• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN Struktur Komunitas Mangrove

Dalam dokumen Prosiding Seminar Nasional Biologi USU 2012 (Halaman 182-189)

PENGEMBANGAN UNTUK EKOWISATA MANGROVE DI KAWASAN TAMAN NASIONAL TELUK CENDERAWASIH

HASIL DAN PEMBAHASAN Struktur Komunitas Mangrove

Dari hasil penelitian ini yang dilakukan di kawasan mangrove Kampung Isenebuai, di lima transek pada 50 petak pengamatan 5 lokasi (transek), ditemukan 11 jenis mangrove yang termasuk dalam 7 famili (Achanthaceae, Combretacea, Meliaceae, Myrsinaceae, Rhizophoraceae, Rubiaceae, Sonneratiaceae). Kesebelas jenis mangrove tersebut yaitu Ceriops decandra, Lumnitzera littorea, Xylocarpus granatum, Aegiceras floridum, Bruguiera cylindrica, Bruguiera gymnorrhiza, Rhizophora apiculata, Rhizophora mucronata, Rhizophora stylosa, Scyphiphora hydrophyllacea, dan Sonneratia alba.

Tabel 1. Komposisi Spesies Mangrove Kampung Isenebuai

Famili Spesies Nama Lokal Lokasi

T1 T2 T3 T4 T5

Achanthaceae Ceriops decandra Makiri-kiri + + + + +

Combretacea Lumnitzera littorea Nusawoi - - - - +

Meliaceae Xylocarpus granatum Kabau moa - - - + -

Myrsinaceae Aegiceras floridum Aibuo - - - - +

RhizophoraceaeBruguiera cylindrica Kabau wawi - - - - +

Bruguiera gymnorrhiza Sarau + + + + + Rhizophora apiculata Parai wawi + + + + + Rhizophora mucronata Parai moa - - - + + Rhizophora stylosa Paru - + - - -

Rubiaceae Scyphiphora hydrophyllaceaMandyeri

Soneratiaceae Sonneratia alba Awuh - - - - +

Keterangan :

+ = Ditemukan pada Lokasi Penelitian, ‒ = Tidak Ditemukan pada Lokasi Penelitian

Kerapatan jenis secara keseluruhan untuk kategori pohon di kawasan mangrove Kampung Isenebuai ditunjukkan pada Tabel 1. Secara khusus, nilai kerapatan jenis tertinggi pada kategori

pohon pada kelima lokasi (transek) penelitian yaitu ditemukan pada jenis Rhizophora apiculata (1,28

individu/100 m2) dengan nilai kerapatan relatifnya adalah 54,47 %. Tingginya nilai kerapatan jenis yang didominansi oleh jenis Rhizophora apiculata diduga karena didukung oleh kondisi sedimen

yaitu lempung berlumpur. Frekuensi jenis untuk kategori pohon didominasi oleh Rhizophora apiculata memiliki nilai frekuensi tertinggi yaitu 0,78 dengan nilai frekuensi relatifnya adalah 40,63

%. Tingginya nilai frekuensi jenis ini diduga keberadaan substrat yang menunjang pertumbuhan dan penyebaran spesies Rhizophora apiculata. Selain itu, salinitas pada setiap lokasi yang berkisar antara

(28-γγ‰).

Tabel 2 Nilai Kerapatan Jenis, Kerapatan Relatif, Frekuensi Jenis, Frekuensi Relatif, Dominansi Jenis, Dominansi Relatif dan Nilai Penting untuk Tingkat Pohon Mangrove Kampung Isenebuai

