BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN
4.3 Formulasi Masalah
Model peningkatan kinerja PBUMN akan efektif jika kebutuhan dari setiap pelaku dalam agroindustri kelapa sawit PBUMN terintegrasi walaupun kepentingannya ada yang sama dan ada yang berbeda. PBUMN sebagai salah satu pelaku usaha perkebunan kelapa sawit berupaya untuk meningkatkan kinerjanya yang agar diperoleh kondisi yang optimal. Hal ini terlihat dari produksi yang masih memungkinkan untuk dapat ditingkatkan sehingga biaya produksi dan mutu produk akan dapat ditingkatkan untuk menciptakan produk yang mempunyai kekhasan (unique product). Dengan menganalisis dan mempelajari struktur kebutuhan pada analisis kebutuhan pelaku maka permasalahan dapat diformulasikan sebagai berikut:
1) Penelitian tentang model peningkatan kinerja agroindustri kelapa sawit PBUMN berbasis BSC sampai saat ini belum pernah dilakukan. BSC dipilih karena merupakan suatu sistem manajemen strategis yang dapat mengukur kinerja berwujud dan tidak berwujud serta dapat digunakan sebagai alat pengendali strategi perusahaan untuk menghasilkan kegiatan operasional yang lebih efisien. Penelitian diawali dengan menentukan strategi PBUMN
kunci/IKK atau key performance indicator/KPI, target dan inisiatif strategi. 2) Peta srategi dibuat dengan beberapa langkah. Langkah awal dilakukan
cascading BSC perusahaan ke kebun dan pabrik, yaitu dengan melakukan analisis terhadap visi kebun dan pabrik. Selama ini visi dan misi hanya merupakan visi misi perusahaan saja, tidak pernah dilakukan cascading ke kebun dan pabrik agar lebih spesifik dan tetap sejalan dengan visi dan misi perusahaan. Visi, misi kebun dan pabrik yang telah dijabarkan akan menjadi panduan dalam melakukan proses cascading untuk menyusun peta strategi kebun dan pabrik. Langkah kedua adalah menganalisis peta strategi kebun dan pabrik sehingga dapat diketahui keterkaitan antara sasaran- sasaran strategi yang terdapat pada peta strategi. Langkah ketiga adalah menganalisis pelanggan (ineternal dan eksternal) kebun dan pabrik. Langkah keempat adalah melakukan identifikai terhadap tugas-tugas pokok kebun dan pabrik dalam rangka memenuhi kebutuhan pelanggan. Kemudian dilanjutkan dengan melakukan identifikasi terhadap output utama yang dihasilkan oleh masing-masing tugas-tugas pokok. Langkah kelima adalah melakukan sinergi antara langkah kedua dengan ketiga. Hal ini dilakukan dengan membuat suatu matriks yang yang berisi output dari langkah ketiga, pelanggan dan harapan pelanggan terhadap output yang dihasilkan. Langkah keenam adalah menyusun peta strategi kebun dan pabrik. Peta strategi kebun dan pabrik dianalisis dengan menggunakan enam perspektif BSC (terdiri dari perspektif keuangan, pelanggan, lingkungan/komunitas, proses bisnis internal, kepuasan karyawan serta pertumbuhan dan pembelajaran). Ketika membangun peta strategi kebun dan pabrik harus tetap merujuk kepada langkah awal yaitu melakukan identifikasi kontribusi dan pengaruh kebun dan unit terhadap peta strategi perusahaan. Langkah ketujuh adalah melengkapi peta strategi dengan memeriksa langkah 2, 3, 4 dan 5. Langkah kedelapan adalah melakukan identifikasi garis hubungan sebab akibat (cause and effect linkage) antara sasaran-sasaran strategi yang ada di dalam peta strategi.
