• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bajak Laut Tobelo

Dalam dokumen Sejarah Maritim Dunia (Halaman 100-106)

DARI RAJA LAUT MENJADI BAJAK LAUT

B. Bajak Laut Tobelo

Setelah meninggalnya Sultan Nuku, pengembaraan laut masyarakat Halmahera Utara memasuki fase baru, menjadi “bajak laut”. Wilayah pengembaraan orang Tobelo sangat luas, meliputi Teluk Tomini (Gorontalo), Kepulauan Banggai dan daerah Tobungku, Kepulauan

lkpp

Butung (Buton). Di tempat terakhir, sampai sekarang masih terdapat sebuah kampung di Buton bagian utara bernama Labuan Tobelo. Ditempat itulah pelaut-pelaut Tobelo mendarat, yang memasuki wilayah itu melalui Selat Buton. Terdapat sebuah gunung tertinggi (1.150 meter di atas permukaan laut) di Pulau Buton bernama gunung Tobelo. Selain itu, dalam tradisi lisan lokal, terdapat sebuah gunung yang sering dijadikan sebagai tempat pengintaian kedatangan orang Tobelo. Gunung itu bernama Lambelu (Zuhdi 2010: 40).

Sepak terjang orang Tobelo sesungguhnya sudah lama dikenal dalam masyarakat Buton. Sebelum menjadi sultan Buton pertama, Murhum (memerintah: 1491-1537), terlebih dahulu melakukan upaya pemberantasan bajak laut Tobelo di Poleang, Muna dan Buton. Pemimpin bajak laut yang paling terkenal di Buton adalah La Bolontio, yang dikisahkan hanya bermata satu. Bersama pasukannya, La Bolontio melakukan aksinya di kampung Bonena Tobungku. Akibat tindakan itu, masyarakat menjadi resah. Karena itulah, Muhum mendapat tugas dari Rajamulae, yang saat itu menjabat sebagai raja Buton kelima. Dia berhasil menumpas aktivitas komplotan itu. Pemimpinnya sendiri berhasil ditawan dan dihukum mati. Singkatnya, sepak terjang Murhum tersebut kemudian mengantarkannya pada kursi kekuasaan, yakni menjadi Raja Buton terakhir dan sekaligus sultan pertama Buton (Zahari 1977, I: 47-48). Sejak itulah, citra orang Tobelo sangat buruk di mata masyarakat. Mereka kerap disamakan dengan bajak laut. Hal tersebut juga menguatkan luasnya jangkauan aktivitas pelaut Tobelo di jazirah tenggara Pulau Sulawesi sejak abad ke-15.

Pada awal abad ke-19, sejumlah nama pemimpin kegiatan bahari Tobelo sangat tersohor terkuak pada laporan-laporan pemerintah Hindia Belanda dalam memberantas kegiatan yang dinamakannya sebagai “bajak laut”, seperti Robodoi, Surani, Palili, dan Laba. Kegiatan mereka terutama di perairan Laut Flores (Lapian 1980:281).

Berita yang lebih tua tentang pengembaraan bahari mereka di luar Halmahera Utara ditemukan dalam sumber pribumi, Syair Kerajaan Bima, yang ditulis sekitar tahun 1830. Syair ini mengisahkan, antara lain, tentang serangan bajak laut pada tahun 1819, menyebutkan dengan jelas pelakunya adalah orang Tobelo. Negeri-negeri pantai yang menjadi sasaran penyerangan mereka antara lain Sanggar, Kore, Wera, dan Sape (Lapian 1999:133).

lkpp

Pelaku penyerangan itu digambarkan dalam Syair, rambutnya panjang. Mereka berjalan beriringan seperti semut. Tubuhnya hitam memakai kencut (b.226). Mereka menyerang Sanggar, sehingga raja dan keluarganya melarikan diri ke hutan. Demikian juga rakyatnya. “sudahlah binasa negeri Wera, orang yang senang menjadi haru hara, segenap hutan tempat mengembara, lupakan anak dengan saudara” (b.227). Sesudah menyerang negeri Wera, mereka melanjutkannya ke negeri Sape. Tetapi, penyerangan terakhir ini mendapat perlawanan dari darat. Utusan Kerajaan Bima, yang memimpin perlawanan itu adalah Jeneli Parado dan Bumi Waworoda. Dengan mengerahkan tenaga yang banyak (“tiadalah tersebut segala temannya, beberapa puluh orang banyaknya, sampailah hari dengan ketikanya, berjalanlah ke Sape sekaliannya”, b.233), tindakan perlawanan dan penumpasan pun dilakukan. Untuk mencegah terjadinya penyerangan, khususnya di Bima, dilakukan penjagaan malam oleh orang Bima bersama dengan orang Melayu dan Bugis (b.234). Para penghulu dan matoa dikerahkan untuk berjaga. Penghulu Melayu bernama Abdul Syukur (b.237), sedangkan matoa Bugis adalah Paslik (bait 238). Kemudian, mereka beperang melawan penyerang dari laut itu (b.242) (Chamber-Loir 2004:296-299).

