PELAYARAN BANGSA EROPA KE “DUNIA BARU”
C. Pelayaran Inggris
3. Perdagangan Maritim
3. Perdagangan Maritim
Ralp Davis (1948), dalam bukunya English Overseas Trade 1500-1700, membagi pedagangan luar negeri Inggris dalam tiga tahap. Tahap pertama, dimulai antara abad ke-15 sampai abad ke-16. Pada tahap ini, perdagangan dijalankan melalui pelabuhan Antwerp di Belanda. Pelabuhan ini berfungsi sebagai pusat memproses hasil-hasil produksi Inggris terutama kain bulu (woolen) di abad ke-16 hingga abad ke-17, yang dipasarkan ke Eropa Utara dan Selatan. Antwerp juga menjadi pusat pengumpul dan penjualan barang dari bagian Eropa lainnya.
Sebagian besar Inggris mengimpor barang manufaktur (sutera dab baldu Italia, barang logam, kertas dan barang kaca dari Jerman) yang dibelinya dari pelabuhan Antwerp. Barang
lkpp
lain yang diimpor dalam jumlah kecil antara lain bahan pencelup untuk industry kain bulu, garam, besi, rami, dan gula.
Pada abad ke-16, pelabuhan Antwerp mengendalikan perdagangan komoditi berharga seperti tekstil, barang logam, dan rempah-rempah. Pengangkutan dan penjualannya dijalankan oleh pedagang-pedagang Belanda dan Jerman. Kemajuan perdagangan di Anwerp di pertengahan abad ke-16 membuatnya dijuluki sebagai ibu dari kota-kota Eropa (mistress of European cities). Namun, pada tahun 1585, Antwerp diserang dan dikuasai oleh Phillip II dari Spanyol, sehingga aktivitas niaga di pelabuhan itu dipindahkan ke Amsterdam. Pada abad ke-17, Amsterdam menjadi pusat keuangan dan perdagangan dunia Barat (Raja 205:8).
Tahap kedua pada abad ke17, ditandai dengan munculnya kekuatan-kekuatan baru seperti Belanda, Inggris dan Perancis. Kekuata ini menguasai komoditi gula, kopi, the, kapas, sutera, tembakau, barang tapioca, rempah-rempah, dan perak. Dari ketiga kuasa tersebut, Belanda merupakan kekuatan dagang yang paling utama di Eropa. Pada tahun 1660, Belanda mengoperasikan perkapalan yang murah untuk seluruh Eropa. Menjelang tahun 1670, Belanda mempunyai kapal dagang yang lebih banyak dari negara lain. Meski demikian, perlahan Belanda mengalami kemerosotan tertama ketika berperang dengan Inggris pada 1652-1654 dan 1665-1667. Ditambah lagi dengan serang dari Perancis tahun 1672. Pada kondisi ini, pedagang dan pemilik kapal Inggris mendesak kerajaan agar bertindak melawan Belanda. Sementara itu, Perancis membentuk kongsi dagang Campaginie des Indes untuk menyaingi Belanda di Baltik, HIndia Barat, dan Hindia Timur. tidakan kedua kekuatan negara itu melumpuhkan aktivitas niaga maritim Belanda. Peluang kekosongan itu dimanfaatkan oleh Inggris. Tekni perkapalan Belanda dipelajarinya. Ekspor Inggris di abad ke-17 yaitu timah, jagung, pakaian dan garam, yang sebelumnya dibawa ke pelabuhan London untuk selanjutnya ke luar negeri. Sedangkan barang yang diimpornya adalah tektil, kain, gula, tembakau, dan rempah-rempah. Inggris memperoleh keuntungan dengan mengekspor semua barang koloni ke Eropa (Raja 2005:9-10).
Tahap ketiga pada abad ke-18. Menjelang tahun 1700, 30 % ekspor Inggris dengan kebanyakan hasil impprt bahan mentah, bahan makanan, dan tekstil dari koloni dan kawasan
lkpp
tropika seperti Amerika, Kepualuan Hindia Barat (West Indies), India, dan Timur. pertambahan perdagangan luar negeri itu juga disumbangkan oleh industri-industri yang berkembang dis ekitar pelabuhan Inggris seperti Exeter, Bristol, Liverpool, dan Hull. Pada abad ini, Inggris tampil sebagai entrepot duniabagi dunia Eropa, sehingga sejarawan R. Wilson menyebut zaman ini sebagai “Zaman Revolusi Perdagangan” (Raja 2005:11). Untuk mengukuhkan dominasi dan regulasi niaga maritim ini, Inggris mengelurakan Undang-undang Navigasi (Navigation Act) 1651 dan 1660, sehingga makin menyulitkan pergerakan maritim Belanda. Berdasarkan Navigation Act itu, barang perdagangan koloni harus diangkut ke pelabuhan-pelabuhan Inggris. Kemudian setelah tahun 707 dialihkan ke pelabuhan Scotland. Barang-barang ini hanya boleh diangkut oleh kapan-kapal Inggris. Meski demikian, Inggris juga menjalin hubungan niaga dengan Belanda, Jerman, Turki dan Sweden.
