3 KERANGKA PEMIKIRAN
MARKET BASIC CONDITION Demand Condition and Supply
3. Kinerja Pasar (Market Performance)
Kinerja pasar menurut Dahl dan Hammond (1977) merupakan keadaan sebagai akibat dari struktur dan perilaku pasar. Kondisi ini yang akhirnya menunjukkan penilaian baik atau tidaknya suatu sistem pemasaran. Menurut Teguh (2008) kinerja pasar merupakan hasil-hasil atau prestasi yang muncul didalam pasar sebagai reaksi akibat terjadinya tindakan-tindakan para pesaing pasar yang menjalankan berbagai strategi dan menguasai kondisi pasar. Kinerja pasar dapat muncul dalam berbagai bentuk seperti harga, keuntungan dan efisiensi.
Hal ini sejalan dengan pendapat Carlton dan Perloff (2000) yang menyatakan bahwa kinerja pada akhirnya akan menggambarkan hasil dari perilaku pasar yang dimungkinkan oleh struktur pasar yang terbentuk. Keterkaitan struktur pasar yang terbentuk akan mempengaruhi proses penentuan harga yang terjadi. Tekanan pokok efisiensi pemasaran terletak pada faktor-faktor yang mempengaruhi harga. Harga yang efisien menurut Kohls dan Uhl (2002) ditekankan kepada kemampuan keterkaitan harga dalam mengalokasikan komoditi dari produsen ke konsumen yang disebabkan oleh perubahan tempat, bentuk dan waktu yang melibatkan fungsi-fungsi pemasaran. Di sisi lain, harga dapat dipengaruhi oleh struktur pasar yang terjadi. Pada struktur pasar monopoli, perusahaan besar atau lembaga pemasaran yang memiliki market power lebih mudah menentukan harga dibandingkan perusahaan kecil. Pada struktur pasar oligopoli, keputusan perusahaan dalam menentukan harga dan jumlah output akan mempengaruhi perusahaan lainnya., baik yang sudah ada (existing firms) maupun yang berada di luar pasar (potential firms). Oleh karenanya, guna menahan perusahaan potensial untuk masuk dalam pasar, perusahaan yang sudah ada menempuh strategi menetapkan harga jual terbatas (limiting prices) yang membuat perusahaan menikmati laba super normal di bawah tingkat maksimum (Rahardja dan Manurung 2008)
Pada pasar persaingan sempurna, produsen akan menerima keuntungan normal (normal profit). Produsen umumnya berproduksi pada situasi harga sama dengan biaya marjinal dan biaya rata-rata. Sebaliknya pada pasar monopoli, keuntunganyang diterima adalah super normal (extra profit) karena produsen berproduksi pada tingkat harga diatas biaya rata-rata pada rentangan kurva biaya rata-rata yang sedang menurun. Dengan kata lain, monopolis sengaja berproduksi pada situasi kapasitas produksi yang rendah sehingga keuntungan yang diperoleh menjadi lebih tinggi. Akibat dari penentuan keuntungan ini akan mempengaruhi efisiensi ekonomi.
Secara normatif, pemasaran yang efisien adalah struktur pasar persaingan sempurna (perfect competition). Tetapi struktur pasar ini secara realita tidak dapat ditemukan. Dimana pada pasar ini semua konsumen, produsen dan lembaga- lembaga yang terlibat memiliki kepuasan yang sama. Ukuran untuk mengukur tingkat kepuasan tersebut adalah sulit dan sangat relatif (Kohls dan Uhl 2002). Oleh sebab itu, banyak pakar yang mempergunakan indikator ukuran efisiensi operasional dan efisiensi harga sebagai ukuran efisiensi dalam pemasaran (Dahl dan Hammond 1977; Kohls dan Uhl 2002).