No. TINGKAT POHON

Spesies KJ KR FJ FR D DR NP 1 Aegiceras floridum 0 0 0 0 0 0 0 2 Bruguiera cylindrica 0,01 0,43 0,02 1,04 1,13 3,94 5,40 3 Bruguiera gymnorhiza 0,4 20,85 0,54 28,13 3,80 13,23 62,20 4 Ceriops decandra 0,47 20,00 0,48 25,00 2,27 7,90 52,90 5 Lumnitzera littorea 0,01 0,43 0,02 1,04 1,54 5,36 6,82 6 Rhizophora apiculata 1,28 54,47 0,78 40,63 3,14 10,93 106,03 7 Rhizophora mucronata 0,03 1,28 0,02 1,04 2,27 7,90 10,22 8 Rhizophora stylosa 0,02 0,85 0,02 1,04 6,15 21,43 23,32 9 Scyphiphora hydrophyllacea 0,01 0,43 0,02 1,04 2,27 7,90 9,37 10 Sonneratia alba 0,03 1,28 0,02 1,04 6,15 21,43 23,74 11 Xylocarpus granatum 0 0 0 0 0 0 0 TOTAL 2,00 1,92 28,72 Keterangan :

KJ = Kerapatan Jenis, KR = Kerapatan Relatif, FJ = Frekuensi Jenis, D = Dominansi, DR = Dominansi Relatif, NP = Nilai Penting,

Nilai dominansi spesies tertinggi kategori pohon ditemukan pada spesies Sonneratia alba dan Rhizophora stylosa yaitu 6,15 dan nilai dominansi relatif adalah 21,43 % diikuti oleh Rhizophora stylosa kedua spesies inimemiliki nilai dominansi tertinggi karena diduga sedimen di lokasi ini sangat

cocok untuk pertumbuhan Sonneratia alba dan Rhizophora stylosa sehingga kedua spesies ini

memiliki percabangan yang lebat dan lingkaran batang yang lebih besar dibandingkan dengan jenis yang lainnya. Jenis mangrove yang memiliki nilai penting tertinggi yaitu Rhizophora apiculata

(106,03) diikuti Bruguiera gymnorrhiza (62,20) dan Ceriops decandra (52,90) (Tabel 2).

Hasil perhitungan secara keseluruhan di kawasan mangrove Kampung Isenebuai menunjukkan

Ceriops decandra, Rhizophora apiculata, dan Bruguiera gymnorrhiza memiliki nilai kerapatan jenis

tertinggi untuk kategori sapihan dibandingkan dengan jenis-jenis lainnya. Ceriops decandra memiliki

nilai kerapatan jenis tertinggi yaitu 7,56 individu/25 m2 dan nilai kerapatan relatifnya 69,45 %, diikuti oleh Rhizophora apiculata dengan nilai 2,96 individu/25 m2 dan nilai kerapatan relatifnya adalah

27,21 %. Bruguiera gymnorrhiza memiliki nilai kerapatan jenis 1,52 individu/ 25 m2 dan nilai

Hasil analisis perhitungan nilai frekuesi jenis mangrove secara keseluruhan di kelima lokasi (transek) menunjukkan Ceriops decandra dan Rhizophora apiculata memiliki nilai frekuensi tertinggi

dari jenis-jenis mangrove lainnya. Ceriops decandra memiliki nilai frekuensi jenis yaitu 0,54 dan nilai

frekuensi relatif 48,21 %, diikuti oleh Rhizophora apiculata adalah 0,32 dan frekuensi relatifnya

28,57%. Nilai penting tertinggi pada kategori sapihan yaitu Ceriops decandra dengan nilai sebesar

117,70, diikuti Rhizophora apiculata 55,78 dan Bruguiera gymnorrhiza dengan nilai penting sebesar

33,61. Hal ini diduga oleh kondisi tipe sedimen lumpur berlempung yang mendominansi pada kawasan mangrove di Kampung Isenebuai sehingga cocok bagi pertumbuhan dan kemampuan bertahan hidup dalam kondisi salinitas relatif tinggi, dengan gelombang relatif kecil dan terletak pada bagian dalam sehingga terlindung.

