• Tidak ada hasil yang ditemukan

5 KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN DAN KARAKTERISTIK RESPONDEN KOPI ARABIKA GAYO

2. Marjin pemasaran di Kabupaten Bener Meriah

Analisis marjin pemasaran kopi Arabika Gayo di Kabupaten Bener Meriah berbeda dengan analisis marjin pemasaran di Kabupaten Aceh Tengah. Di tingkat petani, kopi yang dipasarkan berbentuk kopi ceri. Saluran pemasaran yang memiliki marjin pemasaran terbesar adalah saluran 3 (petani-kolektor-eksportir [koperasi]-eksportir [non-koperasi]) sebesar Rp54 000/kg atau 88.52 persen dari harga yang dibayarkan konsumen (importir), sedangkan marjin pemasaran tekecil terdapat pada saluran 4 (petani-kolektor-eksportir [koperasi]) sebesar Rp50 667 /kg. Kondisi marjin terkecil pada saluran 4 menunjukkan hasil yang sama dengan Kabupaten Aceh Tengah. Namun, untuk marjin terbesar terdapat perbedaan saluran, jika di Kabupaten Aceh Tengah terdapat pada salran 1 sedangkan Kabupaten Bener Meriah terdapat pada saluran 3. Penyebab tingginya marjin pemasaran pada saluran 3 dikarenakan besarnya selisih harga jual kopi petani (Rp7 000/kg) dengan harga yang diterima oleh eksportir (Rp61 000/kg) dengan total keuntungan yang diperoleh sebesar Rp48 952/kg atau 80.25 persen dari harga yang dibayarkan oleh konsumen. Sedangkan, saluran yang memiliki total keuntungan terbesar adalah saluran 2 (petani-kolektor-eksportir [non-koperasi]). Tingginya total keuntungan yang diperoleh disebabkan di tingkat kolektor, terdapat perubahan nilai tambah kopi yang dilakukan. Pada saluran ini kolektor membeli dalam bentuk kopi ceri dan menjual dalam bentuk kopi beras (green off- grade) dengan harga jualnya meningkat 2 kali lipat dibandingkan apabila kolektor menjual dalam bentuk kopi HS.

- 10,000 20,000 30,000 40,000 50,000 60,000

Harga Beli Biaya

Pemasaran

Harga Jual Keuntungan

17,300 302 18,750 1,148 18,750 2,528 57,667 36,389 R u p iah /k g Saluran 4

Secara umum, kondisi biaya pemasaran kopi Arabika Gayo di Kabupaten Bener Meriah relatif sama dengan biaya pemasaran yang terjadi di Kabupaten Aceh Tengah. Pada Gambar 27 terlihat bahwa biaya pemasaran terbesar yang dikeluarkan oleh lembaga pemasaran pada saluran 1 berada di tingkat eksportir [non-koperasi] yaitu sebesar Rp3 433/kg, selanjutnya di tingkat koperasi Rp2 160/kg dan di tingkat kolektor sebesar Rp490/kg. Besarnya biaya yang dikeluarkan eksportir [non-koperasi] disebabkan oleh besarnya biaya transportasi dan bongkar muat yang mencapai Rp1 545/kg. Biaya tersebut dikeluarkan untuk menyewa truk, administrasi pengapalan dan membayar upah tenaga kerja yang mengambil produk kopi dari gudang tempat pengolahan kopi di lakukan menuju gudang kopi di Pelabuhan Belawan, Sumatera Utara. Selain itu, eksportir juga mengeluarkan biaya pengolahan (0.95%), biaya sortasi (0.59%), biaya penyimpanan dan biaya-biaya lainnya (0.60%). Kondisi biaya pemasaran di tingkat koperasi dan eksportir [non-koperasi] di kedua kabupaten relatif sama.

