• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENENTU SEMUA KUALITAS PERBUATAN

Dalam dokumen Guru Padmasambhava. iii (Halaman 142-159)

BAGIAN PERTAMA

SEBAB DAN AKIBAT PERBUATAN

III. PENENTU SEMUA KUALITAS PERBUATAN

Kesenangan dan kesengsaraan yang dialami masing-masing individu dalam semua keaneka-ragaman yang tidak dapat kita bayangkan, mulai dari puncak alam kehidupan hingga ke kedalaman yang paling rendah di neraka, hanya timbul dari perbuatan positif dan negatif yang telah ditimbun masing-masing individu di masa lalu. Seperti dikatakan dalam Sutra Seratus Perbuatan:124

Kegembiraan dan duka cita makhluk hidup,

Semua berasal dari perbuatan mereka, demikian kata Hyang Buddha.

Keaneka ragaman perbuatan

Menciptakan keaneka-ragaman makhluk hidup, Dan mendorong pengembaraan mereka yang berbeda.

Begitu luasnya jaringan perbuatan ini!

Kekuatan, kekuasaan, kekayaan atau harta benda yang kita nikmati sekarang tidak ada yang mengikuti kita ketika kita meninggal. Kita

124 Skt. Karmaśataka Sutra.

137

hanya membawa perbuatan positif dan perbuatan negatif yang kita kumpulkan selama hidup kita, yang kemudian menggerakkan kita maju ke depan ke tempat yang lebih tinggi atau ke alam samsara yang lebih rendah. Dalam Sutra Instruksi kepada Raja,125 kita membaca:

Ketika waktu meninggal tiba, O Raja,

Tidak ada harta benda, teman maupun keluarga dapat mengikuti.

Tetapi di mana saja makhluk datang, ke sana mereka pergi, Perbuatan mereka mengikuti mereka seperti bayang-bayang

mereka sendiri.

Akibat dari perbuatan positif atau perbuatan negatif kita mungkin tidak dapat diidentifikasi dengan jelas dan seketika, tetapi mereka tidak hilang begitu saja. Kita akan mengalami setiap akibatnya ketika kondisi-kondisi yang tepat tiba.

Bahkan hingga sesudah ratusan kalpa,

Akibat perbuatan makhluk tidak pernah hilang;

Ketika kondisi menjadi matang,

Buah mereka akan matang sepenuhnya.

seperti dikatakan Sutra Seratus Perbuatan. Dan dalam Harta Karun Pahala Kebajikan kita temukan yang berikut:

Ketika burung rajawali membubung tinggi di angkasa, Untuk sementara tidak kelihatan bayang-bayangnya;

Namun burung dan bayang-bayang tetap tidak bisa lepas satu sama lain. Demikian juga perbuatan kita:

Ketika kondisi-kondisi menjadi matang, akibatnya jelas dan nyata.

Ketika seekor burung meninggalkan daratan dan terbang tinggi ke angkasa, bayang-bayangnya seolah-olah hilang. Tetapi ini tidak berarti bahwa bayang-bayang tidak lagi ada. Begitu burung tersebut akhirnya mendarat, bayang-bayangnya ada lagi, sama jelas dan gelap seperti yang semula. Dengan cara yang sama, meskipun perbuatan yang baik atau buruk kita di masa lampau mungkin tak kelihatan pada saat ini, namun mereka tidak akan gagal kembali kepada kita pada akhirnya.

Sungguh, bagaimana bisa hal ini tidak terjadi pada makhluk biasa seperti kita, jika ketika para Buddha dan Arhat yang sudah membebaskan

125 Skt. Rājādeśa Sutra.

138

diri mereka dari semua karma dan kegelapan batin pun masih harus menerima akibat perbuatan mereka yang lampau?

Suatu hari angkatan perang Virudhaka, raja dari Sravasti, menyerang kota orang Sakya dan membantai delapan puluh ribu penduduknya. Pada saat itu, Buddha sendiri menderita sakit kepala. Ketika para muridnya bertanya mengapa, beliau menjawab:

"Di kehidupan yang sudah lama berlalu, orang-orang Sakya ini adalah nelayan yang hidup dari membunuh dan makan banyak ikan.