Tabel 3 Nilai Kerapatan Jenis, Kerapatan Relatif, Frekuensi Jenis, Frekuensi Relatif, dan Nilai Penting untuk Tingkat Sapihan Mangrove Kampung Isenebuai

No. Spesies TINGKAT SAPIHAN KJ KR FJ FR NP

1 Aegiceras floridum 0 0 0 0 0 2 Bruguiera cylindrical 0 0 0 0 0 3 Bruguiera gymnorrhiza 1,52 13,97 0,22 19,64 33,61 4 Ceriops decandra 7,56 69,49 0,54 48,21 117,70 5 Lumnitzera littorea 0 0 0 0 0 6 Rhizophora apiculata 2,96 27,21 0,32 28,57 55,78 7 Rhizophora mucronata 0,28 2,57 0,02 1,79 4,36 8 Rhizophora stylosa 0 0 0 0 0 9 Scyphiphora hydrophyllacea 0 0 0 0 0 10 Sonneratia alba 0 0 0 0 0 11 Xylocarpus granatum 0,08 0,74 0,02 1,79 2,52 TOTAL 11,00 1,22 Keterangan :

KJ = Kerapatan Jenis, KR = Kerapatan Relatif, FJ = Frekuensi Jenis, NP = Nilai Penting,

Hasil penelitian menunjukkan untuk tingkat anakan memiliki jumlah lebih banyak dibandingkan tingkat sapihan dan pohon (Tabel 4). Hal ini diduga menunjukkan bahwa tingkat regenerasi mangrove pada Kampung Isenebuai cukup baik. Berdasarkan hasil analisis perhitungan kerapatan jenis mangrove secara keseluruhan pada Kampung Isenebuai untuk tingkat anakan, maka

Ceriops decandra memiliki nilai kerapatan jenis tertinggi yaitu 326,00 individu/m2 dan nilai

kerapatan relatif 59,93 %, diikuti oleh Bruguiera gymnorrhiza dengan nilai kerapatan jenis sebesar

118,00 individu/m2 atau 21,69 %. Nilai frekuensi jenis mangrove di Kampung Isenebuai pada kategori anakan, yang tertinggi yaitu spesies Bruguiera gymnorrhiza dan Ceriops decandra dengan

nilai 0,54. Frekuensi relatif spesies Ceriops decandra serta Bruguiera gymnorrhiza yaitu 32,14. Nilai

penting tertinggi kategori anakan diperoleh spesies Ceriops decandra (92,07), diikuti Bruguiera gymnorrhiza (53,83). Tingginya kerapatan jenis, frekuensi, dan nilai penting spesies mangrove Ceriops decandra diduga karena kondisi sedimen yang cocok bagi perkembangan spesies ini. Di

Indonesia sedimen berlumpur dan berpasir ini sangat baik untuk tegakan Ceriops decandra (Bengen,

2001).

Tabel 4 Nilai Kerapatan Jenis, Kerapatan Relatif, Frekuensi Jenis, Frekuensi Relatif, dan Nilai Penting untuk Tingkat Anakan Mangrove Kampung Isenebuai

No. TINGKAT ANAKAN

Spesies KJ KR FJ FR NP 1 Aegiceras floridum 10,00 1,84 0,02 1,19 3,03 2 Bruguiera cylindrica 0 0 0 0 0 3 Bruguiera gymnorrhiza 118,00 21,69 0,54 32,14 53,83 4 Ceriops decandra 326,00 59,93 0,54 32,14 92,07 5 Lumnitzera littorea 0 0 0 0 0 6 Rhizophora apiculata 96,00 17,65 0,52 30,95 48,60 7 Rhizophora mucronata 0 0 0 0 0 8 Rhizophora stylosa 1,00 0,18 0,02 1,19 1,37 9 Scyphiphora hydrophyllacea 0 0 0 0 0 10 Sonneratia alba 1,00 0,18 0,02 1,19 1,37 11 Xylocarpus granatum 2,00 0,37 0,02 1,19 1,56 TOTAL 544,00 1,68 Keterangan :

