• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAHAN DAN METODA Tempat dan Waktu Kegiatan

Dalam dokumen Prosiding Seminar Nasional Biologi USU 2012 (Halaman 154-158)

PROVINSI ACEH

BAHAN DAN METODA Tempat dan Waktu Kegiatan

Lokasi kawasan RSPO Lamie dengan luas 74 hektar, terdiri dari tiga habitat; areal kebun sawit, semak dan hutan konservasi. Lokasi survei dikelilingi kebun dan bukaan lahan yang diproyeksikan untuk perkebunan sawit. Secara administrasi lokasi termasuk Desa Lamie, Kecamatan Darul Makmur, Kabupaten Nagan Raya, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Waktu survey dilaksanakan sejak November 2010 sampai April 2011.

Metode Koleksi

Tikus ditangkap dengan menggunakan perangkap kurungan lokal (60 unit) yang akan diberikan umpan kelapa bakar. Penggunaan umpan kelapa bakar karena kawasan yang ingin dikoleksi

merupakan kawasan yang terdiri dari padang rumput dan semak dimana kawasan tersebut berpotensi didominasi oleh tikus pemakan buah dan biji-bijian. Kelapa bakar juga menghasilkan bau harum yang dapat mengundang mamalia untuk masuk kedalam perangkap. Perangkap dipasang di tempatkan lantai hutan yang bersemak. Masing-masing lokasi penyampelan, perangkap diletakkan dalam plot yang diusahakan jarak antar perangkap sekitar 10 m. Lama pemasangan perangkap pada setiap lokasi 5 hari.

Mamalia yang tertangkap digunakan untuk studi ilmiah sehingga spesimen yang tertangkap harus utuh, selanjutnya dilakukan pencatatan mewakili kelamin, tingkatan umur dan variasi lingkungan. Morfologi tubuh dilakukan pengukuran standar meliputi, panjang total, panjang badan dan kepala, ekor, kaki belakang dan telinga menggunakan kaliper geser. Selanjutnya mamalia diidentifikasi mengacu kepada Corbet dan Hill (1992).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Survei mamalia kecil di lokasi kegiatan Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) Project

dilakukan mewakili empat kondisi cuaca yang berbeda yaitu cuaca cerah, mendung, hujan gerimis dan hujan lebat. Jenis mamalia kecil yang tertangkap berdasarkan kondisi cuaca yang berbeda dapat dilihat dalam Tabel 1.

Tabel 1. Daftar jenis mamalia kecil dan kelimpahannya yang berhasil tertangkap terhadap kondisi cuaca di Lokasi Perkebunan sawit RSPO Lamie, Kab. Nagan Raya.

Famili dan Jenis Cerah Mendung Kondisi Cuaca Gerimis Hujan lebat Jumlah Muridae Maxomys hylomyoides 1 2 3 Maxomys whiteheadi 1 1 2 Mus Caroli 1 1 Rattus rattus 2 1 1 2 6 Sundamys muelleri 1 1 4 3 9 Sciuridae Callosciurus notatus 2 2 Lariscus insignis 2 1 3 Tupaia tana 1 1 Jumlah 8 3 10 6 27 Jumlah jenis 5 3 6 3 8

Jenis tikus yang berpeluang tertangkap pada semua kondisi cuaca yaitu Rattus rattus dan Sundamys muelleri. Spesies tersebut diyakini mempunyai populasi yang melimpah serta aktif mencari

makan dan beradaptasi dengan perubahan cuaca yang berbeda. Jenis Rattus rattus merupakan jenis

tikus yang kosmopolitan yaitu dapat dijumpai baik di hutan primer, perkebunan dan dalam rumah sehingga dikenal dengan nama tikus rumah. Sementara jenis Sundamys muelleri merupakan tikus

dengan ukuran besar serta lebih menyukai dengan tempat yang lembab sehingga kondisi cuaca kurang berpengaruh terhadap aktifitas mencari makan. Kondisi cuaca gerimis berpotensi mengundang jumlah jenis paling banyak (6 jenis dan 10 individu), sementara kondisi cuaca mendung merupakan peluang kecil untuk mendapatkan sampel (3 jenis dan 3 individu). Kondisi cuaca yang baik untuk menangkap tikus dan tupai ialah kondisi cuaca cerah. Pemasangan perangkap dengan variasi kondisi cuaca sangat baik dalam mendapatkan jumlah jenis yang maksimal. Jumlah tikus yang berhasil di tangkap dengan perangkap dalam studi ini bervariasi berdasarkan perbedaan kondisi cuaca (Gambar 1).

