• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.4 Analisis Wacana Berita 3

Demokrat Dinilai Gagal Melembagakan Diri

Kompas, 13 Februari 2013

JAKARTA, KOMPAS- Tampilnya Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono mengambil alih opersional partai memperlihatkan

Demokrat gagal melembagakan diri. Untuk mengatasinya, semua organ perlu diberdayakan sehingga tidak terus menerus bergantung pada Yudhoyono. (1)

Penilaian itu disampaikan peneliti Center For Strategic and International Studies, Philips J Vermonte, dan Ketua Umum Ikatan Advokat Indonesia Todung Mulya Lubis di Jakarta, Selasa (12/2). (2)

Menurut Philips, mekanisme internal pengurus Demokrat sulit berjalan sehingga memaksa pembina Partai Demokrat “mengambil alih” partai itu saat terjadi kemelut. Ini bisa menjadi presenden bagi partai lain, yaitu apabila menghadapi situasi konflik internal, bukan lagi pendekatan institusional yang digunakan, melainkan menggantungkan diri pada “orang kuat” partai. Akibatnya, partai politik terus menerus gagal melembagakan diri.(3)

Akibat lain, publik makin menyadari, politik hari ini lebih tentang perseteruan para elite partai, politik tidak terkoneksi pada kebijakkan publik dan berkaitan dengan publik. Terlebih lagi aura korupsi yang dilakukan elite partai, bukan hanya Demokrat, makin terbuka dan terang benderang terlihat oleh publik. (4)

“Demokrat harus segera menuntaskan persoalan internal ini, tidak bermain di wilayah abu-abu antara melepas atau mempertahankan Anas (Urbaningrum). Kalau dipertahankan mengingat kuatnya Anas di bawah, dia harus diberi kesempatan merekonsiliasi partai,” kata Philips. (5)

Todung Mulya lubis mengungkapkan, Demokrat belum berkembang jadi partai modren, Figur Yudhoyono sangat dominan, bahkan kini mengambil alih operasional partai. Langkah Yudhoyono dilihatnya berlebihan karena memperlihatkan ketidakpercayaan pada organ partai. (6)

“Sebetulnya SBY tidak harus turun tangan langsung sendiri, tetapi bisa menunjuk perwakilan atau pimpinan lain di partai itu untuk menangani operasional partai. Itu mengurangi Presiden Kepada tugas negara. Itu tidak elok dilihat dari fatsun politik,” katanya. (7)

Secara terpisah, Koordinator Gerakan Indonesia Bersih Adhie M Massardi mengatakan, jika ingin menurunkan atau melucuti kewenangan Anas sebagai Ketua Umun DPP Partai Demokrat, semestinya Yudhoyono bisa mendorong kongres luar biasa. (8)

Sementara itu setelah sakit sejak Minggu, kondisi Anas dikabarkan berangsur membaik. Tamu berdatangan ke rumah Anas di Duren Sawit, Jakarta Timur.

Sosiolog dari Universitas Islam Syarif Hidayatullah, Musni Umar, mengemukakan, “keadaan beliau berangsur membaik. Saya memberikan dukungan moral supaya tabah, ini ujian.” (9)

Tabel 4.5

Karakteristik Surat Kabar

Tanggal Pemberitaan Kompas edisi : Rabu, 13 Februari 2013 Judul Pemberitaan Demokrat Dinilai Gagal Melembagakan Diri Rubrik Pemberitaan Politik dan Hukum

Sumber : Harian Kompas 2013

4.4.1 Exclusion (Proses Pengeluaran)

Strategi Wacana Eksklusi-Pasivasi

Berita ini menceritakan bagaimana keputusan SBY dalam mengambil alih Partai Demokrat menuai sejumlah kritik disini media mengambil sikap akan pengambil alihan Partai Demokrat yang dilakukan oleh SBY

“Untuk mengatasinya, semua organ partai perlu diberdayakan sehingga tidak bergantung terus bergantung kepada Yudhoyono” (1)

