BAGIAN PERTAMA
KETIDAK-SEMPURNAAN DUNIA SAMSARA
II. PENDERITAAN KHUSUS YANG DIALAMI MAKHLUK DI ENAM ALAM
1. Delapan belas neraka
1.3 Delapan neraka dingin 95
Dalam semua neraka ini, lingkungan sekitarnya semuanya terdiri dari gunung bersalju dan sungai-sungai es, yang selamanya diselimuti dengan badai salju.
Makhluk-makhluk di sana semuanya telanjang, tersiksa oleh rasa dingin. Dalam Neraka Lepuh, rasa dingin membuat lepuh timbul ke permukaan tubuh. Dalam Neraka Letupan Lepuh, lepuh-lepuh akan meletup dan terbuka. Dalam Neraka Gemeretakan Gigi, rasa dingin yang mengigil tak tertahankan membuat gigi makhluk disana gemeretak.
Dalam Neraka Ratapan, mereka meratap tak henti-hentinya. Dalam Neraka Rintihan, suara mereka pecah dan rintihan yang panjang keluar dari bibir mereka. Dalam Neraka Retakan Seperti Bunga Utpala, kulit mereka menjadi biru dan pecah menjadi pecahan yang menyerupai bunga berkelopak daun empat. Dalam Neraka Retakan Seperti Bunga Teratai Merah, daging merah mentah mereka menjadi kelihatan, dan rasa dingin membuatnya terpecah menjadi delapan bagian. Terakhir, dalam Neraka Retakan Seperti Bunga Teratai Besar, daging merah mentah mereka menjadi merah padam dan terpecah menjadi enam belas, tiga puluh dua, dan kemudian terpecah dalam pecahan yang tak terhitung banyaknya.
Ulat-ulat merasuki pecahan daging dan melahapnya degan paruh logam mereka. Nama delapan neraka ini diambil dari penderitaan yang berbeda yang diderita makhluk di dalamnya.
Untuk menghitung jangka waktu kehidupan di neraka-neraka dingin ini, bayangkan sebuah wadah yang berisi biji wijen sebanyak dua ratus takaran Kosala.96 Lamanya hidup di Neraka Lepuh adalah sama lamanya untuk mengosongkan wadah tersebut dengan mengeluarkan sebutir biji wijen setiap seratus tahun.
Untuk neraka-neraka dingin lainnya, rentang hidup dan penderitaan bertambah dengan kelipatan dua puluh. Jadi, hidup di Neraka Letupan Lepuh adalah dua puluh kali lebih lama dari Neraka Lepuh, dua puluh kali lebih lama lagi dari neraka ini di Neraka Gemeretakan Gigi dan begitu seterusnya.
Renungkan hal itu dengan cara yang sama seperti halnya neraka panas. Pikirkan betapa tak tertahankan rasa dingin kalau kita berdiri dengan telanjang menghadapi angin di musim dingin di alam manusia ini,
95 Nama-nama neraka dingin tersebut berturut-turut adalah: Arbuda, Nirarbuda, Aṭaṭa, Hahava, Huhuva, Utpala, Padma, dan Mahāpadma.
96 Suatu takaran zaman dulu yang diberi nama Kosala, sesuai nama suatu kota di India (dekat kota modern Ayodhya).
77
walau hanya sebentar saja. Bagaimana anda dapat menghadapi penderitaan tersebut seandainya anda terlahir di alam itu? Akuilah kesalahan anda dan berjanjilah tidak melakukannya lagi. Kemudian kembangkan belas kasih terhadap makhluk-makhluk yang benar-benar tinggal di alam tersebut. Berlatihlah seperti semula, dengan mempergu-nakan cara pada pendahuluan, latihan utama dan kesimpulannya.
1.4 Neraka tersendiri97
Neraka Tersendiri muncul di berbagai tempat, dan penderitaan yang dialami di dalamnya juga berbeda satu sama lainnya. Makhluk-makhluk mungkin diremukkan di antara batu karang, terperangkap di dalam batu, dibekukan di dalam es, dimasak di dalam air mendidih atau dibakar dalam api. Sebagian orang merasakan, ketika seseorang menebang pohon, mereka adalah pohon yang dibabat anggota badannya. Sementara ada sebagian orang yang mengidentifikasi dirinya sebagai barang yang dipergunakan terus menerus, seperti lesung, sapu, panci, pintu, tiang, tungku dan tali.
Contoh dari cerita tentang nereka-neraka ini adalah cerita tentang seekor ikan yang dilihat oleh Lingje Repa98 di Danau Yamdrok, dan katak yang ditemukan oleh siddha Tangtong Gyalpo99 di dalam sebuah batu.
