• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penderitaan manusia lainnya

Dalam dokumen Guru Padmasambhava. iii (Halaman 102-121)

BAGIAN PERTAMA

KETIDAK-SEMPURNAAN DUNIA SAMSARA

II. PENDERITAAN KHUSUS YANG DIALAMI MAKHLUK DI ENAM ALAM

4. Alam manusia

4.3 Penderitaan manusia lainnya

Takut berjempa dengan musuh yang dibenci

Kita dapat menghabiskan semua waktu kita untuk mencari kekayaan dan harta benda dan menjaganya siang dan malam. Meskipun demikian, hal itu tetap tidak bisa mencegah kita pada akhirnya harus berbagi barang-barang tersebut dengan musuh-musuh kita. Perampok di siang hari, pencuri di malam hari, anjing liar, serigala dan binatang buas lainnya semuanya dapat menyerang kita tanpa peringatan terlebih dulu.

Nyata sekali, seberapa pun banyaknya kekayaan dan harta benda yang

97

kita miliki, hal itu hanya akan membuat kita repot untuk memperoleh, melindungi dan mencoba untuk memperbanyaknya. Nagarjuna menulis:

Menumpuk harta, menjaga dan membuatnya lebih banyak akan membuat anda menjadi letih.

Mengertilah bahwa kekayaan adalah sumber bencana yang tiada berkesudahan.

Jetsun Milarepa berkata:

Pada mulanya kekayaan membuat anda bahagia dan membuat orang iri hati;

Namun seberapa pun yang anda miliki, kelihatannya tidak pernah cukup.

Pada pertengahan, kekikiran mengencangkan simpulnya pada anda;

Anda tidak bersedia memberikannya untuk persembahan atau untuk amal.

Kekayaan anda menarik musuh dan kekuatan negatif, Dan apa yang anda kumpulkan terpakai oleh orang lain.

Akhirnya, kekayaan adalah iblis yang menempatkan hidup anda dalam bahaya.

Betapa kecewanya memperoleh kekayaan hanya untuk musuh-musuh anda!

Saya telah melepaskan beban berat yang menyeret kita ke dalam samsara.

Saya tidak lagi menginginkan pikatan iblis ini.

Penderitaan kita berbanding lurus dengan banyaknya milik kita.

Contohnya, kalau anda memiliki seekor kuda, anda akan kuatir ia akan dibawa musuh anda atau dicuri maling. Anda akan ingin tahu apakah sudah cukup jerami yang diperlukan, dan seterusnya. Hanya dengan memiliki seekor kuda saja membawa banyak masalah. Jika anda punya seekor domba, anda akan memiliki masalah yang ditimbulkan karena memiliki seekor domba. Jika apa yang anda miliki hanya sebungkus teh, anda akan yakin anda akan mempunyai masalah sebanyak dengan masalah yang ditimbulkan sebungkus teh.

Oleh sebab itu, pikir dan renungkan betapa pentingnya hidup dalam ketenangan, mengikuti pepatah kuno “tiada kekayaan, tiada musuh.”

Berikan dorongan pada anda sendiri dengan cerita Buddha dahulu kala dan cabutlah kemelekatan anda pada uang dan harta benda. Hiduplah dengan apa adanya seperti burung, dan abdikan diri anda seluruhnya pada latihan Dharma.

98

Takut kehilangan orang yang dikasihi

Kita yang hidup di alam samsara ini merasakan kemelekatan pada mereka di mana kita menaruh simpati dan permusuhan. Demi sanak saudara, pengikut, teman sebangsa, teman-teman dan kekasih kita, kita bersedia mengalami segala macam penderitaan. Tiada satu pun dari mereka di mana kita mempunyai ikatan kekeluargaan atau persahabatan akan hidup selamanya, dan cepat atau lambat kita dipaksa untuk berpisah dengan mereka. Mereka meninggal, atau mereka mengembara ke negeri lain, atau mereka diancam musuh dan bahaya lainnya – dan penderitaan yang mereka alami mempengaruhi kita lebih dalam dibanding penderitaan kita sendiri. Terutama orang tua menaruh perhatian yang besar terhadap anak-anak mereka, dan terus menerus kuatir mereka akan kedinginan, kelaparan atau haus, atau mungkin mereka sakit atau meninggal. Sesungguhnya, mereka mencintai anak-anaknya sampai-sampai mereka rela mati dari pada membiarkan anak-anaknya menderita.

