• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penderitaan kelahiran, sakit, tua dan mati

Dalam dokumen Guru Padmasambhava. iii (Halaman 97-102)

BAGIAN PERTAMA

KETIDAK-SEMPURNAAN DUNIA SAMSARA

II. PENDERITAAN KHUSUS YANG DIALAMI MAKHLUK DI ENAM ALAM

4. Alam manusia

4.2 Penderitaan kelahiran, sakit, tua dan mati

Penderitaan kelahiran

Manusia yang hidup di muka bumi ini dilahirkan dari kandungan.

Pertama-tama, makhluk di alam bardo dengan kesadaran seperti gandharva yang mencari bau, menempatkan dirinya dalam persatuan mani ayah dan darah ibu. Kemudian ia melewati pengalaman yang menyakitkan dari berbagai tingkat janin: lendir bundar, elips kental, bujur tebal, bujur telur rapat, gumpalan bulat yang keras, dan seterusnya.

Begitu anggota-anggota badan, embel-embel dan organ indera terbentuk, janin yang terperangkap dalam rahim yang gelap, busuk dan mencekik, menderita seperti seseorang yang dimasukkan ke dalam penjara. Ketika sang ibu makan sesuatu yang panas, janin menderita kesakitan seolah-olah dibakar. Ketika sang ibu makan sesuatu yang dingin, ia merasa terlempar ke dalam air yang membeku. Ketika sang ibu berbaring, ia merasa seperti dikubur di bawah berat sebuah bukit; ketika perut sang ibu penuh, ia merasa seperti terperangkap di antara batu karang; ketika sang ibu lapar, ia merasa seperti jatuh dari ngarai; dan ketika sang ibu berjalan atau duduk, ia merasa seolah-olah diterbangkan angin.

Ketika kehamilan mencapai waktunya, tenaga kehidupan karma memutar kepala bayi ke bawah dan siap untuk dilahirkan. Ketika bayi didorong kebawah ke arah leher rahim, ia menderita seolah-olah seorang raksasa yang kuat sedang memegang kakinya dan membantingnya ke dinding. Waktu ia dipaksa melewati rongga pinggul yang banyak tulangnya, bayi merasa seolah-olah ia ditarik melewati lubang pada sebuah kapak besi. Kalau lubang tempat keluar terlalu kecil, kemungkinan ia tidak dapat dilahirkan, atau baik sang ibu dan bayi tersebut keduanya akan meninggal. Sesungguhnya, kalaupun tidak meninggal saat kelahiran, mereka mengalami semua penderitaan yang dialami orang yang akan meninggal. Sebagaimana kata Guru Besar dari Uddiyana:

Baik ibu dan anak pergi ke tengah Tanah Kematian,

Dan sendi-sendi sang ibu, kecuali rahangnya, semua terkilir lepas.

92

Segala sesuatu yang dialami sang bayi adalah menyakitkan. Waktu ia dijatuhkan ke kasur saat lahir, ia merasa seperti jatuh ke dalam lubang yang penuh duri. Ketika selaput janin dilepas dari punggungnya, ia merasa seolah-olah dikuliti hidup-hidup. Ketika badannya dibersihkan, ia merasa seperti dipukuli dengan duri. Waktu dibawa ke pangkuan ibunya, ia merasa seperti seekor burung kecil yang dilarikan oleh burung elang.

Ketika ia diolesi keningnya dengan mentega,107 ia merasa seperti diikat dan dilempar ke dalam sebuah liang. Ketika ia diletakkan di ayunan, ia merasa seperti di taruh ke dalam lumpur tinja dan kencing. Apa pun yang sang bayi rasakan karena lapar, haus, sakit dan sebagainya, yang dapat ia lakukan hanyalah menangis.

Semenjak kelahiran, saat kita menjadi dewasa, kita mengalami kesan pertumbuhan dan penambahan. Tetapi apa yang terjadi sesungguhnya adalah hidup kita menjadi semakin pendek, hari demi hari kita semakin dekat pada kematian. Kita sibuk dengan tugas-tugas keseharian, satu demi satu, dengan tiada akhirnya, tugas yang satu diikuti yang lainnya seperti riak dalam air. Karena mereka itu semuanya berkaitan dengan perbuatan negatif, hasilnya tentu saja kelahiran di alam rendah dan penderitaan yang tiada berakhir.

