• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.9 Analisis SWOT

Analisis SWOT (strengths/kekuatan, weaknesses/kelemahan, opportunities/kesempatan dan threats/ancaman) dilaksanakan dengan melakukan analisis dua faktor, yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal menggambarkan situasi dan kondisi didalam perusahaan yang menentukan kapabilitas perusahaan dan tingkat kesuksesannya dalam mencapai sasaran, seperti SDM, keuangan, infra struktur dan tangible asset. Sedangkan faktor eksternal adalah berbagai hal diluar perusahaan yang mempengaruhi kemampuan perusahaan mencapai sasarannya seperti kondisi industri, persaingan, ekonomi dan lain sebagainya yang tidak dapat dikendalikan perusahaan (Rangkuti, 2004 dan Marimin, 2004)

Menurut Wheelen dan Hunger (2001) faktor lingkungan internal terdiri dari struktur (cara kerja perusahaan yang berkaitan dengan komunikasi, wewenang dan arus kerja), budaya (pola keyakinan, pengharapan dan nilai-nilai yang ada diantara karyawan) dan sumberdaya perusahaan (aset yang merupakan bahan baku produksi, keahlian karyawan, kemampuan dan bakat manajerial) sedangkan lingkungan eksternal terdiri dari lingkungan kerja (terdiri dari elemen atau kelompok yang berpengaruh terhadap jalannya perusahaan) dan lingkungan sosial (terdiri dari kekuatan umum yang tidak berkaitan langsung dengan kegiatan jangka pendek).

Faktor strategik (strategic factors) dalam analisis SWOT merupakan faktor-faktor yang penting dan berpengaruh terhadap pencapaian tujuan perusahaan. Faktor-faktor penting ini ditetapkan dengan pertimbangan asas kesederhanaan dengan tidak meninggalkan tingkat kepentingan, sukses faktor, menghindari overlaping penilaian dan tetap memperhatikan bidang-bidang fungsional. Penentuan faktor-faktor strategik lingkungan internal dan eksternal didasarkan atas pertimbangan:

1) PBUMN memiliki kelebihan-kelebihan untuk menjalankan bisnisnya secara efektif. Hal ini ddapat dilihat dari kapabilitas produksi memiliki areal HGU yang cukup luas dan kompetensi pengelolaan bisnis. Dari sisi keuangan masih membukukan laba yang cukup tinggi namun alokasi dana investasi, khususnya untuk peningkatan kapabilitas produksi belum optimal. Di mata pemerintah

provinsi maupun kabupaten, perusahaan masih dipandang sebagai institusi yang dapat memberikan kontribusi terhadap perkembangan wilayah. Demikian juga kondisi keuangan perusahaan dan sistem pelaporan masih dipandang baik oleh lembaga keuangan khususnya perbankan.

2) Perusahaan sebagai institusi bisnis juga memiliki kelemahan-kelemahan yang secara fundamental berpengaruh terhadap bisnis baik jangka pendek maupun jangka panjang. Kelemahan yang menonjol adalah rendahnya kapabilitas produksi, khususnya kapabilitas produksi bahan baku, yang disebabkan oleh pelaksanaan replanting tanaman yang belum ideal, sehingga didominasi tanaman tua. Selain itu, proporsi jumlah SDM di kantor direksi berlebih. Proporsi karyawan perusahaan berdasar usia, golongan dan kompetensi juga belum ideal. Sedangkan keberadaan grup unit yang secara organisasi bernilai strategik untuk lebih mengefektifkan kinerja perusahaan, sampai saat ini belum secara optimal dimanfaatkan. Sehingga faktor-faktor tersebut secara langsung maupun tidak langsung mengakibatkan tingginya harga pokok penjualan dan mengurangi kesempatan memperoleh profit margin yang tinggi. 3) Peluang bisnis PBUMN secara nasional maupun regional masih sangat terbuka sepanjang PBUMN mampu menekan ancaman sekaligus meningkatkan kekuatan. Kemajuan teknologi produksi bahan baku unggul, baik oleh pusat penelitian milik pemerintah maupun swasta merupakan peluang yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan produksi. Minat para pemilik modal untuk bekerjasama mengembangkan bisnis sawit masih tinggi, misalnya kerjasama kemitraan antara pemerintah daerah setempat dengan PBUMN untuk membangun perkebunan kelapa sawit.