Namun berbeda halnya untuk tingkat kolektor, biaya pemasaran yang dikeluarkan oleh kolektor di Bener Meriah relatif lebih tinggi dibandingkan kolektor di Kabupaten Aceh Tengah. Tingginya biaya yang ditanggung oleh kolektor Bener Meriah disebabkan oleh lokasi kebun petani yang relatif lebih jauh dibandingkan di Kabupaten Aceh Tengah. Gambar 27 menunjukkan sebaran marjin pemasaran kopi Arabika Gayo di Kabupaten Bener Meriah pada saluran 1.

Gambar 27 Sebaran marjin pemasaran kopi Arabika Gayo di Kabupaten Bener Meriah pada saluran 1, tahun 2012

Sama halnya yang terjadi pada saluran 1. Pada saluran 2 terlihat bahwa biaya pemasaran terbesar dikeluarkan oleh eksportir [non-koperasi]. Namun di tingkat kolektor, biaya pemasaran yang dikeluarkan sebesar Rp842/kg lebih tinggi dibandingkan pada saluran 1 (Rp490/kg). Hal ini dikarenakan dalam proses pengolahan kopi ceri menjadi kopi beras memerlukan biaya yang lebih besar (Rp300/kg). Selain itu, biaya transportasi yang ditanggung menjadi lebih besar (Rp183/kg). Namun, keuntungan yang dinikmati kolektor pada saluran 2 meningkat sebesar 2 sampai 3 kali lipat dibandingkan dengan keuntungan yang diperoleh pada saluran 1. Walaupun dalam prakteknya tidak seluruh kolektor dapat melakukan proses penjualan kopi ke eksportir [non koperasi]. Hal ini dikarenakan kolektor telah memiliki ikatan dengan koperasi atau eksportir [koperasi]. Pada Gambar 28 terlihat sebaran marjin pemasaran kopi Arabika Gayo di Kabupaten Bener Meriah pada saluran 2.

- 10,000 20,000 30,000 40,000 50,000 60,000 70,000

Harga Beli Biaya

Pemasaran

Harga Jual Keuntungan

7,167 490 19,667 12,010 19,667 2,160 42,000 20,173 42,000 3,433 61,000 15,567 R u p iah /k g Saluran 1

Gambar 28 Sebaran marjin pemasaran kopi Arabika Gayo di Kabupaten Bener Meriah pada saluran 2, tahun 2012

Analisis selanjutnya dilakukan pada saluran pemasaran 3 di Kabupaten Bener Meriah. Hasil analisis menunjukkan bahwa lembaga pemasaran yang mengeluarkan biaya pemasaran terbesar adalah eksportir [non-koperasi] sebesar Rp2 755/kg dan di tingkat eksportir [koperasi] sebesar Rp 1 991/kg sedangkan di tingkat kolektor hanya mengeluarkan biaya pemasaran sebesar Rp302. Apabila dibandingkan dengan saluran 2, pada saluran 3 eksportir [non-koperasi] menanggung biaya lebih kecil. Hal ini disebabkan pada saluran 3 eksportir [non- koperasi] melakukan pembelian kopi Arabika Gayo dari eksportir [koperasi] dalam bentuk kopi beras (green off-grade). Sehingga, biaya yang awalnya ditanggung oleh eksportir [non-koperasi], sekarang ditanggung oleh eksportir [koperasi]. Sama halnya dengan saluran pemasaran lainnya, umumnya biaya pemasaran terbesar terdapat pada biaya transportasi dan bongkar muat. Pada Gambar 29 menunjukkan sebaran marjin pemasaran yang terbentuk pada saluran 3 di Kabupaten Bener Meriah.

