• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.3 Analisis Wacana Berita 2

SBY Kuasai Penuh Demokrat

Anas Urbaningrum Diminta Fokus Hadapi Kasus Hukum

Kompas, 9 Februari 2013

Jakarta, Kompas-Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono akhirnya mengambil alih Partai Demokrat. Seluruh mekanisme di partai harus melalui Majelis Tinggi yang dipimpin Yudhoyono. (1)

“Tekad kami ingin melakukan langkah cepat dan nyata bagi penyelamatan partai,” ujar Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam jumpa press di pendopo Puri Cikeas Indah, Bogaor, Jawa Barat, Jumat (8/2) malam.(2)

Semalam yang diundang pertemuan di Cikeas adalah Majelis Tinggi Parai

Demokrat, para menteri dari Partai Demokrat dan Ketua Fraksi Partai Demokrat di DPR. Majelis Tinggi Partai Demokrat diketuai Yudhoyono dan Wakil Ketua Majelis Tinggi dijabat Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum. (3)

Tujuh anggota Majelis Tinggi lainnya adalah Jhonny Allen Marbun dan Max Sopacua (Wakil Ketua Umum), Edhie Baskoro Yudhoyono (Sekjen), Marzuki Alie (Wakil Ketua Dewan Pembina), Jero Wacik (Sekretaris Dewan Pembina), TB Silalahi (Sekretaris Dewan Kehormatan) dan Toto Riyanto (Direktur Eksekutuif). (4)

Menteri dari Demokrat yang datang adalah Syariefudin Hasan, Amir Syamsuddin dan Roy Suryo. EE Mangindaan juga mengkonfirmasiuntuk hadir. Datang pula Ketua FraksiPartai Demokrat di DPR Nurhayati Assegaf. (5)

Solusi yang disampaikan Yudhoyono berupa delapan langkah. Pertama, Yudhoyono bertugas, berwenang dan bertanggung jawab memimpin

penyelamatan dan konsolidasi Demokrat. Kedua, segala keputusan dan tindakkan Demokrat ditentukan dan dijalankan Majelis Tinggi yang juga mengambil

keputusan dan arahan penting dan strategis. Ketiga, elemen-elemen partai berada dalam kendali dan bertanggung jawab langsung kepada Majelis Tinggi. (6)

Keempat, Majelis Tinggi melakukan penataan dan penertiban organisasi partai, integrita, kredibilitas, dan kinerja. Kelima, keputusan Majelis Tinggi mutlak diindahkan dan dijalankan. Sanksi tegas untuk yang tidak menjalankan. Mereka yang tidak suka terhadap kebijakkan dan penyelamatan Partai Demokrat yang dipimpin Ketua Majelis Tinggi dipersilahkan meninggalkan untuk diisi pejabat baru. (7)

Keenam, penataan, penertiban, dan konsolidasi partai yang dipimpin oleh Ketua Majelis tinggi berakhir setelah nama baik dan kondisi pulih. Ketujuh, Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum tetap menjadi Wakil Ketua Majelis

Tinggi Partai. Anas diberi kesempatan menghadapi masalah hukumyang ditangani KPK. (8)

Kedelapan, Demokrat mengutamakan penataan, penertiban, dan pembersihan partai dari unsur-unsur negatif. Setelah itu, baru melakukan ikhtiar untuk Pemilu 2014. (9)

Langkah tersebut merupakan pemuncak kisruh internal Partai Demokrat selama ini. Pekan lalu elektabilitas Partai Demokrat anjlok sampai 8,3 persen seperti yang disurvei Saiful Mudjani Research and Consulting. Sejumlah politisi

Demokrat menyampaikan sinyal agar Anas mundur agar elektabilitas tidak terus menurun dan meminta Yudhoyono turun tangan. Soal turunnya elektabilitas partai, Anas Anas meminta, jangan mencari kambing hitam. (10)

Solusi Yudhoyono itu bahkan disampaikan pada saat masih melakukan umrah di Tanah Suci si sela-sela kunjungan kerja ke luar negeri beberapa hari yang lalu. Kamis malam, begitu tiba di Tanah Air, Yudhoyono menggelar pertemuan dengan sejumlah politisi Partai Demokrat, tanpa kehadiran Anas. (11)

