HASIL DAN PEMBAHASAN
4.9 Analisis Wacana Berita 8
Anas Dijerat Tiga Kasus
Kode Kontradiktif Disampaikan kepada KPK dan Presiden
Kompas, 11 januari 2014
JAKARTA, KOMPAS – Komisi Pembrantasan Korupsi, Jumat (10/1), resmi menahan mantan Ketua Umum Partai demokrat Anas Urbaningrum di Rumah Tahanan Kelas 1 Jakarta Timur Cabang Gedung KPK. Ada tiga kasus dugaan korupsi yang menggiring Anas ke sel. (1)
Selama ini publik hanya mengetahui Anas adalah tersangka terkait pemberian sesuatu proyek Hambalang, Bogor, Jawa Barat. Ternyata ada dua kasus lain yang menggiringnya ke bui: pemberian sesuatu dari proyek pengadaan vaksin PT Bio Farma di Bandung, Jawa Barat, dan pengadaan laboratorium kesehatan di Universitas Airlangga, Surabaya, Jawa Timur. (2)
Seperti halnya proyek Hambalang, kedua kasus tersebut juga melibatkan mantan Bendahara Umum Partai Demokrat Muhammad Nazaruddin. (3)
Menurut Juru Bicara KPK Johan Budi SP, terbuka kemungkinan Anas juga dijerat dengan pasal-pasal tindak pidana pencucian uang. (4)
Kode kontradiktif
Kemarin, Anas datang ke KPK pukul 13:35. Raut mukanya tampak tegang. Sekitar empat jam kemudian, Anas keluar dari lobi Gedung KPK sudah mengenakan rompi warna orange bertuliskan tahanan KPK. (5)
Sebelum masuk mobil tahanan, Anas sempat mengucapakan terima kasih atas penahanannya kepada Ketua KPK Abraham Samad, penyidik dan penyelidik KPK, serta kepada Presiden Susilo bambang Yudhoyono. (6)
“Diatas segalanya, saya berterima kasih yang besar kepada Pak SBY. Mudah-mudahan peristiwa ini punya arti, punya makna, dan jadi hadiah Tahun Baru 2014,” kata Anas. (7)
Pakar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung Yasraf Amir Piliang menilai pernyataan Anas dapat dimaknai sebagai kode kontradiktif atau tanda terbalik. (8)
“Artinya, saya (Anas) ditahan. Penahanan ini saya berikan sebagai hadiah buat Anda karena kemungkinan Anda atau orang dekat Anda juga bisa ditahan,” ujar Asraf. (9)
Staf khusus Presiden Bidang Informasi Heru Lelono membantah anggapan ada faktor Presiden dalam penetapan Anas sebagai tersangka. “Hal itu tidak benar. KPK adalah lembaga hukum independen,” kata Heru. (10)
Istri Anas Urbaningrum Athiyyah Laila, yang ditemui di rumahnya di Duren Sawit, Jakarta Timur, terlihat tabah. (11)
“Iya Mas, di balik suami yang berhasil pasti ada wanita kuat yang
mendukungnya. Di balik itu ada orangtua yang mendoakan,” kata Thiya. (12)
Tabel 4.10
Karakteristik Surat Kabar
Tanggal Pemberitaan Kompas edisi : Sabtu, 11 Januari 2014 Judul Pemberitaan Anas Dijerat Tiga Kasus
Kode Kontradiktif Disampaikan kepada KPK dan Presiden
Rubrik Pemberitaan Politik dan Hukum
Sumber : Harian Kompas 2014
4.9.1 Exclusion (Proses Pengeluaran)
Strategi Wacana Eksklusi-Pasifasi
Teks ini bercerita tentang penahan Anas Urbaningrum, setelah sebelumnya ditetapkan sebagai tersangka sebelumnya. Strategi pasifasi hadir pada judul teks yakni
“Anas Dijerat Tiga Kasus”
Disini teks melalui judulnya menginformasi mengenai fakta penahanan Anas yang dijelaskan didalam teks bahwa Anas bukan saja tersangka kasus proyek
Hambalang namun juga dijerat pada 3 kasus lainnya yakni kasus pemberian sesuatu dari proyek pengadaan vaksin PT Bio Farma dan pengadaan labratorium kesehatan di Universitas Airlangga. Melalui strategi pasifasi aktor atau subjek dalam kalimat yang dikatakan menjerat Anas yakni, KPK tidak disebutkan di dalam kalimat, penggunaan kalimat pasif menyembunyikan dan melindungi subjek, sehingga fokus pembaca tertuju kepada Anas yang menjadi objek yang dihadirkan sebagai korban dan dieksploitasi dalam teks.