Suatu hari mereka menangkap dua ekor ikan besar, namun mereka tidak membunuhnya seketika. Mereka mengikatnya di galah. Ketika kedua ikan itu kekeringan dan menggeliat dalam kenyerian yang amat sangat, mereka berpikir: "Orang-orang ini sedang membunuh kita walaupun kita tidak melakukan kejahatan apa pun terhadap mereka. Moga-moga pada suatu hari kita dapat membunuh mereka tanpa mereka membuat kejahatan apa pun terhadap kita!" Akibat dari pikiran dua ikan besar tersebut adalah, mereka terlahirkan kembali sebagai raja Virudhaka dan menterinya Matropakara, sedangkan semua ikan lain yang terbunuh oleh nelayan menjadi pasukan mereka. Hari ini mereka membantai orang-orang Sakya.”

"Pada waktu itu, saya sendiri adalah anak dari salah seorang nelayan.

Menyaksikan kedua ikan tersebut terikat dan menggeliat dalam kesakitan yang tak tertahankan selagi mereka kekeringan, saya tertawa. Akibat dari perbuatan tersebut adalah, hari ini saya menderita sakit kepala. Kalau saja saya tidak mencapai kualitassebagaimana yang saya miliki sekarang, saya mungkin juga sudah terbunuh oleh pasukan Virudhaka."

Pada kesempatan lain, kaki Buddha terluka oleh duri akasia –akibat dari membunuh Si Hitam Tombak pada salah satu kehidupan sebagai Bodhisattva sebelumnya.

Di antara semua murid Sravaka Sang Buddha, Maudgalyayana-lah yang menguasai kekuatan gaib yang paling tinggi. Meskipun begitu, ia dibunuh oleh orang-orang Parivrajika karena perbuatannya di masa lampau. Hal tersebut terjadi sebagai berikut.

Sariputra yang mulia dan Maudgalyayana yang agung sering berpergian ke dunia lain, seperti ke alam nereka atau alam preta. Mereka bekerja demi kepentingan makhluk di alam tersebut. Suatu hari, selagi mereka di neraka, mereka kebetulan bertemu dengan seorang guru tirthika yang bernama Puranakasyapa, yang telah terlahir di sana dan sedang mengalami banyak dan bermacam-macam siksaan.

Ia berkata kepada mereka, "Orang-orang yang mulia, waktu anda kembali ke alam manusia, tolong beritahu kepada murid-murid saya, bahwa guru mereka, Puranakasyapa, telah terlahir di dalam neraka.

139

Beritahu mereka bahwa jalan orang-orang Parivrajika126 bukanlah jalan kebajikan. Jalan kebajikan ada di doktrin Buddha Sakya. Jalan kita salah.

Mereka perlu meninggalkannya dan belajar mengikuti Sakyamuni. Dan beritahu kepada mereka, yang terpenting di atas segalanya, bahwa setiap kali mereka memberi persembahan kepada tempat suci yang mereka bangun untuk tulang-tulang saya, cairan logam pijar menyiramiku. Saya mohon, beritahu mereka jangan membuat persembahan seperti itu lagi."

Kedua rekan yang mulia tersebut kembali ke dunia manusia.

Sariputra tiba lebih dulu dan pergi memberitahu para tirthika tentang pesan guru mereka. Tetapi, karena kondisi-kondisi karma yang perlu belum ada, mereka tidak mendengarkannya. Ketika Maudgalyayana tiba, ia bertanya kepada Sariputra apakah ia telah memberitahu para tirthika pesan Puranakasyapa.

"Ya," jawab Sariputra, "tetapi mereka tak berkata satu kata pun."

Maudgalyayana berkata, "Karena mereka tidak bisa menerima apa yang kamu katakan, saya sendiri akan berkata kepada mereka." Dan ia pergi untuk menceritakan kepada mereka apa yang dikatakan oleh Purana-kasyapa.

Tetapi setelah mendengar kata-kata Maudgalyayana, para tirthika sangat marah. "Bukan saja ia menghina kita, ia bahkan mengkritik Guru kita!" kata mereka. "Pukul dia!" Mereka memukulnya sampai lemas seperti rumput gelagah dan membiarkannya terbaring di sana.

Jangankan pukulan dari para Parivrajika, sampai saat itu tidak ada suatu serangan terencana dari makhluk ketiga alam bersama-sama yang bisa melukai seutas rambut kepala Maudgalyayana. Tetapi pada saat itu, karena dihancurkan oleh matangnya akibat perbuatan masa lampaunya, ia kalah seperti orang biasa.

