5 KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN DAN KARAKTERISTIK RESPONDEN KOPI ARABIKA GAYO
1. Marjin pemasaran di Kabupaten Aceh Tengah
Hasil analisis menunjukkan bahwa marjin pemasaran terbesar terdapat pada saluran 1 (petani-kolektor-koperasi-eksportir [non-koperasi]) yaitu Rp43 944/kg atau 72.04 persen, sedangkan saluran 4 merupakan saluran yang memiliki marjin pemasaran terkecil yaitu Rp40 367/kg atau 70.00 persen dari harga yang dibayarkan oleh konsumen (importir). Marjin pemasaran yang tinggi disebabkan karena banyaknya pihak yang terlibat dalam proses penyaluran produk dari produsen ke konsumen. Hal ini mengakibatkan biaya pemasaran menjadi lebih tinggi dan keuntungan yang diambil oleh masing-masing pelaku pasar semakin kecil. Secara lengkap, hasil analisis marjin pemasaran kopi Arabika Gayo di Kabupaten Aceh Tengah disajikan dalam Lampiran 6a.
Berdasarkan hasil analisis terlihat bahwa total keuntungan terbesar diperoleh pada saluran 4 (Rp37 537/kg), sedangkan total keuntungan terkecil terdapat pada saluran 3 (Rp37 484). Hal ini disebabkan pada saluran 4 lembaga pemasaran yang terlibat lebih sedikit (petani-kolektor-eksportir [koperasi]) dibandingkan saluran lainnya, terutama saluran 3 (petani-kolektor-eksportir [koperasi]-eksportir [non- koperasi]). Selain itu, harga jual yang ditawarkan oleh eksportir [koperasi] lebih kompetitif (Rp57 667/kg) dibandingkan eksportir [non-koperasi] (Rp61 000 /kg). Kelebihan eksportir yang berbadan hukum koperasi adalah memiliki kepastian pasokan dari petani dan kolektor anggota, selain itu perubahan nilai tambah yan dilakukan di tingkat koperasi yang juga merupakan eksportir dapat meningkatkan efisiensi perusahaan dalam proses pemasarannya. Analisis saluran pemasaran pada masing-masing saluran memberikan tingkat biaya pemasaran yang berberda. Hal ini dipengaruhi oleh perubahan nilai tambah produk yang dilakukan, baik bentuk, tempat, waktu dan kepemilikan. Analisis marjin pemasaran kopi Arabika Gayo di Kabupaten Aceh Tengah pada setiap saluran pemasaran ditunjukkan pada Gambar 23 sampai Gambar 26.
Hasil analisis menunjukkan bahwa pada saluran 1 biaya pemasaran terbesar dikeluarkan oleh eksportir [non-koperasi] yaitu sebesar Rp3 433/kg atau 5.63 persen, selanjutnya di tingkat koperasi Rp2 160/kg atau 3.54 persen dan di tingkat kolektor sebesar Rp302/kg atau 0.49 persen. Besarnya biaya yang dikeluarkan eksportir disebabkan oleh besarnya biaya transportasi dan bongkar muat yang mencapai Rp2 131/kg atau setara dengan 3.49 persen dari harga yang dibayarkan oleh konsumen (importir). Biaya tersebut dikeluarkan untuk menyewa truk, administrasi pengapalan dan membayar upah tenaga kerja yang mengambil produk kopi dari gudang tempat pengolahan kopi di lakukan menuju gudang kopi di Pelabuhan Belawan, Sumatera Utara. Selain itu, eksportir juga mengeluarkan
biaya pengolahan (0.95%), biaya sortasi (0.59%), biaya penyimpanan dan biaya- biaya lainnya (0.60%). Pada Gambar 23 menunjukkan marjin pemasaran yang terjadi pada saluran 1.
Gambar 23 Sebaran marjin pemasaran kopi Arabika Gayo di Kabupaten Aceh Tengah pada saluran 1, tahun 2012
Hal yang sama terjadi di tingkat koperasi, biaya terbesar yang dikeluarkan oleh koperasi adalah biaya transportasi dan bongkar muat sebesar Rp1 462/kg atau 2.40 persen. Biaya ini dikeluarkan koperasi untuk menyewa kontainer dan upah tenaga kerja yang mengantarkan kopi green off-grade atau kopi beras yang belum disortir dari Kabupaten Aceh Tengah ke tingkar eksportir yang umumnya berada di Sumatera Utara. Sama halnya di tingkat kolektor biaya pemasaran terbesar dikeluarkan untuk biaya transportasi Rp183/kg atau 0.30 persen. Lokasi rumah petani yang saling berjauhan, menyebabkan biaya tranportasi yang harus dikeluarkan oleh kolektor untuk membeli kopi petani relatif lebih tinggi dibandingkan biaya pemasaran lainnya.
