• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.8 Analisis Wacana Berita 7

Loyalis Anas Dicopot

Yudhoyono Mengetahui dan Menyetujui

Kompas, 19 September 2013

JAKARTA, KOMPAS – Sejumlah teman dekat mantan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum kembali dicopot dari jabatannya di fraksi dan alat kelengkapan Dewan Perwakilan Rakyat. Langkah ini disebut sebagai bagian dari penyegaran dan penegakkan disiplin partai. (1)

Pada Rabu (18/9), pencopotan dialami oleh Saan Mustopa dari jabatannya sebagai Sekretaris Fraksi Partai Demokrat di DPR. Posisinya digantikan oleh Teuku Riefky Harsya. Gede Pasek Suardika juga dicopot dari Ketua Komisi III DPR dan digantikan Ruhut Sitompul. (2)

Saan Gede Pasek menghadiri deklarasi Perhimpunan dan Pergerakan Indonesia (PPI) di rumah Anas, kawasan duren sawit, Jakarta Timur, Minggu (15/9). Acara itu juga dihadiri sejumlah rekan Anas yang telah terlebih dahulu dicopot dari jabatannya di Partai Demokrat. Mereka antara lain mantan Bendahara Umum Paratia Demokrat Mirwan Amir dan mantan Sekretaris Divisi Pembinaan Organisasi Partai Demokrat Sedewo. (3)

Ketua Harian Partai Demokrat Sjarifuddin Hasan menuturkan, pencopotan Saan dan Gede Pasek merupakan bentuk penerapan disiplin partai. “Bukan Cuma karena menghadiri deklarasi PPI. Kami juga sudah mempelajari rekam jejak mereka,” katanya. (4)

Surat keputusan pencopotan Saan dan Gede Padek ditantangani oleh Sjarifuddin dan Sekretaris Jendral Partai Demokrat Edhie Baskoro Yudhoyono. SK itu juga memuat sejumlah rotasi di alat kelengkapan DPR dari Partai Demokrat, seperti Wakil Ketuan Komisi V Mulyadi digantikan Michael Watimena. (5)

Azam Azman Natawijana menggantikan Benny K Herman sebagai Wakil Ketua Komisi IV, Wakil Ketua Komisi VIII Gado Radityo Gambiro digantikan Mahrus Munir, Ketua Komisi X Agus Hermato digantikan oleh Wayan Sugiana, dan Wakil Ketua Badan Urusan Rumah Tangga Indrawati sukadis digantikan Adjeng Ratna Suminar. (6)

Sesaat sebelum rotasi diumumkan, Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Max Sopacua mengungkapkan, akan ada sanksi bagi kader yang menghadiri deklarasi PPI. “Kalau orang itu pimpinan fraksi atau pimpinan komisi, dampaknya pasti dirotasi karena ini menyangkut etika kader,” tuturnya. (7)

Namun saat mengumumkan rotasi, Ketua Fraksi Partai Demokrat di DPR Nurhayti Ali Assegaf menampik dugaan kebijakan itu terkait dengan kehadiran

kader Partai Demokrat dalam deklarasi PPI. Sebab, rotasi juga dilakukan kepda sejumlah kader partai yang tidak menghadiri deklarasi PPI. (8)

Menurut Nurhayati, rotasi itu hal biasa yang sudah lama direncanakan. Rotasi ini untuk penyegaran dan memberikan kesempatan bagi kader lain menjadi pimpinan alat kelengkapan di DPR. Rotasi juga untuk memberi kesempatan kader yang selama ini menjadi pimpinan agar memiliki waktu lebih banyak untuk menemui konstituen di daerah pemilihan. (9)

“Pak Saan sudah tahu sejak lama tentang rotasi ini dan dia ingin berkonsentrasi di daerah pemilihan,” tutur Nurhayati. (10)

Namun, Saan mengaku baru mendapat kepastian akan dirotasi beberapa saat sebelum Nurhayati mengumumkannya. “Saya pertama kali mendapat informasi pada hari Selasa (17/9) dari Ibu Nurhayati. Namun, saat itu masih belum ada kepastian. Sampai sekarang juga belum tahu alasannya,” katanya. (11)

Meski demikian, Saan menggangap rotasi terhadap dirinya adalah bagian dari resiko politik. Namun, dia mempertanyakan etika politik jika rotasi ini akibat dari keikutsertaannya di PPI. Sebab, PPI merupakan ormas dan banyak kader Partai Demokrat yang bergabung dalam sejumlah ormas. (12)

Namun, Anas Urbaningrum menegaskan, pencopotan Saan dan Gede Pasek dari jabatannya di DPR buka lantaran menghadiri deklarasi PPI, melainkan karena mereka telah lama diincar. (13)

