HASIL DAN PEMBAHASAN
4.5 Analisis Wacana Berita 4
Ujian Demokrat Baru Dimulai
Anas Urbaningrum Mundur dan Pertanyakan Etika Politik
Kompas, 24 Februari 2013
Jakarta, KOMPAS-Sebelum menanggalkan jas kebesarannya, Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum mengungkapkan, ujian bagi Demokrat sebagai partai bersih, cerdas, dan santun baru dimulai. Status tersangka kasus korupsi dan pengunduran dirinya adalah awal, bukan akhir segalanya. (1)
Di antara tiga pokok etika politik Demokrat, yaitu bersih, cerdas, dan santun, yang akan diuji itu, Anas menekankan soal kesantunan berpolitik di dalam partainya. “Juga diuji apakah Demokrat akan menjadi partai yang santun atau partai yang sadis. Apakah yang terjadi kesantunan politik atau atau sadisme politik. Tentu ujian akan berjalan sesuai perkembangan waktu dan keadaan,” kata Anas perlahan, lantang, dan tenang saat jumpa press di Kantor DPP Demokrat di Jakarta, Sabtu (23/2). (2)
Jumpa press digelar setelah Komisi Pemberantasan Korupsi menetapkan Anas sebagai tersangka kasus dugaan korupsi proyek olahraga terpadu Hambalang, Bogor, Jawa Barat. Anas datang ke kanto DPP. Demokrat didampingi sejumlah pendukung dari rumahnya di Duren Sawit, Jakarta Timur. Di antara mereka adalah Wakil Sekjen Demokrat, Saan Mustopa dan Ketua Divisi Publik Demokrat Gede Pasek Suardika. (3)
Sambil menuding-nuding Anas menyatakan, penetapannya sebagai tersangka yang diikuti berhentinya dia sebagai Ketua Umum DPP Partai Demokrat baru permulaan, “Hari ini saya nyatakan bahwa ini baru sebuah awal langkah-langkah besar. Hari ini saya nyatakan bahwa ini baru halaman pertama. Masih banyak halaman berikut yang akan kita buka dan baca bersama. Ini bukan tutup buku, tetapi pembukaan halaman pertama,” tutur Anas.(4)
Anas menegaskan akan mengikuti proses hukum dan percaya bahwa lewat proses hukum yang adil objektif, dan transparan, kebenaran dan keadilan bisa
ditegakkan. “Saya masih percaya negeri kita ini bukan berdasarkan prinsip kekuasaan,” katanya. (5)
Soal pengunduran dirinya sebagai Ketua Umum DPP Partai Demokrat setelah menjadi tersangka, Anas menyebutkan sesuai dengan standar etik pribadinya. (6)
Merunut kebelakang, Anas semula yakin tidak akan memiliki status hukum di KPK sebagai tersangka. Ia yakin KPK bekerja independen, mandiri, dan profesional. “Sya yakin KPK tidak bisa ditekan opini dan hal-hal lain diluar opini, termasuk tekanan dari kekuatan-kekuatan sebesar apapun,” tuturnya. (7)
Namun, Anas mengaku baru mulai berpikir dirinya akan menjadi tersangka ketika ada desakkan agar KPK segera memperjelas status hukum terhadap dirinya. “Ketika saya dipersilahkan untuk lebih fokus menghadapi masalah hukum di KPK, berarti saya sudah divonis punya status hukum, status hukum dimaksud adalah tersangka,” kata Anas. (8)
Keyakinan beberapa petinggi Demokrat soal statusnya sebagai tersangka diikuti bocornya surat perintah penyidikan (sprindik) KPK diyakini Anas merupakan satu rangkaian utuh, terkait sangat erat, dan tidak bisa dipisahkan. Lebih jauh lagi, Anas mengungkapkan, apa yang dia alami kini terkait dengan Kongres Demokrat 2010 yang dia menangi, “intinya, kongres itu ibarat bayi yang lahir. Anas adalah bayi yang lahir tidak diharapkan,” katanya. (9)
Soal alat bukti
Sementara itu, KPK menjamin tidak ada intervensi dari mana pun soal penetapan status Anas sebagai tersangka, “Kami meminta siapa pun yang sedang berurusan dengan lembaga penegak hukum, termasuk dengan KPK, untuk tidak menarik persoalan di luar proses penegakkan hukum. Siapa pun harus menghormati proses hukum yang sedang berjalan dan ditegakkan,” ujar Wakil Ketua KPK Bambang Widjajanto di Jakarta. (10)
