DARI RAJA LAUT MENJADI BAJAK LAUT
A. Raja Laut
2. Pengikut Sultan Nuku dari Tidore
Pada masa pemerintahan Sultan Nuku, wilayah kekuasaan Tidore meliputi: pertama, Pusat kerajaan yang meliputi Pulau Tidore dan sekitarnya, Pulau Maitara, dan Pulau Mare. Kedua, daerah luar dan daerah ulurannya, mencakup (a) Halmahera Tengah dengan dua jazirah di sebelah timur dan Pulau Gebe, (b) daerah Kalan Fat yaitu gugusan Kepulauan Raja Ampat, termasuk pantai barat dan utara Papua, dan (c) Seram Timur dengan pulau-pulau Seram Laut, Gorong, Watubela, Kai dan Aru, termasuk pantai selatan Papua (Katoppo 1984:24).
Sultan Tidore menjalankan pemerintahan bersama-sama dengan sebuah Dewan Wazir dan Majelis Kerajaan dibantu oleh suatu Kepaniteraan. Dewan Wazir terdiri dari: Jogugu yakni patih atau perdana menteri, Kapitan Laut yaitu panglima angkatan laut dan kepala urusan kelautan, Hukum Sangai, Hukum Soa-Siu yang mengepalai urusan dalam negeri atau peradilan.
Pada tahun 1796, Sultan Tidore Kaicili Syaifuddin atau Sultan Nuku (memerintah: 1796-1805) mengangkat Mohammad Arif Bila sebagai pemimpin armada yang bertugas menduduki Halmahera. Karena itu, dalam dokumen-dokumen sejarah, dia disebut juga sebagai Raja Jailolo I. Pengangkatan itu dimaksudkan untuk: pertama, memulihkan empat kesultanan yang merdeka dan makmur, bebas dari penjajahan asing; kedua, mengurangi kuasa sultan Ternate yang bersekutu dengan Kompeni (VOC); ketiga, melemahkan Kompeni; keempat, memperkuat kedudukan Tidore dengan sorang raja sekutu (Katoppo 1984:130-131)
Setelah Mohammad Arif Bila meninggal tahun 1807, status sebagai raja digantikan oleh puteranya yakni Kimelaha Sugi atau Jou Kimelaha sebagai Raja Jailolo II. Selanjutnya, dia digantikan oleh adiknya, Kemelaha Hajuddin sebagai Raja Jailolo III. Singkatnya,
lkpp
menurut Leirissa (1996), Raja Jailolo merupakan “ciptaan” Sultan Nuku untuk mengukuhkan kekuasannya di Halmahera.
Sebelum menjabat sebagai Raja Jailolo I, Mohammad Arif Bila merupakan sangaji di Pulau Makian. Untuk mengukuhkan status sosialnya sebagai raja (baca bangsawan), maka Sultan Nuku memberikan kepadanya berbagai symbol kebangsawanan agar dia dan keluarganya dapat duduk sederajat dengan kaum bangsawan. Kedudukannya sebagai Jougugu selama 13 tahun sebelumnya memang merupakan faktor penting pencapaian status ini. Hal itu dimungkinkan karena didukung oleh pihak VOC (Leirissa 1996:152).
Dalam masyarakat tradisional di Maluku Utara, status keluarga menentukan startifikasi sosial, kecuali pada kasus ini karena mendapat intervensi dari luar. Namun demikian, bangsawan Tidore pada umumnya tidak menerima status tersebut. Karena itu, tempat tinggal Mohammad Arif Bila di luar wilayah para bangsawan Tidore, melainkan di Kampung Cina, salah satu dari dua kampung orang asing di Soasiu. Pada tahu 1806, dia bersama keluarganya melarikan diri ke Halmahera. Sultan Nuku mengupakannya agar mendapat pengakuan dari Belanda. Dalam perundingan-perundingan dengan Belanda (pada tahun 1803 dan 1805), Nuku selalu menuntut agar Belanda membuat perjanjian tertulis dengan yang terpisah dengan Raja Jailolo sebagai salah satu syarat perdamaian antara Belanda dan Tidore. Tetapi, usaha itu tidak pernah berhasil. Belanda selalu mengelak dan mengatakan bahwa keputusan kepentingan itu hanya dapat dilakukan oleh Batavia. Enam bulan kemudian, keputusan dari Batavia tidak menyetujui usulan Nuku. Sejak saat itu, Raja Jailolo meninggalkan Toniku dan mulai mengerahkan armadanya untuk menyerang Halmahera Utara (Leirissa 1996:153).
