• Tidak ada hasil yang ditemukan

ISOLASI DAN ANALISIS KOMPONEN MINYAK ATSIRI DARI DAUN JERANGO (CALAMI FOLIUM)

Dalam dokumen Prosiding Seminar Nasional Biologi USU 2012 (Halaman 41-44)

Herawaty Ginting dan Surjanto

Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK

Daun jerango (Acorus calamus L.) termasuk kedalam suku Araceae. Daun jerango tidak digunakan oleh

masyarakat. Penelitian awal yang dilakukan untuk memanfaatkan daun jerango sebagai sumber minyak atsiri. Hasil isolasi dengan destilasi air kemudian dianalisis dengan kromatografi gas diperoleh 21 puncak, dengan spektroskopi massa diperoleh senyawa mayoritas yakni : β-asaron 64.43 %, linalool 5.20 %, karotol 10.44 %, metil sis-isoeugenol 4.86 %, 1-6-10-dodekatrien 3,38 % dan (Z)-β-farnesen 3.38 %.

Kata kunci: Daun jerango , Acorus calamus, GCMS, β-asaron

PENDAHULUAN

Aroma harum tanaman telah sejak lama dikenal dan dimanfaatkan oleh manusia terutama kaum hawa untuk mandi dan membalur tubuh, terutama dikalangan keraton, mereka menanam bunga kenanga disekitar tamansari yang akan digunakan untuk ditebar pada kolam pemandian putri. Aroma harum dari kayu tampar setan yang dibakar dan diletakkan dekat tempat tidur bayi digunakan suku Dayak untuk mengusir roh jahat agar bayi tidak rewel (Trubus, 2009). Hal yang sama juga dimanfaatkan oleh masyarakat agar anak yang kena flu tidak rewel maka keningnya dibalur dengan serbuk basah dari biji pala. Aroma harum tersebut berasal dari senyawa minyak atsiri yang dikandung tumbuhan tersebut.

Jerango (Acorus calamus L.) termasuk suku Araceae merupakan tumbuhan penghasil minyak

atsiri. Penelitian tentang rimpang jerango telah banyak dilakukan (Anonim, 2012). Rimpangnya banyak digunakan masyarakat untuk mengusir roh jahat. Minyak jerango dalam perdagangan disebut dengan calamus oil yang dihasilkan dari rimpang. Minyak kalami banyak digunakan dalam industri sebagai citarasa pada permen, makanan, karminatif dan insektisida (Trubus, 2009) sama halnya dengan minyak atsiri yang pada umumnya banyak dimanfaatkan dalam industri farmasi sebagai karminativ, insektisida, antinyeri, anti bakteri dan anti jamur (Robinson, 1995). Pemanfaatan lain minyak jerango dapat dijadikan parvum, masker, toner, sampo atau sabun karena bersifat antiseptik (Trubus, 2009; Anonim (2011). Jerango yang telah diambil rimpangnya akan menghasilkan sampah yaitu daunnya. Secara makroskopis daun jerango juga mempunyai aroma yang khas, diduga daun jerango juga mengandung minyak atsiri. Berdasarkan hal diatas maka penelitian terhadap kandungan minyak atsiri dari daun jerango dapat dilakukan dengan metode penyulingan air kemudian dianalisis dengan GC-MS.

BAHAN DAN METODA

Penelitian ini menggunakan simplisia daun jerango yang diperoleh dari Desa Dagang Kelambir Kecamatan Tanjung Morawa Kabupaten Deli Serdang Provinsi Sumatera Utara. Natrium Sulfat anhidrat

Alat-alat

Seperangkat alat destilasi air, kromatografi gas-spektrometri massa (GC-MS Shimadzu QP- 2010. Kromatografi Gas : kolom : Rtx-5Ms, gas pembawa : Helium, laju air : 1,22 ml/menit, suhu injektor : 250°C, suhu kolom : temperatur awal 60 °C, jumlah sampel 1 kali injeksi : 0,5 ml/menit, Spektrometri : mode ionisasi massa

Prosedur kerja

Identifikasi tumbuhan:

Identifikasi (determinasi) tumbuhan dilakukan di Herbarium Bogoriense Balitbang Botani, Puslitbang Biologi-LIPI di Bogor.

Pengolahan daun jerango:

Daun jerango segar dibersihkan, kemudian ditimbang 10.00 kg, kemudian diiris-iris (± 2,5 cm) lalu dikeringkan dengan cara di-angin2kan, diperoleh berat kering 1,500 kg (simplisia).

Penetapan kadar minyak atsiri:

Sebanyak 15 g simplisia dimasukkan kedalam labu destilasi berisi aquades 300 ml, yang dirangkai dalam alat sthal. Destilasi dilakukan selama 4 jam, kemudian dibiarkan mendingin, lalu dibaca kadar minyak atsiri.

Isolasi minyak atsiri:

Sebanyak 50 g simplisia dimasukkan kedalam labu destilasi berisi aquades 900 ml yang dirangkai dalam perangkat alat destilasi air. Destilasi dilakukan selama 4 jam. Minyak atsiri yang siperoleh ditambahkan dengan natrium sulfat anhidrat sampai jenuh, kemudian didiamlan selama 12 jam, setelah itu minyak atsiri dipipet dan disimpan dalam botol kecil yang bebas oksigen (berisi gas nitrogen).