“Menurut Juru Bicara KPK Johan Budi SP, terbuka kemungkinan Anas juga dijerat dengan pasal-pasal tindak pidana pencucian uang.” (4)
Selama ini publik hanya mengetahui Anas adalah tersangka terkait pemberian sesuatu dari proyek Hambalang, namun ternyata ada dua kasus lagi yang
dikenakan kepadanya. Pada bagian teks ini Johan Budi sebagai Juru Bicara KPK menyatakan bahwa Anas terbuka kemungkinan dijerat dengan pasal-pasal tindak pidana pencucian uang. Disini melalui kalimat pasif juga menyembunyikan dan melindungi aktor atau pelaku menjerat Anas, sehingga Anas menjadi objek dari berita yang ditampilkan sebagai korban yang tereksploitasi didalam teks dan menjadi fokus pembaca.
Strategi Wacana Nomalisasi
Strategi ini pada dasarnya proses mengubah kata kerja yang bermakna tindakan menjadi kata benda yang bermakna peristiwa. Strategi ini ada pada bagian teks berikut
“Sebelum masuk mobil tahanan, Anas sempat mengucapakan terima kasih atas penahanannya kepada Ketua KPK Abraham Samad, penyidik dan penyelidik KPK, serta kepada Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono.” (6)
Pada bagian ini nominalisasi kehadiran aktor dapat dihilangkan melalui penggunaan imbuhan pe-an, disini tindakan menahan telah diubah fungsinya menjadi peristiwa penahan. Ketika telah diubah dalam bentuk peristiwa tentu saja tidak memerlukan konteks pelaku penahan, waktu atau bahkan tempat. Konteks ini bisa dihilangkan karena bukanlah hal yang ingin diangkat teks dalam wacana ini. Sehingga melalui teks ini Anas Urbaningrum menjadi fokus pembaca, dan menjadi subjek yang terekploitasi.
Disini secara keseluruhan apabila kita perhatikan Anas menyatakan
ucapan terima kasihnya atas penetapannya sebagai tersangka, makna yang peneliti tangkap dalam hal ini sepertinya Anas ingin menyatakan bahwa penetapannya sebagi tersangka bahkan penahanannya di KPK merupakan tekanan politik SBY kepada KPK, atau bahkan pernyataan ancaman Anas kepada SBY sehingga Anas
berterima kasih kepada SBY, dengan mengucapkan bahwa penahannya
merupakan ‘kado’ Tahun baru 2014. Apakah ini pertanda bahwa Anas akan buka-bukaan dipersidangan nanti membongkar semua kebusukan di partainya. Namun secara keseluruhan melalui teks ini dapat kita lihat bahwa penggunaan strategi wacana pernyataan ini dan makna yang terkandung di dalamnya pada akhirnya hanya Anas yang tahu.
4.9.2 Inclusion (Proses Pemasukkan)
Strategi Wacana Difrensiasi-Indifrensiasi Strategi ini dapat dilihat pada bagian
“Selama ini publik hanya mengetahui Anas adalah tersangka terkait pemberian sesuatu proyek Hambalang, Bogor, Jawa Barat. Ternyata ada dua kasus lain yang menggiringnya ke bui” (2)
Disini preposisi pertama yang dihadirkan adalah publik hanya mengetahui bahwa Anas hanya terkait kasus pemberian sesuatu proyek Hambalang, preposisi yang kedua adalah penjelasan tentang Anas yang ternyata terlibat dua kasus lainnya. Kehadiran preposisi yang kedua ini dapat dikatakan sebagai pembanding yang yang dalam konteks ini untuk memperkuat dan memperjelas legitimasi argumen penahan Anas sebagai tahanan KPK, sehingga bagian kedua menjadi lebih
dominan dan lebih bagus dibandingkan preposisi yang pertama, sehingga penahan Anas pun dapat secara politik ‘dibenarkan.’