Gambar 29 Sebaran marjin pemasaran kopi Arabika Gayo di Kabupaten Bener Meriah pada saluran 3, tahun 2012

Selama ini, eksportir [non-koperasi] memiliki pengalaman relatif lebih lama, sehingga jaringan pasar ekspor lebih luas dibandingkan eksportir [koperasi] yang

- 10,000 20,000 30,000 40,000 50,000 60,000 70,000

Harga Beli Biaya

Pemasaran

Harga Jual Keuntungan

7,083 842 33,500 25,575 33,500 3,733 61,000 23,767 R u p iah /k g Saluran 2

Kolektor Eksportir (non koperasi)

- 10,000 20,000 30,000 40,000 50,000 60,000 70,000

Harga Beli Biaya

Pemasaran

Harga Jual Keuntungan

7,000 302 18,750 11,448 18,750 1,991 51,000 30,259 51,000 2,755 61,000 7,245 R u p iah /k g Saluran 3

sebagian besar mulai mengekspor pada tahun 2005. Sehingga, kerjasama yang terjalin hingga saat ini lebih bersifat mutualisme (saling menguntungkan). Berbeda halnya dengan saluran 3, pada saluran 4 biaya pemasaran tertinggi di tanggung oleh eksportir [koperasi] (Rp3 218/kg). Tingginya biaya pemasaran yang ditanggung oleh eksportir [koperasi] disebabkan pada saluran 4, eksportir [koperasi] langsung menyalurkan produk kopi yang dihasilkan ke pelabuhan Belawan, Sumatera Utara tanpa melalui eksportir [non koperasi]. Jika dibandingkan dengan eksportir [non-koperasi], maka kelebihan eksportir (koperasi) adalah memiliki lisensi sertifikasi dan beranggotakan kolektor dan petani. Sehingga, akses terhadap pasokan kopi dapat diestimasi dengan baik. Gambar 30 menunjukkan sebaran marjin yang terjadi pada saluran 4 di Kabupaten Bener Meriah.

Gambar 30 Sebaran marjin pemasaran kopi Arabika Gayo di Kabupaten Bener Meriah pada saluran 4, tahun 2012

Berdasarkan hasil analisis marjin pemasaran kopi Arabika Gayo di Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah dapat disimpulkan bahwa banyaknya lembaga pemasaran yang terlibat dan adanya proses perubahan nilai tambah produk kopi yang dihasilkan akan mempengaruhi marjin pemasaran yang diperoleh. Hal ini sejalan dengan pendapat Tomek dan Robinson (1990) yang menyatakan bahwa marjin pemasaran merupakan harga dari kumpulan jasa-jasa pemasaran sebagai akibat adanya aktivitas-aktivitas yang terjadi dalam pemasaran. Selain itu, hasil analisis ini juga sejalan dengan pendapat Kohl dan Uhls (2002) yang menyatakan bahwa marjin pemasaran komoditas pertanian dipengaruhi oleh biaya angkut, perlakuan baru, biaya peyusutan/kerusakan, tingkat harga beli, besar keuntungan, modal kerja dan kapasitas penjualan.

Farmer Share

Farmer share merupakan rasio antara harga di tingkat petani terhadap harga di tingkat pedagang. Besarnya farmer share dipengaruhi oleh tingkat pemrosesan, biaya transportasi, keawetan produk dan jumlah produk (Kohls dan Uhl 2002). Pada analisis ini, share harga yang diterima petani dapat dibedakan berdasarkan bentuk produk yang dipasarkan. Di Kabupaten Aceh Tengah, share harga yang diterima petani relatif lebih tinggi (>27%) dibandingkaan share harga yang

- 10,000 20,000 30,000 40,000 50,000 60,000

Harga Beli Biaya

Pemasaran

Harga Jual Keuntungan

7,000 302 18,750 11,448 18,750 3,218 57,667 35,698 R u p iah /k g Saluran 4

diterima petani di Kabupaten Bener Meriah (≤12%). Rendahnya share harga yang diterima petani disebabkan petani di Kabupaten Bener Meriah langsung memasarkan hasil panen kopi mereka, tanpa dilakukan proses pengolahan. Hal ini berbeda dengan petani di Kabupaten Aceh Tengah yang menjual kopi setelah diolah dalam bentuk kopi HS. Gambar 31 menunjukkan farmer share yang dihasilkan pada setiap saluran pemasaran di Kabupaten Aceh Tengah.