Analisis yang sering digunakan dalam kajian efisiensi operasional adalah analisis marjin pemasaran dan farmer’s share. Efisiensi harga menekankan kepada kemampuan sistem pemasaran dalam menentukan alokasi sumberdaya
yang tersedia secara efisien apa yang diproduksi produsen dengan apa yang diinginkan konsumen. Tingkat efisiensi harga dapat tercapai apabila masing- masing pihak yang terlibat puas atau responsif terhadap harga (price signals) yang berlaku dan terjadi keterpaduan atau integrasi antara pasar acuan dengan pasar ditingkat petani. Alat analisis yang sering dipergunakan adalah korelasi harga antar pelaku pemasaran dan tingkat keterpaduan (integrasi) antar tingkat pasar (Ravallion 1968).
a. Marjin Pemasaran
Menurut Tomek dan Robinson (1990) terdapat dua alternatif dalam memahami defenisi marjin pemasaran yaitu (1) perbedaan harga yang dibayarkan konsumen (Pr) dengan harga yang diterima produsen (Pf)) atau dapat dituliskan
� = − dan (2) merupakan harga dari kumpulan jasa-jasa pemasaran sebagai akibat adanya aktivitas-aktivitas yang terjadi dalam sistem pemasaran. Dengan kata lain, pengertian ini lebih bersifat ekonomis karena menangkap peran nilai tambah (added value) dari adanya kegiatan pemasaran. Selain itu, juga mengandung konsep derived supply (penawaran turunan) dan derived demand (permintaan turunan). Marjin pemasaran menunjukkan perbedaan harga di tingkat petani (Pf) dengan harga di tingkat pengecer (Pr). Secara matematis, dapat ditulis sebagai berikut :
Mi = Pri−Pfi (5)
Mi = Ci− πi (6)
dimana :
Mi = Marjin pemasaran pada saliran pemasaran tingkat (pasar) Pri = Harga jual di pasar ke-i
Pfi = Harga beli di tingkat petani ke-i
Ci = Biaya pemasaran di tingkat pedagang ke-1
πi = Keuntungan pemasaran pada pedagang ke-i
i = 1,2,3 …., n
Dengan demikian total marjin pemasaran (M) adalah :
M = ni=1Mi (7)
Bila marjin pemasaran (Pr-Pf) dikalikan jumlah produk yang ditawarkan (Qr,f) maka hasilnya disebut nilai marjin pemasaran (the value of the marketing margin atau VMM) (Kohls dan Uhl 2002). Secara matematik sederhana VMM = (Pr – Pf) Q. Nilai dari marjin pemasaran (VMM) dapat dipandang secara agregat atau kedalam dua aspek yang berbeda. Aspek pertama dari VMM adalah penerimaan dari input yang dipergunakan dalam proses pengolahan atau jasa pemasaran dari tingkat petani sampai konsumen (marketing costs or returns to factors); termasuk dalam kelompok ini adalah upah, suku bunga, sewa dan keuntungan. Aspek kedua dari VMM adalah returns toinstitutions or marketing charges yaitu pedagang pengecer, grosir, pengolah dan assemblers. Berdasarkan Gambar 9 terlihat bahwa marjin pemasaran merupakan selisih harga yang dibayarkan konsumen (Pr) dengan harga yang diterima oleh petani (Pf) dan juga
merupakan kumpulan jasa-jasa pemasaran sebagai akibat adanya aktivitas bisnis yang dilakukan.
Gambar 9 Marjin pemasaran
Sumber : Dahl dan Hammond (1977) Keterangan :
Pf = Harga di tingkat petani Pr = Harga di tingkat pedagang Sf = Kurva penawaran petani Sr = Kurva penawaran pedagang Df = Kurva permintaan petani Dr= Kurva permintaan pedagang Qr, f = Jumlah keseimbangan ditingkat petani dan pedagang
Faktor-faktor yang mempengaruhi marjin pemasaran komoditas pertanian adalah biaya angkut, perlakuan baru, biaya penyusutan/kerusakan, tingkat harga beli, besar keuntungan, modal kerja dan kapasitas penjualan (Kohls dan Uhl 2002). Secara umum, suatu sistem pemasaran dikatakan efisien bila komoditi yang dipasarkan memiliki marjin pemasaran yang rendah dengan tingkat harga yang tinggi. Namun hal ini tidak berlaku mutlak, karena marjin pemasaran yang besar dapat diakibatkan adanya perubahan nilai tambah produk yang dihasilkan sehingga mampu meningkatkan kepuasan konsumen. Pada kondisi ini dapat saja dikatakan pasar lebih efisien. Menurut Tomek dan Robinson (1990) marjin pemasaran komoditas pertanian umumnya tinggi, yang disebabkan karena komoditas pertanian bersifat musiman, bentuk besar (voluminous) dan mudah busuk (perishable), sehingga menyebabkan tingginya biaya penyimpanan dan pengangkutan.