Dalam teks yang sama melalui ucapannya Anas mengucapkan terima kasih kepada Ketua KPK Abraham Samad, penyidik dan penyelidik KPK, serta
Presiden SBY dan menyatakan bahwa penahanannya menjadi hadiah Tahun Baru 2014. Pernyataan di dalam teks ini disebutkan sebagi pernyataan yang multitafsir, ucapan terima kasih bisa dimaknai sebagai cara pandang Anas yang melihat penahanannya merupakan akibat tekanan politik yang dilakukan SBY, sehingga ia “berterima kasih” kepada SBY atas penahannya, atau mengutip pendapat Pakar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung bahwa ucapan terima kasih tersebut dapat dipandang sebagi sebuah ancaman terhadap
SBY, bahwa penahanannya bisa menjadi awal terungkapnya kasus-kasus lain yang dapat menjerat SBY.
Namun melalui strategi wacana ekslusi-difrensiasi teks melalui penyajiannya melindungi SBY dengan menghadirkan bagian teks berikut
“Staf khusus Presiden Bidang Informasi Heru Lelono membantah anggapan ada faktor Presiden dalam penetapan Anas sebagai tersangka. “Hal itu tidak benar. KPK adalah lembaga hukum independen,” kata Heru.” (10)
Disini melalui strategi difrensiasi teks menghadirkan preposisi pertama berisi bantahan dari Staf Khusus Presiden yang membantah ada faktor Presiden yang mengintervensi KPK dalam penetapan Anas Urbaningrum sebagi KPK, preposisi yang kedua berisi tentang penjelasan bahwa KPK adalah Lembaga Hukum yang independen. Tentu kehadiran preposisi yang kedua ini lebih dominan sehingga mematahkan wacana yang dibangun mengenai intervensi yang diisukan dilakukan oleh SBY kepada KPK dalam menetapkan Anas Urbaningrum sebagai tersangka. Sehingga secara keseluruhannya dalam penyajiannya strategi eksklusi defrensiasi dalam menampilkan aktor-aktor sangat menguntungan SBY dan memarginalkan Anas.
4.10 Pembahasan
Penelitian ini dilakukan berdasarkan paradigma kritis dengan
menggunakan metode analisis wacana Theo van Leeuwen. Analisis wacana kritis melalui pendekatan Theo van Leeuwen lebih menekankan bagaimana seseorang atau sekelompok orang ditampilkan didalam pemberitaan. Model ini berdasarkan pada dua konsep utama dalam pembedahan teks yaitu inklusi dan eksklusi. Dalam konsep ini dapat dilihat bagaimana seseorang atau sekelompok orang dikeluarkan dari teks pemberitaan atau bagaimana suatu pihak ditampilkan dalam suatu pemberitaan dengan memakai kata, kalimat, informasi atau susunan bentuk kalimat tertentu, cara bercerita tertentu masing-masing kelompok
direpresentasikan dalam teks.
Perjalanan kasus ini sudah memasuki usia setahun, dimulai dari awal Februari 2013 hingga Januari 2014. Secara garis besar dalam perjalanan kasus ini terbagi atas beberapa isu penting yang dimana konflik antara Anas Urbaningrum dan Susilo Bambang Yudhoyono terjadi. Bagian pertama adalah mengenai isu pengambil alihan Partai Demokrat oleh SBY dari Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum yang terdapat pada berita pertama dan kedua. Wacana yang dihadirkan melalui strategi wacana didalam teks pada bagian ini melindungi Anas Urbaningrum. Melalui strategi Eksklusi nama Anas dihilangkan dan dilindungi sehingga isu pengambil alihan Partai Demokrat yang bermula dari turunnya elektabilitas Partai Demokrat ditampilkan lebih karena sejarah panjang kader-kader Demokrat yang terlebih dahulu tersangkut masalah hukum dan tidak ada sangkut pautnya terhadap Anas Urbaningrum yang ketika itu terus-menerus menjadi topik utama media massa karena nama Anas yang disebut-sebut dalam persidangan M Nazaruddin terlibat dalam kasus hambalang.
