• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kapitasi Berbasis Kinerja (KBK)

Dalam dokumen BELANJA KESEHATAN STRATEGIS (Halaman 92-97)

Metode Pembayaran Penyedia Layanan

3.3. Pembayaran Prospektif

3.3.1.3. Kapitasi Berbasis Kinerja (KBK)

KBK diperkenalkan di Indonesia dan dikembangkan dengan tujuan untuk mengimplementasikan pembayaran kapitasi berbasis kinerja seperti halnya prinsip pay-for-performance (P4P) yang telah di implementasikan di sejumlah negara. KBK diawali melalui tahap uji coba pada 2014 di dua provinsi, lalu diperluas ke-7 provinsi di 2015, dan sejak 2016 KBK dikembangkan di seluruh puskesmas ibukota provinsi (33 ibukota provinsi) di Indonesia. Sasaran KBK menilai tiga indikator untuk membentuk adjusment rate kapitasi pada program JKN, yaitu angka kontak, angka rujukan non-spesialistik, dan rasio prolanis. Jika nilai KBK FKTP penuh yang berarti semua indikator mencapai target, FKTP akan menerima 100% dana kapitasi. Namun, jika ada indikator yang tidak memenuhi target berdasarkan ketentuan skoring angka KBK terbaru menurut peraturan BPJS

Kesehatan 2019 (BPJS Kesehatan, 2019) (Tabel 3.5. dan Tabel 3.6.), FKTP akan mendapatkan punishment untuk tidak memperoleh besaran kapitasi secara penuh. Sayangnya, belum ada mekanisme reward dan punishment pada implementasi pembayaran menggunakan KBK pada FKTP hingga saat ini (BPJS Kesehatan. 2017).

No

Indikator

KBK Bobot Target Kriteria Skor Skor

Rating Deskripsi KBK Cashin C., O’Dougherty S. (2010). Designing and Implementing Health Care Provider Payment Systems How-To Manuals: This Document is an Overview of The Book for The Web (English). Washington D.C.:

World Bank.

BPJS Kesehatan.

Peraturan Bersama Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dan Direktur utama Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan No HK.01.08/III/980/2017 Tahun 2017 Nomor 2 Tahun 2017.

In: BPJS kesehatan dan Kementerian Kesehatan, ed., 2017.

Skor KBK % Pembayaran Kapitasi

Puskesmas KLINIK/RS D Pratama

4 100% 100%

3-<4 95% 97%

2-<3 90% 96%

1-<2 85% 95%

Pembayaran borongan menggunakan kapitasi memiliki implikasi negatif, seperti kecenderungan dokter untuk mengurangi pelayanan dan merujuk pasien ke faskes lain, terutama pada kasus yang dianggap mahal dalam penanganannya. Kebijakan KBK dievaluasi untuk melihat apakah ada efek intervensi KBK dalam penurunan insentif negatif kapitasi.

Perhitungan dampak KBK pada indikator output adalah angka kontak, angka kunjungan, dan angka rujukan yang dievaluasi untuk melihat kinerja puskesmas sebelum dan sesudah implementasi kebijakan KBK. Intervensi KBK untuk meningkatkan kinerja puskesmas terbukti dari performa puskesmas KBK yang lebih unggul dibandingkan dengan puskesmas non-KBK. Efek dari KBK ini terlihat pada perbaikan akses peserta di FKTP, yaitu FKTP dengan KBK memiliki angka kontak dan angka kunjungan peserta yang lebih tinggi dibandingkan puskesmas non-KBK (Hidayat B., et.al.,

Kotak 3.1. Studi Kasus Dampak Penerapan KBK

Hidayat B., Cahyadi N., Andalan A., et al. (2017). Evaluasi Sistem Pembayaran FKTP Era JKN: Dampak KBK Terhadap Kinerja Puskesmas dan Efisiensi. (Edisi 05 Bulan September 2017).

2017). Namun, efektivitas KBK belum berhasil meredam tingginya angka rujukan FKTP ke FKRTL. FKTP dengan pembayaran KBK memang memiliki rerata angka rujukan lebih rendah, tetapi tidak bermakna secara statistik (Hidayat B., et.al., 2017).

FKTP minimal harus menerima pembayaran yang cukup dan mendapatkan jumlah peserta terdaftar sesuai standar rasio dokter untuk dapat mewujudkan KBK. Hal ini akan menyelesaikan permasalahan utama bahwa FKTP tidak akan merugi. Perlu kepastian terkait jumlah minimal peserta terdaftar di FKTP agar FKTP tidak merugi. Hal ini terutama berlaku untuk FKTP swasta yang tidak mendapatkan bantuan pendanaan dari pemerintah. Isu terkait redistribusi peserta JKN dari FKTP menjadi penting untuk diselesaikan. Saat ini, peserta hanya mendapatkan imbauan untuk tidak memilih FKTP yang jumlah peserta JKN-nya membludak atau rasio dokter dan pesertanya sudah lebih dari 1:5000. BPJS Kesehatan tidak memiliki peran strategis untuk mendistribusikan peserta di FKTP. Hal ini karena peserta program JKN memang memiliki hak sepenuhnya untuk menentukan FKTP demi tercapainya kondisi persaingan kualitas antar-FKTP.