Melalui teknik pasifasi pemilihan bentuk pasif dalam kalimat ini memperlihatkan seolah Yudhoyono yang tidak mampu memberdayakan organ partainya, hal ini mengakibatkan pembaca menjadi tidak kritis karena posisi nama SBY di akhir kalimat yang pada akhirnya menjadi pusat perhatian pembaca. Dengan kata lain, pada konstruksi kalimat ini, SBY menjadi objek eksploitasi pemberitaan, karena pemberitaanya di tujukan seolah SBY tidak mampu memberdayakan kader Partai Demokrat sehingga ia harus turun sendiri mengatasi masalah di partainya sendiri,

Hal ini berbanding terbalik dengan defenisi yang dihadirkan melalui srategi wacana pasifasi tentang Anas didalam teks

“Kalau dipertahankan, mengingat kuatnya Anas di bawah, dia harus diberi kesempatan merekonsolidasi Partainya” (5)

Disini kalimat bentuk pasif hadir sehingga subjek kalimat tidak ada, sehingga dia tidak menghadirkan atau bahkan melindungi aktor atau pelaku lainnya, sehingga

Anas Urbaningrum menjadi fokus pembaca yang dieksploitasi sebagai korban namun konteks wacana yang dihadirkan disini memberi ruang bagi Anas dengan mengkonstruksikan Anas secara positif, disini teks mewacanakan jika Anas dipertahankan maka seharusnya ia diberi kesempatan untuk merekonsialisasi partai karena posisinya di Partai Demokrat masih kuat. Disini menyajikan suatu wacana yang menyerang balik wacana pengambil alihan Demokrat oleh

Yudoyono.

4.4.2 Inclusion (Proses Pemasukkan)

Strategi Wacana Difrensiasi-Indifrensiasi

Strategi hadir di dalam teks menghadirkan SBY dalam wacana ini disudutkan dengan menghadirkan wacana lain yang lebih dominan atau lebih bagus, hal ini dapat kita perhatikan pad teks berikut

“Tampilnya Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono mengambil alih operasional partai, memperlihatkan Demokrat gagal melembagakan diri. Untuk mengatasinya, semua organ partai perlu diberdayakan sehingga tidak terus bergantung kepada Yudhoyono.” (1)

Disini teks menghadirkan preposisi pertama bahwa keputusan SBY mengambil alih Partai Demokrat. Preposisi yang kedua adalah semua organ partai perlu diberdayakan sehingga tidak terus bergantung kepada Yudhoyono. Teks disini mengkritik langkah yang diambil oleh SBY karena teks menghadirkan wacana yang lebih dominan dan lebih bagus dari wacana awal tentang “Yudhoyono mengambil alih operasional partai” dengan menghadirkan sebuah preposisi bahwa langkah yang diambil oleh SBY merupakan gambaran dari organ Partai yang tidak diberdayakan, sehingga harus bergantung terus kepada sosok SBY.

Wacana yang sama juga hadir dalam teks

“Figur Yudhoyono sangat dominan, bahkan kini mengambil alih operasional partai. Langkah Yudhoyono dilihatnya berlebihan karena memperlihatkan ketidakpercayaan pada organ partai” (6)

Dalam wacana ini teks menhadirkan dua preposisi. Preposisi pertama SBY

disebut sebagai figur yang dominan di Partai Demokrat, hal ini terjadi karena SBY dengan sangat mengejutkan mengambil alih Partai Demokrat dari Anas

Urbaningrum, namun dalam teks ini wacana yang dominan dihadirkan dengan menghadirkan preposisi bahwa langkah yang diambil Yudhoyono mengambil alih Partai Demokrat menunjukkan ketidakpercayaannya kepada organ partai,

penghadiran wacana ini tentu menyudutkan SBY. Tentu jika telisik memang seharusnya sebagai seorang Presiden, SBY seharusnya mengakhiri loyalitas atau kesetiaannya pada partai ketika tugas negara sudah dimulai, namun SBY malah melakukan yang sebaliknya sehingga teks mengkontruksikan SBY sebagai pemimpin yang lebih mengutamakan masalah yang terjadi dalam partainya, dibandingakan mengerjakan tugasnya sebagai Presiden. Wacana inilah yang terus-menerus dieksploitasi dalam teks yang ditampilkan lebih dominan, sehingga wacana yanghadirkan dalam teks memarginalkan SBY.