Gambar 31 Farmer share pada setiap saluran pemasaran di Kabupaten Aceh Tengah, tahun 2012

Berdasarkan Gambar 31 terlihat bahwa saluran pemasaran 4 memberikan manfaat lebih bagi petani dibandingkan dengan saluran pemasaran lainnya. Farmer share yang tinggi disebabkan adanya peningkatan nilai tambah (added value) yang dilakukan petani sebelum memasarkan produknya. Farmer share dapat dikatakan sebagai bagian harga yang dibayar konsumen dan dinikmati oleh petani. Sedangkan share harga yang diterima petani di Kabupaten Bener Meriah relatif lebih rendah dibandingkan Kabupaten Aceh Tengah. Sama halnya dengan petani di Kabupaten Aceh Tengah, saluran yang memberikan manfaat lebih kepada petani di Kabupaten Bener Meriah adalah saluran 4. Namun, apabila dibandingkan share harga yang diterima petani di Kabupaten Bener Meriah jauh lebih rendah dibandingkan petani di Kabupaten Aceh Tengah.

Di Kabupaten Bener Meriah, petani menjual kopi ceri rata-rata seharga Rp7 063/kg, sedangkan petani di Kabupaten Aceh Tengah rata-rata menjual kopi HS dengan harga Rp17 208 /kg. Peningkatan harga kopi HS hampir 3 kali lipat dari harga kopi ceri yang dipasarkan oleh petani. Di sisi lain, farmer share terendah yang diterima petani di Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah terdapat pada saluran 2. Pada saluran ini, umumnya kolektor akan membeli hasil kopi petani dengan harga relatif lebih murah dibandingkan saluran lainnya. Hal ini disebabkan, selain menjual kepada koperasi, kolektor juga akan menjual kepada eksportir. Oleh karena itu, peningkatan kapasitas pembelian kopi yang dilakukan dapat meningkatkan efisiensi dari proses pengolahan dan akhirnya akan

- 10,000 20,000 30,000 40,000 50,000 60,000 70,000

Saluran 1 Saluran 2 Saluran 3 Saluran 4

17,056 17,178 17,300 17,300 19,333 31,167 18,750 18,750 42,000 - - - - - 51,000 57,667 61,000 61,000 61,000 - Har g a ju al (R p /k g )

Petani Kolektor Koperasi Eksportir [koperasi] Eksportir [non-koperasi]

Farmer Share

meningkatkan keuntungan. Pada Gambar 32 terlihat farmer share yang dihasilkan pada setiap saluran pemasaran di Kabupaten Bener Meriah.

Gambar 32 Farmer share pada setiap saluran pemasaran di Kabupaten Bener Meriah, tahun 2012

Berdasarkan hasil analisis farmer share di Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah dapat disimpulkan bahwa share harga yang diterima petani baik di Kabupaten Aceh Tengah maupun Bener Meriah tergolong rendah. Hal ini dikarenakan tidak lebih dari 30 persen petani menikmati harga yang dibayarkan oleh konsumen. Seharusnya, dalam aktivitas pemasaran komoditas pertanian share harga yang diterima petani dapat mencapai 40 persen atau lebih dari harga yang dibayarkan oleh konsumen (Kohl dan Uhls 2002). Farmer share yang rendah menggambarkan bahwa tingginya harga jual kopi Arabika Gayo di pasar ekspor belum sepenuhnya dinikmati oleh petani. Keterbatasan petani dalam memperoleh alternatif saluran pemasaran dan keterikatan pinjaman modal dengan kolektor mengakibatkan posisi tawar petani semakin lemah dalam proses penentuan harga dan petani cenderung sebagai penerima harga (price taker). Hal ini sangat terkait dengan integrasi pasar yang terjadi. Oleh karena itu, berikut ini akan dianalisis apakah pasar kopi di tingkat petani terintegrasi dengan pasar kopi di lembaga pemasaran lainnya.

