkan oleh IFOAM (International Federation Organic Agriculture Movements). Namun, dalam perkembangannya masih diperlukan beberapa perbaikan, terutama dalam hal produksi dan pemasaran. Tehnik budidaya kopi arabika organik pada dasarnya sama dengan budidaya kopi arabika non-organik (konvensional), yang membedakan adalah dalam budidaya kopi organik tidak diperbolehkan menggunakan bahan-bahan kimia sintetis mulai dari persiapan lahan, penanaman, pemeliharaan, panen hingga penanganan pasca panen. Hal ini dikarenakan setiap tahap dalam perlakuan kopi akan mempengaruhi kualitas kopi yang dihasilkan.

Aktivitas pemanenan di daerah penelitian dapat berlangsung setiap bulan. Daerah dengan ketinggian di bawah 1 200 m dpl, panen dapat dilakukan pada bulan Juli hingga Nopember. Daerah yang berada diatas ketinggian 1 200 m dpl dilakukan panen pada bulan Nopember hingga April. Namun, panen raya hanya berlangsung selama 3 bulan (bulan Maret, April, Mei). Pemanenan dilakukan secara manual, bertahap dan selektif. Secara teknis, pada 15 hari pertama petani memilih kopi ceri yang telah berwarna merah penuh dan tidak memetik kopi ceri yang belum sempurna merahnya dan pada 15 hari kedua petani kembali menelusuri kopi ceri yang awalnya masih hijau atau belum sempurna warnanya untuk di petik. Pemetikan secara manual dan selektif akan menghasilkan kualitas kopi yang lebih baik. Namun, kendala yang dihadapi petani adalah keterbatasan tenaga kerja dan modal untuk melakukan pemanenan. Sehingga, sering kali menggunakan tenaga kerja dalam keluarga yang tidak dibayar dan untuk meningkatkan jumlah penjualan, tidak jarang petani melakukan pencampuran kopi ceri yang masih hijau dan belum sempurna merahnya dengan kopi ceri yang telah merah. Hal ini tentu saja akan mempengaruhi kualitas dan harga jual kopi di tingkat petani.

Selama proses penjualan, harga kopi ceri juga ditentukan oleh ketinggian lahan tanaman kopi. Pada Tabel 16 terlihat bahwa rata-rata harga kopi ceri di Kabupaten Bener Meriah lebih mahal (10%) dibandingkan kopi ceri di Kabupaten Aceh Tengah. Hal ini disebabkan, kopi yang dihasilkan dari Bener Meriah pada umumnya di tanam pada ketinggian antara 1 200 sampai 1 800 m dpl sedangkan Kabupaten Aceh Tengah berkisar antara 700 sampai 1 000 m dpl. Menurut ICRRI (2008), kondisi lahan yang tinggi akan menghasilkan biji kopi yang berkualitas

baik, dengan ciri utamanya memiliki ukuran yang lebih kecil dibandingkan kopi yang berasal dari dataran rendah dan memiliki kualitas rasa (cupping test) yang lebih tinggi. Menurut pendapat Mustafa Ali sebagai ketua Masyarakat Perlindungan Kopi Gayo (MPKG) kondisi inilah yang menjadi salah satu penyebab petani kopi di Kabupaten Aceh Tengah sebagian besar (85%) menjual dalam bentuk kopi HS dengan tujuan agar harga jualnya dapat lebih tinggi.

Pada fungsi pertukaran, petani hanya melakukan aktivitas penjualan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh petani responden di Kabupaten Aceh

Tengah mejual kopi HS dengan kadar air ≥ 40 persen. Rata-rata penjualan yang

dilakukan sebanyak 146 kg dalam bentuk kopi HS. Berbeda halnya dengan petani di Kabupaten Bener Meriah yang seluruhnya menjual dalam bentuk kopi ceri tanpa dilakukan proses pengolahan. Tabel 16 menunjukkan rata-rata produksi yang dihasilkan petani dan jumlah penjualannya per minggu selama musim panen.

Tabel 16 Aktivitas penjualan kopi Arabika Gayo di tingkat petani responden

Jumlah petani Rata-rata produksia (kg/ha) Rata-rata penjualan (kg/minggu)

Bentuk Harga jual c

(Rp/kg) Pembeli Aceh Tengah

- n = 30 3 746 146 Kopi HSb 17 178 Kolektor

Bener Meriah

- n = 30 4 200 347 Kopi ceri 7 084 Kolektor

a

Produksi kopi ceri yaitu buah kopi yang masak (merah) yang baru dipanen dari kebun; bKopi HS