Indeks Keanekaragaman dan Keserasian Komunitas Mangrove

Hasil analisis indeks keanekaragaman menunjukkan bahwa komunitas mangrove kategori pohon (1,20), kategori sapihan (1,02), dan anakan (1,06). Hal ini berarti bahwa keanekaragaman jenis mangrove secara keseluruhan pada lokasi penelitian (transek 1-5) pada umumnya adalah termasuk dalam kategori sedang. Keanekaragaman yang sedang mengindikasikan keberadaan spesies mangrove berimbang. Odum (1993) mengemukakan bahwa apabila nilai indeks keanekaragaman Shannon (H) lebih kecil dari 1 dalam suatu komunitas maka dinyatakan tidak stabil, dan bila nilai indeks keragaman antara 1-3 menunjukkan keanekaragaman spesies di dalam komunitas tersebut adalah sedang. Sedangkan bila keanekaragaman lebih besar dari 3 maka komunitas biota dinyatakan stabil (Tabel 5).

Hasil analisis perhitungan indeks keserasian komunitas mangrove di Kampung Isenebuai diperoleh tertinggi pada kategori sapihan (0,63), dan untuk kategori anakan serta pohon memiliki nilai keseragaman yang sama (0,55) sehingga komunitas mangrove di kampung Isenebuai merata atau kekayaan indvidu yang dimiliki masing-masing spesies mangrove tidak jauh berbeda (stabil).

Tabel 5. Nilai Indeks Keanekaragaman dan Keserasian untuk Tingkat Pohon, Sapihan dan Anakan Berdasarkan Spesies Mangrove di Kampung Isenebuai

No. Spesies Pohon Sapihan Anakan

(H´) (E) (H´) (E) (H´) (E)

1 Aegiceras floridum 0 0 0 0 0,07 0,04 2 Bruguiera cylindrica 0,02 0,01 0 0 0 0 3 Bruguiera gymnorrhiza 0,33 0,15 0,26 0,16 0,33 0,17 4 Ceriops decandra 0,32 0,15 0,30 0,19 0,31 0,16 5 Lumnitzera littorea 0,02 0,01 0 0 0 0 6 Rhizophora apiculata 0,33 0,15 0,34 0,21 0,30 0,16 7 Rhizophora mucronata 0,06 0,03 0,09 0,05 0 0 8 Rhizophora stylosa 0,04 0,02 0 0 0,01 0,01 9 Scyphiphora hydrophyllacea 0,02 0,01 0 0 0 0 10 Sonneratia alba 0,06 0,03 0 0 0,01 0,01 11 Xylocarpus granatum 0 0 0,03 0,02 0,02 0,01 TOTAL 1,20 0,55 1,02 0,63 1,06 0,55 Keterangan : H = Keanekaragaman, E = Keserasian

Zonasi Penyebaran Mangrove

Transek (lokasi) 1 pada daerah bagian depan yang paling dekat dengan laut (pada saat pasang terendah masih terendam air laut) sampai bagian belakang arah ke darat (pada saat surut tengah- tengah dan surut tertinggi terendam oleh air laut) dengan tipe sedimen lempung berlumpur dijumpai spesies Rhizophora apiculata. Lebih ke arah darat (batas surut terendah) dengan tipe sedimen yang

sama ditemukan spesies Ceriops decandra. Bagian belakang arah ke darat (pada saat surut tengah-

tengah dan surut tertinggi terendam oleh air laut) dijumpai spesies Bruguiera gymnorrhiza dengan

tipe sedimen lempung berlumpur. Selain itu, didukung juga oleh parameter lingkungan diantaranya

salinitas (γγ‰), kecepatan arus (0,γ m/s) dan pasang surut adalah semi diurnal. Transek (lokasi) 2 pada saat pasang terendah masih terendam air laut ditemukan jenis Rhizophora stylosa yang