b. Farmer’s Share
Konsep marjin pemasaran sangat erat kaitannya dengan bagian harga yang diterima petani (farmer’s share). Menurut Kohls dan Uhl (2002) farmer’s share merupakan persentase harga yang diterima oleh petani dengan harga yang dibayarkan oleh konsumen dalam bentuk persentase (%). Secara umum, besaran farmer share dan marjin pemasaran bervariasi antar komoditi tergantung biaya relatif pemasaran yang dikeluarkan sehubungan dengan nilai tambah (the value- added utilities) waktu, bentuk, kepemilikan dan tempat berdasarkan aktifitasbisnis atau fungsi-fungsi pemasaran yang dilakukan (Kohls dan Uhl 2002). Oleh
Marjin Pemasaran Pf Jumlah Produk (Q) Qr,f Df Dr Sf Sr Harga (P) Pr
karenanya, marjin yang tinggi dan farmer share yang rendah, belum dapat dikategorikan sebagai pemasaran efisien atau tidak. Namun harus memperhitungkan bentuk, fungsi dan atribut-atribut yang melekat pada produk hingga sampai ke konsumen akhir.
Farmer’s share merupakan alat analisis yang dapat digunakan untuk menentukan efisiensi pemasaran dari sisi pendapatan petani. Secara sederhana farmer’s share dirumuskan sebagai berikut :
FS =Pf
Pr × 100 persen (8)
dimana :
FS = Bagian harga yang diterima petani (farmer’s share) Pf = Harga di tingkat petani
Pr = Harga di tingkat pedagang c. Integrasi Pasar Vertikal
Integrasi pasar adalah seberapa jauh pembentukan harga komoditi pada suatu tingkat lembaga atau pasar dipengaruhi oleh harga di tingkat lembaga lainnya. Dua pasar dikatakan terpadu apabila perubahan harga dari salah satu pasar atau tingkat lembaga disalurkan ke pasar lainnya. Integrasi pasar penting untuk melihat sejauhmana kelancaran informasi dan efisiensi pemasaran. Integrasi pasar terjadi apabila terdapat informasi pasar yang memadai dan informasi tersebut disalurkan dengan cepat. Menurut Breshnahan dan Levin (2012) dalam integrasi pasar terdapat perbedaan antara teori ekonomi organisasi dengan teori organisasi industri. Teori ekonomi industri cenderung menekankan pada masalah kontrak yang mempengaruhi keputusan untuk melakukan integrasi perusahaan, terkait sumber daya atau kemampuan perusahaan dalam melakukan integrasi. Sedangkan teori organisasi industri menekankan hubungan antara keputusan integrasi dan penentuan struktur pasar pada setiap tingkat pasar yang dilewati oleh produk-produk yang dipasarkan.
Pada dasarnya integrasi pasar dapat dibedakan menjadi dua bagian berdasarkan hubungan yang dianalisis yaitu integrasi pasar spasial dan integrasi vertikal. Integrasi pasar spasial merupakan tingkat keterkaitan hubungan antara pasar regional dan pasar regional lainnya. Analisis integrasi vertikal bertujuan untuk melihat keeratan hubungan antara lembaga pemasaran yang satu dengan lainnya dalam satu sistem pemasaran. Porter (1980) menambahkan manfaat yang dihasilkan dengan adanya integrasi pasar vertikal antara lain tercapainya penghematan dalam penggabungan operasi (perbedaan teknologi), pengendalian dan koordinasi internal (komunikasi efektif), pengumpulan informasi pasar, hubungan bisnis yang stabil, kepastian atas pasokan dan permintaan, penghapusan kekuatan tawar menawar yang dominan dan peningkatan kemampuan untuk melakukan diferensiasi produk. Pada kondisi pasar yang terintegrasi, setiap tingkat lembaga pemasaran di bawahnya dapat menentukan posisi tawarnya dalam pembentukan harga (Tomek dan Robinson 1977).