Penderitaan karena tua

Karena kita sibuk dengan tugas-tugas keduniawian yang tidak penting dan tak berkesudahan, tanpa kita sadari penderitaan karena usia tua menyelinap ke dalam diri kita. Sedikit demi sedikit tubuh kita kehilangan tenaga. Kita sudah tidak dapat mencernakan makanan yang kita sukai. Penglihatan kita menjadi kabur. Kita tidak dapat melihat benda kecil atau barang yang jauh dengan jelas. Pendengaran kita mulai berkurang dan kita tidak dapat membedakan suara dan perkataan dengan benar. Lidah kita sudah tidak dapat lagi mengecap apa yang kita makan atau minum, dan tidak dapat mengucapkan kata-kata yang ingin kita katakan.dengan jelas dan benar. Karena kemampuan mental kita menjadi lemah, pikiran kita mengecewakan kita, dan kita jatuh ke dalam kebingungan dan kelupaan. Gigi kita copot, sehingga kita tidak dapat lagi mengunyah makanan padat, dan apa yang kita ucapkan menjadi komat-kamit yang tidak dapat dimengerti. Badan kita kehilangan panasnya dan kita tidak pernah lagi merasa hangat kalau kita berpakaian tipis. Kekuatan kita menurun dan kita tidak dapat lagi membawa barang yang berat. Kendati kita masih memiliki selera untuk mendapatkan kesenangan dan kenikmatan, namun kita sudah tidak kuat. Karena

107 Di Tibet, mentega digosokkan ke ubun-ubun kepala bayi yang baru lahir sebagai upacara untuk keselamatan dan keberuntungan.

93

saluran nadi dan tenaga kita menurun, kita menjadi lekas marah dan tidak sabar. Karena dicemooh semua orang, kita menjadi muram dan sedih.

Unsur-unsur tubuh menjadi tidak seimbang dan menyebabkan berbagai penyakit dan masalah. Kita harus bersusah payah untuk bergerak.

Berjalan dan duduk menjadi tugas yang hampir tidak mungkin dilakukan.

Jetsun Milarepa bernyanyi:

Satu, anda berusaha berdiri seperti menarik sebuah pasak dari tanah;

Dua, anda merangkak seolah-olah sedang mengintai burung;

Tiga, anda duduk seperti sebuah karung yang dijatuhkan.

Ketika ketiga hal ini datang bersamaan, nek,

Anda adalah wanita sedih dengan badan khayal yang merosot.

Satu, dari bagian luar, kulitmu melekat di keriput-keriput;

Dua, dari dalam, tulang-tulang menonjol, di mana daging dan darah mulai menyusut;

Tiga, dalam masa itu, anda bodoh, tuli dan linglung.

Ketika ketiga hal ini datang bersamaan, nek,

Wajahmu mengerut seperti orang yang sedang marah.

Satu, pakaianmu begitu buruk dan berat;

Dua, makanan dan minumanmu hambar dan dingin;

Tiga, tempat tidurmu ditopang pada keempat sisi.

Ketika ketiga hal ini datang bersamaan, nek,

Kamu seperti seorang yogi yang telah cerah yang diinjak-injak orang dan anjing.

Pada usia tua, ketika kita ingin berdiri, kita tidak dapat melakukannya seperti biasa dengan gerakan sekali jadi. Kita harus meletakkan kedua lengan kita di lantai, seperti kita berusaha menarik sebuah pasak dari dalam tanah keras. Ketika kita berjalan, kita membungkukkan pinggang dan tidak dapat menegakkan kepala kita. Dan karena tidak dapat mengangkat kaki dan melangkah dengan cepat, kita bergerak dengan pelan dan hati-hati seperti seorang anak kecil yang sedang mengintai burung. Semua persendian kaki dan tangan kita begitu sakit seperti kena encok, sehingga kita tidak dapat duduk dengan perlahan. Sebagai gantinya, kita membiarkan seluruh berat badan kita jatuh serta merta, seperti karung goni yang tali pengikatnya putus.