ditemukan pada bagian depan dengan tipe sedimen yaitu lempung berpasir. Daerah pada saat pasang terendah masih terendam air laut sampai daerah pada saat surut tengah-tengah dan surut tertinggi terendam oleh air laut dengan tipe sedimen lempung berlumpur dijumpai jenis Rhizophora apiculata

dan Ceriops decandra. Sedangkan pada daerah saat surut tengah-tengah dan surut tertinggi terendam

oleh air laut dijumpai spesies Bruguiera gymnorrhiza dengan tipe sedimen yang sama serta didukung

juga oleh parameter lingkungan diantaranya salinitas (30 - γ1‰), kecepatan arus (0,β - 0,3 m/detik) dan pasang surut adalah semi diurnal. Penyebaran yang sama juga ditemukan pada transek (lokasi) 3,

namun berbeda pada jenis mangrove yang ditemukan yaitu dimana pada lokasi (transek) 3 tidak dijumpai spesies Rhizophora stylosa dengan tipe sedimen yang sama.

Transek (lokasi) 4, Xylocarpus granatum dijumpai pada bagian depan (plot 1), bagian tengah

(plot 5) dan bagian belakang (plot 8). Daerah pada saat pasang terendah masih terendam air laut sampai daerah pada saat surut tengah-tengah dan surut tertinggi terendam oleh air laut dijumpai spesies Rhizophora apiculata dan Bruguiera gymnorrhiza. Sedangkan jenis Ceriops decandra

dijumpai pada daerah pada saat pasang terendah masih terendam air laut sampai batas surut terendah, dengan tipe sedimen lempung berlumpur serta didukung juga oleh parameter lingkungan diantaranya

salinitas (β8‰), kecepatan arus (0,1 m/detik) dan pasang surut adalah semi diurnal. Transek (lokasi) 5 daerah pada saat pasang terendah masih terendam air laut sampai batas surut terendah dijumpai jenis

Sonneratia alba, Rhizophora mucronata, Rhizophora apiculata, Ceriops decandra, Bruguiera gymnorrhiza dan Aegiceras floridum. Jenis Ceriops decandra dan Bruguiera gymnorrhiza masih

ditemukan pada pertengahan sampai di daratan. Sedangkan bagian lebih ke arah darat ditemukan jenis

Scyphiphora hydrophyllacea, Lumnitzera littorea, Bruguiera cylindrica, dan Rhizophora apiculata.

Tipe sedimen pada lokasi ini berbeda dengan lokasi-lokasi lainnya yaitu pasir dan didukung juga oleh

parameter lingkungan diantaranya salinitas (γβ‰), kecepatan arus (0,β m/s) dan pasang surut adalah

semi diurnal.

Penyebaran mangrove secara umum bercampur namun spesies Rhizophora apiculata, Ceriops decandra, Bruguiera gymnorrhiza ditemukan hampir di semua lokasi (transek) penelitian (Gambar 2-

17, grafik penyebaran mangrove Kampung Isenebuai). Pada zona terbuka (pada saat pasang terendah masih terendam air laut) dengan tipe sedimen lempung berlumpur, lempung berpasir dan pasir dijumpai spesies Rhizophora stylosa, Rhizophora mucronata, Sonneratia alba, dan Xylocarpus granatum. Lebih ke arah darat (batas surut terendah) dengan tipe sedimen yang sama dengan zona

terbuka ditemukan spesies Xylocarpus granatum. Bagian belakang arah ke darat (pada saat surut

tengah-tengah dan surut tertinggi terendam oleh air laut) di temukan spesies Bruguiera cylindrica, Lumnitzera littorea, Scyphiphora hydrophyllacea, dan Aegiceras floridum.