Pendekatan dalam Analisis Integrasi Pasar Vertikal
Pada analisis integrasi pasar, terdapat empat pendekatan yang umum digunakan yaitu (1) analisis korelasi harga, (2) analisis regresi sederhana, (3)
metode VAR (vector autoregression) dan (4) metode distributed lag autoregression. Kesamaan pendekatan 1 dan 2 adalah menggunakan data cross section, sedangkan kesamaan pada pendekatan 3 dan 4 adalah menggunakan harga komoditi dalam deret waktu (time series) sebagai input data untuk melakukan analisis. Pendekatan pertama, melalui metode korelasi dengan menghitung total sum square correlation antara harga-harga yang bergerak bersamaan pada pasar yang diuji. Kelemahan metode ini adalah dapat memberikan kesimpulan yang keliru, karena pergerakan harga yang terjadi bisa saja dikarenakan pasar memiliki kesamaan faktor yang mempengaruhi harga. Misalnya suatu perdagangan antar pasar dengan biaya yang sangat tinggi, tetapi pada kedua pasar terjadi perubahan yang sama terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi harga, maka harga yang berlaku dapat bergerak secara bersama-sama. Hal di atas menyebabkan harga dikedua pasar tersebut dapat menunjukkan korelasi yang tinggi meskipun pasarnya tidak terintegerasi.
Pendekatan kedua dengan menggunakan metode regresi sederhana. Model ini menjelaskan bahwa harga di suatu pasar merupakan fungsi dari harga pada pasar lainnya. Kelemahan dari model ini adalah model ini tidak dapat memisahkan harga sebagai variabel independen dan variabel dependen karena model dari regresi sederhana ini memiliki sifat inverse. Namun pendekatan dengan menggunakan metode ini relatif lebih unggul karena dapat menunjukkan nilai keeratan hubungan antar pasar-pasar yang terintegrasi. Pendekatan ketiga melalui model deret waktu yang diuji stasioner dengan menggunakan Augmented Dicky-Fuller (ADF) test kemudian menggunakan model Vector Autoregression (VAR). Keunggulan pendekatan ini adalah menghindari data yang tidak stasioner dan hasil yang palsu (spurious). Namun, dalam melakukan analisisnya memerlukan tahapan-tahapan yang relatif kompleks. Diawali dari uji unit root untuk mengetahui kestasioneran data dan menghindari terjadinya spurious regression, penentuan lag (ordo) optimal model VAR, analisis volatilitas harga, analisis korelasi, uji kointegrasi, estimasi VECM yang merupakan model yang diturunkan dari VAR yang menggunakan prinsip pengolahan error correction model, Granger Causality test, Impuls Response Function (IRF) dan terakhir analisis Variance Decomposition (VD).
Pendekatan keempat melalui pendekatan distributed lag autoregression. Pendekatan ini dapat menunjukkan pasar yang bertindak sebagai pemimpin pasar dan pasar yang bertindak sebagai pengikut harga. Metode ini juga dapat menentukan nilai keterkaitan antara pasar-pasar yang diuji. Metode ini menguji integrasi pasar dengan memasukkan nilai-nilai masa lalu (lag) dari variabel dependen dan variabel lain ke dalam variabel independen. Asumsi dari model ini adalah bahwa tidak ada respon bersifat seketika, sehingga fungsi dari kejadian ekonomi sekarang merupakan reaksi dari fungsi masa lalu. Pendekatan ini telah diterapkan dalam Model Ravallion.
Model Ravallion
Ravallion (1986) mengembangkan suatu metode analisis keterpaduan autoregresi untuk mengukur bagaimana harga di pasar lokal dipengaruhi oleh pasar lain (acuan) dengan mempertimbangkan harga di masa lalu dan harga pada saat ini. Model ini juga dikembangkan dengan dasar bahwa harga di suatu pasar dipengaruhi oleh harga di masa yang lalu, karena reaksi dari perubahan arus
barang terhadap harga ini membutuhkan waktu untuk terjadi. Keunggulan model analisis ini adalah mampu mengungkapkan dengan mendetail tentang peran pasar acuan, arah transmisi harga, kecepatan transmisi harga, tingkat keterisolasian, dan tingkat keterpaduan pasar.