Jangan Intervensi

Terkait kisruh di Demokrat tersebut, sebetuhnya banyak pendapat yang

menyarakan agar Yudhoyono tidak terlalu mengurusi partai mengingat tanggung jawabnya yang berat sebagai Presiden. Intervensi polemik terjadi di partainya. Sebab, hal itu justru akan menurunkan persepsi publik atas kepemimpinan Yudhoyono. (12)

“Dalam konflik Demokrat hendaknya SBY tidak intervensi terlalu dalam. Itu akan menurunkan persepsi publik atas sense of leadership beliau,” kata pengajar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Pulitik Universitas Airlangga Surabaya, Airlangga Pribadi. (13)

Airlangga menambahkan, Yudhoyono harus mengingat prinsip kepemimpinan, bahwa kesetiaan atau loyalitas pada partai harus diakhiri ketika tugas negara dimulai. Seharusnya sebagai Presiden, Yudhoyono lebih mengedepankan kepentingan rakyat dan negara. (14)

Peneliti politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, R Siti Zuhro, dan Deputi Direktur Bidang Politik The Political Literacy Institute Iding R Hasan

mengatakan, faksi-faksi di Partai Demokrat diharapkan bisa menyelesaikan ketegangan dengan duduk bersama, berdialog, dan mencari jalan keluar yang baik. (15)

“Partai harus membangun solidaritas antarfaksi, kepercayaan, kompetisi yang memberikan pembelajaran dan pentingnya menyamakan persepsi. Partai

Pengajar politik Universitas Gadjah Mada, AAGN Ari Dwipayan, menilai, selama ini seperti sudh ada “dua matahari” di Partai Demokrat. Awalnya Yudhoyono menjadi matahari tunggal dalam dinamika faksionalisasi, menjadi patron yang bisa mengendalikan seluruh faksi, tetapi perlahan Anas semakin kuat

mengendalikan politik “arus bahwa.” (17)

Secara terpisah, Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Saan Mustopa tidak memungkiri polemik saat ini telah menggangu kinerja partai dalam

mempersiapkan pemilu. Saat ini seharusnya partai sudah mulai menyiapkan calon anggota legislatif. (18)

Kemarin, rumah Anas di Duren Sawit, Jakarta Timur, tampak tertutup rapa. Anggota Dewan Pembina Partai Demokrat, Ahmad Mubarok, pukul 09.00,

bertandang ke rumah Anas. Saat keluar, ia mengatakan, “Kami enggak bicarakan itu. Kami bicara urusan di luar politik.” (19)

Tabel 4.4

Karakteristik Surat Kabar

Tanggal Pemberitaan Kompas edisi : Sabtu, 9 Februari 2013 Judul Pemberitaan SBY Kuasai Penuh Demokrat

Anas Urbaningrum Diminta Fokus Hadapi Kasus Hukum

Rubrik Pemberitaan Politik dan Hukum

Sumber : Harian Kompas 2013

4.3.1 Exclusion (Proses Pengeluaran)

Strategi Wacana Eksklusi-Pasivasi

Teks ini menyajikan berita tentang bagaimana Yudhoyono mengambil alih kepemimpinan Partai Demokrat, strategi wacana pasivasi terdapat dalam judul teks

“Anas Urbaningrum diminta fokus hadapi kasus hukum”

Teknik ini terdapat pada sub judul dari teks, kalimat ini menggunakan kalimat pasif sehingga tidak menampikan siapa yang meminta Anas untuk fokus

menghadapi kasus hukum, sehingga ia melindungi aktor yang dihilangkan pada bagian ini. Teks ini secara langsung menyudutkan Anas.

Pengambil alihan Partai Demokrat yang dilakukan oleh Yudhoyono menuai banyak kontroversi dari banyak pihak, banyak pengamat yang

menyayangkan keputusan yang diambil oleh Yudhoyono, karena Yudhoyono yang masih menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia harus turun tangan menangani sebuah partai politik dan dasar utama pengambil alihan ini pun tidak cukup kuat karena Anas belum memiliki status hukum apa pun di KPK.