“Saan dan Gede Pasek telah menjalankan tuganya dengan baik. Sebagi politisi, mereka hanya berharap hadirnya pengganti yang lebih bagus danlebih mampu. Kalau saya sendiri merasa senang karena digantikan oleh SBY yang lebih lebat dan lebih segalanya,” kata Anas yang kini telah menjadi tersangka kasus korupsi. (14)

Tabel 4.9

Karakteristik Surat Kabar

Tanggal Pemberitaan Kompas edisi : Kamis, 19 September 2013 Judul Pemberitaan Loyalis Anas Dicopot

Yudhoyono Mengetahui dan Menyetujui Rubrik Pemberitaan Politik dan Hukum

Sumber : Harian Kompas 2013

4.8.1 Exclusion (Proses Pengeluaran)

Strategi Wacana Eksklusi-Pasivasi

Teks ini mengetengahkan berita tentang pencopotan yang dialami oleh loyalis Anas dari jabatannya di fraksi dan alat kelengkapan Dewan Perwakilan Rakyat. Sejumlah alasan pencopotan ini dihadirkan didalam teks. Kubu SBY menyatakan bahwa pencopotan ini merupakan suatu hal yang lumrah terjadi di dalam partai sebagai bagian dari penyegaran dan penegakkan disiplin partai. Namun, kubu Anas mewacanakan pencopotan ini adalah karena kehadiran loyalis Anas dapat deklarasi PPI (Perhimpunan Pergerakan Indonesia) sebuah ormas yang didirikan oleh Anas Urbaningrum.

Strategi Eksklusi pasivasi ada pada teks bagian

“Sejumlah teman dekat mantan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum kembali dicopot dari jabatannya di fraksi dan alat kelengkapan Dewan Perwakilan Rakyat.” (1)

“Acara itu juga dihadiri sejumlah rekan Anas yang telah terlebih dahulu dicopot dari jabatannya di Partai Demokrat.” (3)

Pada bagian ini melalui penggunaan kalimat pasif teks melindungi dan tidak melibatkan aktor yang disebutkan mencopot sejumlah teman dekat Anas Urbaningrum, penghilangan ini membuat pembaca hanya fokus kepada korban

pencopotan yang dalam konteks teks ini adalah ‘teman dekat’ Anas Urbaningrum dan bukan kepada pelaku pencopotan. Sehingga pembaca menjadi tidak kritis dan membuat si “pelaku” bersembunyi karena tidak mendapat perhatian yang

memadai. Hal yang sama juga ada pada bagian teks kedua dimana sejumlah rekan Anas yang sebelumnya telah dicopot dari jabatannya di Partai Demokrat

menghadiri Deklarasi PPI, tidak disebukan siapa yang mencopot mereka, sehingga teks melindungi pelaku dan memarginalkan dengan mengeksploitasi korban.

Hal ini berbanding terbalik dengan korban yang mendapat fokus yang lebih sebagai konsekuensi penggunaan kalimat pasif yang tidak memerlukan subjek, sehingga korban menjadi pihak yang tereksploitasi dan menjadi bahan pemberitaan. Hal yang sama juga ada pada bagian teks

“akan ada sanksi bagi kader yang menghadiri deklarasi PPI. “kalau orang itu pimpinan fraksi atau pimpinan komisi, dampaknya pasti akan dirotasi karena ini menyangkut etika kader,” katanya. (4)

“Namun, Anas Urbaningrum menegaskan, pencopotan Saan dan Gede Pasek dari jabatannya di DPR bukan lantaran menghadiri deklarasi PPI, melainkan karena mereka telah lama diincar.” (13)

Disini pada bagian pertama teks melindungi pelaku atau aktor yang akan merotasi para kader yang menghadiri deklarasi PPI, melalui strategi pasivasi teks tidak menghadirkan dan melindungi pelaku atau aktor dan mengeksploitasi korban yakni kader Demokrat yang melalui pernyataan Max Sopacua ini diacam akan adanya sanksi bagi mereka menghadiri deklarasi PPI yang merupakan ormas bentukan Anas Urbaningrum mantan Ketua Umum Partai Demokrat.

Pada bagian yang keduan diisini melalui strategi pasivasi juga teks melindungi aktor atau pelaku karena tidak menampilkan aktor atau pelaku yang disebutkan mengincar Saan dan Gadek Pasek untuk dicopot dari jabatannya. Disini teks memaknai kubu Anas sebagai korban, hal ini mungkin dilakukan karena menampilkan diri sebagai korban juga sebagai bagian dari pemaknaan tertentu dalam dunia politik, sebagi contoh untuk mengambil hati masyarakat dengan menampilkan dirinya sebagai korban atau dzolimi secara politik, namun tetap saja teks ini memarjinalkan Anas dan kubunya karena menjadi objek pemaknaan dan eksploitasi dalam teks.

