• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pelaut dan Pedagang Ulung

Dalam dokumen Sejarah Maritim Dunia (Halaman 107-113)

PERDAGANGAN MARITIM DAN TRANSFORMASI BUDAYA

B. Pelaut dan Pedagang Ulung

Untuk mengetahui kemaritiman masyarakat ini secara baik pada periode sebelum abad ke-16 sangat sulit, karena keterangan yang telah diketahui sangat pragmentaris. Dalam Negarakartagama (ditulis oleh prapanca tahun 1365) tercatat sejumlah tempat di Sulawesi yang didatangi oleh ekspedisi Majapahit yaitu: Bantaeng, Luwu, Selayar, dan Uda (?) dan kemudian sejumlah pulau yaitu: Selayar, Buton, Banggai, dan Makassar (?). Di mana letak “Makassar” pada periode itu tidak dapat diidentifikasikan. Dalam pemberitaan Tome Pires (yang ditulis pada 1516) diketemukan penyebutan daerah dari pedagang yang datang dari Ole Islands of Macassar (ilha dos Macaccar = pulau-pulau Makassar). Penyebutan ini menempatkan seluruh Sulawesi dan pulau-pulau sekitarnya, bahkan termaksut Kalimatan sehingga pulau itu dalam peta pedagang Portugis di sebut A gramde ilha de Maguacer (Pulau Makassar yang besar).

Penduduk dari negeri ini, berdasarkan cacatan Portugis, telah lama melakukan perniagaan dengan Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan dengan tempat-tempat antara Siam dan Pahang. Bila kita menelusuri pemberitaan Tome Pires tampak bahwa jalur utara dalam pelayaran ke Maluku baru diketahui pedagang Melayu pada akhir abad ke-15. Hal itu menunjukkan bahwa pedagang Melayu mengetahui jalur itu dari pedagang-pedagang Makassar, yang selalu melakukan pelayaran dari negeri mereka ke Siam hingga

lkpp

Pahang dan Pegu (Birma) pada waktu muson timur laut dan kembali ke negeri mereka atau menelusuri ke Sumatera dan Jawa pada waktu muson barat laut.

Pedagang dari negeri-negeri Makassar yang datang berniaga di Malaka, oleh Tome Pires itu dapat dikelompokan dalam: pertama adalah para pedagang yang melakukan kegiatan perdagangan dengan membawa beras putih dan sedikit emas, dan kedua adalah mereka berlayar bersama istri dan melakukan perampokan dan menjual barang rampokan itu dan juga budak yang ditawan. Jika pemberitaan ini dikaitkan dengan budaya di negeri-negeri itu, maka jelas bahwa kelompok yang disebutkan terakhir itu adalah Bajo atau Sama (penduduk aquatik), sementara yang lainnya adalah orang Makassar, Bugis, Mandar, dan Selayar, kelompok yang digambarkan memiliki ciri seperti orang Siam.

Bila diperhatikan barang degangan mereka ketika itu, mungkin dapat diperkirakan bahwa mereka belum terlibat dalam pelayaran niaga ke Maluku, karena mereka tidak memperdagangkan komoditi terpenting ketika itu yang hanya diperoleh di Maluku (rempah-rempah) dan Nusa Tenggara Timur (kayu cendana). Namun bila ditelusuri pelayaran niaga mereka ke Jawa, seperti yang dilakukan oleh pedagang dari Tallo pada akhir abad ke-15, tampak bahwa ketertiban mereka ke Maluku dan Timor sudah berlangsung lama dan terdapat kemungkinan komoditi itu hanya dipasarkan di kota pelabuhan negeri mereka sendiri atau ke Jawa, seperti Gresik dan Banten. Peningkatan pelayaran niaga ke Maluku dan Timor baru meningkat secara drastis pada awal paruh kedua abad ke-16. Peningkatan itu berkat pengenalan jalur baru melalui Buton memasuki Maluku; jalur ini tampak diperkenalkan oleh pedagang Melayu, karena sebelumnya jalur pelayaran ke Maluku dilakukan melalui jalur Selatan: mereka melakukan pelayaran ke Sumbawa atau Flores, seperti yang diriwayatkan pada pelayaran Raja Tallo, Tunilaburi Suriwa (memerintah sekitar tahun 1490) kemudian meneruskan ke Maluku?