Hal ini berbanding terbalik dari teks yang ditampikan melalui teknik pasivasi menyatakan

“Anas diberi kesempatan menghadapi masalah hukum yang ditangani KPK” (8)

Disini melalui kalimat aktif Anas kembali disudutkan, teks juga tetap tidak menghadirkan aktor/pelaku yang ‘memberikan’ kesempatan bagi Anas. Melalui teks ini Anas menjadi subjek dan fokus pembaca, belum lagi penggambaran seolah Anas memiliki masalah hukum di KPK dengan menyajikan kata

‘ditangani’ yang memberikan definisi seolah masalah hukum yang menjerat Anas sedang berjalan atau sedang dalam proses oleh KPK.

Menarik melalui wacana yang dihadirkan disini teks seolah menyajikan sebuah definisi dimana seolah Anas sudah divonis akan memiliki status hukum di KPK, hal ini akan berbanding terbalik apabila kita bandingkan realita yang terjadi ketika berita ini diturunkan Anas belum memiliki status hukum apapun di KPK, hanya namanya hanya terus disebut-sebut dalam persidangan M Nazaruddin sehingga hal ini menjadi terus diberitakan oleh media dan orang-orang pun terus mempertanyakan status hukum Anas, hal ini tentu akan menjadi sebuah ‘batu sandungan’ bagi partai Demokrat karena pemberitaan negatif yang terus-menerus akan menurunkan elektabilitas dan kepercayaan masyarakat terhadap Demokrat. Sehingga melalui strategi pasivasi Anas dimarginalkan dengan ditampilkan seolah telah memiliki status hukum di KPK.

Strategi Wacana Inklusi Nominalisasi

Strategi wacana nominalisasi hampir sampa prosesnya dengan strategi wacana eksklusi pasifasi yaitu terjadi penghilangan sosok atau pelaku/aktor. Nominalisasi tidak membutuhkan subjek karena nomalisasi pada dasarnya adalah proses mengubah kata kerja yang bermakna tindakkan/kegiatan menjadi kata kerja yang bermakna peristiwa.

“Kedelapan, Demokrat mengutamakan penataan, penertiban, dan pembersihan partai dari unsur-unsur negatif” (9)

Disini teks melindungi aktor/pelaku yang dalam konteks teks ini dihadirkan yaitu SBY sebagai Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat, karena kata penataan, penertiban dan pembersihan tidak memerlukan kehadiran subjek, unsur-unsur negatif menjadi fokus pembaca. Sebutan unsur-unsur negatif ini pun

menghadirkan definisi yang multitafsir, karena teks ini sedang menghadirkan berita mengenai pengambil alihan partai Demokrat yang dipimpin oleh SBY dari Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum, sehingga unsur-unsur negatif ini bisa ditafsirkan sebagai Anas Urbaningrum dan pendukungnya.Tentu hal ini adalah bentuk pengkonstruksian buruk teks terhadap sosok Anas Urbaningrum yang digambarkan sebagai sesuatu yang harus segera dibersihkan seperti lalang diantara gandum. Tentu hal ini memarginalkan dan menyudutkan Anas

Urbaningrum.

4.3.2 Inclusion (Proses Pemasukkan)

Strategi Wacana Inklusi Difrensiasi-Indifrensiasi

Strategi wacana ini merupakan teknik bagaimana suatu kelompok disudutkan dengan menghadirkan kelompok atau wacana lain yang dipandang lebih dominan atau lebih bagus. Teknik ini hadir pada bagian teks

“Sejumlah politisi Demokrat menyampaikan sinyal agar Anas mundur agar elektabilitas tidak terus menurun dan meminta Yudhoyono turun tangan. Soal turunnya elektabilitas partai, Anas meminta jangan mencari kambing hitam.” (10)

Dalam konteks permintaan politisi Demokrat agar SBY mengambil alih Demokrat dari Anas Urbaningrum sebagai Ketua Umum Partai Demokrat dengan alasan agar elektabilitas Partai Demokrat tidak turus menurun, teks disini malah melindungi Anas dengan menghadirkan pandangan yang lebih dominan seolah turunnya elektabilitas bukanlah salah Anas dan dengan menghadirkan sosok Anas sebagai pihak yang sepertinya dikorbankan.

