Kesehatan Strategis
4.6. Audit Medis
Audit medik adalah satu terjemahan proses monitoring kualitas layanan di tingkat pemberi layanan. Pemberi layanan, terutama rumah sakit, diberikan mandat untuk melakukan tata kelola klinis (clinical governance) dalam upaya menjaga mutu dan profesionalisme. Dalam praktiknya, audit medik diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan No. 755/MENKES/IV/2011 (Kementerian Kesehatan RI, 2011).
Audit medik dilaksanakan oleh komite medik (seperti sub-komite audit medik) dan dibantu oleh tim audit (Ad-hoc) serta tim rekam medis.
Dalam melakukan audit medis, RS diberikan wewenang untuk membentuk komite medik yang bertanggung jawab dalam melaksanakan dua unsur utama, yakni mengatur kewenangan klinis serta kredensial. Tugas utama komite medik adalah mengawasi, membina, mengevaluasi serta meningkatkan mutu pelaksanaan pembuatan berkas rekam medik pasien, dengan koordinasi bersama perangkat RS.
Audit medis sebagai bagian dari penjaminan mutu merupakan pemeriksaan menyeluruh atas suatu keadaan atau kasus medis, termasuk kinerja klinis, prosedur administrasi dan manajerial, serta aspek keselamatan pasien atau pengguna layanan. Audit medik dilaksanakan oleh komite medik (seperti sub-komite audit medik) dan dibantu oleh tim audit (Ad-hoc) serta tim rekam medis. Audit medik mengikuti langkah-langkah yang identik dengan proses monitoring mutu sebagai berikut:
1. Memilih topik–merupakan proses penentuan prioritas yang mengedepankan kolaborasi antar-satuan tugas RS. Penentuan didasarkan rasionalitas yang tepat serta berorientasi untuk meningkatkan mutu pelayanan (tidak hanya sekadar menemukan masalah).
2. Menetapkan kriteria standar–merupakan proses terjemahan topik dalam definisi operasional yang dapat diawasi bersama, terutama dengan menetapkan metodologi dan indikator pengawasan.
3. Mengumpulkan data–didasarkan pada ketersediaan data yang sekiranya dapat memberikan objektivitas terkait dengan situasi yang menjadi prioritas
4. Analisis data dan implikasi perubahan–merupakan proses menerjemahkan data menjadi sebuah temuan objektif dan penyusunan langkah untuk mengatasi masalah dan dampaknya.
5. Re-audit–merupakan mekanisme evaluasi berkala sebagai bentuk pengawasan atas dampak perubahan terhadap mutu.
Audit medis merupakan salah satu instrumen dalam kendali mutu pelayanan kesehatan. Secara paralel, pada bab lainnya akan dibahas instrumen kendali utilisasi dan biaya. Keseluruhan instrumen ini diharapkan dapat mengimplikasikan tata kelola baik demi menghasilkan layanan kesehatan berkualitas demi luaran kesehatan terbaik.
Mutu layanan kesehatan merupakan salah satu komponen penting dalam Belanja Kesehatan Strategis (BKS). Sesuai dengan konsep, mutu terkoneksi dengan paket manfaat (aspek “apa” atau “what to buy”). Mutu layanan kesehatan sejatinya adalah proses terjemahan yang dimulai dari tatanan konsep hingga eksekusi di bidang tatanan layanan. Dalam hal ini, layanan kesehatan yang diberikan harus dapat ditentukan dan diukur secara baik sehingga dapat merespons kebutuhan bagi penerima manfaat, terutama dalam JKN.
Dengan
ekosistem yang baik, kualitas atau mutu layanan kesehatan dapat dijaga bersama.