Menarik penegakkan hukum ke ranah politik justru merugikan keinginan mewujudkan Indonesia yang bersih dan bebas dari korupsi, kolusi dan
nepotisme. “Hal ini akan merugikan kepentingan rakyat dan bangsa ini untuk mewujudkan tujuan reformasi agar penyelenggaraan negara yang bersih dan bebas dari KKN segera terwujud,” ucap Bambang yang menandatangani sprindik Anas. (11)
Juru bicara KPK Johan Budi Sp mengatakan, selama ini ada dua alat bukti yang dimiliki, KPK pasti akan menetapkan seseorang menjadi tersangka. Tak peduli dengan jabatan atau posisinya. Bahkan, apabila yang bersangkutan, menurut Johan, dekat dengan kekuasaan. (12)
Johan mengakui, ketika KPK mengusut seseorang pengurus partai, selalu muncul persepsi ada kepentingan politik. Johan menjamin, dalam sejarahnya KPK tak pernah diintervensi. “Menetapkan seseorang jadi tersangka itu bukan karena imbauan, melainkan karena dua alat bukti cuku,.” ujarnya. (13)
Peneliti Pusat Studi Konstitusi Universitas Andalas, Padang, Feri Amsari, mengaku yakin KPK tak mungkin dapat diintervensi. Sejauh ini, semua kasus korupsi yang melibatkan kader partai ditangani KPK dengan baik, tidak
terkecuali partai penguasa. Feri menuding, tersangka yang menyatakan terzalimi jelas pembelaan diri semata. “Dalam kasus-kasus korupsi politik, terdakwa di persidangan selalu tampil bak korban. Taktik itu lumrah untuk mengaburkan perspektif publik,” ujarnya. (14)
Peneliti dari Pusat Kajian Antikorupsi Universitas Gadjah Mada, Hifzil Alim, mengatakan, independensi KPK sampai detik ini terjaga. Tidak ada intervensi politik yang berhasi masuk. Terbukti, politisi yang dekat denga kekuasaan pun diproses KPK. Hifzil mengungkapkan, KPK menggunakan strategi hukum tersendiri yang terbuki mampu menjerat koruptor. “Yang sekarang harus dilakukan KPK adalah fokus di penyidikan. Tidak perlu ‘terlibat’ atau “melibatkan diri” di skema politik elite Demokrat,” ujarnya. (15)
Aktivis Indonesian Corruption Watch, Febri Diansyah, menyatakan, pernyataan Anas yang masih membantah terlibat dalam kasus Hambalang menutup
peluangnya menjadi justice collaborator (rekan keadilan) untuk mengungkapkan kasus ini seterang mungkin. Syarat menjadi rekan keadilan adalah mengakui kesalahan dan bersedia membongkar tuntas kejahatannya. (16)
Terkait materi jumpa pers Anas, Ketua Majelis Tinggi Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono menggelar rapat di kediamannya di Puri Cikeas Indah, Bogor,
kemarin malam. Rapat membahas status Anas sebagai tersangka dan
pengunduran dirinya. Rapat yang dimulai pukul 20.30 masih berlangsung hingga berita diturunkan. Semula, rapat direncanakan digelar Minggu. Karena dinamika yang terjadi, rapat digelar lebih awal. (17)
Tabel 4.6
Karakteristik Surat Kabar
Tanggal Pemberitaan Kompas edisi : Kamis, 24 Februari 2013 Judul Pemberitaan Ujian Demokrat Baru Dimulai
Anas Urbaningrum Mundur dan Pertanyakan Etika Politik Partai
Rubrik Pemberitaan Politik dan Hukum
Sumber : Harian Kompas 2013
4.5.1 Exclusion (Proses Pengeluaran)
Strategi Wacana Eksklusi-Pasivasi
Teknik Eksklusi-Pasivasidalam teks berita terdapat pada
“Ketika saya dipersilahkan untuk lebih fokus menghadapi masalah hukum di KPK, berarti saya sudah divonis punya status hukum, status hukum dimaksud adalah tersangka”, kata Anas. (8)
Disini teks menampilkan Anas Urbaningrum sebagaimana Anas menampilkan dirinya sendiri. Hal ini terjadi karena pernyataan ini dikutip langsung dari perkataan Anas Urbaningrum. Disini Anas melalui strategi wacana pasivasi menampilkan dirinya sebagai korban yang divonis mempunyai status hukum, karena menggunakan kalimat pasif, kalimat ini tidak memerlukan subjek sehingga Anas bisa ditampilkan sendiri sebagai orang yang dimarginalkan.