Sejak 2017, pembayaran menggunakan KBK diimplementasikan di seluruh FKTP yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan. Namun, masih banyak ruang yang bisa diperbaiki pada pembayaran KBK.

Peran BPJS Kesehatan sebagai active purchaser yang memiliki daya beli ke FKTP sepatutnya dapat lebih dioptimalkan. BPJS Kesehatan dapat menentukan negosiasi tarif ke FKTP yang akan dikontrak. Negosiasi penentuan tarif dapat dioptimalkan dengan pendataan baik dari sisi input, yaitu fasilitas dan SDM kesehatan

di FKTP, maupun indikator output, yaitu pelayanan dan kualitas pelayanan. Data input saat ini sudah dievaluasi melalui kegiatan kredentialink dan re-kredentialink. Kelengkapan indikator input ini menjadi dasar penentuan apakah FKTP dapat bekerja sama dengan BPJS Kesehatan atau tidak. BPJS Kesehatan sepatutnya juga dapat menggunakan indikator input sebagai dasar penentuan tarif FKTP yang dapat meningkatkan insentif FKTP untuk menyediakan pelayanan dengan kualitas yang baik. Penentuan tarif juga dapat mempertimbangkan kondisi demografis peserta dan pola penyakit terutama prevalensi penyakit kronis pada peserta JKN di FKTP sebagai koefisien penentu yang nantinya akan menentukan besaran nilai total kapitasi.

Pembayaran dengan BKS juga harus mendukung upaya agar pelayanan tidak hanya efisien dan bermutu, tetapi juga memastikan keadilan dalam pembayaran (Preker & Langenbrunner, 2005).

Keadilan yang dimaksud bisa dalam ranah keadilan geografis, dan juga keadilan pada level populasi, seperti halnya kelas sosioekonomi pengguna layanan kesehatan. Contohnya insentif penyedia layanan kesehatan yang menyediakan layanan kesehatan pada daerah terpencil atau insentif tambahan yang diberikan pada faskes yang menyediakan kelas rawat (proporsi minimal) untuk kelas rawat standar atau kelas rawat untuk kelas 3 peserta PBI.

Kebijakan kapitasi BPJS Kesehatan juga sudah mulai menyasar penyedia layanan kesehatan di daerah terpencil dengan metode kapitasi khusus yang mengacu pada Permenkes No. 52 Tahun 2016.

Kapitasi Khusus adalah dana kapitasi yang diperuntukkan bagi daerah terpencil dan kepulauan. Hasil studi kasus pemanfaatan dana kapitasi khusus di Kabupaten Nias Utara menunjukkan bahwa dana tersebut dimanfaatkan sesuai peraturan yang ada, tetapi presentasi pamanfaatan dana kapitasi belum sesuai peraturan (Pasaribu, 2019). Temuan utama menunjukkan bahwa pemahaman petugas di pelayanan kesehatan yang belum baik menjadi kendala utama dalam pemanfaatan dana kapitasi khusus. Selain itu, hasil studi evaluasi kapitasi khusus (Pusat KPMAK & PKMK FKKMK UGM, 2018) menunjukkan tidak terdapat pengaruh implementasi kebijakan kapitasi khusus dalam meningkatkan kinerja FKTP, terutama pada utilitas kunjungan peserta JKN di FKTP (Kotak 3.3).

Kotak 3.3. Studi Kasus Efektivitas Sistem Pembayaran dengan Kapitasi Khusus

Pusat KPMAK dan PKMK FKKMK UGM. (2018). Kajian Efektivitas Sistem Pembayaran dengan Kapitasi Khusus di Faskes Daerah Terpencil dan Kepulauan: Pusat KPMAK dan PKMK FKKMK Universitas Gadjah Mada.

Kotak 3.2. Studi Kasus Evaluasi Pemanfaatan Kapitasi Khusus di Kab. Nias Utara

Pasaribu K.F., Hendrartini J., Hafidz F. (2019). Analisis Pemanfaatan Dana Kapitasi Khusus di Kabupaten Nias Utara. Jurnal Kebijakan Kesehatan Indonesia: JKKI 2019;8(3):121-26.

Salah satu contoh pembayaran dengan per diem adalah pada pembayaran klaim rawat inap di FKTP pada program JKN yang dibayar melalui mekanisme non-kapitasi.

Dalam dokumen BELANJA KESEHATAN STRATEGIS (Halaman 92-97)