• Tidak ada hasil yang ditemukan

Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan di Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah, Provinsi Aceh. Lokasi dipilih secara purposive, berdasarkan pertimbangan bahwa sekitar 89.92 persen (42 988 ton) dari total produksi kopi Arabika Gayo di Provinsi Aceh pada tahun 2012 (47 805 ton) berasal dari kedua Kabupaten ini. Selanjutnya, dipilih dua Kecamatan dari masing-masing Kabupaten. Setiap Kecamatan dipilih dua Desa. Pemilihan Kecamatan didasarkan pada pertimbangan bahwa lokasi tersebut memiliki tingkat produksi tertinggi atau termasuk tinggi dibandingkan lokasi lainnya (lihat Lampiran 1). Pemilihan Desa berdasarkan informasi langsung dari informan yang ditemui di lokasi penelitian. Waktu pengumpulan data dimulai bulan Nopember 2012 sampai Januari 2013.

Jenis dan Sumber Data

Data yang dikumpulkan berupa data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari pelaku-pelaku pemasaran seperti petani, pedagang pengumpul, (kolektor), koperasi dan eksportir yang terlibat dalam sistem pemasaran kopi Arabika Gayo di Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah. Data sekunder diperoleh dari Kementerian Pertanian, Dinas Kehutanan dan Perkebunan Provinsi Aceh, BPS Provinsi Aceh, Dinas Perindustian dan Perdagangan, Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (AEKI), Kementerian Perdagangan, serta hasil penelitian terdahulu yang berkaitan dengan penelitian ini dan sumber lainnya.

Metode Pengambilan Sampel

Metode yang digunakan dalam pengambilan data yaitu berupa pengamatan langsung di lapangan (observasi), wawancara dan pengisian kuesioner. Populasi petani kopi Arabika Gayo di Kabupaten Aceh Tengah yang mengikuti program sertifikasi produk mencapai 24 439 rumahtangga petani (Disbunhut Kabupaten Aceh Tengah 2013) dan untuk Kabupaten Bener Meriah sebanyak 13 212 rumahtangga petani (Disbunhut Kabupaten Bener Meriah 2013). Acuan yang dipertimbangkan dalam pengambilan ukuran sampel yaitu keragaman populasi yang relatif homogen (Juanda 2008). Sehingga, pengambilan sampel petani dilakukan dengan metode simple random sampling atau acak sederhana.

Jumlah petani responden yang diambil sebanyak 60 orang diantaranya 30 orang di Kabupaten Aceh Tengah dan 30 orang di Kabupaten Bener Meriah. Dimana setiap kecamatan dipilih sebanyak 15 orang. Pengambilan sampel pedagang dilakukan dengan teknik snowball sampling berdasarkan alur pemasaran yang ada di Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah. Jumlah pedagang antara lain 14 orang pedagang pengumpul (kolektor) diantaranya 9 orang di Kabupaten Aceh Tengah dan 5 orang di Kabupaten Bener Meriah, 2 unit

koperasi dari kedua Kabupaten dan 3 unit perusahaan ekspor berbadan hukum koperasi dan 2 unit perusahan ekspor (non koperasi). Selain cross section data yang dilakukan pada musim panen dan pasca panen, penelitian ini mempergunakan time series data dari bulan Januari 2008 sampai Desember 2012 (n=60). Time series data ini terutama mengenai harga kopi Arabika Gayo di tingkat petani, kolektor, koperasi dan eksportir.

Teknik Pengolahan dan Analisis Data

Pendekatan yang digunakan dalam menganalisis pemasaran kopi arabika yaitu melalui pendekatan struktur pasar (market structure), perilaku pasar (market conduct) dan kinerja pasar (market performance). Analisis yang dilakukan yaitu analisis deskriptif dan kuantitatif. Pengolahan data kuantitatif menggunakan Microsoft Excel 2007 dan Eviews 6.