Danau Yamdrok muncul waktu dakini Yeshe Tshogyal sedang bermeditasi di Yamdrok, ketika sepotong emas murni yang dilempar oleh seorang Bönpo dijelma menjadi danau. Danau tersebut adalah salah satu dari empat danau100 yang terkenal di Tibet. Danau itu begitu panjang sehingga untuk berjalan dari hulunya di Lung Kangchen ke ujungnya di Zemaguru memerlukan beberapa hari perjalanan. Pada suatu hari siddha agung Lingje Repa melihat ke dalam danau tersebut, dan ia mulai menangis sambil berseru: “Makhluk yang malang! Jangan menyalah-gunakan persembahan! Jangan menyalah-menyalah-gunakan persembahan!”101
Ketika orang-orang yang menyertainya meminta penjelasannya, ia berkata: “Kesadaran seorang Lama yang menyalahgunakan persembahan
97 Skt. Pratyeka-naraka, lihat Catatan kaki No. 41.
98 Lingje Repa (1128 – 1188), merealisasi aspek kebenaran realita sesudah berlatih tujuh tahun tujuh bulan dan tujuh hari. Pendiri Vihara Labuleng (Tibet).
99 Tangtong Gyalpo, salah satu Guru Silsilah Kagyupa.
100 Danau Yamdrok, salah satu dari empat danau yang terkenal di Tibet. Tiga danau lainnya adalah: Danau Manasarovar (Mapam Yumtso), Namtso, dan Danau Qinghai (Koko Nor atau Tso Ngonpo).
101 Persembahan dari donatur, termasuk persembahan untuk membantu orang yang meninggal dunia.
78
telah terlahir di Neraka Tersendiri dalam danau ini, dan ia sangat menderita”
Mereka ingin melihatnya. Siddha itu mengeringkan danau tersebut secara gaib dengan seketika. Tampak seekor ikan yang begitu besar sehingga badannya menjangkau seluruh panjang dan lebar danau tersebut.
Ikan itu menggeliat dalam kesakitan yang amat hebat, karena badannya penuh dengan makhluk-makhluk kecil yang memakannya hidup-hidup.
Orang-orang yang menyertai Lingje Repa bertanya kepadanya siapakah sebenarnya orang yang memiliki karma buruk tersebut, dan ia menjawab:
“Itu adalah Tsangla Tanakchen, Lama Kuda Hitam dari Tsang. Ia adalah seorang Lama yang ucapannya memiliki kekuatan dan berkah yang tinggi. Hanya sekilas pandangannya saja cukup untuk menyembuhkan orang yang kerasukan makhluk halus. Oleh karena hal inilah, ia sangat dimuliakan di empat propinsi U dan Tsang. Tetapi ketika ia melakukan pemindahan kesadaran pada upacara pemakaman, untuk tiap kata
“Phet!”102 yang diucapkannya ia meminta bayaran yang banyak dari kuda dan ternak milik orang yang meninggal tersebut. Sesudah ia meninggal, ia terlahir sebagai ikan ini.”
Suatu hari siddha Tangtong Gyalpo mempraktekkan latihan yoga saluran nadi dan prana pada sebuah batu besar. Batu itu terbelah menjadi dua, dan di dalamya ada seekor katak besar dengan mulutnya yang mengatup dan membuka. Tak terhitung banyaknya makhluk-makhluk kecil yang menempel dibadannya dan memakannya hidup-hidup, yang menyebabkan kesakitan yang tak tertahankan. Ketika teman-temannya bertanya apa yang terjadi, Tangtong Gyalpo menerangkan bahwa makhluk yang terlahir sebagai katak tersebut adalah seorang guru yang membuat persembahan dengan mengorbankan binatang.
Lihatlah Lama-lama sekarang ini! Setiap kali donatur mereka menyembelih seekor domba gemuk dan mengisi kerongkongan dan jeroan lainnya dengan daging dan darah, lalu menghidangkannya menumpuk pada daging tulang iga, Lama-lama menarik selendang jubahnya ke atas kepala dan menyedot jeroan tersebut seperti bayi menyedot susu dari payudara ibunya. Lalu mereka mengeluarkan pisau dan memotong daging bagian luar dan mengunyahnya dengan santai.
Ketika mereka selesai, kepala mereka muncul lagi, panas dan berkeringat.
Mulut mereka mengkilap oleh lemak dan jambang mereka menjadi merah.
Namun mereka akan mendapat masalah besar dalam kehidupan yang
102 Salah satu penggunaan dari suku kata Phet adalah untuk memproyeksikan kesadaran dalam praktek pemindahan kesadaran (Phowa). Lihat Bagian Ketiga.
79
akan datang di Neraka Tersendiri, di mana mereka harus membayar kembali dengan badan mereka sendiri.