Dalam prosesnya, pengukuran yang baik untuk capaian serta perkembangan layanan kesehatan harus dapat diterjemahkan–
mulai dari input, progress, hingga output. Selain menentukan ide yang tepat, diperlukan juga mekanisme yang dapat memastikan kualitas dapat berjalan dengan baik, lewat monitoring dan evaluasi indikator yang telah disepakati secara terus-menerus. Selain sistem yang standar, diperlukan badan mutu independen yang dapat mengawasi proses telaah kualitas yang transparan serta akuntabel.
Dengan ekosistem yang baik, kualitas atau mutu layanan kesehatan dapat dijaga bersama.
Daftar Pustaka
Agustina, R., Dartanto, T., Sitompul, R., Susiloretni, K. A., Achadi, E.
L., Thabrany, H., et al. (2019). Universal Health Coverage in Indonesia: Concept, Progress, and Challenges. The Lancet, 75-102.
BPJSK. (2017a). Bunga Rampai Tahun 2014-2016: Pembahasan Kasus Pelayanan Kesehatan oleh Dewan Pertimbangan Medik dan Tim Kendali Mutu dan Kendali Biaya. Jakarta.
BPJSK. (2017b). Surat Edaran Direktur Layanan BPJS Kesehatan No 14 Tahun 2017 Terkait Teknis Pelaksanaan Peer Review Diagnosa Non-Spesialistik (DNS) pada Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP).
DJSN. (2020). Policy Brief: Kelas Standar Rawat Inap JKN. Jakarta.
DJSN. Statistik Jaminan Kesehatan Nasional, 2014-2018. Jakarta.
Donabedian, A. (2002). An Introduction to Quality Assurance in Health Care. UK: Oxford University Press.
Eva, T. H, Hanevi, D. (2020). Evaluasi Kebijakan Mutu Layanan Kesehatan dalam Era JKN di Provinsi DKI Jakarta; Studi Kasus HT dengan DASK.
Figueras, J., & Saltman, R. B. (2011). Health Systems, Health, Wealth and Societal Well-Being: Assessing The Case For Investing in Health Systems: Assessing The Case for Investing in Health Systems. McGraw-Hill Education.
Gerteis, M., Edgman-Levitan, S., Daley, J., & Delbanco, T. L. (1997).
Through the Patient’s Eyes: Understanding and Promoting Patient-Centered Care. The Journal for Healthcare Quality (JHQ), 19(3), 43.
Institute of Medicine (2001). Crossing the Quality Chasm: A New Health System for the 21st Century. Washington, DC: The
Kementerian Kesehatan (2011). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 755/MENKES/PER/IV/2011 tentang Penyelenggaraan komite Medik di Rumah Sakit.
Kementerian Kesehatan (2013). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 71 Tahun 2013 tentang
Pelayanan kesehatan pada Jaminan Kesehatan Nasional.
Kementerian Kesehatan (2015). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 99 Tahun 2015 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 71 Tahun 2013 Tentang Pelayanan Kesehatan pada Jaminan Kesehatan Nasional.
KPTK. (2019). Evaluasi Ekonomi Kombinasi Rituksimab dan Kemoterapi untuk Pasien Limfoma Malignum non-Hodgkins (LNH) Tipe Diffuse Large B-Cell. Undisclosed report.
McCormack B., McCance T. Person-Centred Nursing: Theory and Practice. New Jersey: John Wiley & Sons.
PKEKK FKM UI & BPJS Kesehatan (2017). Kajian Peer Review terhadap Efektivitas dan Efisiensi Biaya Pelayanan Kesehatan di Kedeputian Wilayah IV. Undisclosed report.
PKEKK FKM UI & BPJS Kesehatan (2018). Pelayanan Berpotensi Moral Hazard. Undisclosed report.
World Bank (2020). Kajian Belanja Publik Indonesia: Belanja untuk Hasil yang Lebih Baik. Jakarta.
WHO. (2000). The World Health Report 2000 – Health Systems:
Improving Performance. WHO.
WHO, OECD, & World Bank (2018). Delivering Quality Health Services: A Global Imperative for Universal Health Coverage. Geneva.