Dan demi mereka, mereka menderita kesedihan yang dalam.

Namun, meski kita begitu menderita dari rasa takut akan berpisah dengan teman dan sanak saudara yang kita cintai, kita sebaiknya berpikir tentang itu dengan baik-baik. Apakah kita yakin orang yang kita kasihi itu benar-benar begitu manis seperti yang kita pikirkan? Misalnya, orangtua menyatakan bahwa mereka mencintai anak-anaknya, namun cara mereka mencintai adalah salah dan mempunyai akibat yang akhirnya merugikan. Dengan mencoba memberikan kekayaan kepada anak-anaknya dan menyuruh mereka berkeluarga, mereka mengencangkan jerat samsara kepada mereka. Orangtua mengajar anak-anaknya apa yang perlu mereka tahu untuk mengatasi musuh-musuh, bagaimana menjaga teman-teman, bagaimana menjadi kaya, dan segala macam perbuatan yang merugikan yang akan memastikan mereka tidak dapat melarikan diri dari perangkap alam rendah. Kenyataannya, tiada perbuatan lain yang lebih merugikan mereka dari pada perbuatan demikian.

Sedangkan anak-anak, baik laki-laki ataupun perempuan, pada awalnya mereka menyedot sari tubuh orangtuanya, pada pertengahan mereka mengambil makanan dari mulut orangtuanya, dan akhirnya mereka mengambil kekayaan dari tangan orangtuanya. Sebagai ganti kasih sayang orangtua kepada mereka, mereka malah berontak kepadanya.

Kepada anak-anaknya, orangtua memberikan semua kekayaan yang mereka kumpulkan sepanjang hidupnya dengan tanpa memperhitungkan biaya dan semua perbuatan negatif, penderitaan dan celaan yang harus mereka alami – namun anak-anak sedikit pun tidak merasa berterima kasih. Kendati mereka berikan lima puluh mata uang perak India, anak-anak tidak lebih berterima kasih dari pada orang-orang biasa yang

99

diberikan secangkir teh. Pada pikiran anak-anak, apa yang dimiliki orangtua mereka, otomatis adalah milik mereka.

Saudara-saudara kandung, demi mendapatkan kekayaan orangtua, mereka saling berselisih merampas kekayaan orangtua dengan tanpa rasa berterima kasih. Semakin banyak yang diberikan kepada mereka, semakin banyak juga yang mereka minta. Jika orangtua memiliki batu permata berharga yang dipakai sebagai biji tasbih, dengan tipu muslihat mereka akan mengambilnya juga. Anak-anak perempuan yang walaupun baik, paling-paling menyumbang untuk kemakmuran orang lain, namun tidak membawa apa-apa untuk orangtuanya. Tetapi jika keadaan tidak berjalan sesuai harapan, mereka pulang ke rumah membawa aib dan kesedihan kepada keluarga.

Sedangkan semua sanak saudara dan teman lainnya, sepanjang kita makmur dan bahagia dan segala sesuatu berjalan lancar, kita diperlakukan seperti dewa. Mereka melakukan apa saja untuk membantu kita, dan memberi kita semua barang meski kita tidak memerlukannya.

Tetapi begitu kita jatuh dalam kesulitan, meskipun kita tidak melakukan perbuatan yang merugikan mereka, mereka memperlakukan kita sebagai musuh dan membalas kebaikan hati kita dengan kebencian.

Ini semuanya menunjukkan tidak ada yang berharga dari anak laki-laki, anak perempuan, sanak saudara dan teman-teman. Sebagaimana Jetsun Milarepa menyatakan dengan tepat ketika ia bernyani:

Pada mulanya, anak anda adalah dewa kecil yang manis, Anda sangat mencintainya;

Pada pertengahan, ia dengan garang minta bagiannya.

Anda memberikan segalanya, namun ia tetap tidak puas;

Ia membawa pulang anak perempuan orang lain, Dan mendesak orang tuanya yang baik hati ke luar;

Ketika ayahnya memanggil, ia tidak berkenan menjawab, Ketika ibunya memanggil, ia malah tidak mendengar;

Pada akhirnya, ia seperti seorang tetangga yang jauh.

Anda menghancurkan diri anda sendiri memberi makan penipu seperti itu.

Betapa mengecewakan, memperanak musuh anda sendiri!

Saya sudah melepaskan tali yang menyeret kita ke alam samsara ini.