Berdasarkan gambaran itu dapat disimpulkan bahwa kegiatan kemaritiman penduduk Sulawesi Selatan dalam bidang perdagangan sebenarnya telah berkembang sebelum kontak dengan pedagang Melayu dan Jawa. Kontak perniagaan dengan dua kelompok pedagang itu berpengaruh terhadap parluasan jalur dan jaringan perniagaan mereka. Keterlibatan mereka

lkpp

dalam kegiatan kemaritiman itu juga yang memungkinkan pedagang Melayu dan Jawa memindahkan kegiatan mereka ke Makassar ketika Malaka dikuasai oleh Portugis pada 1511 dan pelabuhan-pelabuhan pesisir utara Jawa oleh VOC sekitar pertengahan paruh pertama abad ke-17.

Keterlibatan mereka dalam dunia pelayaran niaga itu dimungkinkan oleh keadaan pesisir mereka. Alfred Thayer Mahan menyatakan bahwa apabila keadaan pantai suatu negara memungkinkan penduduknya turun ke laut, maka mereka akan lebih bergairah untuk mencari hubungan keluar melalui laut (Leur, 1941). Dorongan untuk menjalin hubungan dengan wilayah luar berkaitan dengan kecenderungan penduduknya untuk berdagang yang pada gilirannya akan melibatkan kebutuhan untuk memproduksi barang dagangan. Pernyataan ini menempatkan keadaan geografi sebagai faktor keterlibatan penduduk dalam dunia kemaritiman, khususnya dalam kaitannya dengan perdagangan. Pendapat ini bila dijabarkan dengan keadaan di Sulawesi Selatan tampak memperkuat keterlibatan mereka dalam kegiatan kemaritiman dan perniagaan. Bahkan letak daerah ini, dipandang dari sudut keadaan muson, sangat strategis dalam perniagaan di kawasan Asia Tenggara. Itulah sebabnya tercatat dalam berbagai catatan para pedagang asing sejumlah besar nama kota pelabuhan tua di daerah ini.

Kehadiran pedagang luar (asing ketika itu) ke kota pelabuhan di wilayah Sulawesi Selatan ini berpengaruh terhadap kebijaksanaan pemerintah setempat. Kerajaan yang memiliki ambisi yang besar untuk dapat mengawasi kegiatan perniagaan di kawasan itu adalah kerajaan Gowa Tallo atau lazim disebut kerajaan Makassar. Itulah sebabnya setelah dua kerajaan itu membentuk satu kesatuan (1528), dicanangkan usaha penaklukan terhadap kerajaan-kerajaan pesisir dan kerajaan agraris yang potensial di kawasan itu. Politik penaklukan itu dimaksudkan untuk memaksa kerajaan-kerajaan pesisir itu mengalihkan kegiatan perniagaan mereka ke pelabuhan Tallo dan Somba Opu; dalam kenyataannya kerajaan-kerajaan itu tetap mengembangkan perniagaan di wilayah masing-masing. Perkembangan itu mendorong raja Makassar, Tunipalangga Ulaweng (1546-1565) melaksanakan kebijaksanaan penaklukan baru, yaitu menaklukan dan mengangkut orang dan barang dari kerajaan taklukan itu ke

lkpp

wilayah pelabuhan antara Tallo dan Somba Opu, kebijaksanaan yang dikenal dengan makkanama nu mammio (aku bertitah dan kamu taati).

Kebijaksanaan itu berakibat kota pelabuhan-kota pelabuhan kerajaan taklukan menjadi sirna. Pada pihak lain kota pelabuhan-kota pelabuhan kerajaan Makassar berkembang sebagai pusat kegiatan perniagaan di kawasan itu. Jika sebelumnya, antara kota pelabuhan Tallo dan Somba Opu terpisah, namun kemudian berkat penghadiran penduduk kota pelabuhan kerajaan taklukan maka daerah antara dua pelabuhan itu mulai berkembang menjadi daerah kegiatan perniagaan; keseluruhan wilayah itu yang kemudian dikenal dengan Pelabuhan Makassar. Pemusatan kegiatan perniagaan penduduk yang bergiat dalam dunia niaga di kawasan itu yang akhirnya berhasil menempatkan kota pelabuhan itu sebagai pusat perniagaan dan pelabuhan transito terbesar di kepulauan Indonesia. F.W. Stapel mengungkapkan keadaan perdagangan di Makassar pada permulaan abad ke-17 sebagai berikut:

“perdagangan Makassar memiliki karakter yang menarik perhatian: negeri ini sendiri kurang atau tidak menghasilkan produksi ekspor. Kecuali tumbuh padi berlimpah dan kualitas terbaik dan murah, juga terdapat ternak (bahkan babi sebelum 1603). Orang Portugis dari Malaka dan Maluku juga mengambil dari sini terutama bahan makanan untuk kapal-kapal dan daerah pendudukan mereka. Tetapi yang lebih penting, Makassar adalah perdagangan transitonya dan rempah-rempah dan kayu cendana. Sebelum kedatangan orang Eropa, orang Makassar adalah pelaut ulang. Barang dagangan yang baru disebutkan itu mereka muat dalam perahu dan yang mereka dari Maluku dan Kepulauan Sunda Kecil dan membawa melalui Makassar ke pelabuhan-pelabuhan yang terletak di bagian utara dan barat. Di samping itu orang-orang Bugis, Melayu, dan Jawa juga membawa produksi mereka untuk di perdagangkan di Makassar…”.

