• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAGIAN KEDUA

Dalam dokumen Guru Padmasambhava. iii (Halaman 195-200)

PENDAHULUAN KHUSUS

ATAU PENDAHULUAN BAGIAN DALAM

Bab 1 Mengambil Perlindungan

BAB 2 Membangkitkan bodhicitta

Bab 3 Meditasi dan Melafal pada Vajrasattva

Bab 4 Mengumpulkan Pahala dan Kebijaksanaan

Bab 5 Guru Yoga

190

191

BAB 1

MENGAMBIL PERLINDUNGAN

Dengan tempat berlindung bagian luar, Anda menjunjung Tri Ratna;

Dengan tempat berlindung bagian dalam, Anda sudah sepenuhnya menyadari Tiga Akar;

Dengan tempat berlindung Mantrayana, Anda telah membuktikan ketiga kaya;

Guru yang tiada bandingan, pada kakimu saya bersujud.

Berlindung, batu fondasi bagi semua jalur, diterangkan dalam tiga topik: jalan masuk mengambil perlindungan, bagaimana cara berlindung, serta aturan dan manfaat berlindung.

I. JALAN MASUK MENGAMBIL PERLINDUNGAN 1. Keyakinan

Sama halnya kalau berlindung merupakan pintu gerbang bagi semua ajaran dan latihan, maka keyakinan merupakan pintu gerbang berlindung.

Sebagai langkah pertama dalam berlindung, adalah penting untuk me-ngembangkan suatu keyakinan yang mantap dan berkelanjutan. Keyakin-an sendiri terdiri dari tiga jenis: keyakinKeyakin-an yKeyakin-ang spontKeyakin-an, keyakinKeyakin-an yKeyakin-ang penuh pengharapan dan keyakinan yang dalam.

1.1 Keyakinan yang spontan

192

Keyakinan yang spontan adalah keyakinan yang diilhami oleh pikiran tentang belas kasih yang tak terhingga dari Buddha dan para guru yang besar. Kita mungkin mengalami keyakinan semacam ini pada waktu mengunjungi suatu vihara yang berisi banyak lambang tubuh, ucapan dan pikiran Buddha, atau setelah suatu pertemuan dengan seorang guru spiritual agung atau sahabat rohani yang baru saja kita jumpai secara pribadi, atau yang kualitas atau cerita tentang kehidupannya yang pernah kita dengar itu diuraikan.

1.2 Keyakinan yang penuh pengharapan

Keyakinan yang penuh pengharapan adalah hasrat kita untuk bebas dari penderitaan alam rendah ketika kita mendengar hal tersebut diuraikan; hasrat kita untuk menikmati kebahagiaan di alam yang lebih tinggi, dan tentang pembebasan ketika kita mendengar seperti apa hal tersebut adanya; hasrat kita untuk terlibat dalam perbuatan positif ketika kita mendengar manfaat yang mereka bawa; dan hasrat kita untuk meng-hindari perbuatan negatif ketika kita memahami kerugian yang disebabkan oleh mereka.

1.3 Keyakinan yang dalam

Keyakinan yang dalam adalah keyakinan pada Tri Ratna yang timbul dari dalam lubuk hati kita begitu kita memahami kualitas luar biasa dan kekuatan berkah mereka. Ini merupakan kepercayaan penuh hanya terhadap Tri Ratna, yang berasal dari pengetahuan bahwa mereka adalah satu-satunya perlindungan yang dapat dipercaya, yang selamanya dan dalam segala keadaan, apakah kita bahagia, sedih, kesakitan, menderita penyakit, hidup ataupun mati. Yang Dipertuan Yang Mulia dari Uddiyana berkata:

Keyakinan dari kepercayaan yang dalam memungkinkan berkah dapat masuk ke dalam diri anda;

Ketika pikiran anda bebas dari keraguan, apa pun juga yang anda harapan dapat tercapai.

Oleh sebab itu, keyakinan adalah ibarat benih di mana segala hal positif dapat tumbuh. Tanpa keyakinan, benih tersebut seolah-olah telah hangus. Sutra mengatakan:

Pada mereka yang kurang percaya, Tidak ada hal positif yang akan tumbuh;

Sama halnya dengan benih yang hangus,

193

Tunas hijau tak akan pernah muncul.

Dari ketujuh jenis harta mulia,141 keyakinan adalah yang paling utama.

Dikatakan bahwa:

Roda keyakinan yang mulia

Menggelinding siang malam sepanjang jalan kebajikan.

Keyakinan adalah kekayaan kita yang paling berharga. Ia seperti harta karun yang membawa bekal kebajikan yang tak kunjung habis. Ia seperti sepasang kaki yang menuntun kita di sepanjang jalur pembebasan, dan seperti sepasang lengan yang mengumpulkan segala hal positif untuk kita.

