• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mutu Pelayanan Kesehatan

Dalam dokumen BELANJA KESEHATAN STRATEGIS (Halaman 115-120)

Kesehatan Strategis

4.3. Mutu Pelayanan Kesehatan

Konsep mutu pelayanan awalnya ditelurkan oleh Institute of Medicine, pada 2001 yang mendefinisikannya sebagai derajat atau tingkatan layanan kesehatan untuk individu dan populasi dalam upaya peningkatan luaran kesehatan yang sesuai dengan pengetahuan profesional (Institute of Medicine, 2001). Di Indonesia mutu kesehatan didefinisikan secara beragam. Peraturan Menteri Kesehatan 69 Tahun 2014 mendefinsikan pelayanan kesehatan bermutu sebagai hal yang dilaksanakan dengan standar pelayanan rumah sakit sebagai bagian dari tata kelola klinis yang baik. Praktik ini diterjemahkan dalam Peraturan Menteri Kesehatan (PMK) No. 44 Tahun 2016, yang mendefinisikan mutu sebagai upaya memberikan rasa puas sebagai pernyataan subjektif pelanggan dan menghasilkan luaran sebagai bukti objektif dari mutu layanan yang diterima pelanggan,−menandakan pentingnya mutu berorientasi pada luaran kesehatan dan kepuasan pasien.

Kualitas layanan merupakan langkah penting dalam mencapai Universal Health Coverage. Untuk menjamin layanan dapat diakses secara luas dan setara (ekuitabel), layanan kesehatan harus bersifat efektif, aman, dan dapat mengakomodasi kebutuhan kesehatan komunitas yang dilayaninya. Terdapat komponen untuk membangun definisi kualitas kesehatan dalam menjamin kualitas layanan,. WHO Kategori mutu dalam suatu spektrum terdiri dari:

aman, efektif, terpusat pada orang, tepat waktu, efisien, ekuitabel, dan terintegrasi (WHO, OECD, & World Bank, 2018). Kualitas sejatinya

Tabel 4.3. Efektivitas Klinis Obat Kanker RCHOP-CHOP

KPTK. (2019). Evaluasi Ekonomi Kombinasi Rituksimab dan Kemoterapi untuk Pasien Limfoma Malignum Non-Hodgkins (LNH) tipe Diffuse Large B-Cell. Undisclosed report.

merupakan produk antara sains teknologi dalam kesehatan dan aplikasi dari ilmu tersebut dalam praktik sehari-hari (Donabedian, 2002).

Komponen esensial pada kualitas yang akan dibahas adalah efikasi, efektivitas, efisiensi, optimalitas, akseptabilitas, legitimasi, dan ekuitas.

4.3.1. Efikasi dan Efektivitas

Efikasi menandai kemampuan sains teknologi kesehatan untuk meningkatkan derajat kesehatan. Efikasi dapat mengubah suatu kondisi menjadi lebih baik, terutama kondisi yang mendukung.

Sains dan teknologi kesehatan melahirkan produk yang membawa tidak hanya efikasi, tetapi komponen kualitas lainnya.

Sementara itu, efektivitas mengacu pada pencapaian tujuan kesehatan sebagaimana mestinya. Hal ini didasarkan pada performa layanan kesehatan di lapangan sesuai dengan harapan, baik pemberi layanan maupun pasien. Di sisi lain, efektivitas kesehatan mengacu pada pemberian layanan yang berbasis fakta atau eviden (evidence-based care). Oleh karena itu, efektivitas dalam praktik layanan menjadi penting dalam menentukan kualitas layanan kesehatan.

Efektivitas Relatif = Peningkatan kesehatan dari sebuah layanan Peningkatan kesehatan dari layanan standar Dalam menentukan efektivitas, suatu intervensi harus memiliki pembanding yang berupa layanan standar (standard of care), membuatnya menjadi konsep yang relatif dengan memperhatikan berbagai asumsi. Asumsi pertama adalah ketika membandingkan intervensi dalam komponen layanan kesehatan harus memperhatikan metode pengukuran yang digunakan. Selain itu, dalam mengukur efektivitas terdapat banyak probabilitas yang diukur yang tidak merefleksikan kepastian di lapangan.

Konsep efektivitas tersebut telah menjadi standar dalam kajian, terutama dalam meneliti luaran yang dapat dicapai dalam pemberian obat baru dalam konsep evaluasi ekonomi.

