BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.3 Pengukuran dan Peningkatan Kinerja
Menurut Sturman (2001) kinerja adalah suatu gambaran capaian pelaksanaan suatu kegiatan dalam mewujudkan sasaran, tujuan, misi dan visi perusahaan yang ada pada rencana strategi. Sedangkan Jones (2004) menyatakan bahwa untuk meningkatkan kinerja (wujud/tangible dan nirwujud/intangible) maka sumber daya dan kapabilitas harus digunakan secara efektif. Sedangkan pengukuran kinerja adalah suatu proses penilaian kemajuan kegiatan terhadap tujuan dan sasaran yang telah ditentukan sebelumnya (David, 2005). Ada beberapa pengertian mengenai ukuran kinerja yaitu : 1) karakteristik output yang diidentifikasikan untuk tujuan evaluasi, 2) indikator-indikator numerik atau kuantitatif yang menunjukkan seberapa jauh masing-masing sasaran dapat dicapai, 3) tanda-tanda penting dari sebuah organisasi yang mengukur secara kuantitatif bagaimana sebuah aktifitas baik berdasarkan proses maupun output dapat mencapai suatu tujuan tertentu dan 4) deskripsi kuantitatif yang menyatakan kualitas produk maupun layanan dari sebuah proses atau sistem (Suwignjo, 1999) Menurut Robbins dan Coulter (2002) untuk mengukur kinerja organisasi dapat digunakan beberapa cara yaitu : pengendalian keuangan, pengendalian informasi dan pendekatan benchmarking. Pengendalian keuangan diperlukan oleh semua perusahaan bisnis dengan menganalisis laporan keuangan per triwulan, pengujian rasio keuangan dan analisis anggaran serta dengan alat pengendalian baru seperti nilai tambah pasar (market value added/MVA) dan nilai tambah ekonomi (economic value added/EVA). Pengendalian informasi dapat dilakukan dengan sistem informasi manajemen yang dapat memberikan informasi sesuai kebutuhan perusahaan. Benchmarking digunakan untuk membantu mengenali bidang kesenjangan dengan cara menganalisis pengelolaan perusahaan yang terbaik di kalangan pesaing atau bukan pesaing untuk menghasilkan kinerja yang unggul.
Beberapa peneliti telah mengembangkan model pengukuran kinerja yaitu Activity Based Costing (Cooper, 1992), Lean dan Sig Sigma (Motorola Corporation, 1991). Penelitian ini tidak menggunakan sistem ABC dan Lean dan Sig Sigma. Sistem ABC sebagai model pengukuran dibangun berdasarkan pada pemikiran bahwa akibat atau konsekuensi dari sebuah aktivitas menyebabkan
penggunaan sumber daya yang dilakukan oleh perusahaan dan dicatat oleh akuntan sebagai biaya sehingga membutuhkan banyak waktu untuk mengumpulkan data, tidak semua aktivitas di PBUMN dapat memberikan nilai tambah dengan jelas, penerapan metode sangat mahal, masalah integrasi dengan sistem informasi yang ada di perusahaan dan masalah keamanan data perusahaan. Lean dan Sig Sigma (Motorola Corporation, 1991), tidak digunakan karena harus dimulai dengan model Six Sigma yaitu mencari penyebab pemborosan dan mengatasinya dengan mengubah budaya bisnis kemudian dilanjutkan dengan Lean Sigma yaitu menggabungkan kecepatan, kualitas dan pengendalian. Untuk melakukan Lean dan Sig Sigma digunakan alat untuk menghapus beberapa aktivitas Six Sigma dengan cara menggabungkannya sehingga mengurangi waktu untuk mencapai peningkatan yang lebih cepat.
Pengukuran kinerja PBUMN pada kajian ini, adalah menggunakan beberapa IKK yang merupakan faktor yang dapat mempengaruhi kinerja, yaitu untuk kinerja kebun, IKK yang digunakan adalah bahan tanaman, realisasi pemeliharaan tanaman, realisasi tanaman sisipan, capaian hasil panen, biaya panen, biaya pemeliharaan, biaya pemupukan, realisasi bahan tanaman, realisasi pemupukan, persentase capaian produksi dibanding potensi, jumlah sumberdaya manusia (SDM) yang mengikuti pelatihan dan karyawan yang berkompetensi. Untuk kinerja pabrik IKK yang digunakan adalah jumlah sertifikat yang berkaitan dengan lingkungan, mutu CPO yang diproduksi, jumlah SDM yang mengikuti pelatihan dan karyawan yang berkompetensi, losis/kehilangan inti sawit, losis minyak sawit, pembelian TBS, produksi kebun sendiri, biaya pemeliharaan mesin/instalasi, biaya pengolahan dan realisasi waktu pabrik beroperasi.