3) Selama ini kinerja kebun diukur berdasarkan perolehan produksi TBS (ton/ha), dan kinerja pabrik diukur berdasarkan produksi CPO (ton/ha). Hal
menganalisis produksi CPO. Kebun menyatakan bahwa CPO diciptakan di pabrik, sementara pabrik menyatakan bahwa CPO diciptakan di kebun. Untuk itu agar ada keterkaitan antara kebun dan pabrik melalui kemampuan SDM dan lingkungan dibuat dalam suatu indikator. Indikator kinerja kunci/IKK atau key performance indicator/KPI merupakan indikator untuk mengukur kinerja karena tingkat capaian sasaran kinerja pada peta strategi perlu diukur. IKK dibuat dengan melakukan analisis terhadap kriteria yang diperoleh dari berbagai kriteria yang dilihat dari enam perspektif BSC.
4) Target yang ada selama ini dibuat berdasarkan angka yang telah disepakati pada rencana kerja anggaran perusahaan (RKAP) tahunan. Target dapat ditentukan berdasarkan pencapaian masa lalu (baseline), keinginan stakeholder (angka target langsung ditentukan oleh stakeholder) atau rujukan pada kondisi internal maupun eksternal. Yang paling sering digunakan untuk ukuran target adalah pencapaian masa lalu (baseline), yang mempunyai tipe perhitungan secara baseline, tradisional, stretch dan best possible. Tipe perhitungan pencapaian target PBUMN adalah tipe target tradisional dan sedikit yang menggunakan tipe target stretch. Target tradisional adalah perhitungannya berdasarkan baseline (target masa lalu) ditambahkan 10 persen (angka 10 persen merupakan angka kenaikan inflasi untuk tahun berikutnya). Target stretch biasanya lebih elastis dan besarnya 50 persen diatas target baseline dan angka ini ini lebih menantang daripada angka target tradisional. Dalam kajian ini target akan dikaitkan ke dalam masing-masing pespektif BSC untuk memudahkan pemantauan sehingga melalui mekanisme ini, lebih memudahkan untuk menilai mana yang berkinerja baik dan yang tidak baik. Jika sudah mempunyai kinerja baik maka dapat terus mempertahankan dan meningkatkan kinerjanya, sementara yang belum mempunyai kinerja baik maka dapat diingatkan dan langsung memperbaiki kesalahannya.
Target masing-masing IKK ditentukan untuk mempermudah memantau capaian kinerja. Agar mempermudah dalam mencapai target dibuat inisiatif- inisiatif strategi untuk meningkatkan kinerja kebun dan pabrik dugunakan suatu program kebijakan dalam bentuk aturan jika kriteria rendah.
scorecard. 4.4 Identifikasi Sistem
Identifikasi sistem dilakukan dengan menggunakan diagram input-output (Gambar 23). Kebutuhan masing-masing stakeholder dipenuhi oleh output yang dikehendaki dan akan menjelaskan kaitan hubungan kebutuhan pelaku dan komponen pelaku pada analisis kebutuhan. Sedangkan output tak dikehendaki adalah output yang muncul bersamaan dengan terjadinya output dikehendaki. Jika timbul output yang tak dikehendaki maka perlu dilakukan peninjauan kembali pada input dikehendaki melalui manajemen pengendalian.
Gambar 23 Diagram input output model peningkatan kinerja agroindustri kelapa sawit PBUMN
INPUT TIDAK TERKENDALI - Fluktuasi harga komoditas - Nilai tukar rupiah - Persaingan pasar OUTPUT DIKEHENDAKI : - Peningkatan Produksi - Peningkatan Mutu - Efisiensi Biaya - Pengembangan Karyawan - Perluasan lapangan kerja - Kelestarian Lingkungan - Kesejahteraan petani
INPUT TERKENDALI - Manajemen produksi - Manajemen Keuangan - Kualitas dan kapasitas produksi
OUTPUT TAK DIKEHENDAKI : - Kerusakan lingkungan - Pencurian Produksi INPUT LINGKUNGAN
- Kebijakan pemerintah - Kondisi sosial ekonomi - Faktor alam
Model Peningkatan Kinerja AIKS PBUMN
Manajemen Pengendalian Peningkatan Kinerja AIKS PBUMN