Saya tidak menginginkan satu pun anak duniawi seperti ini.

Dan ia melanjutkan:

100

Pada mulanya seorang anak perempuan adalah dewi yang tersenyum manis,

Angkuh dan memonopoli semua milik anda;

Pada pertengahan, ia minta haknya dengan tiada henti-hentinya, Dan dengan diam-diam mencurinya dari ibunya;

Ia tidak pernah puas dengan apa yang sudah diberikan;

Ia adalah sumber keputus-asaan untuk orang tuanya yang baik hati.

Pada akhirnya, ia adalah raksasa jahat berwajah merah yang menakutkan;

Paling-paling ia adalah milik orang lain;

Celakanya, ia membawa aib untuk anda;.

Betapa mengecewakan monster yang membawa kesusahan ini!

Saya telah melepaskan kesedihan yang tak terobati;

Saya tidak menginginkan anak perempuan yang membawa saya ke kehancuran.

Akhirnya:

Awalnya, teman-teman menemui anda dengan girang, mereka tersenyum;

Seluruh lembah berbunyi “Masuklah dan silakan duduk!”

Pada pertengahan, mereka membalas keramah-tamahan anda de-ngan daging dan bir;

Satu per satu, persis satu untuk satu kebaikan yang anda berikan;

Akhirnya, mereka menyebabkan perselisihan yang berdasarkan kebencian dan kemelekatan;

Betapa mengecewakan mereka itu, teman-teman jahat dengan segala pertengkarannya!

Saya telah berhenti dari teman makan waktu santai;

Saya tidak lagi menginginkan satu pun teman duniawi.

Penderitaan tidak mendapatkan sesuatu yang diinginkan

Tiada satu pun di antara kita di dunia ini yang tidak menginginkan kebahagiaan dan merasa enak, namun sekalipun begitu, tidak ada satu pun di antara kita mendapatkan apa yang kita inginkan. Contohnya, suatu keluarga mencoba membuat mereka merasa nyaman dengan membangun sebuah rumah, namun rumah itu roboh dan mereka terbunuh. Seseorang makan untuk menghilangkan rasa laparnya, namun makanan itu membuatnya sakit dan membahayakan jiwanya. Tentara pergi ke medan perang dengan berharap untuk mendapatkan kemenangan, namun mereka segera terbunuh. Suatu kelompok pedagang pergi pada ekspedisi

101

perdagangan dengan harapan besar untuk memperoleh keuntungan, namun mereka diserang dan akhirnya menjadi pengemis. Berapa pun banyaknya usaha dan tenaga yang kita curahkan dengan harapan menjadi bahagia dan kaya di dalam hidup ini, kecuali perbuatan kita di masa lalu telah menciptakan potensi untuk itu, kita bahkan tidak akan dapat memuaskan lapar yang kita rasakan sekarang ini. Segala yang kita kerjakan adalah membuat kesusahan pada kita sendiri dan orang lain.

Satu-satunya hasil yang pasti kita dapatkan adalah tidak terlepasnya dari kedalaman alam rendah. Itulah sebabnya ada pepatah yang mengatakan:

“Pahala sekecil percikan bunga api lebih berharga dari pada usaha sebesar gunung.”

Apa gunanya kegiatan samsara yang tidak pernah berkesudahan?

Semua usaha yang kita lakukan sejak waktu yang tak berawal dalam alam samsara untuk memdapatkan apa yang kita inginkan tidak membawa sesuatu pun kepada kita kecuali penderitaan. Pada waktu lampau, kalau saja kita menggunakan usaha yang kita curahkan pada tujuan duniawi dalam satu kehidupan saja dan sebagai gantinya kita curahkan untuk Dharma, kita sekarang sudah menjadi Buddha. Kalaupun tidak demikian, sedikitnya kita pasti tidak akan menjadi sasaran penderitaan di alam rendah.

Kita semestinya merenung demikian: karena kita sekarang telah mengetahui perbedaan antara apa yang harus kita perbuat dan yang tidak boleh kita lakukan, marilah kita berhenti meletakkan harapan besar dalam kegiatan samsara yang tidak pernah akan berhasil – dan sebagai gantinya melatih Dharma yang benar, di mana pencapaiannya merupakan kepas-tian.