2.3.1 Bahan Tanaman
Bahan tanaman yang digunakan adalah persilangan varietas Dura/induk betina dan Pisifera/induk jantan (Lembaga Riset Perkebunan Indonesia/LRPI, 2008). Saat ini Indonesia sudah memiliki 33 jenis kelapa sawit yang tersebar di 8 produsen benih, yang sangat dikenal oleh pekebun sawit adalah varietas yang
berasal dari Pusat Penelitian Kelapa Sawit/PPKS dan socfindo. PPKS dan Socfindo telah ditetapkan sebagai produsen benih di Indonesia (Lampiran 2).
Berdasarkan data dari PPKS Medan, varietas Marihat mempunyai potensi produksi pertahun dengan berat tandan 17 kg untuk setiap pohon, dengan potensi minyak 6,7 ton/ha/tahun dan sudah berbuah sejak umur 14 – 18 bulan serta sudah dapat dipanen setelah umur 30 bulan. Varietas unggul hasil persilangan penelitian PPKS antara lain: DxP Bah Jambi, DxP Marihat, DxP Rispa (SP 540 T), DxP La Me, DxP Yangambi, DxP Sungai Pancur 1 (Dumpy), DxP sungai Pancur 2, DxP Simalungun (SP 540 T) dan DxP Langkat (Lampiran 2). Varietas tersebut mempunyai ciri sebagai berikut: 1) Produksi CPO > 6 ton/ha/tahun; 2) Pertumbuhan meningginya lambat (yang memiliki laju pertumbuhan meninggi 45-85 cm/tahun), 3) Rentang kanopi pendek sehingga bibit dapat ditanam lebih rapat sehingga produktivitas lahan meningkat. Varietas unggul kelapa sawit mempunyai potensi produksi 32-39 ton TBS/ha/tahun dengan rendemen minyak antara 24,0-26,5%. Sedangkan PT Socfindo mengeluarkan 2 varietas unggul yaitu DxP unggul Socfindo (L) berdasarkan SK Mentan No/ 440/Kpts/LB.320/7/2004 dan DxP unggul Socfindo (Y) berdasarkan SK Mentan No. 441/Kpts/LB.320/7/2004 yang memiliki potensi produksi 31,5 ton/ha/tahun yang dapat dicapai pada umur 6 – 9 tahun dengan potensi minyak 8,5 ton.
PT Asian Agro mempunyai varietas unggul yang dinamakan Topaz. Varietas Topaz terdiri dari lima jenis yaitu Topaz 1 sampai dengan 5 dengan karateristik yang hampir sama. Varietas ini telah ditetapkan pemerintah sebagai benih unggul dengan Kepmen No. 57, 58, 59, 60 KPTS/SR.120/1/2004 tanggal 16 Januari 2004.
Untuk melakukan eksploitasi potensi genetik dilakukan memupukan dengan pupuk anorganik (hara makro seperti N, P, Ca, Mg, S, hara mikro seperti B, Fe, Cu, Zn) dan memperbaiki pertumbuhan dan produksi; pupuk organik untuk memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah, memperbaiki produktivitas tanah, sumber hormon dan zat perangsang tumbuh. Ada 3 (tiga) faktor yang berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman sepanjang hidupnya yaitu innate (genetik tanaman), induce (faktor lingkungan yang dapat dipengaruhi oleh manusia) dan enforce (faktor lingkungan yang tidak dapat
dipengaruhi oleh manusia). Komposisi terbaik pada areal kelapa sawit adalah dengan perbandingan tanaman belum menghasilkan (TBM) : tanaman menghasilkan (TM) adalah sebesar 12,5 persen : 87,5 persen.
2.3.2 Pemeliharaan Tanaman
Pemeliharaan tanaman terbagi 2 (dua) yaitu pemeliharaan TBM dan pemeliharaan TM. Tujuan melakukan pemeliharaan pada tanaman belum menghasilkan adalah agar pada masa menghasilkan, tanaman dapat mencapai pertumbuhan dan perkembangan dan produksi yang maksimal. Sementara tujuan melakukan pemeliharaan TM adalah untuk menggali potensi produktivitas seoptimal mungkin.