Dalam isu pengambil alihan Partai Demokrat juga melalui strategi wacana Inklusi defrensiasi Anas Urbaningrum diwacanakan masih beroleh dukungan yang sangat kuat pada tingkatan provinsi dan kota/kabupaten di Partai Demokrat
mengalahkan SBY yang selama ini menjadi patron dalam mengendalikan faksi-faksi Partai Demokrat, SBY juga dalam konteks pengambil alihan Partai Demokrat melalui strategi identifikasi ditampilkan dalam kapasitasnya sebagai
Presiden, hal sangat kontraproduktif bagi SBY terhadap wacana yang dihadirkan. Penghadiran Presiden SBY dan bukan SBY sang Ketua Umum Majelis Tinggi Partai Demokrat memarginalkan dirinya, SBY dimarginalkan dengan penghadiran wacana SBY yang lebih mengutamakan partai politiknya ketimbang
mengutamakan tanggung jawabnya yang berat sebagai seorang Presiden, melalui strategi abstraksi keputusan SBY dalam mengambil alih Partai Demokrat
ditampilkan memperoleh banyak kritik dari berbagai pihak sehingga mewacanakan langkah yang diambil oleh SBY dalam mengambil alih
kepemimpinan Partai Demokrat dari Anas Urbaningrum adalah sebuah langkah yang kurang tepat dan tidak populer dimata masyarakat.
Pada berita ketiga yang mengangkat isu pra pengambil alihan Partai Demokrat disini SBY juga dimarginalkan dengan penghadiran strategi wacana inklusi yang melindungi Anas Urbaningrum dan mewacanakan langkah pengambil alihan partai oleh SBY sebagai langkah yang berlebihan sebuah langkah yang menunjukkan kegagalan partai untuk melembagakan diri atau bahkan langkah yang dipandang sebagai bentuk ketidak percayaan SBY terhadap organ Partai Demokrat. Disini SBY juga ditampilkan dalam kapasitasnya sebagai seorang Presiden, tentu hal ini memarginalkan SBY. Sebagai perbandingan Anas ditampilkan melalui strategi eksklusi sebagai aktor yang seharusnya diberi kesempatan untuk merekonsilidasi Partai Demokrat karena sosoknya yang masih sangat kuat dan berpengaruh di Partai Demokrat. Sehingga secara keseluruhan dalam isu pengambil alihan Partai Demokrat SBY dimarginalkan dibandingkan dengan bagaimana Anas ditampilkan.
Bagian kedua adalah penetapan Anas sebagai tersangka. Dalam hal ini teks bukan berarti konsisten melindungi Anas, pada berita kedua melalui strategi wacana identifikasi Anas dan pendukungnya ditampilkan sebagai unsur-unsur negatif dalam Partai Demokrat. Ketika Anas coba menghadirkan dirinya sebagai korban dari kekejaman politik teks malah membantah dengan strategi wacana difrensiasi yang mengeneralisir konstruksi-konstruksi korban tersebut sebagai langkah yang jamak dilakukan oleh tersangka kasus korupsi untuk memenangkan opini publik.
Pada berita kelima Anas bukan saja ditampilkan sebagai tersangka bahkan diminta untuk buka-bukaan mengenai kasus-kasus hukum yang ia ketahui untuk di bongkar, teknik dimana wacana ini dihadirkan menggunakan strategi wacana eksklusi pasivasi yang membuat pembaca fokus kepada Anas Urbaningrum sehingga Anas ditampilkan telah divonis bersalah dan dijustifikasi mengetahui banyak kasus korupsi yang melibatkan penguasa negeri, wacana ini
memarginalkan Anas. Pada isu ini SBY ditampilkan pada posisi yang semakin kuat dan akan menguasai kepengurusan DPP, DPD dan PDC yang selama ini menjadi basis kekuatan Anas.