“Aku bahkan tidak bisa berpikir bagaimana cara menggunakan tenaga gaib, jangankan melakukannya," katanya. Sariputra membung-kusnya dengan jubahnya dan membawanya pergi. Ketika mereka sampai ke Taman Jeta, Sariputra berseru, "Bahkan mendengar uraian tentang kematian temanku saja saya tak tahan! Mana mungkin saya melihat hal ini terjadi?" Ia meninggal dan masuk ke dalam nirvana bersama dengan banyak Arhat lain tidak lama setelah itu. Maudgalyayana juga meninggal dan terlepas dari penderitaan.

Sekali peristiwa di Kashmir hiduplah seorang bhiksu yang bernama Ravati yang mempunyai banyak murid. Ia adalah seseorang yang memi-liki kewaskitaan dan tenaga gaib. Pada suatu hari ia sedang mencelup

126 Salah satu dari enam aliran non-Buddism utama di India jaman dulu, di mana mereka menganggap bahwa kebahagiaan ataupun penderitaan makhluk hidup bukan disebabkan oleh perbuatan, namun ada secara alami.

140

jubah bhiksu-nya dengan semacam kunyit di tempat terbuka di hutan.

Pada waktu yang sama, seorang awam yang tinggal di dekat sana sedang mencari anak sapinya yang hilang. Ia melihat asap timbul di tempat terbuka di hutan, dan pergi ke sana untuk melihat apa yang terjadi.

Menemukan bhiksu yang sedang menyalakan api, ia bertanya: "Apa yang kamu lakukan?"

"Saya sedang mencelup jubahku," jawab bhiksu tersebut.

Orang awam tersebut mengangkat penutup kuali dan melihat ke dalam. "Ini kan daging!" serunya, dan sungguh, ketika bhiksu tersebut melihat ke dalam kuali, ia juga melihat daging di dalamnya.

Orang awam tersebut membawa bhiksu ke tempat raja dan berkata,

"Tuanku, bhiksu ini mencuri anak sapi saya. Tolong hukum dia." Raja memerintahkan menempatkan Ravati ke dalam penjara.

Namun, beberapa hari kemudiannya, induk sapi orang awam tersebut menemukan anak sapinya yang hilang. Orang awam tersebut kembali ke tempat raja dan berkata, "Tuanku, bhiksu tersebut sama sekali tidak mencuri anak sapi saya; tolong lepaskan dia."

Tetapi waktu itu raja sedang sibuk dan pikirannya agak kacau, dan ia lupa memerintahkan melepas Ravati. Ia tidak melakukan apa pun menge-nai hal itu selama enam bulan lamanya.

Kemudian pada suatu hari, sekelompok murid bhiksu tersebut yang telah memiliki tenaga gaib, datang dengan berterbangan melalui angkasa dan mendarat di depan raja.

"Ravati adalah seorang biarawan yang tidak bersalah dan murni,"

mereka berkata kepada raja. "Tolong bebaskan dia."

Raja sendiri pergi melepas bhiksu itu, dan ketika ia melihat kondisi Ravati yang lemah, ia diliputi oleh penyesalan yang dalam.

"Aku bermaksud datang lebih cepat, tetapi aku meninggalkannya begitu lama," ia berseru. "Aku sudah melakukan dosa yang mengerikan!"

"Tidak ada kejahatan yang telah dilakukan," kata bhiksu tersebut.

"Itu semuanya adalah akibat perbuatanku sendiri."

"Perbuatan apa?" tanya raja.

"Selama suatu kehidupan di masa lampau, saya adalah seorang pencuri, dan sekali waktu saya mencuri seekor anak sapi. Ketika pemi-liknya mengikutiku, aku melarikan diri dan meninggalkan binatang tersebut pada seorang pratyekabuddha yang kebetulan bermeditasi di tempat terbuka di hutan. Pemilik sapi tersebut menangkap pratyekabuddha tersebut dan akibatnya pratyekabuddha tersebut dipenja-ra selama enam hari. Sebagai akibat yang matang secadipenja-ra penuh dari perbuatanku, aku telah melewati banyak kehidupan penderitaan di alam rendah. Penderitaan yang kualami dalam kehidupan sekarang adalah yang terakhir kalinya."

141

Contoh yang lain adalah cerita putra Surabhibhadra, seorang raja India. Pada suatu hari, ibu pangeran tersebut memberinya jubah sutera yang tidak berkelim. Ia tidak ingin memakainya dengan seketika, dan berkata. "Saya akan memakainya pada hari saya menerima warisan kerajaan."