Pernyataan Stapel ini jelas menunjukkan terjadinya pemusatan kegiatan dari pedagang-pedagang yang ketika itu berperang penting dalam dunia niaga. Di antara semua pedagang itu, ia memberikan predikat terbaik pada “pedagang Makassar”. Pedagang Makassar itu sepatutnya tidak dipandang sebagai kelompok etnik Makassar pedagang-pedagang yang berasal dari kota pelabuhan Makassar, yang meliputi penduduk Tallo, Gowa, dan penduduk dari kerajaan taklukan yang dibawah ke Makassar seperti: Siang (pangkajene), Bacukiki, Supa, Napo (Balanipa), Sidenreng, Wajo, dan lainnya. Peranan yang dimainkan oleh

lkpp

pedagang-pedagang itu telah menempatkan bandar niaga itu sebagai bandar niaga terpenting, dan kemajuan yang dicapai itu menurut Anthony Reid, dalam kajian tentang perdagangan Makassar, menunjukan sejarah pertumbuhan perdagangan yang menampilkan kisah kemajuan dan keberhasilan yang luar biasa dalam sejarah Indonesia.

Kemajuan kota pelabuhan Makassar tampaknya bukan merupakan faktor yang menguatkan ketenaran pelaut dan pedagang dari daerah ini. Ketenaran mereka itu sesungguhnya ditentukan oleh semangat kemaritiman dan jiwa dagang. Hal itu juga tampak dalam pernyataan dari Sultan Alauddin (1593-1639) dalam menanggapi tuntutan VOC untuk melarang penduduknya melakukan niaga ke Maluku pada 1616,

Tidak pernah didengar seseorang dilarang berlayar di laut. Jika engkau (VOC, pen) melarang pendudukan Makassar melakukan itu berarti engkau merampas roti (makanan, pen) dari mulut mereka.

Pernyataan itu bukan hanya menunjukan bahwa kerajaan Makassar menganut prinsip kebebasan di laut (mare liberum), tetapi juga jiwa kemaritiman dan perniagaan merupakan karakter manusia Bugis dan Makassar. Itulah sebabnya ketika pusat perniagaan Makassar dilumpuhkan oleh VOC (1667- 1846), pelaut dan pedagang dari daerah ini mengembara keluar untuk mencari pusat kegiatan lain sebagai pangkalan mereka: pesisir timur dan barat Kalimantan terus ke wilayah zona perdagangan Selat Malaka. Berbagai laporan pemerintahan Belanda maupun country traders Inggris, mereka tetap terus memainkan peranan penting dalam kegiatan itu. Bahkan pihak Inggris, dalam pengembangan pusat niaga di dunia Melayu, memanfaatkan pelaut dan pedagang Bugis dan Makassar. Kemudian pusat niaga yang dicapai oleh Inggris menimbulkan kecemasan pihak pemerintah Hindia Belanda; kecemasan itu berlandas pada keberhasilan Inggris memperoleh produksi dari kepulauan Indonesia yang layak dan memasarkan produksi industrinya ke seluruh wilayah kepulauan itu berkat bantuan dari warga dari koloninya. Kenyataan itu mendorong pemerintah Hindia Belanda bergiat menarik kembali dan memanfaatkan jasa penduduknya itu. Dalam hal ini diusahakan membuka bandar niaga yang sebelumnya merupakan kebanggaan penduduk itu dan menempatkannya sebagian pelabuhan bebas, mengikuti kebijaksanaan Inggris atas Pulau

lkpp

Pinang dan Singapura, dan juga pelabuhan-pelabuhan lain yang merupakan pangkalan kegiatan mereka. Pada tahun 1846 diumumkan rencana pelaksanaan pelabuhan bebas bagi pelabuhan Makassar pada 1 Januari 1847, kemudian menyusul: Kaili, Ternate, Ambon, dan Banda pada 1848. Salah satu alasan pembukaan pelabuhan bebas Makassar itu dinyatakan:

Jiwa dagang penduduknya (Sulawesi Selatan, pen) melebihi berbagai penduduk di daerah lain dalam wilayah Hindia Belanda sehingga ingin dijadikan pusat kegiatan niaga bagi penduduk di wilayah pendudukan dan kerajaan-kerajaan sekitarnya.