Penderitaan atas terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan

Tiada seorang pun diantara kita di dunia ini yang menginginkan penderitaan yang diuraikan disini, namun hal itu justru yang kita alami sepanjang waktu, terserah kita mau atau tidak. Contohnya, ada orang-orang yang karena perbuatan di masa lalu menjadi rakyat dari penguasa tertentu atau budak orang kaya. Berlawanan dengan kemauan mereka, mereka dijadikan bawahan, tanpa ada waktu bebas sebentar pun. Mereka mungkin akan dihukum karena kesalahan mereka yang kecil, namun tidak ada yang dapat mereka lakukan untuk menghindarinya. Meski mereka dibawa ke tempat pelaksanaan hukuman mati, mereka akan mengetahui tidak ada gunanya berusaha untuk melarikan diri.

Kita selalu mengalami apa yang tidak kita inginkan. Sebagaimana Longchenpa Yang Mahatahu berkata:

Anda ingin tinggal bersama keluarga dan kekasih anda

102

Selamanya, namun anda pasti meninggalkan mereka;

Anda ingin menjaga rumah anda yang indah

Selamanya, namun anda pasti akan meninggalkannya;

Anda ingin menikmati kebahagiaan, kekayaan dan kenyamanan Selamanya, namun anda pasti kehilangan mereka;

Anda ingin menjaga kehidupan manusia yang baik sekali ini dengan kebebasan dan keberuntungannya

Selamanya, namun anda pasti akan mati;

Anda ingin mempelajari Dharma dengan guru anda yang hebat Selamanya, namun anda pasti akan berpisah dengannya;

Anda ingin bersama teman spiritual anda yang baik Selamanya, namun anda pasti akan berpisah dengannya.

O teman saya yang merasakan kekecewaan yang dalam terhadap samsara,

Saya, pengemis Dharma, mendesak anda:

Mulai hari ini kenakan pakaian lapis baja usaha anda, karena waktu telah tiba

Untuk menyeberang ke negeri berkah agung di mana tidak ada perpisahan.

Kekayaan, harta benda, kesehatan, kebahagiaan dan kemasyhuran semuanya adalah hasil perbuatan positif di masa lalu. Jika anda sudah mengumpulkan perbuatan positif di masa lampau, apakah anda meng-inginkannya atau tidak, semua barang-barang ini akan datang secara alami kepada anda sebagai akibatnya. Namun tanpa perbuatan positif demikian, seberapa besarnya usaha apa pun tidak memungkinkan anda untuk mendapatkan apa yang anda inginkan. Apa yang anda dapatkan hanyalah penderitaan yang tidak menyenangkan. Oleh sebab itu, ketika anda berlatih Dharma, andalkan pada kekayaan yang tak habis terpakai dengan merasa puas dengan apa yang ada. Kalau tidak, begitu anda mulai berlatih, ambisi keduniawian anda untuk kehidupan ini pasti akan membawa kesulitan kepada anda dan tidak menyenangkan makhluk-makhluk suci. Jetsun Mila bernyanyi:

Apa yang terutama diajarkan oleh Yang Dipertuan Manusia, Sang Penakluk,

Adalah bagaimana melepaskan diri dari kedelapan urusan duniawi;

Tetapi mereka yang berpikir mereka itu terpelajar hari ini,

Tidakkah perhatian mereka terhadap hal duniawi tumbuh lebih banyak dari sebelumnya?

103

Sang Penakluk mengajarkan sila untuk diikuti,

Sehingga seseorang dapat meninggalkan tugas-tugas duniawi;

Namun biarawan-biarawan sekarang yang mengikuti peraturan ini,

Tidakkah tugas keduniawian mereka lebih banyak dari sebe-lumnya?

Ia mengajarkan bagaimana hidup seperti rsi zaman dulu,

Sehingga seseorang dapat memotong ikatan dengan teman dan sanak saudara;

Tetapi orang-orang yang hidup seperti biarawan sekarang ini – Tidakkah mereka menjadi lebih mementingkan ikatan keluarga?

Jika Dharma dilatih dengan tanpa mengingat kematian, Dharma apa pun tidak akan ada gunanya.

Manusia yang hidup dalam masa kemerosotan108 di empat benua ini, terutama di Jambudvipa, bahkan kesempatan terkecil untuk mendapatkan kebahagiaannya sudah tidak ada. Hidup mereka penuh dengan penderita-an. Sekarang ini kemerosotan berjalan lebih cepat setiap tahun, setiap bulan dan setiap hari, setiap waktu makan, setiap pagi dan setiap malam.