Jenis pekerjaan yang penting didalam pemeliharaan adalah: 1) penyiangan piringan/gawangan, 2) penyisipan, 3) pemberantasan hama penyakit, 4) pemeliharaan jalan, jembatan/gorong-gorong, teras kontour/tapak kuda dan saluran air/drainase.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pemeliharaan adalah : 1) jika tanaman LCC tidak ada maka produksi berkurang 16 persen dan jika Prunning/tunasan berlebihan maka 2 tahun setelah prunning. produksi berkurang sebesar 25 persen (kg/pokok/tahun); 2) jika jumlah pokok/ha berkurang maka produksi akan berkurang 1 ton/ha/tahun; 3) hama tikus akan menurunkan produksi CPO sebesar 7-10 persen, hama oryctes dapat menurunkan produksi sebesar 50 persen untuk tahun panen kedua, 31 persen untuk panen ketiga dan 42 persen untuk panen keempat. Penyakit ganoderma dapat menurunkan produksi sebesar 46–100 persen; 4) Penanaman tanpa teras pada areal dengan kecuraman lereng lebih besar dari 6derajat menyebabkan produksi menurun sebesar 20 persen dan masa panen terlambat 6 bulan.
Pemeliharaan pembibitan merupakan faktor utama dalam program pembibitan, tanpa pemeliharaan yang baik, bibit unggul tidak akan bisa mengekspresikan keunggulannya. Pemeliharaan tunasan berguna untuk memudahkan panen dan menjaga standar jumlah pelepah dalam pokok, perbaikan sarana transportasi agar tidak terjadi buah ketinggalan (restan) di lapangan yang dapat meningkatkan asam lemak bebas (ALB).
2.3.3 Penyisipan Tanaman
Penyisipan tanaman dilakukan sejak TBM agar jumlah pohon per hektar memenuhi standar dan pertumbuhannya seragam. Biasanya jumlah pohon per hektar berkurang karena adanya serangan penyakit ganoderma. Jika terserang penyakit ganoderma sebaiknya bekas titik tanam dibiarkan selama 6 bulan dan jika sinar matahari sampai pada titik tanam tersebut maka sisipan dilakukan.
2.3.4 Pemupukan
Pemupukan bertujuan untuk mempertahankan kesuburan tanah. Hal ini dilakukan dengan mengganti unsur hara yang telah diambil oleh tanaman dalam rangka menghasilkan kuantitas dan kualitas produksi. Manajemen pemupukan yang baik akan memberikan kontribusi yang besar dalam meningkatkan produksi dan kualitas produk yang dihasilkan karena dengan pemupukan kesuburan tanah akan meningkat yang menyebabkan tingkat produksi tanaman menjadi relatif stabil serta meningkatkan daya tahan tanaman terhadap serangan penyakit dan pengaruh iklim yang tidak menguntungkan. Jenis dan sifat pupuk untuk tanaman kelapa sawit dapat dilihat pada Lampiran 3.
Pemupukan di PBUMN menganut prinsip 4 T (tepat waktu, tepat dosis, tepat tabur/cara, tepat unsur/jenis dan dilakukan sebanyak 3 kali dalam setahun tergantung rekomendasi. Biasanya rekomendasi diterbitkan oleh pusat penelitian kelapa sawit (PPKS) dan Agriculture Research Advisory Beareau (ARAB) berdasarkan hasil analisa tanah dan daun, kondisi iklim terutama curah hujan, produktivitas yang dihasilkan, realisasi pemupukan sebelumnya dan pengamatan visual kondisi tanaman di lapangan.
Pemupukan yang tidak sesuai dengan cara memupuk dapat mengurangi produksi sebesar 5-10 persen, pemberian yang tidak merata dapat mengurangi produksi sebesar 3-5 persen, waktu yang tidak tepat dapat mengurangi produksi sebesar 10-20 persen dan aplikasi yang tidak seimbang dapat mengurangi produksi sebesar 20-50 persen. Faktor yang mempengaruhi kebutuhan pupuk pada tanaman tergantung pada 1) hara terangkut panen melalui produksi/crop factor (produksi tinggi berarti hara yang ditambahkan tinggi); 2) perbaikan status
hara tanah/soil factor (kandungan P tersedia 10 ppm menjadi 40 ppm) dan 3) efektifitas pemupukan/fertilizer factor (kehilangan urea melalui penguapan sekitar 50 persen, P terikat tanah 50 persen dan K, Ca, Mg pencucian dan aliran permukaan 80 persen) (Lampiran 4).