Analisis Struktur Pasar

Analisis struktur pasar pada prinsipnya bertujuan untuk mengetahui apakah pasar kopi Arabika dilokasi penelitian cenderung mengarah pada pasar persaingan sempurna atau pasar persaingan tidak sempurna. Komponen struktur pasar yang diteliti meliputi pangsa pasar, konsentrasi pasar dan hambatan keluar masuk pasar (Kohls dan Uhl, 2002).

a. Analisis Pangsa Pasar

Analisis pangsa pasar kopi Arabika Gayo di Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah dilakukan dengan menghitung pangsa pasar perusahaan-perusahaan (eksportir) kopi Arabika Gayo yang melakukan supply kopi dari Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah. Semakin tinggi pangsa pasar menunjukkan kekuatan (market power) perusahaan dalam pasar kopi Arabika Gayo. Perhitungan pangsa pasar suatu perusahaan (eksportir) kopi Arabika Gayo menggunakan rasio antara pembelian suatu perusahaan (eksportir) kopi Arabika Gayo terhadap total kopi Arabika Gayo di Provinsi Aceh. Tujuan perhitungan pangsa pasar adalah untuk mengetahui seberapa besar cakupan suatu perusahaan (eksportir) terhadap total pembelian kopi Arabika Gayo di Provinsi Aceh. Adapun perhitungan pangsa pasar perusahaan (eksportir) kopi Arabika Gayo adalah sebagai berikut :

Market Share MSn = Sn

SA× 100 persen Keterangan :

Market Share MS = 0-100persen

Market Share MSn = Pangsa pasar perusahaan (eksportir) “n” (persen)

Sn = Pembelian kopi Arabika Gayo perusahaan (eksportir) “n” (kg/bulan)

SA = Total kopi Arabika Gayo di Provinsi Aceh (kg/bulan)

n = Banyaknya perusahaan (eksportir) kopi Arabika Gayo

b. Konsentrasi Pasar

Menurut Baye (2010) konsentrasi pasar dapat dihitung dengan mengukur berapa jumlah output yang diproduksi dari empat perusahaan terbesar dalam suatu

industri. Pada penelitian ini perusahaan yang dimaksud merupakan eksportir yang terlibat dalam perdagangan kopi Arabika Gayo di Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah. Metode analisis yang digunakan adalah Four Firm Concentration Ratio (CR4). Nilai CR4 yang mendekati 0 diindikasikan berada pada pasar yang memiliki banyak penjual dan memberikan peningkatan banyaknya persaingan antar produsen untuk menjualnya ke konsumen. Namun, jika nilai CR4 mendekati 1 diindikasikan pasar mengalami sedikit persaingan (pasar terkonsentrasi) antara produsen untuk menjualnya ke konsumen (Baye 2010). Hirschey (2009) menambahkan apabila CR4 ≥ 0.8 menunjukkan industri tersebut sangat terkonsentrasi (highly concentrated), 0.5 < CR < 0.8 pasar terkonsentrasi sedang (moderatly concentrated) dan ≤ 0.5 pasar terkonsentrasi lemah (weakly concentrated). CR4 =S1+ S2+ S3+ S4 ST CR4 = w1+ w2+ w3+ w4 Keterangan : CR4 = Konsentrasi rasio wi = Si ST , dimana i = 1,2,3,4

S1 = Volume pembelian kopi Arabika Gayo oleh eksportir 1 (kg/bulan)

S2 = Volume pembelian kopi Arabika Gayo oleh eksportir 2 (kg/bulan)

S3 = Volume pembelian kopi Arabika Gayo oleh eksportir 3 (kg/bulan)

S4 = Volume pembelian kopi Arabika Gayo oleh eksportir 4 (kg/bulan) ST = Total pembelian seluruh eksportir kopi Arabika Gayo (kg/bulan)

c. Hambatan Keluar Masuk Pasar

Hambatan masuk pasar dapat dianalisis dengan menggunakan Minimum Efficiensy Scale (MES) selama tahun 2007 sampai 2012. Analisis ini dilakukan untuk melihat banyaknya lembaga pemasaran yang dapat masuk untuk bersaing merebut pangsa pasar. Nilai MES diperoleh dari pembelian kopi Arabika Gayo perusahaan (eksportir) terbesar terhadap total kopi Arabika Gayo dari Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah. Menurut Jaya (2001), jika nilai MES lebih besar dari 10 persen mengindikasikan bahwa terdapat hambatan masuk pasar pada pemasaran kopi Arabika Gayo di Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah.