Menarik untuk diperhatikan Anas melalui strategi ini mendefinisikan dirinya sebagai korban, sebagi orang yang dizolimi, ia menyatakan ketika SBY mempersilahkannya untuk “fokus menghadapi kasus hukum” (padahal ketika itu Anas belum memiliki status hukum apapun) saat itulah ia divonis memiliki status hukum di KPK. sehingga wacana yang dibangun bahwa pernyataan SBY disini
dimaknai sebagai tekanan politisnya kepada KPK, sebuah intervensi, sebuah perintah go ahed kepada KPK untuk menetapkan Anas sebagai tersangka.
Sehingga wacana yang hadir melalui strategi wacana ini Anas tampil sebagai pihak yang dimarginalkan, yang tampil sebagai korban kekejaman politik, pribadi yang dijadikan bersalah (tumbal politik) melalui serangkaian gestur politik yang dilakukan oleh SBY.
“Namun, Anas mengaku baru berpikir dirinya akan menjadi tersangka ketika ada desakkan agar KPK memperjelas status hukum terhadap dirinya.” (8)
Hal ini semakin jelas melalui strategi yang dihadirkan melalui teks dini, seolah ada tekanan politis yang mempengaruhi keputusan KPK menjadikan dirinya tersangka. Menjadikan diri sebagi korban (play the victim) merupakan hal yang umum dalam dunia perpolitikkan di Indonesia, tentu kita ingat dulu ketika SBY berkonflik dengan Megawati Soekarno Putri, SBY menampilkan dirinya sebagi orang yang terzolimi, orang yang dimarginalisasi, melalui permainan citra dan cover media SBY beroleh iba dan perhatian masyarakat semacam perasaan romantisme patriotis tentang seorang pejuang kebenaran yang melawan penguasa kejam dan akhirnya hal inilah dimanfaatkan SBY untuk maju sebagai seorang Presiden yang pertama kali dipilih langsung masyarakat Indonesia melalui
Pemilihan Umum tahun 2006. Juga hal ini dapat kita lihat pada orang-orang yang tersandung kasus korupsi contohnya pada kasus M. Nazaruddin yang
mengkonsturksikan dirinya sebagi korban dari Anas Urbaningrum.
Hal ini tejadi mungkin disebabkan untuk wins over public opinion, atau untuk mendapat dukungan masyarakat. Dalam terminologi politik praktis
pendapat umum merupakan jalan menuju kekuasaan politis, jika dihubungankan dengan konteks Anas Public opinion dapat dijadikannya alat intervensi yang signifikan dalam menghadapi persoalan hukum yang menjeratnya sehingga ia perlu menampilkan dirinya sebagi korban.
“Lebih jauh lagi, Anas mengungkapkan, apa yang dia alami kini terkait dengan Kongres Demokrat 2010 yang dia menangi, “intinya, kongres itu ibarat bayi yang lahir. Anas adalah bayi yang tidak diharapkan,
katanya.” (9)
Melalui strategi wacana pasivasi teks menyajikan teks mengkonstruksikan Anas sebagai korban, hal ini tentu agar dirinya beroleh dukungan masyarakat disini melalui kalimat pasif tidak disebutkan siapa yang tidak mengharapkan Anas yang dalam konteks ini tidak diharapkan menjadi Ketua Umum Partai Demokrat, sehingga teks ini melindungi aktor/pelaku dan memarjinalkan Anas sebagai korban yang dalam teks diekploitasi karena hanya menampilkan objek
didalamnya. Namun teks menghadirkan definisi bandingan juga melalui strategi wacana pasivasi
“Johan menjamin, dalam sejarahnya KPK tak pernah bisa diintervensi”
(13)
Disini melalui strategi yang sama KPK dihadirkan melalui pernyataan Johan Budi, juru bicara KPK, yang menyatakan bahwa KPK tak pernah bisa diintervensi, kehadiran bentuk pasif tentunya akan melindungi aktor yang dinyatakan mengintervensi KPK, sehingga secara konteks keseluruhan definisi yang dibangun didalam teks mematahkan wacana yang diangkat dan dibangun Anas Urbaningrum yang menyajikan dirinya sebagai korban sebagai korban keganasaan politik karena KPK dijelaskan disini dalm sejarahnya tak pernah bisa diintervensi.