"Kamu tidak pernah akan mewarisi kerajaan," kata ibunya. "Itu hanya bisa terjadi jika ayahmu, raja itu, meninggal. Tetapi kekuatan hidup ayahmu telah menyatu dengan Guru Nagarjuna, sehingga tidak mungkin ia akan mati selama Nagarjuna masih hidup. Dan karena Nagarjuna memiliki kekuasaan atas rentang waktu hidupnya, ayahmu tidak pernah akan mati. Itulah sebabnya mengapa banyak dari kakak laki-lakimu meninggal tanpa mewarisi kerajaan."

"Lalu apa yang dapat saya lakukan?" tanya putranya.

"Pergilah ke Guru Nagarjuna dan minta beliau memberimu kepalanya.

Ia akan setuju, sebab ia adalah seorang Bodhisattva. Saya tidak melihat ada solusi yang lain."

Anak laki-laki tersebut pergi ke Nagarjuna dan meminta kepalanya.

"Potong dan ambillah," kata Guru. Anak tersebut mengambil pedang dan membacok leher Nagarjuna. Tetapi tidak ada apa pun yang terjadi.

Seolah-olah mata pisaunya itu telah memotong udara.

“Senjata tidak bisa melukai saya," kata Guru, "sebab selama lima ratus kehidupan yang lalu, saya telah membersihkan diriku dari semua akibat menggunakan senjata. Namun, saya telah membunuh seekor serangga pada suatu hari ketika memotong rumput kusa. Akibat yang matang secara penuh dari perbuatan tersebut belum muncul. Oleh sebab itu, jika kamu menggunakan mata pisau dari rumput kusa, maka kamu akan mampu memotong kepala saya." Maka anak tersebut mencabut rumput kusa, menggunakanya sebagai mata pisau dan memotong kepala Nagarjuna. Kepala Nagarjuna jatuh ke tanah. Nagarjuna memasuki nirvana sambil berkata:

Sekarang aku menuju Tanah Bahagia;

Kelak saya akan kembali ke tubuh saya.127

Jika bahkan individu yang suci seperti Nagarjuna harus mengalami akibat perbuatan masa lampau mereka sendiri, mana mungkin kita – yang sudah menimbun perbuatan negatif yang tak terhitung banyaknya sejak waktu tak berawal dalam pengembaraan kita di alam samsara – bisa berharap dapat membebaskan diri dari samsara, jika kita masih terus

127 Menurut catatan sejarah Budhism India, sesudah Nagarjuna meninggal, badan dan kepalanya menjadi dua gunung yang terpisah (di Nagarjunakonda, India Selatan).

Kelak Nagarjuna akan kembali ke badannya dan hidup lagi.

142

mengumpulkannya? Bahkan untuk lepas dari alam rendah saja akan sulit.

Oleh karena itu, marilah kita dengan cara bagaimanapun menghindari perbuatan salah apa saja, apakah besar atau kecil, dan menggunakan diri kita untuk melakukan perbuatan baik apa pun yang dapat kita lakukan, biarpun kelihatannya tidak penting. Sepanjang kita tidak membuat usaha yang demikian, setiap kali perbuatan negatif akan menuntun kita hidup di alam rendah selama banyak kalpa. Janganlah pernah meremehkan perbuatan buruk yang kecil dengan beranggapan bahwa hal itu tidak bisa menyebabkan kerugian yang besar. Sebagaimana kata Bodhisattva Santideva:

Jika perbuatan jahat dari suatu saat,

Dapat menyebabkan satu kalpa di Neraka Avici;

Maka dengan semua kejahatan dari waktu samsara tanpa awal, Apa ada kesempatan ke alam yang lebih tinggi?

Dan dalam Sutra Orang Bijak dan Orang Bodoh128 kita temukan:

Jangan meremehkan perbuatan jahat yang kecil, Menganggap mereka tidak merugikan;

Bahkan percikan api yang kecil, Dapat membakar sebuah gunung.

Begitu pula, bahkan perbuatan positif yang paling kecil pun membawa manfaat yang besar. Jangan meremehkan mereka juga dengan beranggapan tidak banyak pahala dalam melakukannya.

Raja Mandhatri dalam hidup yang lampau adalah orang miskin.