4) Lingkungan bisnis perusahaan tidak semuanya mendukung kinerja PBUMN, antara lain: pemenuhan produksi perusahaan memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap TBS plasma/pihak II (lebih dari 45%) padahal tanaman plasma mayoritas tua, petani plasma tidak memiliki kemampuan untuk melakukan penanaman ulang/replanting, dan pengolahan TBS plasma ke PKS swasta. Selain itu perusahaan masih menghadapi pencurian TBS dan okupasi lahan, tidak semua kebijakan dan peraturan pemerintah mendorong perusahaan untuk

membangun daya saing, dan semakin ketatnya persyaratan pasar terhadap kualitas produk serta proses produksinya.

Setiap faktor strategik yang dihitung diberikan bobot dan nilai. Pembobotan dan penilaian dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut:

1) Pembobotan dilakukan berdasarkan pertimbangan pengaruh faktor terhadap pencapaian tujuan dibandingkan dengan faktor lainnya dalam kelompoknya Faktor yang paling berpengaruh akan mempunyai bobot yang paling besar, sedang yang paling tidak berpengaruh akan mempunyai bobot paling kecil. Total bobot untuk setiap kelompok (baik faktor internal maupun faktor eksternal) adalah 100%.

2) Penilaian (scoring) untuk setiap faktor dilakukan menggunakan nilai 1 sampai dengan 5 dengan mempertimbangkan posisi relatif (kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman) perusahaan dibandingkan dengan perusahaan sejenis dalam industri yang sama; sehingga nilai 5 (lima) menunjukkan terbesar sedang 1 (terkecil) dibanding dengan perusahaan sejenis (Tabel 5).

Tabel 5 Nilai faktor strategik

Nilai Kekuatan/Peluang Kelemahan/Ancaman

1 Kecil sekali Kecil sekali

2 Kurang Kurang

3 Sedang Sedang

4 Besar Besar

5 Besar sekali Besar sekali

Keterangan: Kekuatan (bertanda +) dan kelemahan (-) terletak pada sumbu X Peluang (+) dan Ancaman (-) terletak pada sumbu Y

Untuk memilih strategi, ada beberapa model yang dapat digunakan, yaitu: 1) Matriks kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman (strengths, weaknesses, opportunities dan threats matrix); 2) Matriks Boston Consulting Group (Boston Consulting Group/BCG); 3) Matriks General Electric (General Electric Matrix); 4) Konsep strategi pertumbuhan dari Igor Ansoff dan 5) Konsep BSC dari Robert Kaplan dan David Norton.

Kajian ini menggunakan matriks kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman/matriks SWOT. Menurut Wheelen dan Hungren (2001) dengan matriks

SWOT dapat ditentukan 4 (empat) pilihan strategi yang dapat digunakan, yaitu strategi SO, strategi WO, strategi ST dan Strategi WT (Gambar 10).

Faktor Internal Faktor (IFAS) Kekuatan (Strengths/S )

Menentukan faktor-faktor yang merupakan kekuatan internal

Kelemahan (Weaknesses /W)

Menentukan faktor-faktor

yang menjadi kelemahan internal

Eksternal (EFAS)

Peluang (opportunities/O)

Menentukan faktor-faktor yang merupakan peluang

Strategi S-O

Menggunakan kekuatan un tuk memanfaatkan peluang

Strategi W-O

Meminimalkan kelemahan

untuk memanfaatkan peluang

Ancaman (Threats/T)

Menentukan faktor-faktor yang menjadi ancaman

Strategi S-T

Menggunakan kekuatan untuk mengatasi ancaman

Strategi W-T

Meminimalkan kelemahan

untuk mengatasi ancaman

Gambar 10 Alternatif strategi matriks SWOT (Wheelen dan Hungren, 2001) 2.10 Fuzzy- Analysis Hierarchy Process (Fuzzy-AHP)

Untuk menentukan alternatif kriteria pengukuran kinerja kebun dan pabrik digunakan fuzzy- analysis hierarchy process (fuzzy-AHP). Prinsip kerja AHP adalah menyederhanakan persoalan yang kompleks, tidak terstruktur, stratejik, dan dinamik menjadi bagian-bagiannya, serta menata dalam suatu hierarki. Kemudian tingkat kepentingan setiap variabel di beri nilai numerik secara subjektif (dengan meminta pendapat pakar/ahli pada bidang yang diteliti) tentang arti penting variabel tersebut secara relatif dibandingkan dengan variabel dengan variabel yang lain. Berbagai pertimbangan tersebut, kemudian dilakukan sintesa untuk menetapkan variabel yang memiliki prioritas tinggi dan berperan untuk mempengaruhi hasil pada sistem tersebut (Marimin 2004). Hal ini sejalan dengan pendapat Saaty (1993) yang menyatakan bahwa terdapat 3 (tiga) prinsip dasar dalam memecahkan persoalan dengan menggunakan AHP, yaitu:

1) Menyusun hirarki

Hirarki terdiri dari tujuan, kriteria dan aktivitas. Tujuan merupakan masalah yang harus dipecahkan sehingga harus didefinisikan agar relevan dengan permasalahan.