Hal ini terlihat dari pengkontrasan dua ide yang berbeda didalam teks. Konstruksi pertama adalah permintaan agar Anas mundur agar elektabilitas partai tidak terus menurun dan meminta SBY turun tangan. Konstruksi yang kedua adalah sangkalan Anas yang meminta agar dirinya tidak dijadikan “kambing hitam” atau pihak yang dikorbankan karena turunnya elektabilitas Demokrat, hadirnya sangkalan ini lebih dominan karena pihak kedua digambarkan sebagai pihak yang suka menuduh tanpa alasan yang jelas.

Memang jika telisik lebih dalam Anas bukanlah satu-satunya kader Demokrat yang tersandung kasus korupsi ada M. Nazaruddin Mantan Bendahara Umum Partai Demokrat yang terjerat kasus wisma atlet, Angelina Sondankh Anggota DPR Fraksi Partai Demokrat yang terjerat kasus korupsi di dua Kementrian, Hartati Murdaya Anggota Dewan Pembina Partai Demokrat yang terjerat kasus suap Bupati Buol, Andi Mallarangeng, Menpora (Menteri Pemuda dan Olahraga) dan Sekretaris Dewan Pembina Partai Demokrat yang terjerat kasus Hambalang.

Tentu tingkat elektabilitas yang menurun terjadi karena banyak faktor dan generalisasi yang dilakukan pada konstruksi awal teks bisa dengan mudahnya dipatahkan oleh ide kedua yang dihadirkan lebih dominan.

Lebih jauh melalui teknik difrensisiasi teks mengkonstruksikan konflik yang terjadi pada Demokrat melalui gambaran.

“Awalnya Yudhoyono menjadi matahari tunggal dalam dinamika faksionalisasi, menjadi patron yang biasa mengendalikan seluruh faksi, tetapi perlahan Anas semakin kuat mengendalikan politik “arus bawah.” (17)

Disini teks mendefinisikan bahwa Anas semakin kuat mengendalikan politik “arus bawah” jika kita asumsikan Anas semakin “kuat” tentu hal ini akan berbanding terbalik bagi SBY yang akan didefinisikan dalam teks semakin “lemah.” Tentu melalui teknik ini Yudhoyono disudutkan dan Anas ditampilkan menghegemoni SBY.

Teks ini jika perhatikan secara tersirat menyingkapkan sebuah konstruksi dari konflik yang terjadi antara SBY dan Anas. Jika ditafsirkan melalui teks di atas SBY menjadi aktor antipati terhadap Anas yang semakin kuat di partai yang

didirikannya, sehingga ia sendiri harus turun tangan, padahal ada mekanisme lainnnya seperti dengan duduk bersama, berdialog, mencari jalan keluar yang baik, atau melakukan langkah membuat Musnas (Musyawarah Nasional) Partai Demokrat. Konstruksi yang muncul lainnya adalah apakah Anas sebegitu kuatnya, sehingga seorang SBY harus turun tangan. Tentu kedua definisi ini merugikan SBY dan menguntungkan bagi Anas Urbaningrum.

Strategi Wacana Inklusi Objektivasi-Abstraksi

Tetap dalam konteks pengambil alihan Demokrat yang dilakukan oleh SBY terhadap Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum teks mengambil posisinya melalui hadirnya strategi abstraksi pada bagian teks

“Terkait kisruh di Demokrat tersebut, sebetulnya banyak pendapat yang menyarankan agar Yudhoyono tidak terlalu mengurusi partai mengingat tanggung jawabnya yang berat sebagai Presiden.” (12)

Disini melalui strategi abstraksi teks mengeneralisasi dengan menggunakan kata “banyak pendapat” hal ini akan menunjukkan seolah banyak pendapat dari oarng yang tidak sepakat akan pengambil alihan Demokrat yang dilakukan oleh SBY. Generalisasi ini tentu tidak memiliki landasan yang jelas, apa standar dari banyak itu pun mungkin sulit untuk diungkapkan sehingga efek generalisasi ini kian ketara menggambarkan seolah banyak oarang yang tidak setuju dengan langkah yang dilakukan oleh SBY, hal ini jelas memarginalkan SBY.