Analisis kedua dilakukan pada saluran pemasaran 2 di Kabupaten Aceh Tengah. Hasil analisis menunjukkan bahwa lembaga pemasaran yang mengeluarkan biaya pemasaran terbesar adalah eksportir [non-koperasi] yaitu Rp3 733/kg sedangkan di tingkat kolektor hanya mengeluarkan biaya pemasaran sebesar Rp842. Hal ini disebabkan pada saluran 2 eksportir melakukan pembelian langsung kopi Arabika Gayo dari kolektor dalam bentuk kopi beras (green off- grade). Sehingga, biaya yang awalnya ditanggung oleh koperasi, sekarang harus ditanggung oleh eksportir [non-koperasi]. Adapun biaya pemasaran terbesar terdapat pada biaya transportasi dan bongkar muat sebesar Rp2 431/kg atau 3.99 persen. Namun di tingkat kolektor, biaya pemasaran yang dikeluarkan lebih besar jika dibandingkan dengan saluran 1 yaitu sebesar Rp842 /kg. Hal ini disebabkan kolektor melakukan proses pengolahan kopi HS menjadi kopi beras yang belum disortir (grade off-grade). Gambar 24 menunjukkan marjin pemasaran yang terbentuk pada saluran 2.
- 10,000 20,000 30,000 40,000 50,000 60,000 70,000
Harga Beli Biaya
Pemasaran
Harga Jual Keuntungan
17,056 302 19,333 1,976 19,333 2,160 42,000 20,507 42,000 3,433 61,000 15,567 R u p iah /k g Saluran 1
Gambar 24 Sebaran marjin pemasaran kopi Arabika Gayo di Kabupaten Aceh Tengah pada saluran 2, tahun 2012
Gambar 25 juga menunjukkan sebaran marjin pemasaran yang terjadi pada saluran 3. Kondisi yang sama terjadi pada saluran 3 dimana eksportir [non- koperasi] mengeluarkan biaya pemasaran terbesar (Rp3 387/kg). Biaya terbesar juga dikeluarkan untuk biaya transportasi dan bongkar muat. Sedangkan di tingkat kolektor mengeluarkan biaya pemasaran terkecil (Rp302 /kg) dengan biaya terbesarnya (Rp183 /kg) juga digunakan untuk biaya transportasi.
Gambar 25 Sebaran marjin pemasaran kopi Arabika Gayo di Kabupaten Aceh Tengah pada saluran 3, tahun 2012
Berbeda halnya dengan saluran 4, Gambar 26 menunjukkan bahwa eksportir [koperasi] mengeluarkan biaya pemasaran terbesar (Rp2 528/kg). Namun, apabila dibandingkan dengan eksportir [non-koperasi], perusahaan eksportir yang berbadan hukum koperasi dapat menekan biaya lebih rendah dalam melakukan aktivitas pemasaran. Adapun biaya pemasaran terbesar yang ditanggung oleh eksportir [koperasi] terdapat pada biaya transportasi dan bongkar muat sebesar Rp1 462/kg atau 2.54 persen. Di tingkat kolektor, aktivitas yang dilakukan sama dengan yang terjadi pada saluran 1 dan 3. Pada Gambar 26 terlihat sebaran marjin pemasaran kopi Arabika Gayo di Kabupaten Aceh Tengah pada saluran 4.
- 20,000 40,000 60,000 80,000
Harga Beli Biaya
Pemasaran
Harga Jual Keuntungan
17,178 842 31,167 13,147 31,167 3,733 61,000 26,100 R u p iah /k g Saluran 2
Kolektor Eksportir (non koperasi)
- 10,000 20,000 30,000 40,000 50,000 60,000 70,000
Harga Beli Biaya
Pemasaran
Harga Jual Keuntungan
17,300 302 18,750 1,148 18,750 2,528 51,000 29,722 51,000 3,387 61,000 6,613 R u p iah /k g Saluran 3
Gambar 26 Sebaran marjin pemasaran kopi Arabika Gayo di Kabupaten Aceh Tengah pada saluran 4, tahun 2012
Berdasarkan hasil analisis marjin pemasaran kopi di Kabupaten Aceh Tengah menunjukkan bahwa semakin banyak lembaga pemasaran yang terlibat akan memperoleh marjin pemasaran terbesar yaitu pada saluran 1. Saluran yang tidak banyak melibatkan pelaku pemasaran dan mampu meningkatkan efisiensi usahanya dengan mempertahankan kepuasan konsumen akan dapat memperoleh total keuntungan terbesar yaitu terlihat pada saluran 4. Namun, hal ini belum cukup untuk menunjukkan kinerja pasar tergolong efisien atau tidak. Perlu kajian lebih lanjut seberapa besar share harga yang diterima oleh petani dan kondisi integasi pasar yang terbentuk.