a. Pengaruh Merkantilisme
Praktek merkantilisme dalam aktivitas perdagangan maritim Inggris memiliki kelebuhan dan kekurannya. Kebijakan ini memudahkan Inggris tampil sebagai kuasa perkapalan yang kuat dan mampu mengimbangi kemajuan Belanda, Spanyol, dan Perancis. Kemajuan ini pula yang menjadi salah satu sebab sehingga Inggris dapat mengalahkan Perancis dalam dasar Sistem Kontinental. Dasar kebijakan ini juga berhasil menyatukan negara bangsa yang sebelumnya tidak seragam yang terdiri dari beberapa sistem Bandar, provinsi dan kebangsaan yang berbeda. Dengan kata lain, kegiatan niaga maritim awalnya dilakukan secara sendiri-sendiri tanpa suatu kontrol kuasa yang kuat. Sebaliknya, merkantilisme mewujudan suatu kebijakan kontrol terpusat yang efektif, sehingga memungkinkan negara-negara itu menjalankan dasar perdagangan, perindsutrian dan pertanian dengan baik. Hasil kabijakan ini adalah, koloni Inggris dapat mengembangkan sumber pendapatan bagi Inggris untuk membayai tentara dan pengamanan kawasan niaganya. Sisttem ini, juga dengan sendirinya, memberikan peluang bagi Inggris untuk tampil sebagai negara industri pertama dan paling maju di Eropa (Raja 2005:14).
lkpp
Meski demikian, praktek merkantilisme juga mempunyai beberapa kelemahan, yang makin menonjol menjelang akhir abad ke-18. Sebab sejak itu, negara induk memandang koloninya sebagai komoditi dan kehoudpan pendudukanya sudah tidak mendapat perhatian. Akibatnya, koloni-koloni di Amerika Utara mengadakan pemberontakan tahun 1776, yang berakibat pada kehilangan 13 koloninya di sana49. Sehingga, Inggris terpaksa mencari pasaran baru. Pada sisi lain, timbul suatu pemikiran bahwa koloni tidak dapat menjadi satu-satunya pihak yang akan memberi sokongan bagi kemajuan Inggris. Karena itu, perlu dicari pasaran lain. Dasar ini juga yang membuat Inggris terpaksa harus menanggung ongkos yang besar untuk membiayai koloni, khususnya di Amerika, termasuk dalam hal ini adalah kenteraan, perkapalan, dan pengawasan pelabuhan dari kegiatan penyelundupan. Pada sisi lain, kebijakan ini juga telah mengabaikan kepentingan koloni untuk menjual almnya ke pasar lain yang lebih mahal. Diambah lagi dengan ketentuan bahwa barang-barang koloni harus diangkut ke negara Induk (Inggris)m dengan biaya yang sangat mahal. Biaya pengapalan pun sangat mahal. Cara macam ini semakin lama menyulitkan jalan kejayaan Inggris dalam dunia perdagangan maritim (Raja 2005:15).
b. Perdagangan Bebas
Revolusi Perancis di Eropa pada 1787 membawa perubahan penting dalam tata kehidupan dan kebijakan negara yang menjalankan praktek kolonialisme, di antaranya adalag Inggris. Revolusi ini telah menagaskan betapa pentingnya ide kebebasan, persaman, dan pesaudaraan. Sejalan dengan munculnya gagasan kebebasan ini, di Inggris muncul golongan yang disebut Utilitarian, yang mendesak kerajaan untuk mengadakan dasar-dasar kebijakan yang memberikan kebahagiaan kepada penduduk mayoritas di sebuah negara. Gagasan ini mendapat sokongan dari para pemikir ekonomi saat itu, yakni Adam Smith, David Ricardo, dan Thomas Malthu, yang menekankan bahwa “kekayaan negara harus dinikmati secara bersama rata oleh semua rakyat” (Raja 2005:16). Keperluan untuk berdagangan dengan cara ini tidak dapat dipisahkan dari kebijakan Perancis dengan Sistem Kontinental-nya
49Baca Garis Besa Sejarah America
lkpp
1806), sehingga menyebabkan Inggris harus memidahkan perdagangan kapasnya e kawasan lain. Situasi itu timbah lagi dengan terjadi Revolusi Industri di Inggris (1760-1830), yang memaksa INggris memasarkan barang kelebihannya ke luar negara. Semua kondisi tersebut memaksa Inggris untuk memudahkan dasar-dasar perkapalan dan perdagangan untuk kepentingan sendiri dan negeri induk. Situasi ini merangsang tokoh-tokoh tertentu dalam kerajaan menjalankan dasar perdagangan liberal menjalang tahun 1820-an, yang dipelopori oleh Perdana Menteri Inggris (William Pitt the Younger) dan Presiden The Board of Trade 1823-1827 (William Huskison). Bertolak dari gagasan kedua tokoh inilah kemudian Inggris memulai langkah kebijakan perdagangan bebas pada tahun 1840-an sampai 1850-an (Raja 2005:17).