Kalpa ini berjalan dari buruk menjadi lebih buruk lagi. Ajaran Buddha dan kebahagiaan makhluk hidup semakin menghilang. Pikirkanlah semua hal ini dan kembangkanlah rasa kekecewaan.

Lebih-lebih lagi, benua Jambudvipa ini memberikan kekuatan yang khusus pada akibat perbuatan, yang membuat semua hal – baik atau buruk, yang menyenangkan dan yang tidak menyenangkan, tinggi dan rendah, Dharma atau bukan Dharma – menjadi sangat tidak dapat diperkirakan. Anda sebaiknya benar-benar melihat sendiri bagaimana hal sesungguhnya dengan jelas di pikiran anda apa yang harus dilakukan dan apa yang harus dihindari. Latihlah nasihat Longchenpa Yang Mahatahu:

Kadang-kadang amatilah hal menyenangkan yang anda rasakan, Jika anda tahu bahwa hal itu hanyalah persepsi, semua

penga-laman anda akan menjadi sesuatu yang berguna;

Kadang-kadang amatilah hal merugikan dan membahayakan yang anda rasakan,

Hal ini penting untuk menghentikan penipuan akan kemelekatan nafsu keinginan oleh persepsi anda yang keliru;

Kadang-kadang amatilah teman-teman dan guru orang lainnya,

108 Masa di penghujung kalpa di mana keadaan menjadi buruk.

104

Membedakan yang baik dan yang buruk akan mendorong anda untuk berlatih;

Kadang-kadang amatilah tayangan ajaib dari keempat elemen di angkasa,

Anda akan melihat bagaimana usaha menjadi reda dalam hakikat pikiran yang sejati;

Kadang-kadang amatilah tanah tempat lahir, rumah dan milik anda,

Mengetahui bahwa mereka hanyalah khayalan, anda tidak akan lagi ditipu oleh persepsi anda;

Kadang-kadang amatilah kekayaan dan milik orang lain,

Melihat betapa kasihannya mereka, anda akan membuang ambisi samsara;

Singkatnya, periksalah sifat dasar dari penampilan segala hal dan keaneka-ragamannya,

Anda akan menghancurkan khayalan untuk berpegang pada apa pun seolah-olah hal itu nyata.

5. Asura

Kesenangan dan kemewahan yang dinikmati asura, makhluk setengah dewa ini, menyaingi apa yang dimiliki dewa-dewa. Akan tetapi mereka memiliki kecenderungan yang kuat akan kebencian, perselisihan dan perkelahian dari kehidupan yang lalu. Akibat dari perbuatan negatif itu adalah, tidak lama mereka terlahir sebagai makhluk tersebut, mereka mulai mengalami perasaan kebencian yang kuat.

Malah dalam alam mereka sendiri, ada perselisihan tentang wilayah dan provinsi. Mereka menghabiskan semua waktu mereka berkelahi dan bertengkar di antara mereka atas pertentangan tersebut.

Lebih parah lagi, ketika melihat ke atas ke alam dewa, mereka dapat melihat dewa-dewa memiliki kekayaan dan milik yang paling banyak.

Mereka juga melihat apa yang diinginkan dan diperlukan dewa semuanya dipenuhi oleh pohon pengabul harapan – yang akarnya justru tumbuh di alam asura, alam mereka sendiri. Akan hal itu, mereka tercekam oleh rasa dendam yang tak tertahankan. Dengan mengenakan pakaian lapis baja dan memegang senjata, mereka berangkat berperang melawan dewa-dewa. Segera sesudah melihat apa yang terjadi, dewa-dewa maju ke Taman Agresi,109dan mereka juga mengenakan pakaian lapis baja dan mengenggam senjata. Dewa-dewa memelihara seekor gajah yang berkepala tiga puluh tiga yang bernama Kemantapan Tertinggi. Raja

109 Di sebelah selatan istana tempat tinggal Dewa Indra terdapat suatu taman yang terhias dengan pepohonan dan kolam. Dewa-dewa yang memasukinya akan menjadi agresif.

