• Tidak ada hasil yang ditemukan

Preta yang tinggal secara kolektif

Dalam dokumen Guru Padmasambhava. iii (Halaman 86-90)

BAGIAN PERTAMA

KETIDAK-SEMPURNAAN DUNIA SAMSARA

II. PENDERITAAN KHUSUS YANG DIALAMI MAKHLUK DI ENAM ALAM

1. Delapan belas neraka

2.1 Preta yang tinggal secara kolektif

Preta-preta ini terdiri dari preta yang menderita kegelapan batin luar, preta yang menderita kegelapan batin dalam dan preta yang menderita kegelapan batin tertentu.

Preta yang menderita kegelapan batin luar

Preta-preta ini disiksa oleh rasa lapar dan haus yang amat hebat. Ber-abad-abad mereka lewati dengan tanpa mendengar apa pun tentang air.

Terobsesi secara terus menerus akan makanan dan minuman, mereka mencarinya dengan tak henti-hentinya, namun tidak mendapatkannya sedikit pun.

81

Kadang-kadang dari kejauhan mereka melihat ada anak sungai yang berair bersih dan jernih. Dengan tulang-tulang sendi mereka yang begitu rapuh untuk menanggung berat perut mereka yang besar, mereka sampai dengan susah payah dan sama sekali kehabisan tenaga waktu tiba disana – hanya untuk lebih menderita lagi ketika mereka mendapatkan bahwa air di sana sudah kering sama sekali. Yang tinggal hanya kerikil saja.

Kadang-kadang mereka melihat kebun buah-buahan di suatu tempat yang jauh. Seperti semula, mereka mendekat. Tetapi ketika mereka sampai di sana, mereka mendapatkan pohon-pohon besar di sana sudah kering dan layu. Kadang-kadang mereka melihat banyak sekali makanan, minuman dan barang-barang yang menyenangkan. Tetapi ketika mereka sampai di sana, mereka mendapatkan bahwa barang-barang tersebut dikawal oleh sekumpulan orang bersenjata. Pengawal-pengawal mengusir dan memukul mereka dengan senjata tersebut, sehingga menyebabkan kesakitan luar biasa.

Pada musim panas, sinar bulan terasa panas dan membakar;

sedangkan pada musim dingin, bahkan sinar matahari terasa dingin luar biasa. Perasaan yang demikian sangat menyiksa mereka.

Suatu ketika, Srona berada di alam preta. Ia menjadi terpengaruh oleh racun keserakahan mereka yang begitu kuat, sehingga ia merasa haus. Mulutnya menjadi kering. Ia bertemu dengan sebuah benteng besi di mana pada pintunya berdiri sesosok tubuh yang murung dan mengeri-kan dengan mata merah.

“Ada air?” tanya Srona.

Mendengar kata itu, kumpulan preta yang semuanya kelihatan bagaikan kayu yang hangus datang mengerumuninya dan meminta,

“Makhluk yang agung, berikan kami air!”

“Saya sendiri tidak mendapatkannya,” jawab Srona. “Mestinya kamu yang kasih saya”

“Apa maksudmu?” jawab mereka. “Kami telah tinggal di tempat ini dua belas tahun lamanya dan sampai sekarang bahkan kami belum pernah mendengar ada yang menyebut air.”

Preta yang menderita kegelapan batin dalam

Preta-preta ini mempunyai mulut yang tidak lebih besar dari lubang jarum. Sekalipun jika mereka bisa minum semua air di samudera, namun ketika air melewati tenggorokan mereka yang sempit bagaikan bulu ekor kuda, racun mulut mereka telah menguapkan air tersebut. Bahkan kalaupun mereka dapat menelan sedikit makanan, perut mereka yang besarnya seperti seluruh negeri tidak pernah akan penuh. Akhirnya, walaupun jika pernah ada makanan yang masuk ke dalam perut mereka dan cukup untuk memuaskan mereka, makanan tersebut akan meledak menjadi api pada malam hari dan membakar paru-paru, hati, dan seluruh

82

jeroan mereka. Ketika mereka ingin bergerak, dengan susah payah mereka mengangkat perut mereka yang besar dengan anggota tubuh mereka yang sehalus rumput. Hal ini menyebabkan penderitaan yang sangat besar bagi mereka.

