• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mengambil sesuatu yang tidak diberikan

Dalam dokumen Guru Padmasambhava. iii (Halaman 125-128)

BAGIAN PERTAMA

SEBAB DAN AKIBAT PERBUATAN

I. PERBUATAN NEGATIF YANG HARUS DIHINDARI

1. Sepuluh perbuatan negatif yang harus dihindari

1.2 Mengambil sesuatu yang tidak diberikan

Mengambil sesuatu yang tidak diberikan ada tiga jenis: mengambil dengan paksa, mengambil dengan sembunyi-sembunyi dan mengambil dengan menipu.

Mengambil dengan paksa. Juga disebut mengambil dengan menga-lahkan. Contohnya seorang raja yang bukannya berdasarkan pajak resmi, tetapi merampas harta dan milik seseorang dengan tidak sesuai hukum yang berlaku, atau secara kekerasan dengan pasukan tentara.

Mengambil dengan sembunyi-sembunyi. Ini berarti mengambil ke-punyaan orang lain dengan diam-diam, misalnya seorang pencuri, tanpa diketahui oleh yang empunya.

Mengambil dengan tipu daya. Yaitu mengambil barang-barang orang lain, misalnya dalam transaksi bisnis, dengan berbohong kepada pihak lain, dengan memakai anak timbangan dan alat ukur yang palsu atau alasan-alasan yang dibuat-buat lainnya.

120

Sekarang ini, umumnya orang berpikir bahwa dalam bisnis atau konteks lainnya, tidak ada salahnya memperoleh barang dari orang lain dengan menipu, sepanjang kita tidak jelas-jelas mencuri. Namun kenyataannya, keuntungan apa pun yang kita dapatkan dengan menipu orang lain tidak ada bedanya dengan pencurian yang nyata.

Khususnya Lama dan biarawan pada masa kini tidak melihat adanya kejahatan ataupun kesalahan dalam berbisnis. Sungguh, mereka meng-habiskan seluruh hidupnya untuk itu, dan merasa cukup bangga dengan kemahirannya. Tetapi, tidak ada hal lain yang lebih merugikan Lama atau biarawan dari pada bisnis. Terpikat dan asyik dengan urusan bis-nisnya, ia tidak begitu berniat lagi untuk menuntut ilmu, atau berusaha untuk memurnikan kegelapan batinnya – dan toh tidak ada waktu untuk itu semua. Semua waktu jaganya sampai ia membaringkan dirinya waktu malam hari dihabiskan untuk meneliti catatan uang keluar-masuk.

Pikiran tentang keyakinan, meninggalkan kehidupan duniawi atau belas kasih terpupus sudah, dan ia diselubungi oleh delusi yang berkelanjutan.

Pada suatu malam Jetsun Milarepa tiba di suatu vihara dan tidur di dalam kamar seorang biarawan. Biarawan yang tinggal dalam kamar tersebut sedang berbaring di tempat tidurnya memikirkan bagaimana ia akan menjual bangkai sapi yang akan disembelihnya pada keesokan harinya. "Saya akan mendapat sekian untuk kepala, . . . pahanya sekian, . . . tulang belikatnya akan berharga sekian, dan bagian bahu itu sendiri akan terjual dengan harga sekian . . . dan sekian untuk tulang kaki, dan daging kaki ... " Ia terus menghitung nilai tiap bagian dari sapi tersebut, bagian dalam dan bagian luarnya. Sampai fajar menyingsing, ia tidak sempat tidur sekejab pun. Semuanya sudah ia hitung kecuali harga yang akan ia jual untuk ekor sapi itu. Ia langsung bangun, menyelesaikan doanya dan membuat persembahan torma.

Melihat Jetsun masih tertidur, ia mendekati dan mencercanya dengan kata-kata yang memandang rendah, “Kamu mengaku seorang praktisi Dharma, namun masih tidur sampai jam segini. Apakah kamu tidak melakukan latihan atau berdoa sama sekali?”

“Saya tidak selalu tidur bermalasan demikian, " jawab Jetsun Mila.

