PELAYARAN BANGSA EROPA KE “DUNIA BARU”
A. Para Perintis Pelayaran Sumadera 1. Marco Polo (1254-1324)
6. Ferdinand Magellan (1480-1521)
Pengembara Spanyol yang dipuji karena dipandang telah mengelilingi dunia adalah Ferdinand Magellan, meskipun dalam kenyataannya ia tidak sempat menyelesaikannya karena meninggal dunia dalam perjalanan ekpedisinya. Berita keberhasilannya, meski sesungguhnya merupakan buah sukses pengikutnya, diketahui setelah awak kapalnya yang berjumlah lebih dari 200 orang dari lima kapal yang berangkat pada tahun 1519, hanya satu kapal yang berhasil kembali dengan menyisahkan 18 orang yang selamat. Mereka inilah yang sesungguhnya berhasil mengelilingi dunia. Tetapi, pada kenyataannya narasi sejarah kemudian menampilkan tokoh utama (pemimpin ekpedisinya) sebagai pengeliling dunia lewat ekpedisi maritim (Balchin 2005:196).
Magellan sesungguhnya adalah orang berkebangsaan Portugis (nama sesungguhnya adalah Fernao de Magalhaes), yang mengabdi kepada penguasa Spanyol. Sehingga buah ekpedisinya dialamatkan kepada penguasa yang memberinya legitimasi ekpedisi maritim keliling dunia. Pada usia mudanya, Magelhaen menghasbiskan sebagian besar karirnya pada angkatan laut Portugis di India dan Timur Jauh. Tak heran, bila route pelayaran yang diketahui oleh orang Eropa dan Asia di sekitar Afrika sangat dikenalnya dengan baik. Ketika itu, Magellan hendak melakukan ekpedisi utuk menemukan kepualuan rempah-rempah Maluku lewat jalur alternatif, mengelilingi benua Amerika, namun usulnya tidak diterima oleh Raja Portugis, Dom Manuel. Sehingga Magellan kemudian berubah haluan, yakni mengabdikan dirinya kepada Raja Spanyol. Raja Spanyol sangat tertarik dengan ide Magellan. Selain karena rutenya yang pendek, penemuan daratan-daratan baru dan pujian-pujian yang tak disangkal, merupakan impian politis bagi sebuah negara pengembara samudera. Kedua negara besar maritim itu, tampaknya mempunyai visi yang sama untuk mengelilingi dunia. Namun tidak dalam satu lintasan/rute yang sama. Karena itulah, berdasarkan traktat Tordesillas (1494)48, Portugis menyusuri jalur timur dari garis imajiner yang ditarik sepanjang 470 league ke barat dari Kepulauan Tanjung Verde. Sedangkan Spanyol, berhak atas daratan-daratan barat (Balchin 2005:197). Atas dasar keinginan itulah, Magellan diberangkatkan oleh
48
Perjanjian Zaragossa 1529
lkpp
Raja Spanyol untuk menemukan negeri rempah-rempah. Upaya tersebut tidak disambut baik oleh Portugis, sehingga berusaha untuk menggagalkannya, dengan berbagai cara, termasuk menyabotase perbekalan armada Spanyol itu. Tak hanya itu, Portugis berencana untuk membunuh pemimpin ekpedisi maritim Spanyol, Magellan. Namun, hal itu tidak tidak menyurutkan langkah Magellan.
Pada 20 September 1519, lima kapal yang dipimpin Magellan bertolak dari Spanyol dengan total kru 265 orang yang terdiri dari: 157 orang Spanyol, 24 orang Portugis, 22 orang Italia, 21 orang Perancis, 5 orang Flaams, 3 orang Yunani, 2 orang Afrika, 1 orang Melayu, 1 orang Inggris, dan 27 lainnya tidak jelas kebangsaannya. Lima kapal tersebut adalah: Trinidad dengan jumlah 60 orang dipimpin oleh Magelhaes, San Antonio dipimpin oleh Alvaro de Mezquita dengan kru sebanyak 50 orang, Victoria dengan kru 40 orang dipimpin Juan Sebastian Elcano, Santiago dipimpin oleh Espenosa dengan kru sebanyak 30 orang, dan Conceptian dengan kru 40 orang dipimpin oleh Rui Falero (Amal 2009:263).