Suatu hari, ketika ia dalam perjalanan ke tempat pesta perkawinan dengan segenggam kacang di tangannya, ia berjumpa dengan Buddha Ksantisarana yang bepergian ke desa itu. Digerakkan oleh devosi yang kuat, ia melemparkan kacangnya. Empat kacang jatuh ke dalam mangkok pindapatta Buddha, sedang dua lainnya menyentuh dadanya.

Matangnya perbuatan ini menyebabkan ia terlahir sebagai Cakravatin Jambudvipa. Karena empat biji kacang yang jatuh ke mangkok, ia memerintah empat benua selama delapan puluh ribu tahun lamanya.

Oleh karena salah satu dari dua kacang tersebut menyentuh dada Buddha, ia menjadi berkuasa atas Surga Empat Maharaja selama delapan puluh ribu tahun lainnya; dan oleh karena kacang yang kedua, selama tiga puluh tujuh generasi dinasti surgawi, ia memerintah Surga Tiga Puluh Tiga bersama Indra. Dikatakan juga, bahkan memvisualisasi Buddha dan

128 Skt. Damamūka-nidāna-sūtra.

143

melemparkan bunga ke angkasa akan mengakibatkan anda berbagi pemerintahan dengan Indra dan Chakravartin selama suatu rentang waktu yang sukar dibayangkan. Inilah alasan kenapa Sutra Orang Bijak dan Orang Bodoh berkata:

Jangan mengabaikan kebajikan yang kecil, Menganggapnya tidak akan membantu;

Karena tetesan air tetes demi tetes, Pada waktunya dapat mengisi pot raksasa.

Dan Harta Karun Pahala Kebajikan mengatakan:

Dari benih yang besarnya tidak melebihi biji wijen,

Tumbuh pohon asota yang besar, yang dalam waktu satu tahun, Dapat mengeluarkan cabang yang panjangnya mencapai satu

yojana.

Tetapi lebih besar lagi adalah pertumbuhan akibat perbuatan yang baik dan yang buruk.

Benih pohon asota tidak lebih besar dari biji wijen, tetapi pohonnya berkembang dengan begitu cepat sehingga cabangnya mencapai satu yojana dalam satu tahun. Namun bahkan gambaran ini tidaklah cukup untuk menguraikan pertumbuhan yang sedalam-dalamnya dari hasil perbuatan positif dan perbuatan negatif.

Pelanggaran yang paling kecil dari sila juga akan mengakibatkan malapetaka yang besar. Suatu hari raja naga Elapatra datang ke tempat Buddha dengan menyamar sebagai seorang Cakravartin.

Buddha menegurnya: "Tidak cukupkah kerugian yang kamu lakukan pada ajaran Buddha Kasyapa bagimu? Sekarang apakah kamu ingin merugikan ajaranku juga? Dengarkan Dharma dalam bentuk kamu yang sebenarnya!"

"Terlalu banyak makhluk akan menyakitiku jika aku melakukan demikian," jawab naga tersebut. Lalu Buddha menempatkannya di bawah perlindungan Vajrapani, dan ia berubah menjadi ular yang sangat besar, beberapa yojana panjangnya. Di atas kepalanya tumbuh pohon elapatra besar yang menimpanya dengan beratnya. Pada akarnya merayap serangga-serangga yang menyebabkan dia sangat menderita.

Buddha ditanya mengapa ia menjadi demikian, dan Beliau menjawab:

"Dahulu kala, waktu jaman ajaran Buddha Kasyapa, ia adalah seorang bhiksu. Suatu hari jubahnya tersangkut pada pohon elapatra besar yang tumbuh di tepi jalan sehingga jubahnya terlepas. Ia menjadi sangat

144

marah dan melanggar silanya dengan memotong pohon tersebut. Apa yang kamu lihat hari ini adalah hasil perbuatan itu."

Baik atau buruk suatu perbuatan, niat adalah faktor utama yang menentukan apakah mereka adalah positif atau negatif, berat atau ringan.

Hal itu seperti sebatang pohon: jika akarnya berkhasiat obat, batang dan daun-daunnya juga akan berkhasiat obat. Jika akarnya beracun, batang dan daun-daun akan beracun juga. Daun-daun yang berkhasiat obat tidak bisa tumbuh dari akar yang beracun. Dengan cara yang sama, jika suatu niat timbul dari agresi atau kemelekatan, sehingga dengan demikian tidak seluruhnya murni, maka perbuatan yang mengikutinya cenderung negatif, sekalipun kelihatan positif. Pada sisi lain, jika dilandasi niat murni, sekalipun hal itu kelihatan negatif, namun sesungguhnya positif. Dalam Harta Karun Pahala Kebajikan dikatakan demikian:

Jika akar berkhasiat obat, maka tunasnya juga demikian;

Jika itu beracun, bagaimana tunasnya tidak demikian?

