DARI RAJA LAUT MENJADI BAJAK LAUT
A. Raja Laut
1. Kesultanan Ternate
Pengembaraan laut “orang-orang Tobelo” terkait erat dengan kegiatan ekspedisi maritim Kesultanan Ternate, sebagai tenaga penggerak angkatan lautnya. Nama mereka selalu
lkpp
melekat pada setiap usaha ekspansi Ternate pada abad ke-16. Akan tetapi, pada masa kemudian mereka bekerja untuk kepentingan sendiri, terutama setelah kekuasaan Tenate mulai menurun akibat dominasi VOC pada abad ke-17. Pada akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19, di perairan timur Nusantara, nama Tobelo menjadi sinonim dengan “bajak laut” (Lapian 1980:280-281).
Informasi mengenai armada laut Kesultanan Ternate terungkap dalam buku harian kapal Francisco Serrao yang tiba di Maluku pada bulan Januari 1512, “beberapa hari sebelum kami tiba di Hitu, Sultan Bolief dari Ternate telah mengirimkan Pengeran Juliba dengan aritime buah korakora untuk menjemput kami”. Serrao menjadi mitra dagang dan sekaligus penasihat sultan Ternate hingga akhir hayatnya tahun 1523.
Segera setelah kedatangan Serrao, hubungan dagang antara Maluku dan Malaka semakin ramai. Pada awal tahun 1513, datang pula armada dagang Portugis di Ternate. Pengalima armada kapalnya, Antonio de Miranda de Azevedo, membuka pos dagang kecil di sana dan satu lagi di Bacan. Sejak saat itulah, hubungan komersial terjalin secara berkesinambungan (Alwi 2005:29).
Keterangan mengenai kapal yang digunakan oleh Kesultanan Tarnate pada masa sultan Babullah dicatat oleh Francis Drake saat mengunjungi negeri itu. Pada 3 November 1579, kapal Drake didatangi oleh tiga kano besar dan megah. Dalam setiap kano, terdapat beberapa tokoh penting, yang masih memiliki hubungan dengan sultan, mengenakan kain berwarna putih. Sebuah atap tikar tipis dibentangkan di atas kepala mereka untuk melindunginya dari terik matahari atau hujan. Atap tersebut disangga di dari satu ujung kano ke ujung yang lain, dengan rangka yang terbuat dari anyaman sejenis ilalang. Dibawah atap itu, semua orang duduk berdasarkan status dan jabatan. Banyak diantara mereka sudah tua (berambut putih) yang merupakan kelompok dewan penasihat sultan. Selain itu, terdapat pula orang-orang muda dan tampan. Sebagian besar dari mereka mengenakan pakaian berwarna putih. Sisanya adalah tentara yang berdiri dengan rapi mengelilingu kedua sisi kano.
Di luar rombongan itu terdapat para pendayung yang duduk dalam langkan-langkan khusus, terdiri dari tiga orang pada setiap sisi kano. Barisan langkan itu terletak agak
lkpp
menyamping sekitar 3 atau 4 yard (2-3 meter) yang secara berurutan dibuat lebih rendah dari langkan sebelumnya. Setiap langkan memiliki jumlah bangku yang sama.
Setiap kano terdapat 80 orang pendayung. Di bagian depan setiap kano duduk dua orang. Salah seorang memegang tabret (sejenis rebana), sedangkan satu yang lainnya memegang brasse (alat music tiup). Keduanya memainkan alat arit itu dengan nada yang sama untuk memandu keharmonisan para pendayung saat mengayunkan dayung. Sementara itu, para pendayung mengakhiri dayungan mereka dengan nyangian sebagai tanda pemberitahuan kepada yang lain untuk menggantikannya mendayung kano. Hal itu dilakukan secara berlanjut dalam kecepatan yang luar biasa.
Setiap kano dilengkapi sebuah cast (senjata) kecil yang panjangnya sekitar 1 yard (sekitar 90 cm) dengan penyangga yang didirikan tegak lurus. Selain itu, semua orang dalam rombongan itu, kecuali pendayung, membawa pedang, belati, dan sebuah perisai kecil. Sebagian dari mereka membawa senjata jenis lain seperti tombak, caliver (sejenis pistol kecil), busur, panah, dan sejumlah anak panah.
