PELAYARAN CHINA – NUSANTARA
D. Merosotnya Pelayaran
Misi upeti dari Jawa ke China merupakan satu-satunya saluran legal untuk menjalankan perdagangan dan sarana orang China yang bermukim di Jawa untuk bisa pulang ke kampung halamannya. Pada tahun 1420-an, tercatat lima belas misi upeti dan orang Jawa lebih sering mengirim utusan daripada negara-negara Asia Tenggara lainnya, kecuali Vietnam, hingga tahun 1440-an (hlm.93). Secara perlahan jumlah pengiriman misi berkurang. Setelah tahun 1453 hanya lima misi dari Jawa. Sebab pengurangan tersebut adalah karena (1) tindakan pelanggaran mencolok yang dilakukan oleh orang Jawa dan (2) aktivitas perdagangan tanpa izin mereka dengan misi dari Siam. Tindakan orang Jawa itu dipandang sebagai perilaku yang tidak memahami adat “orang China” (hlm.94).
Meskipun demikian, permintaan China akan hasil bumi Nusantara dan kebutuhan Jawa akan cash China sama sekali tidak berkurang. Namun untuk memenuhinya harus ditempuh dengan cara lain, yakni pergeseran perdagangan dari Jawa ke Malaka. Perdagangan swasta tetap dilarang dan pengawasan terhadap aktivitas ini dijalankan secara ketat sampai tahun 1450-an. Pada tahun 1440-an, otoritas China menindak tegas para pedagang yang terang-terangan mencoba melanjutkan perdagangan dengan cara penyelundupan. Badan pengawas kekaisaran juga memecat penguasa-penguasa lokal di Fujian karena telah mengizinkan beberapa pedagang dari distrik Luhai pergi berlayar ke Jawa, dengan status sebagai utusan kekaisaran. Namun demikian, embargo perdagangan swasta mulaiu sedikit diperlonggar
lkpp
antara tahun 1457 sampai 1520. Kebijakan itu memudahkan para saudagar Fujian dan Guangdong beroperasi ke pelabuhan-pelabuhan terdekat di daratan Asia Tenggara, dengan dalih bahwa mereka sekadar melakukan lintas-pantai, daripada melintasi samudera langsung ke Jawa.
Faktor lain (kedua) yang terjadinya pergeseran itu adalah karena terganggunya kondisi Jawa akibat berbagai perang saudara yang terus berkecamuk dan tidak adanya pusat politik dan perniagaan. Pada saat yang sama pelabuhan Malaka sangat stabil. Keadaan itu merupakan daya tarik bagi orang-orang China untuk berdagang di sana. Malaka dan Siam memang rajin memelihara relasi upeti dengan China. Beberapa jung Malaka setaip tahun mengunjungi sebuah pulai yang telah ditentukan di lepas pantai Kanton. Sebalinya, jung-jung China mengunjungi Malaka secara berkala dan berlabuh di sebuah pulau lepas pantai (Pulau China). Lima jung China berada di sana ketika armada Albuquerque tiba tahun 1511 (hlm.95).
Faktor terakhir (ketiga) adalah penggunaan peran perantara Kerajan Ryukyu (Okinawa). Kerajaan ini dimanfaatkan sebagai pusat niaga pantai (entrepot) bagi lalu lintas barang dengan Asia Tenggara. Kontak-kontak niaga ini dirintis oleh komunitas China Palembang. Pada tahun 1419, mereka mengirim sebuah kapal ke Jepang. Para awaknya dikirim kembali melalui Ryukyu dan Siam tahun 1421. Kontak ini membuka hubungan perniagaan lebih luas dengan Palembang tahun 1428 dan Jawa (bagian timur) tahun 1430. Antara tahun 1430-1442 tercatat enam misi perdagangan dari Ryukyu ke Jawa. Pada tahun 1463, perdagangan Ryukyu bergeser ke Malaka, yang menjadi pusat niaga pantai untuk jalur perdagangan Asia Timur Laut dengan Nusantara sebelum dikuasai oleh Portugis tahun 1511. Tome Pires mencatat satu sampai tiga jung Ryukyu berhasil mencapai Malaka setiap tahun (hlm.96).
Tiga kondisi tersebut menyebabkan Malaka berkembang pesat. Pada masa kejayaannya, sebagian besar penduduk pelabuhan itu adalah orang-orang Jawa. Mereka dikenal terutama sebagai tukang kayu dan pembuat kapal di kota itu. Albuquergue amat terkesan dengan keahlian mereka, sehingga dia membawa enam puluh tukang kayu Jawa dari galangan kapal itu bersamanya ke India untuk membantu memperbaiki kapal-kapal Portugis
lkpp
di sana. Orang Jawa juga merupakan mayoritas awak kapal dagang yang dikirim oleh chettiar Malaka Nina Chetu ke Pegu, Pasai, dan India Selatan pad atahun 1512-1513.
Puncak pencapaian kemajuan Malaka dibuktikan dengan adanya Undang-undang Laut Malaka sebagai pedoman sistem perdagangan dan perkapalan di pelabuhan itu. Undang-undang ini disahkan oleh sultan Malaka terakhir, Mahmud (1488-1511). Dari aturan ini diperoleh pula keterangan mengenai tiga nakhoda33 yang mengajukan undang-undang laut itu kepada Dato Bendahara Sri Maharaja, yang mendapat restu Sultan Mahmud. Salah satunya diantaranya, Sang Utama Diraja, adalah pedagang Jawa terbesar di Malaka yang sangat kaya dan mendominasi perdagangan beras dan rempah-rempah antara Jawa dan Malaka. Dia memiliki delapan ribu orang “budak Jawa” yang tinggal bersamanya. Dua nakhoda lainnya, menurut Anthony Reid, adalah pedagang-bangsawan Jawa terkemuka di Malaka.