Gambar 1. Jumlah individu yang berhasil ditangkap berdasarkan cuaca yang berbeda

Waktu pengecekan dan pengoleksian sampel selama pemasangan perangkap dilakukan sebanyak dua kali sehari yaitu pagi dan sore hari. Pengecekan perangkap bertujuan untuk mengetahui apakah ada mamalia kecil yang masuk perangkap dan memastikan posisi perangkap tidak bergeser atau dibawa oleh hewan lain serta memeriksa kondisi umpan. Bila umpan kondisinya sudah berubah maka akan dilakukan pergantian umpan. Pada perangkap yang berhasil memerangkap sampel akan dilakukan pemindahan sampel dari perangkap ke dalam kantong sampel, kemudian dilakukan pergantian umpan dan perangkap diletakkan pada lokasi semula. Jumlah sampel terbanyak yang berhasil dikoleksi adalah pada pagi hari (Gambar 2.). Hal ini berarti sebahagian besar sampel yang berhasil ditangkap cenderung mencari makan pada waktu malam hari (nocturnal). Umumnya sampel yang berhasil ditangkap pada siang hari hanya tupai tanah (Lariscus insignis dan Tupaia tana).

Gambar 2. Jumlah individu yang berhasil dikoleksi berdasarkan waktu pengecekan perangkap Kondisi cuaca diyakini mempengaruhi perilaku mencari makan dari mamalia kecil. Hal ini berkaitan dengan kondisi fisiologis tubuh mamalia yang akan membutuhkan energi lebih banyak bila suhu lingkungan cenderung dingin. Pada masa pemasangan perangkap telah berhasil mendapatkan variasi cuaca sebelum waktu pengecekan perangkap. Hal ini diyakini karena pada saat kondisi hujan dan gerimis suhu lingkungan cederung turun sehingga menyebabkan hewan mamalia kecil ini cepat lapar dan membutuhkan makanan lebih banyak, maka mamalia kecil berhasil terpancing masuk dalam perangkap yang telah menyediakan makanan sebagai umpan. Dari 27 sampel yang berhasil dikoleksi 23 sampel berkelamin jantan dan hanya empat berkelamin betina (Gambar 3). Hal ini menunjukkan bahwa pada saat sampling mamalia jantan dewasa lebih aktif mencari makan dibandingkan betina (Gambar 4). Umumnya betina akan banyak tertangkap bila pada musim beranak dan menyusui karena pada saat tersebut betina membutuhkan makanan dalam jumlah banyak.

Gambar 3. Perbandingan jumlah individu jantan dan betina yang berhasil dikoleksi berdasarkan variasi kondisi cuaca

Gambar 4. Jumlah individu mamalia kecil berdasarkan kelamin dan umur

Ucapan terima kasih

Penulis mengucapkan terima kasih kepada Yayasan Ekosistem Leuser (YEL) sebagai

Penyelenggara ”Sumatran Orangutan Conservation Programme (SOCP) atas dukungan dana dan fasilitas penelitian. Ucapan terima kasih pula disampaikan Dedy Safran, Suherman dan Iwan Ikhtiara yang telah banyak membantu dalam pengambilan data lapangan, serta semua pihak-pihak yang ikut serta membantu pelaksanaan penelitian ini.

DAFTAR PUSTAKA

Corbet, G.B. dan J.E.Hill. 1992. The Mammals of The Indomalayan Region: A Systematic Review. Natural History Museum Publications. Oxford University Press.

Nasir, M. 2000. Rodent Sumatera: Jenis-jenis Tikus di Sumatera dari Famili Muridae. Makalah Seminar GEF-Biodiversity Collections Project dan Puslitbang Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Cibinong-Bogor

Suyanto, A. 1999. Pengelolaan Koleksi Mamalia. Dalam: Buku Pegangan Pengelolaan Koleksi Spesimen Zoologi. Y.R. Suhardjono (Ed.): pp. 21-46. Balitbang Zoologi, P3 Biologi-LIPI, Cibinong.

EKSISTENSI 10 JENIS TUMBUHAN DOMINAN PADA VEGETASI GAMBUT

Dalam dokumen Prosiding Seminar Nasional Biologi USU 2012 (Halaman 154-158)

Garis besar

Dokumen terkait