Ketika daging kita menyusut, kulit kita menjadi kendor. Badan dan muka kita penuh dengan keriput. Karena kurang daging dan darah di antaranya, persendian menjadi lebih menonjol. Tulang pipi kita dan semua tonjolan tulang mencolok dari kulit. Ingatan kita menurun, dan

94

kita menjadi bodoh, tuli dan pikun. Kita tidak dapat berpikir dengan jernih dan kita merasa pusing. Dengan menurunnya kekuatan tubuh, tiada alasan bagi kita untuk membuat penampilan kita lebih baik, sehingga pakaian yang kita kenakan selalu terasa berat dan buruk. Kita makan makanan sisa dan tidak punya selera. Semua makanan yang kita makan menjadi hambar dan dingin. Kita merasa sangat berat, sehingga susah untuk melakukan sesuatu. Meski ada tiang penyangga pada keempat sisi, namun kita tetap merasa sulit untuk bangun dari tempat tidur dan tidak dapat berdiri. Pada saat itu, kemerosotan fisik kita telah membawa kita pada depresi dan penderitaan mental yang hebat. Semua pesona kecantikan dan cahaya muka kita sudah pudar, kulit kita penuh dengan keriput, dan dahi kita tergores dengan kerutan jelek akibat hal-hal yang tidak menyenangkan, sehingga wajah kita seperti orang yang sedang marah. Semua orang mencemooh kita. Sekalipun orang-orang mengin-jakkan kaki mereka ke kepala kita, kita tidak dapat berdiri. Kita sudah tidak dapat bereaksi. Kita seperti seorang yogi yang telah mencapai pencerahan di mana bersih dan kotor sudah tidak ada bedanya. Kita ingin mati saja karena tidak sanggup menahan penderitaan hari tua, namun semakin kita dekat pada kematian, semakin kita merasa ngeri.

Semua ini membuat penderitaan yang harus kita alami di waktu tua tidak banyak berbeda dengan siksaan makhluk di alam rendah.

Penderitaan karena sakit

Ketika keempat unsur yang membangun tubuh kita menjadi tidak seimbang, semua penyakit – pernafasan, empedu, kelenjar lendir, dan lainnya – mulai muncul, dan perasaan sakit dan penderitaan merundung kita.

Begitu rasa sakit menusuk – biar seberapa muda badan dan pikiran kita, biar seberapa kuat dan baiknya kesehatan kita, biar seberapa baiknya kita dalam kondisi terbaik kita – kita roboh seperti seekor burung yang tertimpuk batu. Kekuatan kita menguap. Kita tenggelam dalam alas tidur, dan setiap gerakan, walau enteng sekalipun, sangat sulit dilakukan.

Bahkan untuk menjawab ketika seseorang bertanya apa yang terjadi dengan kita dibutuhkan usaha yang keras. Suara kita seolah-olah berasal dari bagian yang sangat dalam dan sulit untuk dikeluarkan. Kita mencoba berbaring dengan sebelah kanan badan kita, lalu yang sebelah kiri, berbaring telentang atau telungkup. Tetapi kita tetap saja tidak merasa enak. Kita kehilangan nafsu makan dan minum, dan tidak dapat tidur pada malam hari. Pada siang hari, rasanya hari tidak akan berakhir, dan malam hari seolah-olah panjangnya tak berakhir. Kita harus menelan obat-obatan yang pahit, pedas atau asam, disuntik, didesinfeksi dan segala macam perlakuan yang tidak menyenangkan. Pikiran bahwa

95

penyakit ini mungkin tiba-tiba berakhir dengan kematian membuat kita takut. Di bawah pengaruh penyakit dan kurang sempurnanya kesehatan kita, kita mungkin akan kehilangan kendali terhadap tubuh dan pikiran kita. Dan pada puncak persepsi kita yang keliru, kita mulai mengkhayal.

Kadang-kadang orang sakit malah bunuh diri. Mereka yang menderita penyakit kusta dan stroke dijauhi oeh semua orang dan ditinggalkan merenungi nasibnya sendiri. Mereka masih hidup, namun seolah-olah sudah mati.

Orang sakit biasanya tidak dapat menjaga dirinya. Sakitnya mem-buatnya cepat marah, dan mereka selalu saja mencela apa yang dilakukan orang terhadapnya. Mereka menjadi semakin cerewet dan selalu mencela.