Rombongan tersebut berhasil mencapai Samudera Atlantik setelah tiga bulan kemudian dan tiba di Rio de Janeiro, tempat mereka beristirahat dan mengisi perbekalan. Dari sana, Magellan terus berlayar ke arah selatan. Dalam pelayaran ini, rombongan Megellan merasa kedinginan karena menyeberangi sungai-sungai di musin dingin, sementara cuaca semakin tidak bersahabat. Akhirnya, Magellan menuruti keinginan para awaknya untuk beristirahat sejenak berlabuh di musim dingin. Di antara para awaknya berselisih paham, sebagian bertegas untuk melanjutkan ekpedisi dan sebagian pula hendak kembali/pulang. Namun, Magellan telah kukuh dengan pendiriannya untuk melanjutkan ekpedisi maritim ini.
Setelah musim dingin berlalu, kapal Santiago mencoba menemukan jalan pelayaran, tetapi akhirnya kandas. Para awaknya pun selamat. Dalam kondisi sulit, masih tetap pula mengemuka keinginan sebagian awak kapal Magellan untuk kembali, namun sekali lagi tidak digubrisnya. Pada bulan Oktober 1520, setelah mencoba jalur baru oleh dua kapal, tiba-tiba keduanya menghilang dari pandangan Magellan karena diterpa padai. Tetapi, beberapa hari kemudian, setelah badai berlalu, kapal itu kembali dengan membawa kabar kemungkinan jalur pelayaran yang akan ditempuh rombongan ini. dari hasil pengamatan itulah, mereka kemudian
lkpp
memutuskan untuk melanjutkan pelayaran menuju Laut Selatan. Walhasil, mereka berhasil menemukan selat, yang kelak lebih dikenal dengan nama SELAT MAGELLAN, sebuah rute mengelilingi ujung selata Amerika. Sejak itu pula, Magellan mengukuhkan Laut Selatan Balboa dengan nama Pasifik, sebuah nama bagi samudera terluas di dunia.
Penemuan besar itu, membuat Magellan merasa akan lebih mudah untuk mencapai kepulauan rempah-rempah, sehingga kurang menyadari bahwa ruang samudera yang telah dilaluinya itu begitu luasnya. Dalam pelayaran ini, banyak para awaknya meninggal dunia, karena kekurangan makanan di tengah semudera yang luas itu. Pada bulan Maret, tiga buah kapalnya berhasil mendarat di Pulau Guam. Tetapi, di sana mereka mengadapi perlawanan kuat dari penduduk setempat, sehingga mereka tidak bisa bertahan lama, meski telah berhasil menambah suplai bahan berbekalan pelayaran mereka. Beberaoa hari kemudian, mereka tiba di kepulauan Philipina dan kagum akan banyaknya bahan makanan serta lahan subur yang ada di sana.
Mereka tergoda untuk tinggal di sana, meski dibayar mahal dengan nyawa Magellan. Memang, tujuan Magellan tidak hanya sekadar untuk melakukan penjelajahan samudera, tetapi juga upaya untuk menyiarkan agama Kristen kepada penduduk setempat. Di sebebagian besar wilayah menerima, tetapi ada pula sebagian kecil yang menolak untuk menerima agama Kristen. Karena penoakan itu, Magellan melakukannya perlawanan terhadap kelompok oposisi yang berakhir dengan kematiannya pada 27 April 1521. Pemimpin pelayaran diambil alih oleh Juan Sebastian Del Cano, yang sebelumnya termasuk seorang pemberontak dalam ekspedisi ini. Karena awalnya sudah tidak banyak lagi, maka salah satu kapalnya (Conception) ditinggalkannya.
Sisa rombongannya tiba di kepulauan rempah-rempah. Kemudian memutuskan untuk pulang ke negerinya menggunakan arah yang berlawanan demi untuk menghindari penangkapan oleh orang Portugis, yang saat itu kapal mereka tersisa dua buah. Satu kapalnya, Trinidad, tidak berhasil kembali, namun kapal lainnya Victoria berhasil tiba kembali di negaranya, melalui jalur Afrika, meski dalam kondisi yang sangat parah, sehingga harus dahulu dilabuhkan dalam perjalanan sementaranya di Kepulauan Tanjung Verde. Di sana,
lkpp
orang-orang Portugis menangkap sejumlaha awak kapalnya, dan hanya 18 orang yang tersisa, termasuk Del Cano, yang akhirnya dapat pulang ke Spanyol dan tiba pada bulan September 1522. Penulis Antonio Francesca Pigafetta termasuk salah saorang yang selamat, dan secara rahasia telah menuliskan catatan perjalanan mereka, sehingga kemudian membentuk dasar pengetahuan bagi generasi berikiutnya dalam pelayaran penemuan “Dunia Baru” (Balchin 2009:200).