Formasi pertahanan yang digunakan oleh orang Bima dalam mengahdapi serangan, digambarkan dalam Syair, bagaikan “ikatan perang garuda mengeram. Kepalanya (maksudnya: pemimpinnya) terselit masuk ke dalam” (b.272). Pasukanya dibagi dalam syap kanan dan kiri, bagian dada dan tubuh, beserta ekor garuda. Sayap kanan dipimpin oleh Rato Waworada (b.268), sayap kirinya adalah Imam Usman, yang menjadi dada dan tubuh adalah raja Jeneli Parado (b.270), dan ekornya adalah Daeng Palina (b.271). Perlawanan kerajaan Bima tersebut berhasil karena “dilindungi oleh segala malaikat, segala Islam supaya selamat” (b.276) (Chamber-Loir 2004:302-303).

Pada tahun 1822, terjadi penyerangan terhadap masyarakat di Kolensusu Pulau Buton. Armadanya yang terdiri dari 6 unit kora-kora yang dipimpin oleh Jamaluddin, putra dari Raja Jailolo II Muhammad Asgar. Masing-masing perahu perang dipimpin oleh seorang kapitan Tobelo, kapitan Kadu dari Maba, Kapitan Paloka, dan dua orang kapitan dari Raja Ampat. Armada-armada tersebut kemudian bergabung dengan sejumlah unit armada Mangindano

lkpp

yang bermarkas di Tolitoli dan Tobungku. Pasukan ini dipimpin langsung oleh raja mudanya, dengan kekuatan sekitar 100 perahu jenis pangaraba dan 50 unit kora-kora dari orang-orang Tobelo dan Kepulauan Raja Ampat (Leirissa, 1996:168-170).

Pelaut Tobelo juga melakukan penyerangan terhadap masyarakat pesisir di Pasar Wajo, Buton. Pada saat kejadian ini, kesultanan Buton berada dibawah pemerintahan La Deni atau Sultan Muh. Anharuddin (memerintah: 1822-1823). Karena kekuatan bajak laut tidak dapat ditangi, maka diutuslah Kapitalao Muh. Idrus dari keraton untuk menumpas bajak laut tersebut. Sultan Buton kemudian memanggil pulang kapitalao ke keraton sebelum dia selesai melaksanakan tugasnya (Zahari 1977, III:25-26).

Wilayah pengembaraan orang Tobelo sampai ke Laut Jawa. Pada bulan Oktober 1850, pelaut Tobelo terlibat dalam penyerangan Pulau Bawean. Pada saat itu, 15 buah perahu berukuran besar mendarat di pantai barat-laut pulau itu, ketika sebagian besar dari penduduk pria sedang berlayar keluar pulau untuk berdagang. Pada kesempatan ini, mereka berhasil menangkap sejumlah besar dari penduduk beberapa kampong Bawean, selanjutnya dijadikan budak. Setelah peristiwa tersebut diketahui oleh pemerintah kolonial di Batavia, maka diperintahkan beberapa kapal untuk melakukan pengejaran. Tetapi, tempat persembunyian mereka tidak ditemukan. Kapal Angkatan Laut itu melakukan pencaria di sekitar Karimun Jawa, Pulau Rakit, Sadulang (sebelah utara Indramayu), sampai ke pantai selatan Kalimantan dan ke Selat Makassar. Beberapa tahun kemudian baru diketahui ternyata tempat persembunyian mereka di Laut Flores, terutama di pulau-pulau lepas pantai sebelah utara Sumbawa dan Flores. Angkatan Laut pemerintah pun melakukan penyerbuan ke sana. Sejumlah besar budak tangkapan mereka dibebaskan. Mereka yang melakukan tindakan itu, menurut laporan pemerintah, tidak hanya orang-orang Tobelo (Halmahera Utara), melainkan juga orang Balangingi dan Mangindano. Dua kelompok terakhir adalah dari Kepulauan Philipina (Lapian 2009: 132-133).

