• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengukuran Sistem Kesehatan

Dalam dokumen BELANJA KESEHATAN STRATEGIS (Halaman 109-112)

Kesehatan Strategis

4.1. Pengukuran Sistem Kesehatan

Mutu layanan dapat menyelaraskan akses yang dibuka dengan efektivitas dan efisiensi layanan dalam upaya mencapai luaran kesehatan. Perlu diingat bahwa pada konteks Belanja Kesehatan Strategis (Strategic Health Purchasing), mutu adalah perwujudan dari paket manfaat atau apa yang dibelanjakan (what to buy)–

dengan memberikan ”makna” dari layanan yang telah dibeli, terutama bagi pasien. Selain memberikan dampak luaran yang baik, mutu juga diukur dengan metode lainnya, termasuk kepuasan pasien, yang terus ditingkatkan selaras dengan pengembangan kepesertaan yang semakin luas.

Kualitas layanan kesehatan merupakan kunci penting dalam menunjang layanan yang tepat sasaran untuk mencapai luaran kesehatan yang diinginkan. Dalam era pelayanan kesehatan kini, Fakta menunjukkan bahwa tingkat pelayanan meningkat dan akses kesehatan semakin terbuka dengan bantuan JKN (Agustina, 2019). Buku Statistik JKN 2014-2018, mengatakan bahwa terdapat kenaikan jumlah rawat jalan sebesar 1,3 kali lipat (130%) pada peserta kelas III, sedangkan pada rawat inap sebesar 40,3% (Dewan Jaminan Sosial Nasional, 2020). Peningkatan permintaan terhadap layanan kesehatan terjadi karena keterbukaan akses dalam mencapai UHC, peningkatan dan penyetaraan kualitas kesehatan menjadi hal penting atau imperatif.

Kualitas layanan kesehatan

merupakan kunci penting dalam menunjang layanan yang tepat sasaran untuk mencapai luaran kesehatan yang diinginkan.

How to buy merupakan komponen pola pembayaran dan tarif yang berkaitan erat dengan (kendali) biaya.

Namun dengan akses yang semakin terbuka, masih terdapat ruang perbaikan dalam JKN, terutama dalam mengendalikan biaya serta mutu layanan kesehatan. Pada 2018 setidaknya terdapat 20 diagnosis yang menyumbangkan sebanyak 70-80% kasus rujukan, yang disebabkan oleh aspek kewenangan medis. Hal ini menandakan bahwa penting untuk mengendalikan rujukan yang menjadi wewenang medis dan menjadikannya indikator penting dalam layanan (PKEKK FKM UI & BPJS Kesehatan, 2017). Di samping tingginya angka rujukan, terutama pada diagnosis tertentu, inefisiensi terjadi karena tingginya beban biaya pada layanan seperti Sectio Caesarea. Hal ini menyumbangkan 57% kasus persalinan di rumah sakit. Salah satunya dengan tingkat keparahan ringan dan lebih tinggi dibandingkan penggunaan persalinan normal.

Keterkaitan antara mutu dan biaya menjadi penting, terutama dengan keterbatasan sumber daya (resource constraint) pada layanan kesehatan.

Fungsi BKS, mutu, dan biaya memiliki keterkaitan erat. Seperti dijelaskan sebelumnya, BKS memiliki komponen what to buy yang menjelaskan paket manfaat yang dijamin, termasuk standar kualitas sebagai indikator dalam mengawasi capaian mutu layanan.

Selain itu, komponen from whom to buy memberikan ide terkait kontrak yang secara prinsip juga digunakan dalam kendali mutu.

How to buy merupakan komponen pola pembayaran dan tarif yang berkaitan erat dengan (kendali) biaya.