Analisis Integrasi Pasar Vertikal

Analisis integrasi pasar vertikal bertujuan untuk mengetahui seberapa jauh harga suatu komoditi pada satu tingkat lembaga pemasaran atau pasar dipengaruhi oleh harga di tingkat lembaga lainnya. Data sekunder yang digunakan adalah data time series harga bulanan kopi Arabika Gayo selama tahun 2008 sampai 2012. Harga kopi Arabika Gayo yang digunakan terdiri atas harga kopi ceri dan kopi HS di tingkat petani, harga kopi HS di tingkat pedagang pengumpul (kolektor), harga kopi beras (green off-grade) di tingkat koperasi dan harga kopi beras (green bean) di tingkat eksportir. Penentuan bentuk produk yang dipasarkan oleh masing-

- 10,000 20,000 30,000 40,000 50,000 60,000 70,000

Saluran 1 Saluran 2 Saluran 3 Saluran 4

7,167 7,083 7,000 7,000 19,667 33,500 18,750 18,750 42,000 - - - - - 51,000 57,667 61,000 61,000 61,000 - Har g a ju al (R p /k g )

Petani Kolektor Koperasi Eksportir [koperasi] Eksportir [non-koperasi]

Farmer Share

masing lembaga atas pertimbangan bentuk produk dominan yang dipasarkan. Sehingga, perubahan harga yang terjadi pada pasar acuan dapat terlihat pengaruhnya terhadap harga yang terjadi di pasar lokal, dimana faktor lain (Xt) pada model ini dalam kondisi cateris paribus. Adapun model yang dianalis secara umum dapat dituliskan sebagai berikut:

Pt = b1Pt-1+b2(Rt - Rt-1)+b3Rt-1+b4Xt + ɛt dimana :

Pt = Harga kopi Arabika Gayo di pasar lokal (waktu t) (Rp/kg) Pt-1 = Harga kopi Arabika Gayo di pasar lokal (waktu t-1) (Rp/kg) Rt = Harga kopi Arabika Gayo di pasar acuan (waktu t) (Rp/kg) Rt-1 = Harga kopi Arabika Gayo di pasar acuan (waktu t-1) (Rp/kg)

Analisis integrasi pasar vertikal akan dilakukan pada setiap lembaga pemasaran. Analisis pertama akan dilakukan pada tingkat petani sebagai pasar lokal sedangkan kolektor, koperasi dan eksportir sebagai pasar acuan. Analisis kedua dilakukan di tingkat kolektor sebagai pasar lokal sedangkan koperasi dan eksportir sebagai pasar acuan. Analisis terakhir dilakukan di tingkat koperasi sebagai pasar lokal dan eksportir sebagai pasar acuan. Kelebihan yang diperoleh dalam melakukan analisis terhadap pasar lokal dan acuan yang berbeda adalah dapat menggambarkan sejauhmana respon harga dari setiap lembaga pemasaran sebagai pasar lokal terhadap perubahan harga yang terjadi di lembaga pemasaran lainnya sebagai pasar acuan. Tabel 26 menunjukkan analisis integrasi pasar vertikal yang akan dilakukan pada setiap lembaga pemasaran kopi Arabika Gayo di Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah.