Kondisi Faktor-Faktor Lingkungan

Nilai kadar garam perairan pada kelima lokasi penelitian berkisar di antara β8 sampai γγ‰

(Tabel 6). Nilai salinitas pada lokasi penelitian transek 1, 2, 3 dan 5 relatif lebih tinggi jika dibandingkan dengan lokasi transek 4. Nilai salinitas yang tinggi disebabkan karena lokasi ini lebih terbuka sehingga terjadi sirkulasi air laut, sedangkan nilai salinitas yang rendah, pada lokasi transek 4 diduga berkaitan dengan masuknya air sungai. Nontji (1986) mengemukakan bahwa sebaran salinitas di laut dipengaruhi oleh pola sirkulasi air, penguapan, curah hujan dan aliran sungai. Tomascik, Nontji, dan Moosa, (1997) melaporkan bahwa salinitas yang optimum yang dibutuhkan mangrove untuk tumbuh berkisar antara 10‰ –γ5‰.

Pengukuran kecepatan arus pada kelima lokasi (transek) penelitian yaitu berkisar diantara 0,1 sampai 0,3 m/detik. Diantara kelima lokasi penelitian, kecepatan arus pada transek 4 memiliki kecepatan arus terendah pada transek 4 yaitu 0,1 m/detik, jika dibandingkan dengan transek 1, 2, 3 dan 5 yang berkisar antara 0,2 sampai 0,3 m/detik. Nilai ini termasuk sangat sesuai untuk mangrove. Hal ini didukung pendapat Suriamihardja dalam Erwin (2005) bahwa kecepatan arus <0.5

m/detik sangat layak bagi persyaratan pertumbuhan mangrove.

Tabel 7. Hasil Pengukuran Kondisi Fisik Perairan pada Lokasi Penelitian

Parameter Transek Kisaran Rata-rata

I II III IV V

Salinitas (‰) 33 31 30 28 32 30

Kecepatan Arus (m/s) 0,3 0,3 0,2 0,1 0,2 0,2

Hasil pengukuran pasang surut di kawasan mangrove Kampung Isenebuai (perairan depan kampung) termasuk jenis semi diurnal. Dimana durasi pasang terjadi dua kali pasang dan dua kali surut (Gambar 18). Hal ini mengakibatkan terjadinya lama penggenangan dan mempengaruhi perubahan salinitas pada lokasi penelitian tinggi yaitu 28-33‰. Perubahan tingkat salinitas pada saat pasang merupakan salah satu faktor yang membatasi distribusi spesies mangrove, terutama distribusi horisontal.

Durasi pasang juga memiliki efek yang mirip pada distribusi spesies, struktur vegetasi, dan fungsi ekosistem mangrove. Rentang pasang surut merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi, khususnya sistem akar dari mangrove.

Gambar 2 Grafik Pasang dan Surut pada Lokasi Penelitian

Prospek dan Pengembangan Ekowisata Mangrove

Berdasarkan hasil analisis struktur komunitas, karakteristik lingkungan, manfaat dan fungsi mangrove maka dapat direkomendasikan dalam kerangka pengelolaan dan pelestarian mangrove, pada dasarnya mangrove sangat memerlukan pengelolaan dan perlindungan agar dapat tetap lestari. Status pengelolaan ekosistem mangrove dengan didasarkan data tataguna hutan kesepakatan yang terdiri atas kawasan lindung (hutan, cagar alam, suaka margasatwa, taman laut, taman hutan raya, cagar biosfer) dan kawasan budidaya (hutan produksi, areal penggunaan lain).