Tabel 4.3. membandingkan dua intervensi secara klinis dalam penyakit Limfoma Malingnum Non-Hodgkins, yakni kombinasi obat Rituximab + Cyclophosphamid, Doxorubicin, Vincristin, dan Prednison (R+CHOP), dengan kombinasi Cyclophosphamid, Doxorubicin, Vincristin, dan Prednison (CHOP). Hal tersebut dilakukan untuk melihat indikator berupa probabilitas kesintasan (probability of survival). Intervensi RCHOP selama dua tahun memperlihatkan probabilitas kesintasan tanpa adanya kejadian sebesar 57% (50-64%), sedangkan CHOP sebesar 38% (32-45%)1. Untuk kesintasan keseluruhan selama dua tahun, angka RCHOP adalah sebesar 70%

(63-77%) dan CHOP sebesar 57%. Ini menandakan bahwa secara klinis RCHOP lebih efektif dibandingkan dengan CHOP.

Konsep efektivitas tersebut telah menjadi standar dalam kajian, terutama dalam meneliti luaran yang dapat dicapai dalam pemberian obat baru dalam konsep evaluasi ekonomi. Di Indonesia evaluasi ekonomi dijadikan standar, baik secara nasional (makro) maupun dari pemberi layanan atau rumah sakit (mikro) dalam memberikan informasi layanan terbaik. Kajian evaluasi ekonomi tersebut layaknya digunakan oleh pembayar (BPJSK) sebagai acuan lingkup pelayanan tertentu, seperti obat yang masuk ke paket manfaat JKN.

4.3.2. Efisiensi

Efisiensi ditandai dengan kemampuan untuk melakukan penghematan biaya tanpa mengurangi kemampuan menghasilkan luaran kesehatan terbaik. Efisiensi secara gamblang diartikan sebagai peningkatan derajat kesehatan yang dapat dicapai dengan biaya lebih rendah. Dalam ekuasi juga dapat diekspresikan sebagai:

Efisiensi = Peningkatan kesehatan dari layanan Biaya layanan

Efisiensi merupakan salah satu capaian utama sistem kesehatan.

Dalam pembiayaan kesehatan, hal ini juga dapat diartikan sebagai upaya mencapai mutu tertentu dengan menekan biaya seminimal mungkin. Secara institusi hal ini juga diartikan sebagai ”kendali mutu kendali biaya”.

Dalam menilai efisiensi kinerja acap kali dideteksi bahwa akar permasalahan terletak pada tata kelola. JKN misalnya mengalami

”besar pasak daripada tiang”. Indikator rasio klaim selalu berada di atas 100% (World Bank, 2020). Klaim rasio sendiri merupakan pembagian antara total klaim yang dikeluarkan dean jumlah premi atau iuran yang dikumpulkan, melebihi angka 1 atau 100%.

1 Statistically significant

Dalam penyusunan kelas standar, ekuitas dan pengarusutamaan keselamatan pasien menjadi hal utama, selain tentunya amenitas selama perawatan inap.

Dalam menjamin efisiensi, BPJS Kesehatan sebagai pembayar telah menerjemahkan efisiensi dalam sistem pembayaran, terutama pada FKTP. Dalam sistem pembayaran Kapitasi Berbasis Komitmen (KBK) telah dijabarkan tiga indikator utama, yakni angka kontak, angka rujukan nonspesialistik, serta rasio prolanis. Capaian indikator pada ketiga angka akan memengaruhi bayaran kapitasi. Jika capaian sebesar 100%, hak tersebut akan berimbas pada kapitasi penuh.

4.3.3. Optimalitas

Optimalitas merupakan indikator untuk melihat ”perbaikan”

kesehatan dengan biaya yang telah dikeluarkan berdasarkan capaian tersebut. Secara tersirat optimalitas dapat melihat hubungan ”optimal” atau yang terbaik antara biaya dan manfaat;.

pada suatu titik dengan manfaat lebih yang bisa didapatkan dengan harga yang lebih rendah daripada manfaatnya. Hubungan kedua indikator tersebut dapat dibandingkan secara langsung dengan unit pengukuran, seperti Rupiah dan kualitas hidup, menghasilkan hitungan “Rupiah per peningkatan kualitas hidup.”

4.3.4. Akseptabilitas

Akseptabilitas mengacu pada keberhasilan untuk mengikuti keinginan serta ekspektasi pengguna. Donabedian (2002) membagi definisi akseptabilitas pada beberapa domain inti sebagai berikut.