Tabel 26 Analisis integrasi pasar vertikal pada setiap lembaga pemasaran

No. Pasar lokal Pasar acuan

1 Petani Pedagang pengumpul (kolektor)

Koperasi Eksportir 2 Pedagang pengumpul (kolektor) Koperasi

Eksportir

3 Koperasi Eksportir

Hasil analisis integrasi pasar vertikal menunjukkan bahwa model regresi yang dibangun telah memenuhi asumsi-asumsi penting dalam melakukan analisis model regresi yang menggunakan data time series yaitu terhindar dari autokorelasi dan multikoleniaritas. Sedangkan untuk 2 asumsi lainnya tidak terpenuhi yaitu asumsi kenormalan dan heteroskedastisitas. Namun, Scheffe 1959 dalam Myers 1979 menyatakan bahwa tidak perlu mengkhawatirkan asumsi normalitas ini sepanjang data pada masing-masing sampel cukup besar dan model dapat di koreksi sesuai dengan kondisi yang terjadi. Selain itu, uji heteroskedastisitas yang digunakan biasanya sangat sensitif terhadap ketidaknormalan distribusi data sehingga para ahli statistik menganggap prosedur uji heteroskedastisitas ini tidak robust (Myers 1979). Secara lengkap, hasil pengujian asumsi ini disajikan pada Lampiran 7.

Integrasi Jangka Pendek

Analisis integrasi pasar kopi Arabika Gayo dalam jangka pendek dianalisis melalaui Indeks of Marketing Connection (IMC). Hasil estimasi regresi dengan menggunakan Model Ravallion menunjukkan bahwa nilai IMC di setiap tingkat lembaga pemasaran jauh lebih besar daripada 1. Pengujian hipotesis b1=0 mendukung hal ini (lihat pengujian IMC pada Tabel 27). Pada penelitian ini, hipoesis nol ditolak yang berarti tidak terjadi integrasi jangka pendek antara harga kopi Arabika Gayo di pasar lokal dan harga kopi di pasar acuan. Analisis pertama, dilakukan pada tingkat petani yang menjual dalam bentuk kopi ceri. Harga di tingkat petani sebagai pasar lokal sedangkan di tingkat kolektor, koperasi dan eksportir sebagai pasar acuan. Hasil analisis yang menolak hipotesis nol dan nilai IMC yang jauh lebih besar dari 1 menunjukkan bahwa berapapun perubahan harga yang terjadi di pasar acuan (kolektor, koperasi dan eksportir) pada bulan sebelumnya tidak mempengaruhi harga kopi Arabika di tingkat petani pada saat ini. Tabel 27 menunjukkan hasil analisis Indeks of Marketing Connection (IMC) dan nilai koefisien b2 pada setiap lembaga pemasaran.

Tabel 27 Nilai Indeks of Marketing Connection pada setiap lembaga pemasaran Pasar

IMC b2 Tstatb Tstatc Ttabel

Lokal Acuan Petani

(Kopi ceri) Kolektor 45.50 0.38 15.87 6.04 1.67

Koperasi 2.19 0.02 3.83 22.19 1.67 Eksportir 232.50 0.08 15.08 3.23 1.67 Petani Kolektor 2.31 0.75 7.08 11.99 1.67 (Kopi HS) Koperasi 11.00 0.41 16.20 7.90 1.67 Eksportir 17.20 0.10 14.18 2.56 1.67 Kolektor Koperasi 11.00 0.44 14.18 7.24 1.67 Eksportir 17.20 0.12 13.34 2.81 1.67 Koperasi Eksportir 46.20 0.25 14.74 3.89 1.67 Keterangan : aNilai koefisien; bnilai t stat koefisien b1; cnilai t stat dari koefisien b2

Hal yang sama terjadi pada analisis kedua, yaitu pasar kopi Arabika Gayo di tingkat petani yang menjual dalam bentuk kopi HS. Harga di tingkat petani sebagai pasar lokal, sedangkan kolektor, koperasi dan eksportir sebagai pasar acuan. Hasil menunjukkan bahwa nilai IMC jauh lebih besar dari 1 dan menolak hipotesis nol. Artinya bahwa harga kopi di tingkat petani saat ini tidak dipengaruhi oleh perubahan harga yang terjadi di pasar acuan (kolektor, koperasi dan eksportir). Analisis ketiga dilakukan pada pasar kopi Arabika Gayo di tingkat kolektor sebagai pasar lokal dan koperasi dan eksportir sebagai pasar acuan. Hasil menunjukkan bahwa nilai IMC jauh lebih besar dari 1 dan menolak hipotesis nol. Artinya bahwa harga kopi di tingkat kolektor saat ini tidak dipengaruhi oleh perubahan harga yang terjadi di pasar acuan (koperasi dan eksportir). Begitu pula pada pasar kopi di tingkat koperasi sebagai pasar lokal dan eksportir sebagai pasar acuan.