Model Ravallion juga dapat menunjukkan besarnya pengaruh perubahan harga yang terjadi di suatu pasar akibat faktor musiman dan faktor lain yang relevan yang terjadi di pasar tersebut (Limbong 1999). Firdaus dan Gunawan (2012) menunjukkan bahwa pengembangan model Ravallion diawali dari persamaan berikut :
R = f (P1,P2, P3, ……,Pn, X) (9)
Pi = fi (R, Xi), i = 1,2,3,…,n) (10)
Dimana n merupakan pasar lokal dengan harga sebesar P; R merupakan harga di tingkat pasar acuan. Xi merupakan vektor yang menunjukkan faktor- faktor lain yang mungkin mempengaruhi harga di pasar i (termasuk pasar acuan dan pasar lokal). Karena persamaan (9) dan (10) harga pada saat ini, pengaruh jeda waktu (lag) dimasukkan dalam harga sehingga membentuk struktur yang lebih dinamis. Tetapi, jika periode lag terlalu panjang model ini akan menjadi lebih rumit. Sehingga, harga di setiap pasar diasumsikan hanya memiliki satu fase lag, yaitu :
Pt = aiPt-1+bi0Rt-1+ciXt+ɛt (11)
Untuk i = 1,2, ….., n
Persamaan (11) sensitif terhadap terjadinya multikoliniaritas ketika harga di pasar lokal dan pasar acuan berkorelasi kuat. Menjadikannya ke dalam bentuk turunan pertama akan mengurangi pengaruh dari multokolinearitas dimana (Rt - Rt-1) dan (Pt - Pt-1) biasanya memiliki hubungan yang lemah dibandingkan Rt dan Pt. Transformasi ini menghasilkan :
Pt - Pt-1 = aiPt-1- Pt-1+bi0Rt-1+ciXt+ɛt (12) Selanjutnya, bi0Rt-1 ditambahkan ke sisi kanan persamaan (12), menjadi :
(Pt - Pt-1) = (ai – 1)(Pt-1- Rt-1)+bi0(Rt - Rt-1)+(ai+bi0+bi1-1)Rt-1+ciXt+ɛt (13) Persamaan (13) dapat disederhanakan menjadi :
(Pt - Pt-1) = β1(Pt-1- Rt-1)+β2(Rt - Rt-1)+β3Rt-1+β4Xt+ɛt (14) dimana:
(ai – 1) = β1 bi0= β2 (ai+bi0+bi1-1) = β3ci= β4
Secara lebih spesifik, model Ravallion dapat diformulasikan sebagai berikut : (Pt - Pt-1) = β1(Pt-1- Rt-1)+β2(Rt - Rt-1)+β3Rt-1+β4Xt +β5Xt-1+ ɛt (15)
Sebagai upaya mencapai interpretasi yang jelas, persamaan (15) dapat dituliskan kembali menjadi : Pt= (1+β1)Pt-1+β2(Rt - Rt-1)+(β3-β1)Rt-1+β4Xt+β5Xt-1+ ɛt (16) dimana : b1 = 1+β1 b2= β2 b3 = β3-β1b4 = β4 b5 = β5
Sehingga, persamaan (16) dapat dituliskan sebagai berikut :
Pt = b1Pt-1+b2(Rt - Rt-1)+b3Rt-1+b4Xt +b5Xt-1+ ɛt (17)
Untuk menunjukkan pengaruh harga sebelumnya dipasar lokal terhadap pembentukan harga di pasar lokal pada saat ini. Digunakan Index of Market Connection (IMC) atau Indeks Keterpaduan Pasar (IKP). IMC yang didefenisikan sebagai rasio koefisien pasar lokal terhadap koefisien pasar acuan, yaitu :
IMC =b1
b3 (18)
Jika nilai IMC lebih kecil dari satu mengindikasikan terjadi integrasi jangka pendek. Koefisien b2 merupakan pengukuran terhadap tingkat perubahan harga di pasar acuan yang ditransmisikan ke pasar lokal. Parameter ini mengukur integrasi jangka panjang. Nilai yang dihasilkan adalah satu atau mendekati satu. Apabila nilai koefisien b2 adalah 1 (b2 = 1), kedua pasar terintegrasi dalam jangka panjang. Perbedaan antara dua indikator ini adalah b2 menunjukkan persentase perubahan harga yang terjadi pasar acuan ditransmisikan ke pasar lokal. Nilai IMC menunjukkan bahwa persentase relatif harga produsen di pasar lokal saat ini dipengaruhi oleh perubahan harga produsen di pasar lokal dan pasar acuan di waktu sebelumnya.