Analisis minyak atsiri:

Minyak atsiri yang diperoleh dianalisis dengan kromatografi gas-spektrometri massa.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil identifikasi menunjukkan bahwa tumbuhan ini termasuk suku Araceae, marga Acorus, jenis Acorus calamus L.Minyak atsiri yang diperoleh adalah 0,77 %. Minyak atsiri berwarna kuning

kecoklatan dengan aroma sedikit tajam.

Hasil kromatografi gas memberikan 21 puncak (gambar 1), terdiri dari dari senyawa hidrokarbon 4,06 % yakni : α-pinen 0,28 %, kampen 0.30 %, sabinen 0,49 %, β-pinen 0.36 %, β-

mirsen 0.09 %, β-elemen 0.19 % dan kariofillen 2.35 %.

Senyawa hidrokarbon teroksigenasi 95,79 % yaitu :1-6-10-dodekatrien 3,38 %, linalool 5.20 %, kamfor 0.06 %, borneol 0.07 %, 9-desin-1-ol 0.16 %, metil sis-isoeugenol 4.86 %, siobunon 3.02 %, farnesen epoksid 1.65 %, euasaron 2.52 %,

β- asaron 64.43 % dan karotol 10.44 %.

Komponen minyak atsiri yang dihasilkan terdiri dari senyawa monoterpen asiklik adalah β-

mirsen, monoterpen bi-siklis yaitu α-pinen, kamfen, sabinen dan β-pinen. Monoterpen alkohol adalah linalool, monoterpen alkohol bisiklik : borneol, monoterpen keton : kamfor. Senyawa seskiterpen terdiri dari : 1-6-10-dodekatrien, farnesen epoksid, kariofillen, karotol. Euasaron, β-

asaron, siobunon dan metil sis-isoeugenol adalah senyawa fenilpropanoid.

Senyawa yang terjadi selama proses destilasi yakni oktanal 0,02 %, dekanal 0,05 % dan Z-7- tetradesenal 0,08 % adalah senyawa hidrokarbon linier yang berasal dari peristiwa oksidasi akibat pemanasan selama destilasi terjadi akan berisomerisasi dengan air yang akan membentuk senyawa aldehid, asam organik dan keton (Ketaren, 1985). Menurut Bruneton senyawa-senyawa tersebut terdapat pada hijau daun yang akan terekstraksi selama destilasi berlangsung (Bruneton,1993).

Komponen minyak atsiri dari jerango yang berkasiat sebagai insektisida adalah α-pinen β- pinen (Agusta, 2001). β-asaron merupakan komponen utama minyak atsiri yang terdapat pada daun jerango sama halnya dengan komponen minyak atsiri dari rimpang jerango 87,37 % (Elmartha, 2010), β-asaron merupakan derivat safrol yang mempunyai sifat sebagai karminatif dan sedatif CNS (Bruneton,1993), oleh karena sifat relaksasi yaitu meregangkan jaringan otot maka minyak atsiri dari daun dan rimpang jerango berpeluang untuk dikembangkan sebagai aromaterapi yang mana struktur kimia β-asaron mirip dengan anetol juga derivat safrol merupakan kandungan dari minyak adas (Bruneton,1993; Agusta 2000).

Bruneton juga melaporkan bahwa β-asaron juga bersifat sebagai leiomyosarcomas (Bruneton,1993) pada tikus, oleh karena itu maka minyak atsiri daun jerango disarankan untuk diteliti efek farmakologi.

DAFTAR PUSTAKA

Agusta, A (2000), Aromaterapi, Penerbit Penebar Swadaya Jakarta. Hal : 27

Agusta, A (2001), Komposisi Kimia Minyak Atsiri Daun Schinus terebinthifolius Raddi. Majalah

Farmasi Indonesia. Vol.12. No.3. Hal : 135-139.

Anonim (2009). Dringo atau Jeringau (Acorus calamus L.) akses : 20 April 2012.

http://rushendi.blogdetik.com/2009/08/25 dringo-atau-jeringau-acorus-calamus-l/. Hal : 1-6. Anonim (2011), Calamus essential oil information akses : 20 April 2012. http:// www.

essentialoils.co.za/essential-/calamus.htm. Hal : 4.

Bruneton. J (1993), Pharmacognosy Phytochemistry Medicinal Plants, Intercept Limited Androver, England UK. Hal : 411-412, 441 dan 463-464

Elmartha F (2010), Karakterisasi Simplisia, Isolasi dan Analisis Komponen Minyak Atsiri dari Rimpang Jeringau (Acorus calamus L.) secara GC-MS. Skripsi Fakultas Farmasi USU,

Medan Hal : 33.

Ketaren S (1985), Pengantar Teknologi Minyak Atsiri. Balai Pustaka, Jakarta. Hal : 19-29

Robinson, T (1995), Kandungan Organik Tumbuhan Tinggi, Penerjemah Kosasih P. Penerbit ITB Bandung. Hal : 132-133.

Dalam dokumen Prosiding Seminar Nasional Biologi USU 2012 (Halaman 41-44)

Garis besar

Dokumen terkait