Berdasarkan hasil analisis integrasi jangka pendek yangmenunjukkan bahwa nilai IMC jauh lebih besar dari 1. Maka dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi integrasi pasar antar lembaga pemasaran kopi Arabika Gayo di Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah dalam jangka pendek. Hal ini disebabkan adanya asymetris information antar lembaga pemasaran. Artinya, informasi pasar yang terjadi di tingkat lembaga pemasaran tidak terdistribusikan dengan baik ke lembaga pemasaran lainnya, dan teradapat salah satu lembaga yang memiliki informasi lebih dibandingkan lembaga pemasaran lainnya yaitu eksportir. Kondisi ini mengakibatkan harga kopi di tingkat petani saat ini tidak dipengaruhi oleh perubahan harga yang terjadi di tingkat kolektor, koperasi dan eksportir pada waktu sebelumnya.

Integrasi Jangka Panjang

Pada model Ravallion, nilai koefisien b2 menunjukkan hubungan jangka panjang antara pasar lokal dengan pasar acuan. Hasil uji integrasi jangka panjang dengan hipotesis nol b2=0 juga ditolak pada semua tingkat lembaga pemasaran (lihat koefisien Rt - Rt-1 pada Tabel 28). Sama halnya dengan integrasi jangka pendek, dalam jangka panjang harga di tingkat petani berupa harga kopi ceri dan kopi HS k.a 40 sampai 45 persen. Analisis pertama dilakukan pada harga kopi ceri di tingkat petani sebagai pasar lokal dan di tingkat kolektor, koperasi dan eksportir sebagai pasar acuan. Berdasarkan hasil uji-t menunjukkan bahwa hipotesis nol b2=0 ditolak, hal ini menunjukkan bahwa perubahan harga kopi di tingkat kolektor, koperasi maupun eksportir tidak ditransmisikan dengan baik ke tingkat petani. Dengan kata lain, berapapun perubahan harga kopi di tingkat kolektor, koperasi dan eksportir pada saat ini dan waktu sebelumnya tidak mempengaruhi harga kopi di tingkat petani khususnya untuk kopi ceri. Hal yang sama juga terjadi di tingkat petani yang menjual kopi dalam bentuk kopi HS. Walaupun, petani telah melakukan perubahan bentuk kopi yang dipasarkan namun hasil analisis menunjukkan bahwa dalam jangka panjang pasar kopi di tingkat petani yang menjual kopi HS juga tidak terintegrasi dengan pasar kopi di tingkat lembaga pemasaran diatasnya. Tabel 28 menunjukkan hasil estimasi persamaan model Ravallion pada masing-masing pasar.

Tabel 28 Hasil estimasi persamaan model Ravallion

Pasar lokal Pasar acuan Koefisien

Intersep Pt-1 (Rt - Rt-1) Rt-1 Petani Kolektor 507.93 0.91a 0.38a 0.02 (Kopi ceri) Koperasi -68.59 0.46a 0.37a 0.21a

Eksportir 348.22 0.93a 0.08a 0.01 Petani Kolektor -22.04 0.67a 0.75a 0.29a (Kopi HS) Koperasi -130.69 0.88a 0.41a 0.08a Eksportir -81.57 0.86a 0.10a 0.05 Kolektor Koperasi 25.34 0.88a 0.44a 0.08a Eksportir -94.22 0.86a 0.12a 0.05 Koperasi Eksportir 807.1 0.93a 0.25a 0.02 a