Hal ini berbanding terbalik dengan strategi difrensisasi aktor Anas Urbaningrum

“Demokrat harus segera menuntaskan persoalan internal ini, tidak bermain di wilayah abu-abu, antara melepas atau mempertahankan Anas (Urbaningrum). Kalau dipertahankan, mengingat kuatnya Anas dibawah, dia harus diberi kesempatan merekonsiliasi partai,” kata Philips. (5)

Disini teks menyajikan dua preposisi. Preposisi yang pertama adalah melepas Anas Urbaningrum, melepaskan maksudnya tentu dalam konteks ini

kepemimpinan Anas sudah diambil alih oleh SBY, sehingga konteks ‘melepas’ disini dapat dimaksudkan sebagai penonaktifan atau bahkan pemecatan Anas sebagai Kader Demokrat, namun teks disini menghadirkan wacana yang lebih dominan, yaitu mempertahakan Anas. Anas ditampilkan sebagai aktor yang masih kuat ditataran “bawah’ Demokrat yaitu DPP (Dewan Pimpinan Provinsi) dan DPC (Dewan Pimpinan Cabang) sehingga diwacanakan dalam teks harus diberi kesempatan untuk merekonsiliasi partai.

Tentu kehadiran wacana yang lebih dominan ini mematahkan dan akan dipandang lebih bagus dibandingkan wacana melepas Anas karena tidak

disampaikan dengan konstruksi yang jelas dan lemah, sehingga teks ini memperkuat posisi Anas Urbaningrum.

Strategi Wacana Nominasi-Identifikasi

Pada bagian ini kita akan melihat bagaimana aktor-aktor ini ditampikan melalui strategi identifikasi, dapat ditemukan pada bagian berikut didalam teks

“Kalau dipertahankan, mengingat kuatnya Anas dibawah, dia harus diberi kesempatan merekonsiliasi partai,” kata Philips” (5)

Dini teks mengidentifikasikan Anas sebagai aktor yang masih kuat didukung oleh Kader Demokrat tingkat “bawah” yaitu tingkat DPP dan DPC Partai Demokrat, hal ini tentu saja mengisyaratkan trejadinya perpecahan faksi-faksi yang terjadi di tubuh Demokrat, menarik untuk disimak teks mewacanakan terjadinya konflik dan perpecahan yang terjadi di kubu Demokrat karena dengan menyatakan golongan ‘bawah’ tentu pasti ada golongan ‘atas’ yang saling bertarung, penggambaran konflik menyiratkan pertarungan antara golongan bawah yang dipimpin oleh Anas Urbaningrum dan golongan Elite Partai Demokrat yang dipimpin oleh SBY, dan melalui strategi wacananya disini teks berpihak terhadap posisi Anas Urbaningrum dengan mewacanakan agar Anas yang masih kuat diberi kesempatan merekonsilidasi Partai Demokrat.

Hal ini berberbanding terbalik dengan wacana yang dimana SBY ditampilkan dan diidentifikasikan, pada bagian teks

“Sebetulnya SBY tidak harus turun tangan langsung sendiri, tetapi bisa menunjuk perwakilan atau pimpinan lain lain di partai itu untuk

menangani operasional partai. Itu mengurangi perhatian Presiden pada tugas negara. (7)

Disini teks tetap menghadirkan SBY dalam kapasitasnya sebagai Presiden.

Melalui konsistensi penghadiran SBY sebgai Presiden melalui beberapa teks yang telah dianalisis dapat kita perhatikan bahwa disini teks media mengambil posisi untuk menentang keputusan SBY mengambil alih Demokrat dengan alasan dan

rasionalitas yang dihadirkan contohnya menghadirkan dan mengidentifikasikan SBY sang Presiden, bukan sebagai Ketua Umum Majelis Tinggi, melalui rasionalitas tentang tugas dan tanggung jawab Negara tentu hal ini akan mengkritik dan sangat menyudutkan SBY dalam konteks keputusannya mengambil alih Partai Demokrat.