"Karena saya telah menghabiskan seluruh malam memikirkan bagaimana menjual sapi saya yang akan saya sembelih. Saya hanya tertidur sebentar tadi . . . " Demikianlah ia mengungkapkan kekurangan yang tersembunyi biarawan tersebut, lalu ia pergi dari sana.

Seperti biarawan dalam cerita ini, mereka yang kehidupannya pada saat ini hanya menekuni bisnis, menghabiskan waktu siang dan malam hari sepenuhnya terlibat dalam perhitungan. Mereka begitu asyik dengan khayalan mereka, sampai-sampai ketika kematian tiba, mereka akan meninggal dalam keadaan masih tetap berkhayal seperti biasa.

121

Lebih-lebih lagi, perdagangan melibatkan segala macam perbuatan negatif. Orang-orang yang mempunyai barang untuk dijual, bagaimana-pun jelek barang tersebut sebenarnya, tetapi mereka memuji kualitasnya dengan segala macam cara yang dapat mereka pikirkan. Mereka menceritakan kebohongan dengan terang-terangan, misalnya bagaimana calon pembeli telah menawar dengan harga tertentu untuk barang tersebut, namun telah ditolaknya. Atau bagaimana mereka telah membelinya dengan harga tinggi segini atau segitu. Ketika mereka mencoba membeli sesuatu yang sudah menjadi bahan rundingan antara dua orang lainnya, mereka menggunakan jalan memfitnah untuk menimbulkan pertentangan antara kedua pihak tersebut. Mereka menggunakan kata-kata kasar untuk merendahkan barang dagangan saingannya, memaksa pembayaran utang dan sejenisnya. Mereka menyenangkan hatinya dengan menggunakan kata-kata yang tak bermakna untuk meminta harga yang menggelikan atau tawar menawar barang yang mereka tak berniat membelinya.

Mereka iri dan mendambakan harta orang lain, berusaha sebisanya untuk mendapatkannya. Mereka mengharapkan kerugian pada saingannya, selalu ingin menggagalkan dan mengalahkan mereka. Jika mereka berdagang ternak, mereka terlibat dalam pembunuhan. Oleh sebab itu, perdagangan sebenarnya melibatkan kesepuluh perbuatan buruk, mungkin dengan pengecualian pandangan salah dan perbuatan asusila.

Lalu, ketika transaksi tidak berjalan dengan semestinya, kedua belah pihak merugi, dan semuanya menderita, dan pedagang bisa jadi menderita kelaparan pada akhirnya, karena telah membawa kerugian kepada dia sendiri dan rekan mereka. Namun bila mereka berhasil, seberapapun keuntungan yang telah mereka dapatkan, mereka tidak pernah merasa cukup. Bahkan mereka yang sudah sekaya Vaisravana masih saja merasa senang melakukan transaksi bisnis mereka yang keji. Ketika kematian mendekat, mereka akan memukul dada dengan kesedihan yang mendalam, karena seluruh kehidupan manusianya telah dipergunakan dalam obsesi demikian, yang sekarang menjadi beban yang menyeret mereka ke alam rendah.

Tidak ada hal yang lebih efektif untuk menumpuk kejahatan yang tiada akhirnya dan sama sekali merusak anda selain perdagangan. Anda akan mendapatkan bahwa anda terus menerus memikirkan cara untuk menipu orang, seolah-olah menyelidiki dengan saksama sekumpulan pisau, bor dan jarum untuk mendapatkan alat yang paling tajam. Dengan terus menerus memikirkan hal-hal yang merugikan orang lain, anda berpaling dari cita-cita bodhicitta untuk menolong orang lain, dan perbuatan jahat anda melipat ganda sampai tak terhingga.

Mengambil sesuatu yang tidak diberikan juga harus mencakup empat unsur seperti yang sudah diterangkan untuk menyebabkan perbuatan

ne-122

gatif tersebut terlaksana dengan sepenuhnya. Meskipun demikian, semua keikutsertaan, sampai pada memberi makanan kepada pemburu atau pencuri untuk perjalanan mereka, cukup menyebabkan anda menerima bagian yang sama atas kejahatan yang mereka lakukan dengan membunuh atau mencuri.

Dalam dokumen Guru Padmasambhava. iii (Halaman 125-128)