Hubungan antara Struktur, Perilaku dan Kinerja Pasar Produk Pertanian dalam Proses Pembentukan Harga di Tingkat Petani
Pada sistem pemasaran komoditas pertanian, produsen (petani) merupakan lembaga pemasaran yang menjadi perhatian utama dalam melakukan analisis efisiensi pemasaran. Hal ini terlihat dari indikator farmer share sebagai salah satu ukuran dalam efisiensi operasional (Kohls dan Uhl 2002). Perubahan harga yang terjadi di setiap lembaga pemasaran apakah diteruskan ke tingkat petani dan apakah terjadi integrasi pasar vertikal antar lembaga pemasaran. Analisis integrasi pasar dijadikan ukuran dalam menilai efisiensi harga. Selain itu, permasalahan umum yang terjadi pada sistem pemasaran adalah posisi tawar (bargaining position) petani lemah dalam proses penentuan harga. Sehingga, hal ini menjadi salah satu kendala dalam usaha meningkatkan pendapatan petani.
Analisis sistem pemasaran dilakukan untuk mengetahui efisiensi suatu pasar. Pada pendekatan SCP (structure, conduct, performance), struktur pasar akan mempengaruhi perilaku pasar dan kinerja pasar, hubungan ini dapat berlaku
HARGA DI TINGKAT PETANI S T RU K T U R P A S A R K IN E RJ A P A S A R PERILAKU PASAR Pangsa pasar Marjin Pemasaran Farmer share Jumlah pembeli dan penjual Hambatan masuk pasar Fungsi pertukaran Fungsi fisik Fungsi Fasilitas Saluran Pemasaran Sistem pembayaran Mekanisme penentuan harga Aktivitas pemasaran <Aktivitas pemasaran> Integrasi pasar vertikal <Aktivitas pemasaran> Konsentrasi pasar
sebaliknya (Waldman dan Jensen 2007). Secara sederhana Gambar 9 menunjukkan hipotesis hubungan antara struktur, perilaku dan kinerja pasar terhadap pembentukan harga di tingkat petani.
Gambar 10 Hipotesis hubungan antara struktur, perilaku dan kinerja pasar dalam proses pembentukan harga di tingkat petani
Menurut teori beberapa indikator yang digunakan untuk menentukan struktur pasar adalah jumlah penjual dan pembeli, hambatan keluar masuk pasar, diferensiasi dan diversifikasi produk (Carlton dan Perloff 2000; Waldman dan Jensen 2007; Baye 2010). Jumlah penjual dan pembeli biasanya diukur dengan konsentrasi penjual baik menggunakan rasio konsentrasi maupun indeks Herfindahl-Hirchman. Pangsa pasar merupakan bagian terpenting dalam mengukur tingkat konsentrasi pasar. Menurut Baye (2010) semakin besar pangsa pasar yang dimiliki oleh beberapa perusahaan maka semakin tinggi tingkat konsentrasi pasar yang terjadi. Kondisi ini dapat tergambar dari penggabungan 4 perusahaan terkemuka yang memiliki pangsa pasar 60 sampai 100 persen, dengan tingkat konsentrasi mencapai 85 persen. Hal ini memungkinkan perusahaan untuk melakukan kesepakatan dalam menetapkan harga.
Menurut Tomek dan Robinson (1990) hubungan antar lembaga-lembaga pemasaran dapat mempengaruhi proses penentuan harga. Hal ini terlihat dari perilaku pasar yang terjadi. Menurut Waldman dan Jensen (2007) perilaku pasar terjadi disebabkan karena struktur pasar yang berlaku. Jika produsen memiliki market power maka dengan mudah dapat mempengaruhi harga pasar. Pada
Keterangan :
Hubungan antar elemen penyusun pada masing-masing struktur, perilaku dan kinerja pasar
Hubungan antar struktur, perilaku dan kinerja pasar Hubungan struktur, perilaku dan kinerja terhadap harga di tingkat petani
pendekatan SCP (Stucture, Conduct, Performance), perilaku pasar akan menggambarkan aktivitas-aktivitas pelaku pemasaran seperti aktivitas pemasaran (fungsi pertukaran, fungsi fisik, fungsi fasilitas), saluran pemasaran, sistem penentuan harga serta sistem kelembagaan pasar. Seluruh aktivitas ini memiliki keterkaitan satu dengan lainnya (Kohls dan Uhl 2002).