Pernyataan ini menunjukan bahwa pelaut dan pedagang dari Sulawesi Selatan tetap diunggulkan. Hal itu terbukti karena hasil kebijaksanaan itu adalah semakin banyak pedagang dari Sulawesi Selatan mengalihkan perhatian ke Makassar. Jika pada waktu belum menjadi pelabuhan bebas hanya dikunjungi sekitar 350 perahu setiap tahun, maka pada tahun pertama berkedudukan sebagai pelabuhan bebas telah mencapai 1324 perahu atau meningkat sekitar 378,28%. Kebijaksanaan pelabuhan bebas bagi Makassar dan kemajuan awal yang dicapai itu menjadi alasan pihak inggris di Singapura memandang bahwa usaha pemerintah Hindia Belanda itu merupakan langkah persaingan dan ingin memundurkan kedudukan Singapura.

Pernyataan itu pada dasarnya menunjuk pada usaha pengalihan kegiatan kelompok pelaut dan pedagang dari Sulawesi Selatan. Itulah sebabnya pedagang dan pengusaha Inggris dan Cina yang bergiat di Singapura meningkatkan kontak dagang mereka dengan kelompok pedagang itu dan meningkatkan pelayaran niaga mereka ke Makassar dan pusat perniagaan lainnya di kawasan timur Indonesia. Hubungan yang erat antara pedagang dan pengusaha Singapura dan keterbatasan usaha pemerintah Hindia Belanda untuk mengimbangi pelayaran jasa angkutan laut pada pihak lain, menyebabkan arus gerak barang kurang melalui pelabuhan di Jawa. Oleh karena itu pemerintah Hindia Belanda menyatakan bahwa perdagangan Makassar lebih menguntungkan Singapura dari pada Jawa.

Sehubungan dengan pernyataan itu, pihak pemerintah Hindia Belanda merencanakan pembatalan kedudukan pelabuhan bebas Makassar. Rencana itu mendapat tantangan, baik dari pihak pengusaha dan penguasa pemerintah Belanda di Makassar dan kawasan timur Indonesia lainnya, maupun pengusaha di Belanda, khususnya mereka yang menginginkan kebebasan

lkpp

berniaga. Mereka menyatakan bahwa, disamping perdagangan Makassar menguntungkan semua pihak, tindakan pembatalan pelabuhan bebas akan berakibat pelaut dan pedagang dari Sulawesi Selatan akan kembali mengalihkan kegiatan mereka ke Singapura dan menguntungkan Inggris. Kelompok ini (Bugis dan Makassar) yang memegang peranan penting dalam dunia pelayaran niaga di kawasan ini.

Kebenaran alasan pihak yang menentang rencana pemerintah itu tidak dapat dibantah. Oleh karena itu penyelesaian persoalan dilakukan dengan metode lain, yaitu: (a) bergiat membatasi keterlibatan perusahaan pelayaran asing, khusunya milik pengusaha Inggris dan Cina, (b) meningkatkan jumlah jalur pelayaran yang dikelola pihak pemerintah berkerjasama dengan pengusaha swasta Belanda, (c) memberikan hak monopoli bongkar dan muat barang kepada Koninklijke Paketvaart Maatschappij (KPM), dan (d) membendung arus pelayaran penduduk ke pelabuhan asing, khususnya Singapura dan Pulau Pinang. Untuk memantapkan hal yang disebutkan terakhir itu, pemerintah melancarkan ekspedisi militer pada 1905 untuk menduduki kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan. Itulah sebabnya setelah ekspedisi itu berhasil memaksakan penguasa kerajaan di daerah itu menandatangani pernyataan pendek, pemerintah mengumumkan pembatalan kedudukan Makassar sebagai pelabuhan bebas (1 Agustus 1906).

Usaha pemerintah itu mengakibatkan peranan pelaut dan pedagang Bugis dan Makassar semakin berkurang. Hal itu disebabkan karena ruang lingkup kegiatan mereka di persempit. Kapal KPM melayani juga pelabuhan-pelabuhan kecil dengan kapal api. Pemakaian kapal api lebih memperkecil risiko kecelakaan pelayaran, sehingga semakin kurang pemakaian jasa angkutan perahu. Tambahan pula penaklukan wilayah mereka memundurkan harapan mereka pada pemerintah mereka yang memberikan jaminan dan dukungan melakukan niaga secara bebas. Itulah sebabnya setelah penaklukan kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan, kegiatan pelayaran niaga penduduk daerah itu mundur. Usaha untuk menggiatkan kembali pelayaran rakyat ini baru dilaksanakan oleh pemerintah pada dasawarsa keempat abad ke-20.

Dalam dokumen Sejarah Maritim Dunia (Halaman 107-113)