Kano-kano tersebut mendekati kapal Drake, Golden Hind, secara berurutan. Kano mereka berputar mengelilingi kapal Drake, sembari memberikan penghormatan dengan penuh hikmad. Salah saorang kemudian naik ke atas kapal menyampaikan pesan bahwa sultan yang sedang dalam perjalanan mengutus mereka (kano-kano itu) untuk memandu kapalnya menuju jalur pelayaran yang lebih baik. Dengan seutas tali, mereka manarik Golden Hind ke tempat yang sudah ditentukan.
Sultan sendiri tidak jauh dari rombongan mereka. Ketika kanonya mendekat, sultan datang bersama enam pria tua yang memiliki kedudukan penting di istana sultan. Mereka disambut baik oleh awak kapal Drake dengan sejumlah besar bunyi letusan kecil diantara suara terompet dan alat arit lainnya yang bersuara lembut dan nyaring. Hal itu membuat sultan sangat senang, bahkan meminta pemain arit itu naik ke kanonya.
Sultan lalu naik ke kanonya serta berlayar sekitar satu jam menuju tempat yang sama. Sebagai bentuk apresiasi atas sambutan sultan yang ramah itu, jenderal kapal Inggris itu
lkpp
memberikan sejumlah hadiah kepada sultan, sekaligus sebagai tanda maksud baik dan dimulainya ikatan persahabatan (Miller 2012:12-13).
Setelah Sultan Babullah dan Drake berbincang, dihidangkan aneka makanan berupa sagu, ikan bakar bubara, kepiting kenari dan ayam yang dimasak menggunakan ramuan cengkeh. Pada saat itu Drake menyempatkan hanya membeli lima kwintal cengkih, karena kapalnya penuh dengan barang-barang hasil rampokan dari kapal-kapal Spanyol yang ditemuinya dalam pelayaran.
Sebelum bertolak, Drake berjanji akan kembali ke Maluku. Sementara itu, Sultan Babullah menitipkan sepucuk surat untuk Ratu Elisabeth I, yang isinya mengajak Inggris untuk bekerjasama dalam bidnag perdagangan, juga bantuan untuk mengusir Portugis dari Ternate.
Dengan dipandu oleh kapal-kapal juanga menuju laut lepas, kapal Golden Hind berlayar meninggalkan Tarnate. Tetapi, tak lama kemudian diterpa oleh badai sehinga sempat terhalang. Sultan Babullah memerintahkan armadanya untuk memberikan bantuan penyelamatan, sampai akhirnya kapal yang ditumpangi Drake itu dapat melanjutkan pelayaran (Amal 2010:88-89).
Kemampuan menggunakan kapal secara efektif untuk mengamankan kepentingan ekonomi dan politiknya membuat Sultan Babullah dijuluki sebagai penguasa 72 pulau (Lord over 72 islands).
Puncak perluasan kekuasan Babullah dicapai pada tahun 1580, meliputi Mindanao di utara dan Bima di bagian selatan, dengan jumlah pasukannya sebanyak 130.000 yang diberikan oleh sejumlah daerah yang berada dalam wilayah kekuasannya, baik dalam maupun luar Kepulauan Maluku.
Dari daerah-daerah di Maluku yang memberikan pasukan kepada Ternate antara lain yang terbanyak adalah Veranula dan Seram (30.000 orang), kemudian Batochina (Halmahera) (10.000 orang), Kepulauan Sula (4.000 orang), Pulau Buru dan sekitarnya (4.000 orang), Makian (1.500 orang), dan Ternate sendiri dari 16 tempat (3.000 orang).
lkpp
Bantuan pasukan dari luar Maluku antara lain dari Gorontalo dan Limboto (10.000 orang), Tomini (12.000 orang), Manado (2.000 orang), Sangir (3.000 orang), serta Gape (Keling), Tambuku, dan Buton (tidak tentu jumlahnya). Meskipun jumlah tersebut tidak dapat dipastikan, namun hal itu dapat menggambarkan betapa luas pengaruh dan kekuasaan Tarnate pada akhir abad ke-16 (Abdurrachman 2008:71,99,139-140).