Sistem kesehatan sejatinya merupakan kumpulan dari entitas yang memiliki peran dalam mengupayakan serta menjaga kesehatan populasi yang ditanggungnya. Dalam praktiknya sistem kesehatan akan berusaha untuk mencapai tujuan pembentukannya, antara lain (WHO, 2000):

1. Meningkatkan status kesehatan populasi secara keseluruhan.

2. Meningkatkan akses dan cepat tanggapnya sistem dalam menanggapi keluhan serta permintaan pasien.

3. Meningkatkan taraf keadilan dalam kontribusi finansial serta mencegah pengeluaran kesehatan katastrofik.

Dalam mencapai tujuan tersebut, tentunya capaian sistem kesehatan harus dapat diawasi secara saksama, terutama dengan mempertimbangkan sumber daya yang tersedia serta proses dalam mencapai tujuan sistem kesehatan. Untuk itu, terdapat komponen-komponen dalam layanan dan sistem kesehatan yang harus dipenuhi untuk mengetahui ”performa” layanan kesehatan secara utuh. Dalam praktiknya, tema ini harus diterjemahkan menjadi indikator yang dapat diukur dan sensitif waktu.

Tabel 4.2. Indikator Proses dan Luaran dalam Mutu Pelayanan Pada Tabel 4.1. terdapat tema besar yang menjadi indikator ”performa”

sistem kesehatan. Mutu layanan kesehatan pada hakikatnya harus diukur dengan indikator objektif dengan tujuan berikut.

1. Memastikan layanan sudah diberikan sesuai dengan praktik terbaik dan dilaksanakan dengan metode yang tepat.

2. Memastikan layanan yang diberikan sudah berorientasi pada perbaikan luaran kesehatan.

Dalam mengawasi pencapaian mutu, indikator harus disusun sensitif terhadap waktu. Melihat luaran kesehatan, misalnya, merupakan tantangan tersendiri karena luaran atau outcome kesehatan secara realistis sulit diukur waktu. Namun, proses mencapai luaran kesehatan dapat diturunkan dari indikator proses atau aksi yang mensinyalir tercapainya tujuan akhir (signal for success). Hal ini disebut sebagai indikator proses yang bertujuan sebagai substitusi dalam mengawasi jalannya layanan berkualitas.

Area Pengukuran Keterangan Contoh Indikator Luaran kesehatan Pengukuran status kesehatan

individu atau relatif keseluruhan populasi atau antara grup.

Angka kematian ibu (per 1.000 kelahiran hidup).

Angka kematian bayi (per 1.000 kelahiran hidup).

Kualitas klinis dan kesesuaian layanan

Pengukuran terkait layanan yang diberikan untuk

menghasilkan luaran tertentu (menilai apakah best practice sudah dijalankan).

Indikator kredensialing:

jumlah surat izin praktik dokter.

Responsivitas/

ketanggapan sistem kesehatan

Pengukuran bagaimana dan lingkungan di mana individu dilayani dalam konteks interaksi sistem kesehatan.

Kepuasan dan pengalaman pasien (dalam layanan).

Ekuitas Pengukuran kesetaraan dalam sistem kesehatan, baik dalam segi akses, pembiayaan, maupun

Tabel 4.1. Aspek Pengukuran Performa Sistem Kesehatan

WHO. (2000). The World Health Report 2000–

Health Systems: Improving Performance. World Health Organization

WHO. (2000). The World Health Report 2000–Health Systems: Improving Performance. World Health Organization.

Indikator Keuntungan Kerugian Contoh

Luaran (outcome)

2. Berorientasi pada strategi jangka panjang (misalnya promosi kesehatan).

1. Sulit diukur.

2. Sulit diinterpretasi.

3. Mengonsumsi banyak waktu.

1. Angka kesembuhan.

2. Angka infeksi nosokomial.

3. Angka infeksi akibat kateter vena sentral.

Proses bertujuan mengukur kualitas layanan

1. Mudah diukur tanpa bias tertentu, lebih mudah diinterprestasi.

2. Pengukuran tidak membutuhkan waktu yang lama.

1. Sangat spesifik (pada beberapa kasus).

2. Nilai manfaat kecil (kecuali jika memang sangat berkorelasi pada luaran).

Lama waktu tunggu layanan.

Gambar 4.1. Total Biaya Kesehatan Peserta BPJS Kesehatan,

2014-2019

Diolah dari Data Klaim BPJS Kesehatan 2014-2018.

Dalam dokumen BELANJA KESEHATAN STRATEGIS (Halaman 109-112)