2) Struktur hirarki

Struktur hirarki terdiri dari tingkatan yang mempunyai keterkaitan satu dengan yang lain. Tingkatan tersebut tersusun dari sasaran utama, tujuan, pelaku (aktor) yang memberi dorongan dan tujuan-tujuan aktor.

3) Penyusunan bobot

Bobot (tingkat kepentingan) dinilai dengan cara komparasi berpasangan terhadap pendapat pakar. Pengertian komparasi adalah membandingkan setiap elemen dengan elemen lainnya pada setiap tingkat hirarki secara berpasangan, sehingga diperoleh nilai tingkat kepentingan. Nilai tingkat kepentingan adalah data kualitatif. Untuk mendapatkan nilai pendapat pakar dalam bentuk anga maka dilakukan skala penilaian.

Konsep logika fuzzy muncul karena dalam kondisi nyata biasanya sering bersifat tidak pasti. Logika fuzzy adalah suatu cara untuk memetakan suatu permasalahan yang kebenarannya masih samar sehingga sering disebut kebenaran fuzzy. Logika fuzzy diperkenalkan pertama kali oleh Prof. L. A. Zadeh dan Barkeley pada tahun 1965. Menurut Machfud (2001) berbeda dengan model matematik formal dan logika formal yang memerlukan data kuantitatif dan tepat, otak manusia juga mampu untuk sampai kepada suatu keputusan yang didasarkan pada data yang tidak tepat dan kualitatif. Dengan kata lain setiap pengambil keputusan dalam memberikan preferensinya terhadap suatu alternatif atau kriteria adalah bersifat fuzzy. Pada himpunan tegas (crisp) nilai keanggotaan suatu item x dalam himpunan A, yang sering ditulis dengan μA[x] memiliki 2 arti yaitu : satu

(1), artinya suatu item x menjadi anggota dalam himpunan A dan nol (0), artinya suatu item x tidak menjadi anggota himpunan A.

Pada himpunan fuzzy nilai keanggotaan terletak pada rentang 0 sampai 1, jika x memiliki nilai keanggotaan μA[x]=0 berarti x tidak menjadi anggota himpunan A, jika μA[x]=1, maka x menjadi anggota penuh himpunan A.

Gambar 11 Proses metode fuzzy

Logika fuzzy menggunakan informasi linguistik dan verbal (Marimin, 2002). Sedangkan menurut Yudhistira dan Diawati (2000), variabel linguistik adalah variabel yang digunakan ketika konsep linguistic fuzzy number direpresentasikan seperti sangat kecil, menengah, besar dan sebagainya. Fungsi keanggotaan adalah fungsi yang memberikan derajat terhadap sebuah elemen mengenai keberadaannya dalam suatu gugus. Himpunan fuzzy pada disertasi ini dibangun dengan fungsi keanggotaan representasi segitiga. Menurut Marimin (2002) salah satu dari bentuk fungsi keanggotaan adalah triangular Fuzzy Number/TFN (Gambar 12).

1 μA (x)

a1 a2 a3

Gambar 12 Triangular Fuzzy Number (TFN) A = (a1, a2, a3) (Marimin, 2002)

Fungsi keanggotaan dari gambar adalah: μA (x) = 0, x < a1 a x a a a a x 2 1 2 3 1 , a x a a a x a 3 2 2 3 3 ,

a

x

3 ,

0

Permasalahan nyata

Komputasi secara fuzzy

Solusi Defuzzyfikasi Representasi natural

Metode fuzzy AHP adalah suatu metode yang dikembangkan dari metode AHP dengan menggunakan konsep fuzzy pada beberapa bagian seperti dalam hal penilaian sekumpulan alternatif dan kriteria. Menurut Yudhistira dan Diawati (2000) pengembangan metode fuzzy AHP dapat dilakukan dengan 4 (empat) tahapan yaitu:

1) Skoring alternatif dan kriteria

Skoring yang dilakukan oleh pengambil keputusan dalam bentuk variabel linguistik seperti sangat jelek, sedikit jelek, sedang, sedikit bagus dan lain-lain. Menurut Kastaman (1999) fuzzyfikasi pada metode fuzzy AHP adalah proses pengubahan nilai selang rating (berupa batas nilai) yang diberikan oleh penilai menjadi selang dalam bentuk bilangan fuzzy dengan maksud untuk menghilangkan ketidak konsistenan nilai yang disebabkan selang rating dan bias setiap penilai. 2) Defuzzifikasi skor fuzzy

Defuzzifikasi dilakukan untuk menentukan satu nilai dari skor fuzzy. Menurut Marimin (2002) defuzzyfikasi merupakan suatu proses pengubahan output fuzzy ke output yang bernilai tunggal (crisp). Metode defuzzyfikasi yang banyak digunakan adalah metode centroid dan maksimum. Dalam metode centroid, nilai variabel dari center of gravity suatu keanggotaan untuk nilai fuzzy. Sedangkan di dalam metode maksimum, satu dari nilai-nilai variabel yang merupakan nilai kepercayaan maksimum gugus fuzzy dipilih sebagai nilai tunggal untuk variabel output.

Metoda defuzyfikasi yang digunakan adalah Metoda defuzzifikasi Mean of Maxima.

Metoda ini umumnya didefinisikan hanya untuk diskrit membership function (Gambar

13). Nilai defuzzifikasi didapatkan dari rata-rata semua nilai crisp set M. Nilai

didapatkan dengan rumus sebagai berikut:

Gambar 13 Membership function fuzzy untuk nilai kriteria linguistik dan alternatif

3) Pembobotan

Pembobotan dapat dilakukan berdasarkan teori Saaty. Menurut Marimin (2004) nilai eigen (eigen vector), diperoleh dengan menghitung matriks dan persamaan matematik.

4) Rangking dan skor akhir

Menentukan rangking dan skor akhir dapat digunakan dengan membuat set operasi yang memungkinkan sesuai dengan teori.

Alasan digunakannya logika fuzzy AHP adalah karena beberapa kelebihan yang dimilikinya. Menurut Kastaman (1999) kelebihan metode fuzzy AHP, adalah sebagai berikut:

1) Mampu mengatasi persoalan yang bersifat kualitatif, yang terkadang membingungkan (fuzzy). AHP dapat menyediakan skala yang mengukur hal-hal yang tak dapat dinyatakan secara jelas atau relatif dengan skala ukuran yang sifatnya kualitatif sebagaimana halnya data kuantitatif. Untuk menghindari perhitungan yang tidak konsisten, pada proses analisisnya melibatkan metode perbandingan berpasangan.

2) Tingkat dominasi kepentingan atau bobot masing-masing kriteria dapat ditentukan secara pasti. Karena proses pemilihan alternatif berdasarkan perbandingan secara berpasang-pasangan yang di mulai dari tingkatan kriteria terbawah menurut hirarki persoalan yang dirumuskan dan proses

0,5 1

μm (x)

Tingkat kepentingan

E W S VS A

Sama penting Sedikit lebih penting Jelas lebih penting Sangat jelas lebih penting Mutlak lebih penting

analisisnya menggunakan pembobotan kriteria dan pemilihan alternatif berdasarkan kompetisi penuh.

3) Metodenya sangat fleksibel dalam menjawab keputusan persoalan yang bersifat individual dan kelompok. Karena proses pengambilan keputusan bisa secara kelompok dan perorangan, tergantung dari besar kecilnya responden yang menilai.

4) Pengambilan keputusannya sangat objektif, karena metode ini mampu menampilkan alternatif selang kepercayaan yang berkaitan dengan tingkat objektivitas pengambilan keputusan.

5) Definisi suatu masalah dapat diperbaiki jika terjadi kekeliruan pada saat tahapan karena adanya kekurangan yang perlu ditambahkan, dan mengembangkan keputusannya melalui pengulangan,

6) Mengakomodasi pendapat setiap orang dan proses pengambilan keputusannya berdasarkan penilaian (judgement) maupun konsensus.

7) Ada keterkaitan atau ketergantungan antara elemen sistem pada proses analisis karena adanya hirarki sistem.

8) Ketidak konsistenan perbandingan berpasangan diantara alternatif pilihan dapat dihindari karena perhitungan konsistensi logis dari setiap penilaian yang digunakan dalam menentukan prioritas. Proses normalisasi bobot dapat menghilangkan bias yang muncul pada saat pembobotan kriteria.