Dengan demikian, undang-undang laut Malaka merupakan hasil upaya bersama di mana orang Jawa sebagai pengguna bahasa Melayu paling banyak di kota perniagaan itu memainkan peran utama. Salah satu konsep pokoknya adalah kiwi, yakni saudagar pelancong yang berlayar dengan kapal milik orang lain dan dia tunduk kepada otoritas nakhoda. Namun demikian, kiwi juga memiliki hak-hak khusus, misalnya (1) harus diberitahu jika muatan kapal hendak dibuang ke laut, jika kapal dalam bahaya (tidak seimbang) saat berlayar, (2) mendapat giliran berdagangan setelah hari keempat, atau setelah nakhoda menjual barangnya. Setelah itu baru kemudian giliran para pelaut (hlm.101)34.
Kemajuan perdagangan maritim Malaka menarik perhatian Patih Yunus dari Jepara untuk menguasainya. Pada bulan Januari 1513, tiga puluh lima jung besar masing-masing berbobot sekitar 500 ton serta tujuh puluh kapal kecil lainnya serta banyak kapal-kapal besar tuas bersenjata menyerang Malaka. Hampir seluruh armada dihancurkan dalam pertempuran laut di lepas pantai Malaka, menyisahkan satu jung raksasa berbobot 1.000 ton yang berhasil
33Masing-masing Nakhoda Zainal dengan gelar Sang Naya Diraja, Nakhoda Dewa diberi gelas Sang Setia Dipati, dan nakhoda ketiga diberi gelar Sang Utara Diraja. Lebih lanjut tentang undang-undang Laut Malaka dapat diperiksa pada Hukum Kanun Pahang yang diterbitkan oleh Lembaga Muzeum Negeri Pahang (2003). Baca juga Liaw Yock Fang. 1976. Undang-undang Malaka. The Hague-Martinus Nijhoff.
34Bandingkan pula dengan ketentuan-ketentuan dalam perdagangan dan pelayaran Bugis (Makassar). Periksa H.O.L.Tobing, 1977. Hukum Pelayaran dan Perdagangan Amanna Gappa. Ujung Pandang: Yayasan Kebudayaan Sulawesi Selatan, terutama pasal 4.
lkpp
kembali dan berlabuh di Jepara. Peristiwa ini menyakinkan para pembuat kapal Jawa bahwa jung-jung mereka yang besar tap sulit dikendalikan itu akan menghadapi risiko terlampau besar seandainya Portugis menerapkan pertempuran laut gaya Eropa di Nusantara.
Pada abad ke-16 ukuran kapal-kapal Asia Tenggara semakin mengecil, dan sebaliknya kapal-kapal Eropa yang berdagang ke Asia semakin besar. Jung terbesar dalam periode ini adalah yang mengangkut beras dari Jepara dan Semarang. Kapal-kapal yang berlabuh di Jawa Timur di Selat Madura yang berjumlah sekitar seribu kapal berbobot 20-200 ton. Salah satu jung pengangkut beras di Jepara berbobot 400 ton. Belanda (VOC) memandang kapal-kapal Jawa sebagai saingan. Pada tahun 1618, armada Belanda menyerang bandar pelabuhan Jepara. Semua jung dirampas dan dibakar, termasuk satu kapal besar yang sedang memuat beras 300 ton.
Pada saat perdagangan maritim dan pelabuhan-pelabuhan Jawa menghadapi ancaman dari VOC, kekuatan Mataram sedang bangkit. Kekuatan militer perlahan bergeser ke ibukota pedalaman, akibat kemerosotan di laut. Mataram berhasil menaklukkan dan menghancurkan Lasem (116), Tuban (1619), Gresik (1623), dan seluruh kompleks pelabuhan Jawa Timur yang bersandar pada Surabaya (1625). Jepara mencoba bertahan dengan menunjukan loalitasnya pada Sultan Agung. Namun sebaliknya, Belanda melakukan penghancuran terhadapnya pada tahun 1628 dan 1629. Semua jung dan loji Inggris dihancurkan. Semua saudagar Gujarat yang ditemukan dibunuh dan memaksa orang China pindah ke Batavia. Akibat tindakan itu, Jepara menjadi tidak berdaya dan tidak lebih dari sekadar pasar yang tunduk pada monopoli perdagangan beras kerajaan Mataram.
Upaya monopoli Mataram dilanjutkan oleh pengganti Sultan Agung, yakni Amangkurat I (1647-1677). Pada tahun 1651, dia melaang rakyatnya berdagang ke seberang lautan. Kemudian tahun 1655, dia menutup semua pelabuhan serta memerintahkan penghancuran terhadap semua kapal Jawa. Hal itu menyebakan pelabuhan-pelabuhan Jawa tidak aman lagi bagi saudagar Jawa untuk menanamkan modalnya pada kapal-kapal yang sangat mudah diserang.
lkpp
Perubahan tersebut juga mempengaruhi pembuatan kapal yang jauh lebih kecil dan lebih cepat yang dapat menghindari serangan kapal-kapal Belanda. Sementara itu, para saudagar yang lebih besar pindah ke pelabuhan-pelabuhan yang dipandan bisa melindungi mereka, seperti Banten (hingga 1684), Makassar (hingga 1669), Malaka (hingga 1641), Aceh, Palembang, dan Banjarmasin. Hampir di semua tempat mereka membaur ke dalam kelompok pedagang Malaka, sehingga mereka kelak dikenal sebagai orang-orang Melayu.