Organisasi pemupukan terdiri dari: 1) kebutuhan tenaga di hitung sesuai luas program pemupukan dengan norma kerja (0,35 US/Ha – tanah rata, 0,5 US/Ha – untuk tanah berbukit dan 2,5 US/Ha untuk pemupukan poket, 2) satu group tenaga pemupuk terdiri dari 5 orang penabur ditambah 1 orang pelangsir (dengan sepeda/kereta sorong), 3) seorang mandor dapat mengawasi 4 group atau 24 orang asisten lapangan mengawasi, setidaknya 4 kali pengawasan per hari, 4) semua jenis pupuk di tabur di piringan kecuali bocor. Akibat aplikasi pemupukan yang salah, misalnya waktu pemupukan yang tidak tepat (mengakibatkan penurunan produksi sebesar 10 – 20 persen) dan aplikasi pemupukan yang tidak disebar merata di piringan (dapat mengakibatkan penurunan produksi sebesar 3 – 5 persen). Sasaran pemupukan kelapa sawit terbagi 3 (tiga) yaitu: 1) target akhir pertumbuhan tanaman kelapa sawit yang sehat dengan produktivitas yang tinggi; 2) target antara perbaikan kesuburan (kimia, fisik, biologi) tanah sesuai dengan persyaratan yang diinginkan tanaman kelapa sawit; 3) analisa tanah mempunyai peranan yang penting dalam menentukan rekomendasi pemupukan yang tepat (spesifik lokasi) dan 4) biaya pemupukan menjadi lebih efektif dan efisien.
2.3.5 Panen
Panen merupakan pekerjaan yang memerlukan tingkat kedisipilinan yang tinggi karena perlakuan yang kurang baik akan berpengaruh langsung terhadap kerusakan pada tanaman dan pada buah. Cara yang tepat akan mempengaruhi kuantitas produksi (ekstraksi) dan waktu yang tepat akan mempengaruhi kualitas produksi (ALB). Jika teknik/cara pemanen, kedisiplinan pengumpulan brondolan dan mutu tidak sesuai standar maka produksi turun 15% dari potensi tanaman. Memperpanjang interval panen lebih dari 15 hari maka buah akan memberondol lebih dari 17 persen dan ALB akan naik lebih dari 5 persen dan DOBI akan rendah. Panen dimulai dari memotong tandan matang panen sesuai kriteria matang panen, mengumpulkan dan mengutip
brondolan serta menyusun tandan di tempat pengumpulan hasil (TPH). Kriteria matang panen merupakan persyaratan kondisi tandan (standar) untuk panen yaitu 5 brondolan per tandan di piringan. Pemanenan sesuai kriteria matang panen menyebabkan jumlah pelepah di pohon dapat dipertahankan tetap 48 – 56 pelepah.
2.3.6 Mutu CPO
Mutu CPO ditentukan dengan beberapa indikator seperti pada Tabel 4. Mutu CPO dipengaruhi oleh kualitas panen, pengangkutan, proses pengolahan dan penimbunan dan penyimpanan.
Tabel 4 Parameter mutu CPO
Uraian Standar (%)
ALB Golden CPO Maksimum = 2,0%
ALB CPO Super Maksimum < 2,5%
ALB CPO non super Maksimum < 3,5%
Kadar air Maksimum 3,5%
Kadar kotoran Maksimum 0,15%
DOBI Maksimum o,02%
Bilangan Iodin Minimum 2,5
Bilangan peroksida, mek/kg Minimum 5,0 Bilangan anisidine mek/kg Maksimum 5,0
Fe (besi), ppm Maksimum 5,0
Cu (tembaga), ppm Maksimum 0,3
Titik cair 39 – 410 C
carotine ≥500 ppm
Sumber: Buku panduan pedoman operasional pengolahan kelapa sawit, 2009
2.3.7 Bahan Baku TBS
Bahan baku TBS yang sampai di pabrik berasal dari kebun sendiri dan pembelian dari kebun plasma/pihak kedua. Pembelian TBS sering menimbulkan pengaruh terhadap rendemen CPO perusahaan, sehingga hal-hal yang perlu diperhatikan adalah dari mana asal TBS tersebut dan penetapan standar kematangan buah harus sesuai dengan standar perusahaan.