Generalisasi disini akan mendelegitimasi keputusan SBY, menampilkan bahwa keputusan SBY dalam mengambil alih Demokrat bukanlah keputusan yang bijaksana, keputusan yang tidak populer. Penggunaan strategi determinasi yang dalam konteks teks ini menggunakan generalisasi “banyak pendapat” tentu menyudutkan SBY.

Strategi Wacana Inklusi Nominasi-Kategorisasi

Strategi wacana ini mengkategorikan dan mengasosiasikan aktor dalam kategori tertentu, hal ini kita lihat pada bagian berikut

“Kedelapan, Demokrat mengutamakan penataan, penertiban, dan pembersihan partai dari unsur-unsur negatif.” (9)

Konteks dari teks yang diangkat adalah pengambil alihan Demokrat dari Anas Urbaningrum yang merupakan Ketua Umum Partai Demokrat. Disini teks

menggunakan istilah “unsur-unsur negatif.” Tentu hal ini merugikan Anas karena kategori yang teks gunakan akan menunjukkan representasi dari pihak yang dihadirkan di dalam teks tersebut. Hal ini adalah konsekuensi logis karena isu utama yang diangkat dalam teks adalah pengambil alihan Partai Demokrat oleh SBY dari Anas Urbaningrum.

Tentu penggunaan kategori unsur-unsur negatif adalah bentuk pengucilan satu aktor terhadap aktor lainnya. Dalam sebuah strategi inklusi-kategorisasi bertujuan dengan cara apa satu aktor itu ditampilkan dan dihadirkan di dalam sebuah teks dan bagaimana seorang atau kelompok sosial itu ditampikan melalui kategori-kategori tertentu yang seperti apa. Kategori-kategori tertentu itu pun sebenarnya apabila tidak dicantumkan tidak akan menambah informasi tertentu kepada pembaca dan hanya bertujuan untuk mengucilkan dan mengarahkan bagaimana pembaca memaknai aktor/kelompok sosial tertentu.

Sama halnya dalam teks ini dimana penggunaan kategori unsur-unsur negatif akan merepresentasikan kubu Anas Urbaningrum, sehingga wacana yang dihadirkan melalui teks ini akan memarginalkan Anas yang ditampilkan posisinya lebih lemah dibandingkan SBY yng memaknai dan mengkategorikan.

Strategi Wacana Inklusi Nominasi-Identifikasi Strategi wacana muncul pada bagian teks

“Seharusnya sebagai Presiden, Yudhoyono lebih mengedepankan kepentingan rakyat dan negara” (14)

Disini tetap dalam konteks pengambil alihan Partai Demokrat Yudhoyono di identifikasikan sebagai kapasitasnya sebagai Presiden, hal ini tentu menghasilkan wacana yang buruk bagi SBY. Jika diperhatikan juga melalui srategi wacana ini Yudhoyono dihadirkan sebagai pribadi yang sepertinya tidak mengedepakan kepentingan rakyat dan melupakan tanggung jawabnya sebagi Presiden.

Hal ini pastinya akan menghasilkan definisi yang menyudutkan bagi SBY. Hal ini juga terlihat pada bagian teks

“Terkait kisruh di Demokrat tersebut, sebetulnya banyak pendapat yang menyarankan agar Yudhoyono tidak terlalu mengurusi partai mengingat tanggung jawabnya yang berat sebagai Presiden.” (12)

Disini juga teks menghadirkan wacana dan memposisikan dan mejelaskan SBY sebagai seorang Presiden. Pemberian penjelas ini mensugestikan makna tertentu karena umumnya berupa penilaian tehadap seseorang ataupun kelompok sosia tertentu, dalam konteks pengambil alihan Demokrat oleh SBY teks memposisikan dirinya, hal ini terlihat dengan bagaimana pengkonstruksian yang buruk dari SBY sebagai aktor yang meninggalkan tanggung jawabnya dan lebih peduli akan partainya dibandingkan tugasnya sebagai seorang Presiden.