Secara teori, efisiensi pemasaran tercipta ketika pihak-pihak yang telibat baik produsen, lembaga-lembaga pemasaran maupun konsumen memperoleh kepuasan (Purcell 1979). Sejalan dengan ini, produk yang sampai ke tangan konsumen dengan harga kompetitif dan adanya pembagian yang adil bagi produsen dan lembaga-lembaga pemasaran dari keseluruhan harga yang dibayarkan konsumen merupakan kegiatan pemasaran yang dilakukan secara efisien. Menurut Kohls dan Uhl (2002) biaya pemasaran yang tinggi akan membuat sistem pemasaran menjadi tidak efisien apabila tidak ada peningkatan kepuasan begitu pula sebaliknya apabila terjadi perubahan produk yang menyebabkan peningkatan biaya dan tidak mengurangi kepuasaan konsumen maka dapat dikatakan sebagai peningkatan efisiensi. Jika terjadi perubahan yang menyebabkan adanya penurunan biaya input tetapi tidak dipertahankan atau tidak diikuti dengan peningkatan kepuasan konsumen maka dikatakan terjadi penurunan efisiensi.
Namun, pengukuran efisiensi melalui tingkat kepuasaan sulit dilakukan. Sehingga, pakar pemasaran menggunakan konsep efisiensi operasional dan harga sebagai indikator pengukurannya (Hammond dan Dahl 1977; Kohls dan Uhl 2002). Efisiensi operasional atau teknis berhubungan dengan pelaksanaan aktivitas pemasaran yang dapat meningkatkan rasio output-input pemasaran. Ukuran efisiensi operasional biasanya dianalisis melalui marjin pemasaran dan farmer share. Sedangkan efisiensi harga menekankan kepada kemampuan sistem pemasaran dalam mengalokasikan sumberdaya dan mengkoordinasikan seluruh produksi pertanian dan proses pemasaran sehingga efisien sesuai dengan keinginan konsumen.
Menurut Purcel (1979) serta Kohls dan Uhl (2002), indikator efisiensi harga dapat terlihat dari kondisi dimana konsumen dan produsen puas atau respondif terhadap harga yang berlaku, terdapat alternatif pemasaran bagi konsumen maupun produsen, selain itu price tags yang terjadi merupakan refleksi dari biaya- biaya yang terjadi akibat adanya perubahan nilai tambah produk yang dilakukan baik bentuk, waktu, tempat maupun kepemilikan.
Kerangka Pemikiran Operasional
Kopi Arabika Gayo merupakan komoditas unggulan di Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah. Struktur ekonomi daerah sebagian besar (50.74%) bertumpu pada sektor pertanian. Namun, pertumbuhan ekonomi di sektor tersebut relatif rendah yakni 2.35 persen per tahun (BPS Provinsi Aceh 2012). Ketimpangan terjadi dikarenakan bargaining position petani lemah dalam proses penentuan harga. Pola pergerakan harga kopi Arabika Gayo di tingkat petani tidak mengikuti pola pergerakan harga kopi Arabika Gayo di tingkat eksportir. Berdasarkan kondisi tersebut hipotesis penelitian menyatakan bahwa pasar kopi Arabika Gayo di tingkat petani dan di tingkat eksportir tidak terintegrasi.
Kondisi pasar yang tidak terintegrasi menunjukkan pasar tidak efisien. Menurut Tomek dan Robinson (1990) salah satu karakteristik pasar yang efisien adalah harga dapat ditransmisikan dari pasar konsumen ke pasar produsen secara terintegrasi ataupun sebaliknya. Idealnya, pasar yang yang efisien berada pada struktur pasar persaingan sempurna (market perfect competition). Namun, kondisi pasar persaingan sempurna sulit untuk dicapai. Oleh karenanya, kemampuan setiap pelaku pemasaran dalam sistem pemasaran yang ada sangat ditentukan oleh interaksi yang terjadi antar pelaku-pelaku yang ada, selain itu kondisi supply dan demand untuk komoditi kopi Arabika Gayo baik dipasar dunia maupun pasar lokal merupakan sinyal penting bagi keberlangsungan bisnis kopi Arabika Gayo. Pada dasarnya kondisi permintaan dan penawaran kopi Arabika Gayo di Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah akan mempengaruhi struktur pasar yang terjadi. Jika struktur pasar yang berlaku adalah struktur pasar persaingan sempurna maka harga akan ditentukan oleh mekanisme pasar. Pembeli maupun penjual sebagai penerima harga (price taker). Indikator yang digunakan untuk