2.3.8 Kehilangan Minyak
Kehilangan minyak (oil loss) diawasi dari mulai stasiun perebusan, pemipilan/theresser, pencacahan (digester) dan pengempaan (presser) dan pemurnian minyak (clarifier). Pengawasan di stasiun rebusan dilakukan dengan mengawasi kandungan minyak dalam air kondensat ( disebabkan buah restan bercampur dengan buah segar dalam satu rebusan, holding time terlalu lama, buah banyak terluka/memar, pembuangan air kondensat tidak tuntas) dan kandungan minyak dalam tandan kosong (disebabkan buah banyak yang luka, waktu perebusan atau holding time terlalu lama dan buah terlalu banyak menumpuk di auto feeder) agar tetap sesuai standar. Pengawasan di stasiun thresher dilakukan dengan mengawasi kandungan minyak dalam tandan kosong yang disebabkan holding time yang terlalu lama dan penuangan ke auto feeder yang terlalu banyak. Pengawasan di stasiun pressan dilakukan dengan mengawasi losis minyak dalam fibre yang melebihi norma (norma 0,56 persen) (disebabkan proses perebusan tidak sempurna, proses pengadukan tidak sempurna/temperatur adukan lebih kecil dari 950 C, isian digester kurang dari 3/4 bagian, pisau aduk aus, aliran minyak kasar dari bottom plate tidak lancar, tidak ada siku penahan, tekanan pressan kurang dari 40 BAR, ularan screw sudah aus).
2.3.9 Pemeliharaan Mesin
Pemeliharan mesin yang terjadual akan mencegah kerusakan pada alat- alat/mesin yang dapat menyebabkan penurunan jam olah, kapasitas olah serta pengutipan minyak dan inti sehingga akan mengganggu produktivitas pabrik kelapa sawit. Sistem perawatan yang tidal baik dan tidak sesuai jadual akan menyebabkan mesin rusak dan akan menurunkan jam olah, kapasitas olah dan efisiensi pengutipan minyak dan inti. Penanganan sesuai standar kematangan buah akan menghasilkan kualitas minyak dan inti sawit dan angka kehilangan akan rendah dan efektifitas pengutipan minyak akan tinggi
2.3.10 Proses Produksi Ramah Lingkungan
Proses produksi yang ramah lingkungan merupakan konsep bisnis kelapa sawit yang merupakan salah satu upaya untuk mengantisipasi perubahan paradigma bisnis akibat kesadaran masyarakat dunia akan kebutuhan kualitas
hidup yang lebih baik. Issue mengenai lingkungan hidup mulai muncul pada tahun 70 ketika club of Roma yang beranggotakan tokoh terkemuka dunia membuat testimoni tentang terbatasnya daya dukung planet bumi. Roundtable sustainable palm oil (RSPO) adalah prakarsa dari multistakeholder global seperti perusahaan perkebunan/pekebun, prosessor (palm mill), pedagang, produsen barang konsumsi dan pengecer, bank/investor, LSM lingkungan dan sosial serta para pihak dari berbagai latar belakang dengan tujuan untuk memperjuangkan tercapainya kelestarian pengusahaan kelapa sawit. Tujuan RSPO adalah mempromosikan tata kelola perkebunan kelapa sawit secara berkelanjutan melalui kerjasama dalam rantai suplai (supply chain) dan seluruh stakeholders. Tuntutan RSPO bermula dari kekhawatiran semakin merosotnya kualitas kehidupan planet bumi akibat ekses emisi rumah kaca, eksploitasi lahan gambut, biodiversitas dan tuntutan konservasi orang utan dan habitat binatang buas/langka. Oleh sebab itu tuntutan untuk menjalankan praktek bisnis ramah lingkungan seperti yang diatur dalam Roundtable sustainable palm oil (RSPO), menjadi bahan pertimbangan bagi PBUMN untuk membuat kebijakan perusahaan berkaitan dengan tuntutan implementasi RSPO. Pada tahun 2008 RSPO telah mengeluarkan dokumen pedoman pelaksanaan untuk menjalankan bisnis kelapa sawit yang tertuang dalam 8 prinsip, 39 kriteria, dan 113 indikator (60 mayor dan 53 minor) (Lampiran 5).