4.8.2 Inclusion (Proses Pemasukkan)

Strategi Wacana Difrensiasi-Indifrensiasi

Dalam teks yang mengangkat isu pencopotan yang dialami oleh loyalis Anas ini strategi Indifrensiasi ini muncul pada bagian

“Sejumlah teman dekat mantan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum kembali dicopot dari jabatannya di fraksi dan alat kelengkapan Dewan Perwakilan Rakyat. Langkah ini disebut sebagai bagian dari penyegaran dan penegakan disiplin Partai.” (1)

Preposisi yang pertama adalah mengenai dicopotnya sejumlah teman dekat Anas Urbaningrum dari jabatannya di fraksi dan alat kelengkapan Dewan Perwakilan Rakyat, preposisi yang kedua adalah penjelasan mengenai langkah yang diambil tersebut merupakan bagian dari penyegaran dan penegakan disiplin partai. Kehadiran preposisi yang kedua ini tentu menjadi lebih dominan dan lebih bagus daripada preposisi yang pertama, karena sifatnya yang memberi penjelasan bahwa preposisi yang pertama terjadi akibat preposisi yang kedua bahwa alasan

pencopotan itu adalah sebagai bagian dari langkah penyegaran dan penegakan disiplin partai.

Tentu hal ini secara logis teks ini dapat dibenarkan dan menjadi alasan yang cukup masuk akal karena menyertakan logika hubungan sebab-akibat. Teks ini melalui strategi difrensiasi menampilkan pandangan preposisi pertama sebagai yang tidak bagus dan preposisi kedua yang bagus dan dominan . Wacana yang muncul melalui strategi ini dalam teks adalah bahwa pihak pertama yakni teman dekat Anas Urbaningrum yang dicopot dari jabatan di fraksi dan alat kelengkapan DPR dimaknai sebagai kader yang kurang “segar” dan tidak disiplin dalam partai sehingga beroleh konsekuensi dari pihak kedua yang ditampilkan melalui

preposisi kedua yang perlu mengambil langkah sebagai bagian dari penyegaran dan penegakan disiplin partai. Terlihat pada akhirnya melalui wacana ini kubu Anas Urbaningrum dimarginalkan dan disudutkan.

Dalam teks kubu Anas yang dicopot posisinya coba menghubungkan pencopotan yang mereka alami sebagai akibat dari kehadiran mereka pada deklarasi PPI, Ormas yang didirikan oleh Anas Urbaningrum dan sikap mereka

yang pro Anas. Bahwa pencopotan tersebut merupakan langkah politis yang bertujuan untuk membersihkan kubu Anas dari Partai Demokrat. Namun, hal ini melalui strategi difrensiasi dibantah dalam teks dengan menghadirkan sebuah wacana yang sejalan dengan bagian sebelumnya yakni

“Bukan karena menghadiri deklarasi PPI. Kami juga sudah mempelajari rekam jejak mereka,” katanya. (4)

Untuk mematahkan preposisi yang pertama, teks menghadirkan preposisi yang kedua bahwa pencopotan teman dekat Anas tersebut terjadi bukan karena

kepentingan politis sama sekali namun berdasarkan penilaian rekam jejak mereka. Sehingga preposisi kedua disini dihadirkan lebih dominan dan lebih bagus

dibandingan preposisi yang pertama, karena berisi penjelasan bahwa seolah keputusan yang diambil dalam mencopot posisi Saan dan Gede Pasek bukanlah diambil melalui suatu tekanan politis atau berdasarkan kepentingan tertentu, namun lebih didasari kepada penilaian kinerja dan rekam jejak. Terlihat juga pada bagian ini sejalan dengan wacananya teks memarginalkan kubu Anas dengan ditampilkan melalui strategi indifensiasi sebagai aktor atau kelompok yang tidak disiplin, dan rekan jejaknya kurang baik sehingga perlu dicopot dari jabatannya di fraksi dan alat kelengkapan di DPR.

Wacana ini semakin diperkuat melalui kehadiran teks berikut

“Ketua Fraksi Partai Demokrat di DPR Nurhayati Ali Assegaf

menampik dugaan kebijakan itu terkait dengan kehadiran kader Partai Demokrat dalam deklarasi PPI. Sebab, rotasi juga dilakukan kepada sejumlah kader partai yang tidak menghadiri deklarasi PPI.” (9)

Preposisi yang pertama adalah mengenai wacana pencopotan kader Partai Demokrat adalah akibat dari kehadiran mereka dalam deklarasi PPI. Preposisi kedua adalah penjelasan mengenai alasan “rotasi” (bukan pencopotan) itu pun juga tejadi pada sejumlah kader partai yang tidak menghadiri deklarasi PPI, sehingga preposisi yang pertama dapat dibantah oleh preposisi yang kedua yang tampil lebih dominan. Teks memberikan penjelasan berdasarkan fakta bahwa langkah pencopotan ataupun rotasi itu bukan dan tidak berkorelasi dengan

kehadiran kader partai pada deklarasi PPI karena kader yang tidak hadir pun juga dicopot atau dirotasi, sehingga teks ini melalui wacananya memarginalkan kubu Anas .