Salah seorang pemimpin pengembaraan laut orang-orang Tobelo pada abad ke-19, paling terkenal di kawasan timur Nusantara, adalah Robodoi. Dia dilahirkan di daerah Tobelo, Halmahea Utara, kira-kira tahun 1785 . Bersama dengan ayahnya, Tatto, dia menjadi pengikut

lkpp

Sultan Nuku semasa perang melawan VOC pada tahun 1795-1800. Pada awalnya, mereka berdiam di Labeta, Pulau Halmahera. Tetapi kemudian bersama orang-orang Tobelo, Robodoi pindah ke Kepulauan Raja Ampat, dan tinggal di sana selama dua tahun, kemudian pindah ke Seram. Berkali-kali mereka diserang oleh perahu angkatan laut Kerajaan Ternate dan Tidore, yang berusaha mengembalikan mereka ke tempat asalnya. Akhirnya, Robodoi tertangkap dalam suatu pertempuran, lalu diangkut ke Tidore.

Robodoi berhasil meloloskan diri dan bersama beberapa orang Alifuru lainnya kembali ke Misol. Di tempat itu mereka bertemu dengan sesama Alifuru lainnya. Kemudian berlayar dan tinggal selama satu tahun di daerah Tobungku, Sulawesi Timur. Mereka berjumlah 350 orang, dengan menggunakan 10 buah perahu. Mereka kemudian pindah ke Milala (Pulau Selayar), lalu ke Manggarai (Flores Barat). Di tempat terakhir inilah, mereka bertemu dengan orang-orang Ternate dan Tidore, yang sudah lama menetap di sana. Dari tempat ini mereka berlayar keliling, mengikuti perompak Mangindano yang biasanya datang pada musim pancaroba, yaitu waktu musim angin barat-laut berubah menjadi angin timur-laut (Lapian 2009:134).

Robodoi mengikuti salah seorang nakhoda Tobelo, bernama Suruan, ke Setondo (Pulau Komba, ketika kapal api Belanda menyerang pangkalan mereka di Kalatua. Di Setondo mereka merampas dua perahu. Sebagia penumpangnya dijual kepada orang Mangindano. Tak lama kemudian mereka kembali ke Kalatua. Tetapi, pada tahun 1850 mereka diserang oleh angkatan laut Belanda. Akibat serangan itu, perahu mereka rusak semuanya. Ada waktu itu, mereka berjumlah 400 orang, semuanya berasal dari Halmahera yakni Tobelo, Galela, Loloda, dan lainnya. Meriam dan senjata mereka, yang tidak sempat disembunyikan, diangkut oleh kapal api Belanda, bernama Hekla. Kejadian itu tidak menyurutkan kegiatan pengembaraan laut mereka. Kemudian mereka membeli 14 buah perahu dan berlayar ke Manggarai di kawasan Laut Flores. Pada masa pergantian musim, orang-orang Tobelo meminta bantuan pelaut Mangindano untuk membawa mereka ke Ternate dan Tidore. Pada saat inilah, Robodoi bersama pemimpin lainnya, Yoppi, Pilatu, dan Lalaba, pindah ke pihak Mangindano. Dengan perahu Mangindano, mereka berlayar. Sempat singgah di Kalatua untuk mengambil air, juga

lkpp

singah di Kabaena, lalu menyeberang ke Sulawesi menyusuri pantai sampai tiba di Bangkulu. Dari sana mereka mengikuti pantai Sulawesi sampai di Tole Lakka dan mengambil enam buah Padewakang yang telah ditinggalkan orangnya. Saat di Bangkulu, mereka bertemu dengan pemimpin pelaut Tobelo lainnya yang telah lebih dahulu menyerah kepada Ternate, bernama Laba. Dengan bantuan Laba, mereka berlayar menuju Togian di Teluk Tomini. Ketika tiba di Salabangka, Laba memberitahukan kepada penguasa setempat di Tobungku, tentang kedatangan rombongan Tobelo. Dua pemuka Tobungku datang ke sana dan mengundang mereka (orang-orang Tobelo dan Mangindano) turun ke darat. Kemudian didakan perundingan. Pemimpin Tobungku mengajak orang-orang Tobelo ke Tobungku. Ajakan serupa juga diajukan kepada orang Mangindano, tetapi mereka menolak. Disepakatilah bahwa meskipun orang-orang Tobelo menyerah kepada pemerintah Hindia Belanda, namun antara mereka dengan orang Mangindano tidak akan ada permusuhan, yang dikuatkan dengan sumpah di atas al-Quran (Lapian 2009:135-16).

lkpp

BAB VI

Dalam dokumen Sejarah Maritim Dunia (Halaman 100-106)