Hasil yang sama ditunjukkan pada tingkat kolektor sebagai pasar lokal, untuk koperasi dan eksportir sebagai pasar acuan. Dengan ditolaknya hipotesis nol b2=0, maka hal ini menggambarkan bahwa dalam jangka panjang tidak terjadi integrasi antara pasar kopi di tingkat koperasi dan eksportir dengan pasar kopi di tingkat petani. Kondisi ini menyebabkan, berapapun perubahan harga yang terjadi di tingkat koperasi dan eksportir pada saat ini dan waktu sebelumnya tidak mempengaruhi harga kopi di tingkat kolektor saat ini. Seluruh model menunjukkan bahwa hipotesis nol b2=0 ditolak pada semua tingkat lembaga pemasaran. Hal ini menunjukkan tidak terjadi integrasi jangka panjang pada setiap lembaga pemasaran.

Oleh karenanya, dapat disimpulkan bahwa hasil analisis integrasi pasar vertikal mengindikasikan bahwa efisiensi pemasaran belum sepenuhnya diperoleh untuk komoditi kopi Arabika Gayo di Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah. Hal ini disebabkan oleh kurangnya akses informasi perkembangan harga yang terjadi pada pasar di setiap lembaga pemasaran. Selain itu, tekanan dari lembaga pemasaran di tingkat yang lebih tinggi menjadikan harga yang diterima petani (pasar lokal) tidak terintegrasi dengan harga kopi di tingkat eksportir (acuan) baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Pengaruh Struktur, Perilaku dan Kinerja Pasar terhadap Pembentukan Harga Kopi Arabika Gayo di Tingkat Petani

Di pasar kopi dunia, kopi Arabika Gayo tergolong kopi spesialti yang telah memiliki sertifikasi produk. Oleh karenanya, pada tahun 2012 nilai jual kopi Arabika Gayo pernah mencapai 20 persen (Rp60 000/kg) lebih tinggi dibandingkan harga kopi arabika dunia (Rp48 000/kg) di pasar New York (AEKI 2013). Namun, tingginya harga jual kopi Arabika Gayo belum dinikmati oleh petani. Hasil analisis struktur, perilaku dan kinerja pasar kopi Arabika Gayo telah dapat menjelaskan mengapa pola pergerakan harga kopi di tingkat petani tidak mengikuti pola pergerakan harga kopi di tingkat eksportir. Hal ini terlihat dari kondisi sistem pemasaran kopi Arabika Gayo di Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah yang belum berjalan secara efisien.

Analisis struktur pasar menunjukkan bahwa pasar kopi yang dihadapi petani cenderung oligopsoni. Di tingkat eksportir, adanya hambatan masuk pasar menyebabkan terbatasnya jumlah eksportir baru untuk masuk kedalam pasar dan cakupan pasar cenderung dikuasai oleh beberapa perusahaan besar. Hambatan pasar yang terjadi salah satunya disebabkan oleh program sertifikasi produk kopi, yang memiliki standardisasi dalam pemasarannya. KSU. Permata Gayo merupakan perusahaan yang memiliki pangsa pasar tertinggi (24.46%). Hal ini dikarenakan perusahaan memiliki badan hukum koperasi yang telah memiliki lisensi sertifikasi produk dan adanya jaringan pasar yang luas menyebabkan perusahaan mampu memasarkan produknya kebeberapa negara konsumen utama seperti Amerika, Australia, Jepang, Jerman dan lainnya. Selain itu, kemampuan perusahaan dalam melakukan kerjasama yang baik pada setiap lembaga pemasaran menjadikan hambatan bagi perusahaan lain untuk masuk ke dalam pasar kopi Arabika Gayo. Fakta lain juga menunjukkan bahwa rasio konsentrasi empat perusahaan terbesar berada dalam pasar yang terkonsentrasi dengan tingkat

persaingan kecil. Secara sederhana, hubungan antara struktur, perilaku dan kinerja pasar terhadap pembentukan harga kopi di tingkat petani dapat ditunjukkan pada