MES = Pembelian kopi arabika gayo perusahaan terbesar

Total kopi arabika gayo dari Kab. Aceh Tengah dan Bener Meriah

Analisis Perilaku Pasar

Analisis perilaku pasar lebih menekankan pada analisis deskriptif dari fenomena lapang terkait dengan beberapa dimensi perilaku diantaranya praktek pembelian dan penjualan, sistem penentuan harga dan kerjasama lembaga pemasaran (Dahl dan Hammond 1977). Hal penting yang perlu dipahami bahwa setiap dimensi ini memiliki keterkaitan satu dengan lainnya. Artinya sistem

penentuan harga dapat dipengaruhi oleh praktek penjualan dan pembelian serta adanya kerjasama lembaga pemasaran, begitupula sebaliknya.

Informasi penting yang akan dikaji dalam sistem penentuan harga terkait bagaimana mekanisme penentuan harga, pada tingkat lembaga manakah yang lebih dominan dalam proses penentuan harga dan sejauhmana peran petani sebagai produsen dalam poses penentuanharga.Pada praktek pembelian dan penjualan akan diperhatikan aktivitas-aktivitas setiap lembaga pemasaran dalam melakukan pembelian dan penjualan. Informasi ini penting untuk dikaji, karena dalam menggambarkan perilaku pasar akan terlihat bagaimana setiap lembaga pemasaran merespon signalharga yang di terjadi. Kerjasama lembaga pemasaran akan digambarkan melaluiaktiviassaluran pemasaran yang terjadi dankegiatan yang dilakukan dalammenjalankan fungsi-fungsi pemasaran. Purcell (1979) membagi fungsi pemasaran menjadi tiga yaitu fungsi pertukaran (pembelian dan penjualan), fungsi fisik (penyimpanan, transportasi, pengolahan) dan fungsi fasilitas (standardisasi, keuangan/modal, risiko dan penelitian pasar).

Analisis Kinerja Pasar

Beberapa ukuran yang digunakan dalam melakukan analisis kinerja pasar antara lain marjin pemasaran, farmer’s share dan integrasi pasar vertikal.

a. Marjin Pemasaran

Analisis marjin pemasaran didasarkan pada data primer yang dikumpulkan dari setiap lembaga pemasaran mulai dari produsen sampai dengan konsumen. Marjin pemasaran adalah perbedaan harga yang dibayarkan konsumen dengan harga yang diterima oleh produsen (Tomek dan Robinson 1990; Hudson 2007). Semakin tinggi biaya pemasaran menyebabkan semakin tingginya marjin pemasaran. Secara matematis, dapat ditulis sebagai berikut :

M = Pr−Pf

dimana :

� = Marjin pemasaran kopi Arabika Gayo

= Harga kopi Arabika Gayo di tingkat konsumen (Rp/kg) = Harga kopi Arabika Gayo di tingkat petani (Rp/kg)

Untuk marjin pada setiap lembaga pemasaran dapat diketahui dengan jalan menghitung selisih antara harga jual dengan harga beli pasar setiap tingkat lembaga pemasaran. Bentuk matematika sederhana dapat dirumuskan sebagai berikut:

Mm = Ps −Pb

dimana :

Mm = Marjin pemasaran pada setiap lembaga pemasaran

Ps = Harga jual kopi pada setiap tingkat lembaga pemasaran (Rp/kg) Pb = Harga beli kopi pada setiap tingkat lembaga pemasaran (Rp/kg)

Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi besarnya marjin pemasaran adalah biaya pengangkutan, biaya perlakuan baru, biaya penyusutan/kerusakan, tingkat

harga beli untuk setiap komoditas, besarnya keuntungan pedagang, modal kerja dan kapasitas penjualan.

b. Farmer Share

Farmer share merupakan rasio antara harga di tingkat petani terhadap harga di tingkat pedagang (Hudson, 2007). Pada saluran pemasaran yang berbeda maka share harga yang diterima oleh petani akan berbeda pula. Besarnya Farmer’s Share dipengaruhi oleh tingkat pemrosesan, biaya transportasi, keawetan produk dan jumlah produk (Kohls dan Uhl2002). Adapun perhitungan farmers share yang digunakan adalah :

FS = Pf Pr

× 100 persen dimana :