Preta yang menderita kegelapan batin tertentu

Preta-preta ini memiliki beraneka ragam pengalaman yang berbeda satu sama lainnya dan berbeda dalam intensitasnya. Sebagai contoh, ada yang mempunyai banyak makhluk yang hidup dalam tubuhnya dan memakannya.

Pada suatu waktu, ketika Srona berpergian ke alam preta, ia bertemu dengan sebuah istana di mana tinggal seorang wanita yang sangat cantik.

Dengan bentuk tubuh yang indah, ia kelihatan sangat mempesona. Pada setiap kaki dari keempat kaki singasananya yang dihiasi dengan permata berharga terikat satu preta. Ia mempersembahkan kepada Srona sesuatu untuk dimakan, sambil mengingatkan kepadanya untuk tidak memberikan barang secubik pun makanan itu kepada preta-preta itu walaupun mereka minta. Sesudah berkata demikian, ia pun pergi dari sana. Ketika Srona mulai makan, keempat preta itu mulai meminta. Ia memberikan sedikit makanan kepada salah satu preta tersebut, tetapi makanan tersebut berubah menjadi dedak. Apa yang ia berikan kepada preta yang kedua berubah menjadi segumpal besi. Preta yang ketiga mulai memakan dagingnya sendiri begitu mendapat makanan pemberiannya, sedangkan makanan yang ia berikan kepada preta yang keempat berubah menjadi nanah dan darah.

Ketika wanita itu kembali, ia berseru: “Bukankah sudah saya beritahu jangan berikan apa pun kepada mereka! Apa kamu pikir kamu lebih belas kasih dari pada saya?”

“Apa hubungan anda dengan keempat preta ini?” tanya Srona kepadanya.

“Ini adalah suami saya sebelumnya, yang itu adalah anak saya, yang satu lagi adalah menantu perempuan saya, sedangkan yang keempat adalah pelayan saya.”

“Apakah perbuatan di masa lampau yang membawa kalian ke sini?

“Orang-orang Jambudvipa sangat skeptis,” jawab wanita tersebut.

“Anda tidak akan percaya padaku”.

“Mana mungkin saya tidak percaya kalau saya melihat dengan mata kepala saya sendiri?”

Maka wanita itu menuturkan ceritanya kepada Srona. “Saya adalah seorang brahmana perempuan di sebuah kota. Pada suatu malam sebelum hari raya, saya menyiapkan makanan yang lezat. Keesokan harinya, Katyayana yang agung berkeliling untuk pindapatta. Saya yakin padanya,

83

dan memberikan persembahan makanan. Kemudian saya berpikir mungkin suami saya akan berbagi pahala dengan saya. “Bergembiralah bersama saya, karena saya telah memberikan sedekah kepada Katyayana yang agung, murid Sang Buddha”, kataku kepadanya. Namun ia menjadi sangat gusar. “Kamu tidak mempersembahkan makanan kepada brahmana, bahkan juga tidak menunjukkan hormat pada sanak saudara dan teman-teman. Sekarang kamu berikan bagian terbaik dari makanan itu kepada bhiksu bertengkorak gundul! Kenapa ia tidak menyumpal mulutnya dengan dedak saja?”

“Saya membuat pernyataan yang sama kepada anak saya, yang juga sangat marah. “Kenapa si gundulmu tidak makan gumpalan besi saja?”

ia berseru.

“Malam itu, orang tua saya menitipkan makanan yang lezat kepada saya lewat menantu perempuan saya, tetapi ia memakannya. Tinggal sisanya saja buat saja. Ketika saya bertanya kepadanya, “Apakah kamu makan bagian yang baik dan menyisakan bagian yang paling buruk buat saya?” Ia berdusta: “Lebih baik saya makan daging saya sendiri dari pada memakan makanan yang diperuntukkan buat kamu!”