Suatu ketika Palden Chökyong, Kepala Vihara Ngor sedang berada di Derge. Ia menempatkan banyak biarawan di sepanjang tepi sungai Ngulda, sambil berpesan supaya jangan biarkan barang apa pun lolos.
Menjelang malam, mereka melihat sebatang pohon yang besar terapung di atas air, lalu mereka menyeretnya ke tepi sungai dan membawanya ke Kepala Vihara tersebut, sambil berkata mereka tidak melihat barang lainnya.
" Mesti di sini" katanya, “dibelah saja”
Di dalamnya mereka menemukan seekor katak besar yang sedang dimakan oleh banyak sekali serangga. Sesudah melakukan ritual puri-fikasi, Kepala Vihara itu berkata bahwa katak itu dulunya adalah pengurus barang-barang persembahan di Derge yang bernama Pogye.
Sekarang ini, orang-orang berkuasa dan berkedudukan tinggi yang mencedok dompet masyarakat, sebaiknya berpikir tentang Neraka Tersendiri dan berhati-hati.
Pada zaman Buddha, ada seorang tukang jagal yang bersumpah tidak membunuh binatang pada malam hari. Ia terlahir di Neraka Tersendiri.
Pada malam hari, kesenangannya tiada batasnya. Ia tinggal di sebuah rumah yang besar, dilayani oleh empat orang wanita cantik dengan makanan, minuman dan kesenangan lainnya. Pada siang hari, dinding rumah itu berubah menjadi logam panas membara dan keempat wanita tersebut berubah menjadi empat ekor anjing yang memakan badannya.
Dahulu, Srona melihat dengan mata kepala sendiri ada seorang penzinah yang bersumpah untuk menjaga kesuciannya pada siang hari.
Berlawanan dengan tukang jagal tersebut, ia hanya menderita pada malam hari.
Dulu pernah ada sebuah vihara yang di dalamnya tinggal sekitar lima ratus biarawan. Ketika lonceng berbunyi pada tengah hari, dan biarawan-biarawan berkumpul untuk makan, vihara itu menjadi rumah yang terbuat dari logam menyala. Mangkok pindapatta, cangkir dan lain-lain milik biarawan-biarawan tersebut berubah menjadi senjata, dan mereka berkelahi satu sama lain dengan senjata-senjata tersebut. Ketika waktu makan siang usai, mereka akan berpencar lagi dan pergi ke tempat masing-masing. Pada masa Buddha Kasyapa, banyak biarawan bertengkar pada waktu makan siang di tengah hari, dan inilah akibat karma yang sudah matang.
Kedelapan neraka panas, delapan neraka dingin, neraka samping dan neraka tersendiri disebut delapan belas alam neraka. Pelajari baik-baik bilangan tersebut, lamanya waktu yang harus dijalani makhluk di sana, penderitaan mereka dan sebab mereka terlahir di sana, dan
80
renungkanlah dengan belas kasih terhadap makhluk-makhluk yang terlahir di sana. Berusahalah memastikan bahwa tiada seorang pun, baik anda sendiri atau orang lainnya, yang akan terlahir di alam itu.
Jika anda sudah merasa puas hanya dengan mendengar dan mengeta-huinya secara intelektual, dengan tidak membuatnya menjadi suatu pengalaman yang hidup, anda hanya akan menjadi praktisi yang keras kepala dan sombong yang dicela oleh makhluk suci dan dipandang rendah oleh orang-orang bijaksana.
Pada suatu waktu ada seorang biarawan yang dari tampak luar cara hidupnya patut dicontoh namun sangat sombong. Ia mengunjungi Shang Rinpoche, yang bertanya kepadanya Dharma apakah yang ia ketahui.
“Saya telah mendengar banyak ajaran”, jawab biarawan tersebut.
“Kalau begitu ceritakanlah kepada saya nama-nama kedelapan belas neraka”, kata Shang Rinpoche.
“Delapan neraka panas dan delapan neraka dingin, ini jadi enam belas, lalu akan menjadi delapan belas jika anda tambahkan Karmapa Topi Hitam dan Topi Merah.”
Bukanlah karena kurangnya rasa hormat yang menyebabkan ia me-masukkan Guru Karmapa dalam hitungan neraka. Ia hanya lupa akan nama neraka samping dan neraka tersendiri. Dan karena Karmapa Topi Hitam dan Topi Merah sangat populer waktu itu, ia mengatakan menurut kata hatinya. Jadi, apakah anda telah melatih ajaran yang anda dapat atau tidak adalah suatu hal, tetapi tidak tahu sedikit pun tentang kata-kata yang terkait sangatlah memalukan.
2. Preta
Ada dua jenis preta, yaitu preta yang tinggal secara kolektif dan yang bergerak dalam ruang angkasa.