Pengembangan ekowisata mangrove di Kampung Insenebuai dapat dilakukan.dengan pola minawisata terpadu. Bentuk kegiatan ekowisata yang dapat dilakukan adalah lintas hutan bakau dengan perahu, memancing, olahraga air, rekreasi, wisata pendidikan dan marine outbond, wisata

kesehatan dan pengembangan diri. Beberapa hal yang perlu dilakukan adalah studi kelayakan

ekonomi dengan pendekatan ‘pemodelan kelayakan finasial’ untuk mengetahui nilai ekonomi

sumberdaya mangrove, studi kelayakan lingkungan, untuk mengidentifikasi dampak penting yang akan ditimbulkan serta menyiapkan rencana pengelolaan dan pemantauan lingkungan kawasan ekowisata mangrove. Hal lain yang perlu dilakukan adalah membangun sarana dan prasara pendukung untuk kegiatan ekowisata mangrove berbasis minawisata terpadu, yang dikelola oleh masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA

Anonimous. 2006. Ekologi dan Struktur Komunitas Tumbuhan. (online) Tersedia: http://fp.uns.ac.id/- hamasains/ekotan%203.htm (15 maret 2011).

Anonimous. 2005. Ekologi Laut tropis. (online) Tersedia: http://www.livingharbo.net/fish.htm (21 Februari 2011).

Auri, A.Y.F. 2009. Analisis Vegetasi Mangrove dan Pemanfaatannya oleh Masyarakat Kampung Isenebuai Distrik Rumberpon Kabupaten Teluk Wondama. Skripsi Sarjana Fakultas

Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Negeri Papua. (Tidak Ditebitkan). Balai Taman Nasional Teluk Cenderawasih. 1999. Rencana Pengelolaan Taman Nasional Teluk

Cenderawasih Periode 1999-2024. Departemen Kehutanan dan Perkebunan Direktorat Jenderal

Perlindungan dan Konservasi Alam Balai Taman Nasional Teluk Cenderawasih. Manokwari. (Tidak diterbitkan)

Bengen, D.G. 2001. Pengenalan dan Pengelolaan Ekosistem Mangrove Pedoman Teknis. PKSPL,

IPB.

Bengen, D.G. 2002. Ekosistem dan Sumberdaya Alam Pesisir. Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan

Lautan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Bengen, D.G. 2004. Pengenalan dan Pengelolaan Ekosistem Mangrove Pedoman Teknis. PKSPL,

IPB.

Cintron dan Novelly, 1984. Methods for Studying Mangrove Struchture in The Mangrove Ecosystem Reserch Methods. The United Nation Educationall Scientivic and Cultural Organization.

Dahuri, R. 2001. Pengelolaan Sumber Daya Wilayah Pesisir dan Lautan Secara Terpadu (Edisi

Revisi). PT. Pradnya Paramita. Jakarta.

Dahuri, R. 2003. Keanekaragaman Hayati Laut. Jakarta: PT Gramedia Pustaka.

Erftmeijer PLA. 1993. Sediment Nutrient Interactions in Tropical Mangrove A Comparison Between A Carbonate and Terrigenneus Sediments in South Sulawesi (Indenesia). Marine Ekologi

Progress Series 102.

Erwin, 2005. Studi Kesesuaian Lahan Untuk Penanaman Mangrove Ditinjau dari Kondisi Fisika Oseanografi dan Morfologi Pantai pada Desa Sanjai – Pasi Marannu, Kab. Sinjai. Skripsi

Ilmu Kelautan, Universitas Hasanuddin, Makassar.

Feller, I, C and M. Sitnik. 1996. MANGROVE ECOLOGY: A Manual for a Field Course A Field Manual Focused on the Biocomplexity on Mangrove Ecosystems. Smithsonian Institution.

Washington. DC.

Hutching, P and P.Saenger. 1987. Ecology of Mangroves. University of Queensland, London.

Indriyanto. 2005. Ekologi Hutan. Cetakan Pertama. Penerbit PT Bumi Aksara. Jakarta.

Iqbal I. 2006. Study Vegetasi Mangrove di Pulau Dua, Teluk Banten-Kabupaten Serang Provinsi Banten. Taruna Sekolah Tinggi Perikanan Jurusan Teknologi Pengelolaan Sumberdaya

Perairan.