“Sama halnya, ketika pelayan saya memakan makanan yang mestinya ia bawa untuk keluarga saya, ia berkata bahwa ia lebih baik ia minum nanah dan darah dari pada mencuri makanan saya.

“Saya sendiri menjadi preta yang memiliki kekuatan karena saya membuat pengharapan untuk terlahir di mana saya dapat melihat apa yang terjadi atas perbuatan mereka. Kalau saja saya tidak membuat pengharapan demikian, saya pasti sudah terlahir di antara dewa-dewa di Surga Tiga Puluh Tiga karena telah memberi sedekah kepada makhluk yang agung.

“Jika anda kebetulan ke kota kami, tolong kasih tahu anak perempuan saya yang menjadi pelacur, bahwa kamu telah melihat orang tuanya dan kamu telah dipercayakan untuk memberitahu bahwa apa yang dilakukan-nya akan membawa akibat buruk. Itu adalah cara hidup yang salah dan ia seharusnya menghentikan cara buruk yang demikian.”

“Jika ia tidak percaya padamu, katakan kepadanya bahwa dalam rumah tua ayahnya ada empat jambangan tembaga yang berisi emas.

Selain itu ada piring-piring dan kendi emas. Katakan kepadanya supaya ia mengambilnya dan membuat persembahan kepada Katyayana yang agung dari waktu ke waktu, dan melimpahkan pahala kepada kami. Hal ini akan mengurangi karma kami sampai akhirnya habis.”

Suatu ketika, saat Guru Jetari sedang berpergian ke alam preta, seorang preta wanita yang memiliki tubuh yang menjijikan dan memiliki lima ratus anak berkata kepadanya: “Suami saya pergi ke Bodh Gaya dua belas tahun yang lalu untuk mencari makanan. Sampai sekarang ia belum

84

kembali. Kalau anda ke sana, katakan kepadanya, jika ia tidak segera pulang, anak-anak akan mati kelaparan semuanya.”

“Bagaimana tampang suami anda?” kata Guru. “Semua preta kelihatan hampir sama. Bagaimana saya mengenalinya?”

“Anda pasti dapat mengenalinya”, katanya. “Ia memiliki mulut yang besar, hidung yang pesek, sebelah matanya buta dan semua sembilan tanda kejelekan ada padanya.”

Ketika Jetari sampai ke Bodh Gaya, ia melihat seorang calon biarawan melemparkan banyak makanan dan persembahan torma air di luar. Ketika calon biarawan itu pergi, segerombolan preta berdesak-desakan memperebutkan makanan tersebut. Di antaranya adalah preta yang sedang ia cari. Lalu ia menyampaikan pesan isterinya.

Preta itu menjawab, “Saya telah mengembara selama dua belas tahun, namun tidak pernah mendapatkan apa-apa – kecuali satu kali, ketika seorang biarawan yang suci membuang ingusnya. Tetapi saya tidak mendapat banyak, karena banyak di antara kita berkelahi untuk mendapatkannya. Dan selama perkelahian untuk mendapatkan secercah ingus tersebut, saya terluka parah oleh preta lainnya.”

Jadikanlah tanggung jawab anda secara mental terhadap bermacam-macam siksaan yang menimpa preta di mana pun mereka terlahir, ter-utama rasa lapar dan haus. Pikirkan bagaimana anda menderita kalau anda tidak makan atau minum hanya selama satu pagi hari saja.

Bagaimana jadinya perasaan anda kalau terlahir di tempat di mana tidak pernah mendengar tentang air selama bertahun-tahun?

Renungkan sebab utama terlahir sebagai preta adalah kekikiran dan menghalangi kemurahan hati orang lain. Kita juga sudah melakukan perbuatan ini tak terhitung banyak kalinya. Oleh sebab itu kita harus melakukan apa yang dapat kita lakukan untuk mencegah terlahir di sana.

Renungkan dengan cara demikian dari dalam lubuk hati anda, dengan menerapkan ketiga metoda pada pendahuluan, bagian inti dan kesimpulannya.

Dalam dokumen Guru Padmasambhava. iii (Halaman 86-90)