4.5.2 Inclusion (Proses Pemasukkan)
Strategi Wacana Inklusi Difrensiasi-Indiferensiasi Strategi wacana ini didalam teks pada bagian
“Feri menuding, tersangka yang menyatakan terzalimi jelas pembelaan diri semata. “Dalam kasus-kasus korupsi politik, terdakwa
dipersidangan selalu tampil bak korban. Taktik itu lumrah untuk mengaburkan perspektif publik,” ujarnya. (14)
Disini teks menghadirkan dua wacana, yang pertama adalah penjelasan bahwa terdakwa di persidangan selalu tampil bak korban, wacana yang kedua adalah penghadiran wacana yang lebih dominan dan lebih bagus yang berisi sebuah kesimpulan bahwa seorang terdakwa yang tampil sebagai korban adalah sebuah hal yang lumrah, hal itu adalah sebuah cara yang dipergunakan untuk
mengaburkan perspektif publik.
Memainkan perspektif publik penting karena jika satu perspektif tertentu akan sangat berpengaruh terhadap Public Opinion, dan apa yang menjadi
penilaian massa akan sangat berpengaruh terhadap bagaimana subuah peristiwa dilihat dan dimaknai, tentu beroleh dukungan masyarakat akan cukup banyak membantu seseorang yang tesandung dalam sebuah kasus hukum maupun sosial. Menjadikan diri sebagai korban adalah salah satunya, tentu dengan menghadirkan perspektif ini.
Tentu hal ini akan memarginalisasi Anas Urbaningrum yang coba mengangkat dirinya yang dijadikan tersangka oleh KPK terjadi karena tekanan politis, teks mengkonstruksikan seolah Anas coba menampilkan dirinya sebagai korban, namun teks menghadirkan definisi bandingan yang mampu menyudutkan wacana yang Anas bangun.
Melalui teks ini strategi wacana indifrensiasi juga hadir
“Johan mengakui ketika KPK mengusut seorang pengurus partai, selalu muncul persepsi ada kepentingan politik. Johan menjamin dalam sejarahnya KPK tak pernah bisa diintervensi.” (13)
Disini teks menghadirkan konstruksi bahwa dalam sejarahnya KPK tak pernah diintervensi, tentu ini menguatkan dan mematahkan strategi teks melalui bangunan konstruksi definisi korban yang dimainkan oleh Anas Urbaningrum, melalui penghadiran pernyataan yang disampaikan oleh oleh Johan Budi yang merupakan Juru Bicara KPK ini lebih dominan yang menunjukkan bahwa kesalahan buka ada pada pihak KPK yang merupakan Lembaga Negara yang netral dan tidak mungkin diintervensi oleh kepentingan-kepentingan tertentu, sehingga tuduhan intervensi ini menjadi tidak berdasar sama sekali, sehingga sekali lagi disini teks menyudutkan Anas Urbaningrum.
Strategi Wacana Inklusi Asimilasi-Individualisasi
Strategi wacana ini terjadi ketika seorang aktor sosial dalam
pemberitaannya disebutkan komunitas atau kelompok, strategi ada pada teks bagian
“Feri menuding, tersangka yang menyatakan terzalimi jelas pembelaan diri semata. Dalam kasus-kasus korupsi politik, terdakwa di
persidangan selalu tampil bak korban.” (14)
Dalam menunjukkan sebuah kelumrahan yang terjadi teks disini melalui strategi wacana asimilasi mengkategorikan aktor sosial yang dalam konteks dimana teks ini dihadirkan yaitu Anas Urbaningrum dalam komunitas atau kelompok dimana aktor itu berada. Melalui strategi wacana asimilasi pembaca akan diperlihatkan sebuah bangunan generalisasi seolah semua terdakwa yang tersandung kasus-kasus korupsi politik akan tampil bak terdakwa di persidangan dan hal itu bukalah barang baru dalam dunia perpolitikan di indonesia, sehingga ketika Anas
Urbaningrum yang notabenenya seorang politisi yang tersandung masalah kasus korupsi maka sudah menjadi hal yang lumrah jika dalam persidangan nanti pun ia akan tampil bak korban. Tentu wacana ini memarginalisasi Anas dan