Meskipun kalangan bangsawan Tidore dan Ternate tidak menerima Raja Jailolo, Mohammad Arif Bila, namun para bobato negeri di Tidore yang bergantung pada Sultan Nuku tidak punya pilihan lain. Dalam salah satu suratnya kepada Gezaghebber Ternate, Nuku menjelaskan bahwa pengangkatan Raja Jailolo itu didukung oleh para bobato negeri Soasiu dan negeri-negeri lainnya di Pulau Tidore, para bobato di Halmahera Timur (Maba, Weda, dan Patani) dan Halmahera Utara seperti Raja Loloda dan anggota bangsawan Ternate yang
lkpp
melarikan diri ke Tidore. Atas dasar itulah, Sultan Nuku dilantik sebagai Raja Jailolo dengan gelar Sultan Jailolo Kaicili Jougugu Alam (Leirissa 1996:154).
Sebagian besar para pengikut Raja Jailolo adalah orang-orang Halmahera, baik dari Halmahera Utara (Tobelo, Galela) maupun Halmahera Timur. Selain itu, pengkutnya adalah orang-orang Papua dari Kepulauan Raja Ampat. Menurut hasil studi Leirissa (1996), pengikut utama Raja Jailolo I adalah orang-orang Tobelo, khususnya yang berdiam di distrik Kau, yang kemudian dikenal sebagai Tobelo-Kau atau Tobelo-Boeng.
Setelah masyarakat Tobelo turun dari Talaga Lina ke kawasan pesisir, baik di Tobelo maupun Kau, mereka terkait dengan sistem pemerintahan Ternate yang telah ada di sana. Para pemimpin mereka pun mulai menggunakan gelar-gelar yang lazim digunakan oleh para bobato di negeri-negeri pesisir. Sebagai upeti kepada kedaton, mereka dikenakan kewajiban untuk menyediakan tenaga dan perahu perang bagi hongi kerajaan dan upeti dalam bentuk materi.
Upeti dalam bentuk materi yang terutama adalah mutiara yang diperoleh di Teluk Kau, yang hanya diperuntukkan bagi sultan dan tidak dijual kepada pihak lain. Masyarakat Tobelo juga dikenal sebagai pemburu tripang dan penyu. Kegiatan ini dilakukan oleh satu unit dari satu keluarga yang terdiri dari 3 sampai 4 orang, dengan menggunakan perahu-perahu kecil. Selama berbulan-bulan mereka berada di laut. Pola kehidupan inilah yang membuat mereka kemudian tersebar di berbagai pulau dan hanya kembali ke kampung halaman jika persediaan telah cukup banyak. Kebiasan berburu dan mengembara di laut itu oleh VOC dipandang sebagai “bajak laut” (Leirissa 1996:115-116).
Pada masa Sultan Nuku, dikenal nama-nama kapitan atau pemimpin perang dari orang-orang Tobelo, seperti Kapitan Afi, Kapitan Katobi, Kapitan Krai, Kapitan Toma-ohe, serta pemimpin lainnya seperti Ngofanayira Molobi, dan Hukum Dunga. Antara tahun 1790 dan 1793 sebagian dari orang-orang Tobelo-Boeng dilaporkan bergerak di sekitar Kepulauan Raja Ampat dan Pulau Bacan untuk merompak para pedagang China serta negeri-negeri di wilayah itu. Termasuk juga dalam kelompok itu adalah orang-orang Galela yang dipimpin oleh Kapitan Farang. Jumlah armadanya tidak lebih dari 40 perahu dalam berbagai ukuran.
lkpp
Hasil rompakan itu diangkut ke Seram Timur, sebagian ditukarkan dengan senjata dan mesiu untuk kepentingan Sultan Nuku. Mereka itulah yang menjadi tulang punggung Raja Jailolo I, Mohammad Arif Bila. Mereja jugalah yang menjadi kekuatan utama armada-armada dari putra-putra Mohammad Arif Bila, seperti Niru yang beroperasi di sekitar Sulawesi Selatan bersama orang Mangindanao. Mereja juga kemudian sebagai pengikut Raja Jailolo III, Hajuddin (Leirissa 1996:160).