Apa yang membuat suatu perbuatan menjadi positif atau negatif bukanlah bagaimana hal itu kelihatannya,

Atau besar kecilnya, tetapi niat baik atau buruk di belakang per-buatan tersebut.

Karena alasan ini, ada kalanya Bodhisattva, Pewaris Sang Penakluk, diijinkan untuk benar-benar melakukan tujuh perbuatan yang merugikan dari badan dan ucapan, sepanjang pikiran mereka adalah murni, bebas dari semua keinginan egois. Ini digambarkan oleh contoh dari Kapten Hati Belaskasih yang membunuh Si Hitam Tombak, atau dari seorang Brahmana muda Kekasih Bintang-bintang yang melepaskan kaul kesuciannya demi menikahi seorang gadis Brahmana.

Sekali peristiwa, dalam kehidupan sebelumnya, Sang Buddha adalah seorang kapten bernama Hati Belaskasih. Ia sedang berlayar di samudra dengan lima ratus pedagang ketika perompak jahat bernama Si Hitam Tombak muncul, mengancam untuk membunuh mereka semua. Kapten menyadari bahwa para pedagang itu semuanya adalah Bodhisattva yang tidak kembali lagi, dan jika seseorang membunuh mereka semua, maka ia akan menderita di neraka untuk kalpa yang tidak dapat dihitung jumlahnya. Didorong oleh rasa kasihan, ia berpikir: "Jika saya membunuhnya, ia tidak akan terlahir di neraka. Maka saya tak ada pilihan lain, sekalipun ini berarti saya harus masuk neraka sendiri." Dengan keberanian yang besar ia membunuh perompak itu, dan dengan berbuat demikian ia memperoleh pahala kebajikan yang secara normal baru akan tercapai selama tujuh puluh ribu kalpa. Pada permukaannya, perbuatan

145

itu merugikan, karena Bodhisattva melakukan perbuatan fisik pembunuhan. Tetapi hal itu dilakukan dengan tanpa motivasi egois sedikit pun. Dalam jangka pendek, hal itu menyelamatkan hidup kelima ratus pedagang. Dan untuk jangka panjang, hal itu menyelamatkan Si Hitam Tombak dari penderitaan neraka. Oleh karena itu, dalam kenyataannya hal itu adalah suatu perbuatan positif yang sangat kuat.

Contoh lainnya, ada seorang Brahmana, Kekasih Bintang-bintang yang tinggal di hutan selama bertahun-tahun dengan memelihara kaul kesuciannya. Suatu hari ia pergi meminta sedekah di sebuah desa.

Seorang gadis Brahmana jatuh cinta padanya sampai ia hampir bunuh diri karenanya. Terdorong oleh rasa kasihan, ia menikahinya. Ini menyebabkan ia memperoleh pahala empat puluh ribu kalpa.

Membunuh atau melanggar janji kesucian yang dimotivasi dengan niat murni diijinkan. Pada sisi lain, perbuatan yang sama yang dilakukan karena motivasi yang egois, yang keluar dari nafsu keinginan, kebencian atau ketidak-tahuan, tidaklah diijinkan.

Seorang Bodhisattva dengan pikiran yang luas dan tidak ada sedikit pun keinginan pribadi, boleh juga mencuri dari orang pelit dan kaya, dan atas nama mereka mempersembahkan barang-barang tersebut kepada Tri Ratna atau memberikannya kepada kaum miskin.

Berdusta dalam rangka melindungi seseorang yang nyaris dibunuh, atau untuk melindungi barang-barang milik Tri Ratna juga diijinkan.

Tetapi adalah tidak pernah dibenarkan untuk menipu seseorang karena kepentingan diri sendiri.

Menebar pertentangan, misalnya di antara dua sahabat karib, yang salah satu darinya adalah seorang orang jahat, sedangkan yang lain senang berbuat kebajikan, adalah diijinkan jika ada bahaya bahwa

Menebar pertentangan, misalnya di antara dua sahabat karib, yang salah satu darinya adalah seorang orang jahat, sedangkan yang lain senang berbuat kebajikan, adalah diijinkan jika ada bahaya bahwa

Dalam dokumen Guru Padmasambhava. iii (Halaman 142-159)