Keyakinan adalah kekayaan dan harta karun yang terbesar, kaki yang paling baik;

Bagaikan lengan, ia adalah dasar untuk mengumpulkan semua kebajikan.

Besarnya belas kasih dan berkah dari Sang Tri Ratna tidak dapat dibayangkan, namun kemampuan mereka untuk menjangkau kita sepenuhnya tergantung pada keyakinan dan rasa bakti kita. Jika anda memiliki keyakinan dan rasa bakti yang besar, maka belas kasih dan berkah yang anda terima dari guru anda dan Sang Tri Ratna akan besar juga. Jika keyakinan dan rasa bakti anda setengah-setengah, belas kasih dan berkah yang menjangkau anda juga hanya setengah-setengah, dan jika anda hanya mempunyai keyakinan dan rasa bakti yang kecil, hanya berkah dan belas kasih yang sedikit akan menjangkau anda. Jika anda tidak punya keyakinan dan rasa bakti sama sekali, sungguh tidak ada apa pun yang akan anda peroleh. Tanpa keyakinan, bahkan bertemu dengan Buddha sendiri dan diterima sebagai muridnya pun akan sia-sia, sama halnya dengan bhiksu Sunaksatra, yang ceritanya telah diuraikan dalam bab sebelumnya, dan kemenakan Buddha, Devadatta.

Bahkan di masa kini, kapan saja Buddha diundang dengan keyakinan dan rasa hormat yang tulus, ia akan hadir dan menganugerahkan berkah.

Belas kasih Buddha tidak mengenal dekat atau jauh.

Siapa saja yang berdoa kepadanya dengan keyakinan, Buddha hadir di depan mereka,

Dan akan memberi penguatan dan berkah.

141 Lihat catatan kaki No. 77.

194

Dan Guru Agung dari Uddiyana berkata;

Untuk semua laki-laki dan perempuan yang berkeyakinan terha-dap saya,

Saya, Padmasambhava, tidak akan meninggalkannya – Saya akan tidur di samping pintu mereka.

Karena bagiku tidak ada hal yang disebut kematian;

Di depan setiap orang yang berkeyakinan, akan ada satu Padmasambhava.

Ketika seseorang memiliki keyakinan yang dalam, belas kasih dan berkah Buddha dapat hadir dalam bentuk apa pun. Ini dijelaskan dalam cerita perempuan tua beriman yang dituntun ke arah kebuddhaan oleh sepotong gigi anjing.

Sekali peristiwa ada seorang perempuan tua yang anak tunggalnya adalah pedagang. Anaknya sering pergi ke India untuk melakukan perdagangan. Pada suatu hari perempuan tua itu berkata kepada anaknya:

"Bodh Gaya ada di India, dan adalah tempat di mana Sang Buddha mencapai pencerahan. Bawakan saya relik khusus dari sana, supaya saya dapat melakukan sujud kepadanya." Dia mengulangi permintaannya berulang kali, tetapi putranya tetap lupa dan tidak pernah membawa barang yang ia minta.

Suatu hari, ketika sang anak sedang bersiap-siap untuk pergi lagi ke India, ibunya berkata kepadanya, "Kali ini, jika kamu tidak membawa-kan saya sesuatu untuk sujud saya, saya amembawa-kan bunuh diri di depan kamu!"

Putranya bepergian ke India, menyelesaikan bisnis yang direncanakan, lalu berangkat pulang, sekali lagi melupakan permintaan ibunya. Pas ketika ia hampir sampai ke rumahnya, ia teringat kata-kata ibunya. "Sekarang apa yang harus saya lakukan?" ia berpikir kepada dirinya. "Saya belum membawa apa pun untuk ibuku yang tua untuk sembah sujudnya. Jika saya tiba di rumah dengan tangan kosong, ia akan bunuh diri!"

Melihat ke sekeliling, ia mendapatkan satu tengkorak anjing tergele-tak di dekat tempat itu. Ia mencabut salah satu gigi anjing tersebut dan membungkusnya dengan kain sutera. Setiba rumah, ia memberikannya kepada ibunya, sambil berkata, "Ini adalah salah satu gigi Buddha. Kamu dapat menggunakannya sebagai dukungan untuk doamu."

Perempuan tua itu percaya padanya. Dia memiliki keyakinan yang dalam terhadap gigi tersebut, menganggapnya benar-benar berasal dari Buddha. Dia melakukan sembah sujud dan memberikan persembahan

Dalam dokumen Guru Padmasambhava. iii (Halaman 195-200)