Sewaktu sakitnya berlarut-larut, orang-orang mulai cape dan tidak melakukan lagi apa yang mereka minta. Kesusahan yang disebabkan oleh penyakit menyiksa mereka terus menerus.

Penderitaan saat meninggal

Ketika kematian mendekat, anda terpuruk di tempat tidur dan tidak punya kekuatan untuk bangun lagi. Meski anda melihat makanan dan minuman, anda tidak punya selera sama sekali. Disiksa oleh sensasi kematian, anda merasa semakin murung dan semua keberanian dan keyakinan anda lenyap. Anda mengalami firasat dan halusinasi tentang apa yang sedang menanti anda. Waktu anda telah datang untuk suatu perpindahan yang besar. Sanak saudara dan teman berkumpul di sekeliling anda, namun mereka tidak dapat berbuat apa pun untuk mem-perlambat kepergian anda – anda mengalami penderitaan kematian sendirian, sama sekali sendirian. Tidak ada cara untuk membawa milik anda seberapa kecil pun. Anda tidak dapat membawanya dan melepas-kannya, namun anda tahu anda tidak dapat menyimpannya juga.

Penyesalan yang dalam merudung anda ketika anda ingat akan perbuatan negatif yang telah anda lakukan. Ketika anda memikirkan penderitaan di alam rendah, anda menjadi ngeri. Kematian tiba-tiba sudah ada di sini.

Rasa takut menghantui anda. Dengan diam-diam persepsi akan kehidupan melenyap, dan perlahan-lahan tubuh anda menjadi dingin.

Ketika orang jahat meninggal, ia mencekam dadanya, meninggalkan bekas-bekas jari pada kulit dadanya. Mengingat kejahatan yang dilaku-kannya, ia ketakutan terlahir di alam rendah. Ia sangat menyesal karena tidak mempraktekkan Dharma ketika ia memiliki kesempatan untuk berbuat demikian, sebagai satu-satunya barang yang berguna saat kematian. Ketika ia sadar akan hal itu, ia merasakan kesakitan yang amat sangat. Itulah sebabnya ia memukul dan mencekam dadanya. Kata Jetsun Milarepa:

96

Lihatlah bagaimana orang jahat meninggal;

Ia adalah contoh yang menunjukkan kepada kita hasil dari perbuatan.

Malah menjelang ajalnya, ia mulai mendapat penglihatan tentang alam rendah. Apa pun yang dirasakannya menjadi sesuatu yang mengancam. Semua inderanya mengakibatkannya menderita. Unsur-unsur tubuhnya melebur, nafasnya menjadi serak dan anggota badannya gemetar. Ia mulai berhalusinasi. Ketika selaput matanya menjadi kelabu, kematian sudah datang menjemputnya. Bayangan yang menakutkan dari alam bardo muncul, namun ia tidak punya pelindung dan tempat berlindung.

Tidak ada jaminan sama sekali bahwa saat kita meninggalkan hidup ini dengan telanjang dan tangan kosong tidak akan tiba hari ini. Ketika hal ini terjadi, yang sungguh-sungguh dapat menolong hanyalah Dharma.

Tiada tempat perlindungan lainnya. Dikatakan bahwa:

Saat anda dalam kandungan ibu anda, alihkan pikiran anda pada Dharma;

Segera sesudah anda lahir, ingatlah Dharma tentang kematian.

Karena kematian datang dengan sangat tiba-tiba kepada orang muda ataupun orang tua, kita harus melatih Dharma mulai dari saat kita dilahirkan, karena hanya Dharma yang akan menolong kita saat kematian.

Namun, sampai sekarang kita telah melupakan kematian karena sangat sibuk mengatasi musuh dan menolong teman-teman kita, menjaga rumah dan milik kita, menyibukkan diri kita dengan teman-teman dan sanak saudara kita. Namun, melewati waktu kita dengan cara demikian, mengasyikkan diri dengan sibuk dalam kemelekatan, ketidaktahuan dan kebencian demi teman dan kekasih, jika anda memikirkan hal tersebut, adalah suatu kesalahan besar.

Dalam dokumen Guru Padmasambhava. iii (Halaman 97-102)