Pada tahun 1805, terdapat seorang pemimpin utama di kalangan orang Tobelo-tai (Tobelo-Kau) yang menyandang gelar sangaji, yakni Sangaji Lapas. Gelar itu diberikan oleh Nuku saat Lapas melepaskan diri dari masyarakat Tobelo asli dan bergabung dalam jajaran armada Tidore. Selain dia, pemimpin suku atau sub suku lain yang menyandang gelar yang dihadiahkan oleh Nuku adalah Kimelaha Arifu, Kimelaha Hadasi, dan Hukum Kadu. Selain itu, beberapa nama pemimpin pertempuran dari kalangan Tobelo-tai antara lain Kapitan Ngongare, Kapitan Saruni, Kapitan Samari, Kapitan Pogo, dan Kapitan Nokas. Jumlah orang Tobelo yang menjadi pengikut Raja Jailolo tidak diketahui secara pasti. Tetapi ketika diadakan ekspedisi militer ke Halmahera Timur pada tahun 1807, di distrik Weda saja yang berhasil ditangkap oleh Belanda sebanyak 452 orang. Singkatnya, berdasarkan keterangan tersebut, dapat disimpulkan bahwa sejak masa Raja Jailolo I (1797), masyarakat Tobelo khususnya Tobelo-tai atau Tobelo-Boeng, telah terpisah dari kekuasaan Kesultanan Ternate, dan menjadi bagian dari Kesultanan Jailolo “buatan” Sultan Nuku (Leirissa 1996:161).
Pada tahun 1805, Raja Jailolo I Mumammad Arif Bila mengirim lima unit armadanya untuk menyerang tempat-tempat yang sudah ditentukan (Leirissa 1996:168-169). Armada pertama dipimpin oleh Sangaji Lapas, yang terdiri dari empat unit perahu perang. Dua unit kora dari Petani, dipimpin oleh kapitan Malimbangan dan kapitan Fraki. Satu unit kora-kora dari Maba dipimpin oleh Kapitan Laut Mobi. Tiga unit kora-kora-kora-kora Tobelo.
Unit armada tersebut langsung bergerak dari Maba ke Selat Buton. Selain menyerang berbagai perahu dagang dan nelayan di sekitar perairan itu, armada laut ini juga berhasil menyerang dan merebut sebuah perahu dagang dari Ternate. Unit armada ini selanjutnya
lkpp
bergerak ke Pulau Kabaena untuk menyerang beberapa desa, lalu ke Pulau Selayar untuk tujuan yang sama. Dari Selayar, armada tersebut menuju Tobungku di pantai timur Sulawesi.
Pada saat berada di Tobungku, armada pertama bertemu dengan unit armada kedua yang dipimpin oleh Kapitan Tobelo Ngongare, yang terdiri dari lima perahu perang. Lima kora-kora tersebut adalah; tiga unit kora-kora dari Maba, satu unit kora-kora Patani, dan lainnya dari kora-kora Tobelo. Sasaran penyerangan kedua unit ini adalah Pulau Taliabu di Kepulauan Sula, yang pada waktu itu merupakan wilayah kekuasaan Kesultanan Ternate.
Ketika kedua unit tersebut tiba di Taliabu, di sana telah siap/menunggu unit armada ketiga yang dipimpin oleh Kapitan Arifu dan Kapitan Hadasi, dengan tiga unit kora-kora. Salah satunya dari distrik Loloda. Tak lama kemudian, datang pula unit armada keempat. Armada ini dipimpin oleh Jou Kimelaha (Mohammad Asgar), yang terdiri dari 24 unit kora-kora; empat unit kora-kora Tobelo dan sisasnya adalah perahu perang Papua. Berbeda dengan armada unit satu, dua, dan tiga yang bertolak dari Maba, armada ini (empat) bertolak dari Kepulauan Raja Ampat, lalu menyusuri pantai pesisir Seram Pasir dan melalui Pulau Buru. Mereka melakukan serangan-serangan terhadap negeri-negeri di Taliabu.
Armada kelima, yang dipimpin oleh Samofo Dewana, dengan dua unit armada perang (dari Patani dan Tobelo), menyusul armada lainnya. Sebelum tiba di Taliabu, armada terakhir ini melakukan penyerangan terhadap tempat-tempat di sekitar perairan Sulawesi Selatan.
Berdasarkan rentetan ekspedisi aritime tersebut (1805) dapat diambil tiga kesimpulan. Pertama, para pelaut tersebut bekerja untuk pengikut Sultan Nuku, yakni Raja Jailolo I. Kedua, komposisi pengikut Nuku terdiri dari masyarakat Halmahera dan Papua. Ketiga, pelaut-pelaut Halmahera khususnya dari Tobelo Loloda dalam periode ini sudah tidak lagi berada dalam pengaruh kekuasaan Kesultanan Ternate. Mereka bekerja dalam kendali kekuasaan Kesultanan Tidore dibawah Sultan Nuku.