Irwanto. 2006. Keanekaragaman Fauna pada Habitat Mangrove.http://www.irwantoshut.com.

Diakses 5 Agustus 2009 20:35:00.

Keputusan Menteri Negera LH. 2004. Baku Mutu Perairan untuk Biota Perairan. Jakarta.

Krebs. 1989. The Botany of Mangrove Cambridge Tropical Series, Cambridge University Press. 413

Martono, Nowo Dwi 2004. Teori Dasar Interpretasi Citra Satelit Landsat Tm7+ Metode Interpretasi Visual ( Digitize Screen).www.dwimartono.dasar interpretasi. ac.id.pdf. Diakses 18 April 2010

Mawirampakel, F. S. 2008. Struktur Komunitas dan Penyebaran Mangrove di Pulau Yoop Distrik Windesi Kabupaten Teluk Wondama. Jurusan Ilmu Kelautan, Fakultas Peternakan, Perikanan

dan Ilmu Kelautan. Universitas Negeri Papua. Nontji, A. 2005. Laut Nusantara. Jakarta: Djambatan

Nontji, A. 1986. Laut Nusantara. Jakarta : Jambatan.

Noor YL,Khazali M dan Suryadipura INN. 1999. Panduan Pengenalan Mangrove di Indonesia. Bogor : Wetland International – Indonesia Programme.

Nybakken, J. W. 1988. Biologi Laut. Salah Satu Pendekatan Ekologis. Jakarta: PT Gramedia.

Nybakken, J. W. 1992. Biologi Laut. Suatu Pendekatan Ekologis. Jakarta: PT Gramedia.

Odum, E.P. 1993. Dasar - dasar Ekologi. Penerjemah: Tahjono samingan. Yogyakarta: Universitas

Gadjah Mada.

Odum, W.E. and C.C. McIvor. 1990. Mangroves. Pp. 517-548. In Ecosystems of Florida, R. L. Myers

and J. J. Ewel (eds.). University of Central Florida Press.

Pramudji, 2000. Hutan Mangrove di Indonesia: Peranan, Permasalahan dan Pengelolaannya. Oseana XXV (1) : 13 – 20.

Rahman. 2010. Identifikasi Jenis Mangrove di Pantai Teluk Lombok Desa Sangkimah Kec.Sangatta Selatan. Ilmu Kelautan. Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian. Kutai Timur.

Santoso, N. 2006. Pengelolaan Ekosistem Mangrove Berkelanjutan di Indonesia. Dalam Bahan Pelatihan. β006. “Training Workshop on Developing The Capacity of Environmental NGOs in

Indonesia to Effectively Implement Wetland Project According to the Ramsar Guidelines and

Obyectives of the Convection on Biodiversity”. Bogor

Silalahi, T.E. 1995. Produksi Serasah Hutan Mangrove di Kawasan Pesisir Utara dan Selatan Pulau Papua. Pusat Penelitian Oseanografi-LIPI. Jakarta.

Supriharyono. 2002. Pelestarian dan Pengelolaan Sumberdaya Alam di Wilayah Pesisir Tropis. PT

Gramedia Pustaka Utama. Jakarata.

Stoddart. T.I. Usinger R.L. 1971. Regional Variation in Indian Ocean Coral reef. London: The

Zoologi Society of London Academic Press.

Tomaschik T. Mah Aj. Nontji A. Moosa Mk. 1997. The Ekology of The Indonesian Seas. Part II.

Periplus Edition. Singapore.

Tomlinson. 1986. The Botany of Mangrove. Cambridge University Press USDA. 2009. Soil Survey Manual. United States Department of Agriculture. soils.usda.gov.

STUDI KOMUNITAS PLANKTON DI PERAIRAN SUNGAI GASING

Dalam dokumen Prosiding Seminar Nasional Biologi USU 2012 (Halaman 182-189)

Garis besar

Dokumen terkait