FS = Bagian harga yang diterima petani kopi Arabika Gayo (Rp/kg) Pf = Harga kopi Arabika Gayo di tingkat petani (Rp/kg)

Pr = Harga kopi Arabika Gayo di tingkat eksportir (Rp/kg) c. Analisis Integrasi Pasar Vertikal

Analisis integrasi pasar merupakan seberapa jauh pembentukan harga suatu komoditi pada satu tingkat lembaga atau pasar dipengaruhi oleh harga ditingkat lembaga lainnya. Analisis integrasi pasar dilakukan pada setiap lembaga pemasaran. Analisis pertama dilakukan untuk petani sebagai pasar lokal sedangkan kolektor, koperasi dan eksportir sebagai pasar acuan. Analisis kedua, kolektor sebagai pasar lokal, sedangkan koperasi dan eksportir sebagai pasar acuan. Analisis terakhir di tingkat koperasi sebagai pasar lokal dan eksportir sebagai pasar acuan. Metode analisis integrasi pasar dalam penelitian ini mengacu pada model Ravallion (1986) yang secara matematis telah di turunkan dalam persamaan (17).

Pt = b1Pt-1+b2(Rt - Rt-1)+b3Rt-1+b4Xt + ɛt dimana :

Pt = Harga kopi Arabika Gayodi pasar lokal (waktu t) (Rp/kg) Pt-1 = Harga kopi Arabika Gayo di pasar lokal (waktu t-1) (Rp/kg) Rt = Harga kopi Arabika Gayo di pasar acuan (waktu t) (Rp/kg) Rt-1 = Harga kopi Arabika Gayo di pasar acuan (waktu t-1) (Rp/kg) Xt = Faktor-faktor lain yang mempengaruhi

Koefisien b2menunjukkan berapa besar perubahan harga di pasar acuan ditransmisikan ke harga di pasar lokal. Koefisien b1 dan b3 mencerminkan seberapa jauh kontribusi relatif harga periode sebelumnya dari pasar lokal dan pasar acuan terhadap tingkat harga yang berlaku sekarang di pasar lokal. Rasio antara keduanya merupakan indeks hubungan pasar (Index Of Market Connection) atau IMC yang dirumuskan sebagai berikut :

IMC = b1 b3

dimana :

IMC = Indeks of marketing connection (Indeks hubungan pasar)

Melalui pendekatan ini, integrasi jangka pendek diformulasikan sebagai berikut : H0 : b1/b3 = 0

H1 : b1/b3 ≠ 0

Nilai b1/b3 = 0 jika nilai b1 = 0, maka hipotesis diatas dapat dituliskan sbb :

H0 : b1 = 0 H1 : b1 ≠ 0

Uji statistik yang digunakan, yaitu : � �

=

bS(b1−1)0

Apabila hipotesis nol ditolak, ini menunjukkan bahwa pasar tidak terintegrasi dalam jangka pendek dan untuk integrasi jangka panjang, hipotesisnya diformulasikan sbb :

H0 : b2 = 1 H1 : b2 ≠ 1

Nilai tstatistik diperoleh melalui :

� �

=

bS(b2−2)1

Apabila hipotesis nol ditolak, ini menunjukkan bahwa pasar tidak terintegrasi dalam jangka panjang.

Hubungan antara Struktur, Perilaku dan Kinerja Pasar Kopi Arabika GayodalamProses PembentukanHargadi Tingkat Petani

Pendekatan stucture, conduct, performance (SCP) digunakan untuk menganalisis sistem pemasaran kopi Arabika Gayo di Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah. Melalui pendekatan ini, keterkaitan antara komponen penyusun struktur pasar (pangsa pasar, konsentrasi pasar dan hambatan masuk pasar), perilaku pasar dan kinerja pasar akan dianalisis secara sistematis berdasarkan hasil penelitian yang dipeoleh. Pada Bab 6 akan dijelaskan bagaimana interaksi komponen penyusun SCP mempengaruhi pola pembentukan harga yang terjadi di tingkat petani. Implikasi struktur, perilaku dan kinerja pasar terhadap pembentukan harga kopi di tingkat petani dianalisis secara deskriptif berdasarkan hasil analisis yang diperoleh.

5

KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN DAN