1. Aksesibilitas, ditandai dengan metode yang memudahkan seseorang mendapatkan layanan kesehatan; tergantung pada banyak faktor, yakni eksternal (jarak, sumber, ketersediaan layanan), internal (kultur), hingga ekonomi (kepemilikan asuransi).

2. Amenitas layanan, ditandai dengan aspek yang ”diinginkan”

dalam kondisi di mana layanan diberikan. Properti yang termasuk dalamnya adalah kenyamanan, privasi, kelayakan tempat untuk istirahat, makanan yang enak, dan sebagainya.

Di Indonesia, amenitas yang didasarkan untuk pemenuhan standar kualitas akan ditempuh dengan menerbitkan kebijakan Kelas Rawat Inap (KRI) standar. Hal ini didasarkan pada Undang Undang No. 40 Tahun 2004 Pasal 23 Ayat 4 terkait dengan kelas standar pelayanan rawat inap di rumah sakit. Hal ini juga tertuang dalam Perpres No. 64 Tahun 2020 yang menyatakan bahwa KRI akan disusun selambat-lambatnya pada akhir 2020 dan dilakukan secara bertahap hingga 2022. Dalam penyusunan kelas standar, ekuitas dan pengarusutamaan keselamatan pasien menjadi hal utama, selain tentunya amenitas selama perawatan inap.

4.3.5. Preferensi pada Masyarakat

Adapun kriteria akseptabilitas, seperti akses dan amenitas, sangat bergantung pada preferensi pasien. Preferensi pasien merupakan

BPJS Kesehatan Center telah disempurnakan menjadi Saluran Informasi

Penangan Pengaduan (SIPP).

tolak ukur penting, yang seiring dengan perjalanan pengembangan layanan kesehatan, meredefinisi kualitas layanan itu sendiri. Kualitas layanan kesehatan dapat bergantung sepenuhnya pada pasien, dalam konsep pelayanan yang berpusat pada pasien (Patient-Centered Care/PCC).” Pelayanan tersebut merupakan praktik yang didasarkan untuk membina hubungan terapeutik antara pasien dan pemberi layanan. Hal ini didasarkan pada nilai, seperti hormat sesama manusia, individual, dan saling pengertian (McCormack

& McCance, 2011). Picker Institute lewat riset awal mereka mendefinisikan pelayanan berpusat pada pasien ke dalam tujuh karateristik, antara lain menghormati nilai serta preferensi pasien, koordinasi dan pelayanan yang terintegrasi, informasi serta edukasi, kenyamanan fisik, dukungan emosional, keterlibatan keluarga dan teman, serta transisi dan keberlanjutan layanan (Gerteis, et.al., 1997).

Dalam praktik di Indonesia, hal ini sudah dicapai JKN lewat BPJS Kesehatan dengan dua terobosan, yakni BPJS Kesehatan Center dan sistem yang terintegrasi. BPJS Kesehatan Center telah disempurnakan menjadi Saluran Informasi Penangan Pengaduan (SIPP). Tujuannya adalah untuk mengakomodasi pemberian informasi serta menangani adanya pengaduan rumah sakit.

Sistem juga terintegrasi dengan sistem Informasi Teknologi (IT).

Penggunaan sistem serta unit pengaduan rumah sakit dari tingkat layanan diharapkan berguna untuk kepuasan pengguna JKN, baik penerima manfaat maupun pemberi layanan dapat maksimal.

4.3.6. Ekuitas

Ekuitas didefinisikan sebagai prinsip yang menentukan distribusi dan manfaat yang merata bagi penerima layanan kesehatan atau populasi yang menjadi resipien. Dengan asumsi komponen lainnya sudah dicapai, ekuitas menjamin luaran berupa penerimaan layanan oleh semua pihak tanpa pembedaan. Dalam praktiknya ekuitas dicapai dengan memberikan layanan yang sama tanpa membedakan usia, penyakit bawaan, pemasukan/gaji, serta indikator lainnya. Namun, kita tidak bisa memungkiri bahwa terdapat preferensi masing-masing, baik pemberi maupun penerima layanan yang ikut menentukan kualitas. Terlebih, ekuitas sulit dicapai apabila layanan memberikan penanganan lebih pada subpopulasi tertentu, walaupun perlakuan tersebut diberikan berdasarkan kebutuhan. Adapun pengawasan implementasi mutu layanan kesehatan dilakukan secara berkala dengan dengan menerapkan indikator-indikator kunci..

Dalam dokumen BELANJA KESEHATAN STRATEGIS (Halaman 115-120)