2.3.11 Biaya Produksi
Biaya produksi terdiri dari biaya tidak langsung (biaya pajak bumi dan bangunan/PBB, biaya keamanan, gaji, tunjangan non staf, biaya pengangkutan, biaya perjalanan dan biaya penginapan); Biaya langsung (gaji, tunjangan pegawai staf, biaya pemeliharaan TM, biaya pemupukan dan biaya panen); biaya kebun (gaji, tunjangan pegawai staf, biaya pengolahan dan biaya pemeliharaan mesin); biaya pabrik (gaji, tunjangan pegawai staf, biaya pengolahan dan biaya pemeliharaan). Biaya pemupukan merupakan biaya terbesar yaitu sekitar 60 persen terhadap biaya pemeliharaan sehingga diupayakn agar rekomendasi pemupukan yang tepat merupakan solusi untuk mengefektifkan biaya pemupukan (Gambar 5).
Gambar 5 Biaya produksi PBUMN
2.3.12 Pengembangan Karyawan
Pengembangan karyawan di PBUMN bertujuan untuk mewujudkan sumberdaya manusia yang berwawasan pengetahuan. Bentuk pengembangan karyawan yang dilakukan di PBUMN untuk meningkatkan kompetensi karyawannya adalah dalam bentuk pendidikan dan pelatihan, baik secara internal mupun eksternal, yaitu dengan melakukan kerjasama dengan lembaga pelatihan (misalnya kursus jabatan, kursus penunjang), sertifikasi dan studi banding. Kompetensi SDM adalah suatu karateristik mendasar pada diri seseorang dan sangat berkorelasi dengan kinerja pada jabatannya. Seperti diketahui bahwa efektifitas kinerja perusahaan sangat dipengaruhi oleh efektifitas kinerja individu. Saat ini pengelolaam SDM PBUMN menggunakan Competency Based Human Resources Management Systems/CBHRMS. Dalam model yang diadopsi dari Boyatzis (makalah workshop Integrated Competency Based Human Resources Management Systems/ICBHRMS kerjasama LPP Jokjakarta dan Kementerian BUMN, 2007) dikatakan bahwa terdapat keterkaitan antara lingkungan organisasi dimana kita bekerja, kebutuhan pekerjaan dan kompetensi individu akan mempengaruhi efektifitas perilaku untuk mendapatkan kinerja yang efektif.
Setiap tahun, perusahan PBUMN melakukan evaluasi terhadap kinerjanya dalam bentuk laporan manajemen perusahaan yang didalamnya berisi kondisi umum perusahaan, gambaran kinerja perusahaan dan anak perusahaan dan temuan auditor atas audit laporan keuangan. Berdasarkan Surat Keputusan Kementerian BUMN nomor KEP/100/MBU/2002, tanggal 4 Juni 2002, kinerja perusahaan perkebunan diukur dengan beberapa indikator yaitu aspek keuangan dengan bobot 70 persen, terdiri dari imbalan kepada pemegang saham/return on
Biaya produksi
Biaya tidak langsung - PBB
- Biaya keamanan - Gaji, tunjangan non staf - Pengangkutan,
perjalanan, penginapan
Biaya langsung - Gaji, tunjangan pegawai
staf - Biaya pemeliharaan TM - Pemupukan - Panen - Pengangkutan ke pabrik Biaya Kebun - Gaji, tunjangan pegawai staf - Biaya pengolahan - Biaya pemeliharaan mesin Biaya Pabrik - Gaji, tunjangan pegawai staf - Biaya pengolahan - Biaya pemeliharaan mesin
equity (ROE), imbalan investasi/return on investment (ROI), rasio kas (cash ratio), rasio (current ratio), collection periods (CP), perputaran persediaan(PP), perputaran total asset/total assets turn over (TATO), rasio modal sendiri terhadap total asset (TMS terhadap TA); aspek operasional dengan bobot 15 persen, terdiri dari produktivitas hasil kebun, rendemen hasil olahan, produktivitas tenaga kerja, harga pokok produksi af pabrik, kuantum penjualan, utilisasi pabrik); dan aspek administrasi dengan bobot 15 persen terdiri dari laporan perhitungan tahunan, rancangan rencana kerja anggaran perusahaan (RKAP), laporan dan kinerja PUKK (Lampiran 7). Menurut penilaian tersebut, tingkat kesehatan BUMN digolongkan menjadi sehat, kurang sehat dan tidak sehat yang ditetapkan bagi BUMN yang telah diperiksa oleh akuntan atau badan pengawas keuangan dan pembangunan (BPKP) dan telah dinyatakan dengan kualifikasi wajar tanpa pengecualian atau kualifikasi wajar dengan pengecualian.