Bagian ketiga adalah pasca mundurnya Anas Urbaningrum. Pada berita keenam teks, teks mewacanakan melalui strategi inklusi pasivasi bahwa mereka yang tergabung dalam kelompok perwakilan Anas akan sulit mendapat restu dari SBY untuk maju dalam kongres Partai Demokrat. Hal ini akan memarginalkan Anas Urbaningrum dan faksinya diwacanakan sebagai kelompok yang
dimarginalkan. Pada berita ketujuh mengenai pencopotan beberapa kader
Demokrat dari jabatannya di fraksi dan alat kelengkapan DPR teks mewacanakan pencopotan “orang dekat” Anas ini sebagai akibat kehadiran mereka pada
deklarasi PPI (Perhimpunan Pergerakan Indonesia). Melalui strategi wacana yang digunakan didalam teks kelompok pro Anas dimarginalkan didalam teks dengan ditampilkan sebagai korban yang terus-menerus dieksploitasi.
Teks pada bagian ini melindungi SBY yang sebenarnya merupakan pemimpin tertinggi Partai Demokrat saat keputusan pencopotan ini dijatuhkan, konstruksi yang dihadirkan adalah pencopotan ini dengan alasan rotasi dan penyegaran agar para kader yang digantikan dapat lebih fokus kepada konstituen di daerahnya masing-masing. Penghadiran wacana ini lebih dominan, lebih bagus dan logis ketimbang wacana yang dihadirkan dari pihak Anas, sehingga secara umum pada bagian ini teks kembali memarginalkan Anas Urbaningrum.
Pada bagian akhir adalah mengenai penahanan Anas Urbaningrum yang walaupun dibumbui oleh kode kontradiktif teks menghadirkan wacana yang memarginalkan Anas dengan menghadirkan wacana yang lebih dominan dengan menampilkan KPK sebagai lembaga hukum yang netral dan independen yang tidak mungkin bisa diintervensi tekanan-tekan politis tertentu, hal ini seolah
mematahkan wacana yang Anas coba bangun melalui pernyataan yang penuh makna tersirat.
Secara umum kompas dalam menampilkan pihak-pihak yang berkonflik antara SBY dan Anas berimbang (cover both side) dan seperti tanpa kepentingan hal ini terlihat dari pemilihan narasumber, kedua belah pihak yang berkonflik dimuat opininya masing-masing didalam teks. Namun tetap ada berita yang timpang dalam pemberitaan aktor-aktor yang berkonflik hal ini terlihat dari bagaimana SBY dimarginalkan ketika isu pengambil alihan Partai Demokrat, namun kemudian kemudian pada isu rencana Kongres Partai Demokrat SBY ditampilkan sebagai seorang penguasa yang akan melakukan segala cara untuk mempertahankan kekuasaannya namun dilindungi ketika pencopotan kelompok Anas di Partai Demokrat. Sedangkan Anas dimarginalkan dalam posisinya yang tersandung masalah kasus korupsi yang menjeratnya lalu pada isu mengenai pencopotan beberapa golongan pro Anas dari jabatannya di fraksi dan alat kelengkapan DPR namun sangat Anas dilindungi ketika isu pengambil alihan Partai Demokrat.
Mungkin menjadi suatu hal yang lumrah posisi media yang tidak objektif dalam memberitakan suatu peristiwa. Hal ini wajar terjadi karena orang-orang yang memproduksi berita (wartawan, redaktur, pemimpin redaksi dan pemilik media) sulit menghindari penilaian-penilaian subjektif yang secara konstruksi sosial ada pada dirinya ketika memandang peristiwa termasuk dalam hal ini berita yang disajikan pada berita harian Kompas.
BAB V