105

mereka, Indra, duduk di kepala tengah, dengan semua menteri di sekelilingnya pada ketiga puluh dua kepala lainnya. Pasukan surgawi yang tak terbayangkan dengan kemegahan yang sangat menarik mengelilingi mereka, sambil meneriakkan pekik perang yang memekak-kan telinga. Begitu perang dimulai, mereka melepasmemekak-kan hujan senjata – vajra, cakra, tombak, panah raksasa dan sebagainya. Tenaga gaib mereka memberi mereka kekuatan untuk menyeret gunung ke dalam pangkuan mereka lalu melemparkannya sebagai peluru. Karena perbuatan mereka yang lampau, dewa tujuh kali lebih tinggi dari manusia. Tetapi makhluk setengah dewa jauh lebih rendah dari dewa. Dewa hanya bisa terbunuh kalau kepalanya terpenggal, sedangkan luka mana saja yang mereka kena segera tersembuhkan oleh nektar surgawi mereka. Tetapi asura mati seperti manusia, yaitu kalau bagian penting dari tubuh mereka terluka.

Tentu saja mereka ditakdirkan kalah dalam banyak peperangan yang terjadi. Sebagaimana dari banyak strategi mereka, dewa-dewa mengirim gajah yang bernama Pelindung Segala yang dimabukkan dengan minuman keras, dengan sebuah roda pedang terikat pada belalainya.

Akibatnya asura yang mati sampai ratusan ribu jumlahnya. Mayat-mayat mereka jatuh bergelimpangan ke lereng Gunung Meru dan jatuh ke dalam Danau Kegembiraan Agung110 di bawahnya, sehingga air danau itu tertutupi dengan warna merah darah.

Dalam alam asura, karena perkelahian dan pertengkaran yang terus menerus, mereka tidak bebas dari penderitaan. Renungkanlah nasib mereka dari dalam lubuk hati anda.

6. Dewa

Dewa-dewa menikmati kesehatan yang sempurna, kenyamanan, kekayaan dan kebahagian sepanjang hidup mereka. Tetapi mereka menghabiskan waktu mereka dalam hiburan. Pikiran untuk berlatih Dharma tidak pernah muncul pada mereka. Umur mereka bisa mencapai beberapa kalpa. Namun dalam perasaan mereka, waktu sepanjang itu hanya berlangsung sebentar saja. Sesudah menyia-nyiakan seluruh kehidupan mereka dalam kekalutan, tiba-tiba mereka dihadapkan pada kematian. Semua dewa di enam surga alam kamadhatu, dari Surga Empat Maharaja sampai pada Surga yang disebut Surga Penikmatan Ciptaan Dari Yang Lain harus mengalami penderitaan kematian dan perpindahan.

Ada lima tanda yang mengisyaratkan kematian seorang dewa.

Kecemerlangan yang menjadi pembawaan badannya, yang biasanya

110 Danau-danau di antara Tujuh Jajaran Pengunungan Emas yang mengelilingi Maha Meru tempat raja-raja naga bercengkerama.

106

dapat terlihat sejauh satu yojana atau satu jarak pendengaran, mulai menjadi suram. Singgasananya, yang mulanya ia tak pernah merasa jemu duduk di atasnya, kini sudah tidak menyenangkan hatinya. Ia merasa sangat tidak nyaman dan tidak tenang. Kalung bunganya, yang dulunya tidak pernah layu biar berapa pun waktu berlalu, kini menjadi layu. Pakaiannya yang selalu bersih dan segar selama apa pun ia memakainya, kini kusam, dekil dan mulai berbau. Badannya yang tak pernah berkeringat, kini mulai berkeringat. Ketika kelima tanda mendekati kematian ini muncul, dewa tersebut tersiksa oleh pengetahuan bahwa ia akan segera meninggal. Teman-teman surgawi dan kekasihnya juga mengetahui apa yang sedang terjadi padanya. Mereka tidak menghampirinya lagi, tetapi melemparkan bunga dari kejauhan dan memberikan ucapan mereka sambil berkata “Kalau anda meninggal dan berlalu dari sini, semoga anda terlahirkan di alam manusia. Semoga anda melakukan perbuatan baik dan sesudah itu terlahir lagi di alam dewa.”

Dengan begitu mereka meninggalkannya. Sunyi sepi sendiri, dewa yang akan meninggal itu dilanda kesedihan. Dengan mata surgawinya ia melihat di mana ia akan terlahirkan. Jika itu adalah alam penderitaan,

Dengan begitu mereka meninggalkannya. Sunyi sepi sendiri, dewa yang akan meninggal itu dilanda kesedihan. Dengan mata surgawinya ia melihat di mana ia akan terlahirkan. Jika itu adalah alam penderitaan,

Dalam dokumen Guru Padmasambhava. iii (Halaman 102-121)