• Tidak ada hasil yang ditemukan

Berbagai Kecenderungan di Era Globalisasi

Dalam dokumen Mpkt a Buku Ajar 3 (Halaman 101-104)

Setelah membaca bab ini mahasiswa mampu memahami dinamika hubungan antarbangsa di dunia, serta mampu membangun sikap

3. Berbagai Kecenderungan di Era Globalisasi

Dekade akhir abad XX dan awal abad XXI disebut masa (era) globalisasi. Pada masa ini setiap negara menjadi negara terbuka untuk perdagangan bebas. Era globalisasi ditandai oleh kemajuan teknologi dalam bidang transportasi—terutama setelah pesawat terbang digunakan sebagai angkutan masal, baik untuk penumpang maupun barang—

telekomunikasi—yang kini telah berkembang menjadi teknologi informatika—serta semangat perdagangan bebas. Pada era ini pula orang terdorong menjadi warga negara dunia

(kosmopolit). Negara maju dan kaya mencita-citakan dunia tanpa batas. Dunia tanpa batas akan merugikan bangsa yang sedang berkembang apabila bangsa itu tidak memiliki karakter nasional yang kuat dan intelektual yang tinggi. Tidaklah mengherankan apabila akan terjadi konflik antarnegara maupun interen negara nasional yang dipicu oleh perbedaan persepsi mengenai nilai-nilai dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Konflik fisik masih terjadi baik dalam rangka perebutan wilayah secara fisik maupun melalui maya, yaitu melalui pengaruh budaya, ekonomi dan sebagainya, yang berawal dari perebutan sumber daya alam. Oleh karena itu tidaklah salah apabila Wright berkata bahwa perang fisik dipicu oleh 1) dunia yang ―menciut‖ sebagai akibat kemajuan teknologi transportasi, 2) ―percepatan‖ jalannya sejarah sebagai akibat kemajuan teknologi

telekomunikasi, 3) penemuan persenjataan baru (yang lebih modern), dan 4) kebangkitan demokrasi. Dari keempat penyebab perang itu, tiga di antaranya menyebabkan penggunaan sumber daya alam—terutama yang tidak dapat diperbaharui—yang berlebihan. Oleh karena itu isu era globalisasi diidentikkan dengan pemanasan global dan perebutan wilayah sumber daya alam (Wright, 1942: 4—7).

Di era ini muncul konsep ―dunia tanpa batas‖ yang pada hakikatnya adalah perkembangan dari berdirinya perusahaan-perusahaan multinasional (multinational

corporations), yang tidak lain merupakan bentuk liberalisasi ekonomi dunia. Dalam konsep

102 barang hanya demi menjaga gengsi—memakai merek tertentu. Persaingan penjualan hasil produk akan dimenangkan oleh perusahaan yang mampu merakit barang berkat penyebaran teknologi (dispersion of technology). Perusahaan besar akan tetap membina perusahaan kecil dan mungkin ikut membiayai penelitian dan pengembangan sehingga produknya dijadikan modal tetap sebagai biaya tetap (fixed cost). Masalah mata uang dan negara (currency and

country) akan menjadi kendala apabila perusahaan itu dimiliki oleh satu negara. Oleh karena

itu perusahaan yang berupaya mempengaruhi konsumen menjadi perusahaan multi-nasional yang didirikan oleh beberapa negara (Ohmae, 1991: 34—71).

Berdasarkan uraian di atas, tidaklah salah apabila dikatakan bahwa era globalisasi merupakan bentuk kolonisasi perusahaan multinasional melalui dunia maya, yang mengarah kepada penjajahan sosial, budaya, ekonomi, dan ideologi, dan tidak mustahil juga akan mengarah kepada tindak-tindak kriminal antarnegara. Sudah barang tentu konsep ini akan ditolak oleh negarawan dan politisi nasional yang patriotik. Akibat lanjutannya, tidak mustahil terjadi tindak-tindak kriminal yang diikuti oleh gerakan politik yang akan berakhir dengan kejatuhan negara nasional baru.

Pada awal era globalisasi, blok demokrasi sosialis mendapat bencana multi-dimensi yang berawal dengan krisis ekonomi, berlanjut dengan krisis politik, dan berakhir dengan kebangkitan demokrasi, terutama sejak runtuhnya tembok Berlin. Akibatnya, banyak negara demokrasi sosialis terpaksa harus segera melakukan perubahan dengan menyesuaikan diri dengan mitra dan lingkungan strategisnya. Semangat untuk mengadakan perubahan segera dan cepat juga melanda banyak negara lain, termasuk negara maju.

Euforia runtuhnya tembok Berlin dan keinginan terbentuknya dunia tanpa batas menjadikan banyak negara menjadi tidak aman dan damai. Timbul konflik, baik antarnegara maupun di dalam negara nasional sendiri. Konflik-konflik yang semula berbasis ekonomi banyak diselesaikan melalui politik sambil menunjukkan identitas masyarakat (Huntington, 1998: 21). Banyak negara nasional pecah menjadi negara kecil yang berbasis etnik. Kelompok-kelompok etnik saling berhadapan dan berjuang untuk kepentingan etniknya dan tidak jarang diselesaikan dengan kekerasan.

Kecenderungan politik sebenarnya menjadi penyebab awal kebangkitan demokrasi, terutama di negara-negara blok Timur dan di negara-negara sedang berkembang. Krisis ekonomi dianggap sebagai penyebab awal kecenderungan ekonomi global. Dalam hal ini sistem politik negara-negara Barat dianggap ―lebih baik‖ daripada yang dilaksanakan di

103 negara-negara blok Timur dan di negara-negara sedang berkembang. Oleh karena itu isu-isu demokrasi dan hak asasi manusia yang didengung-dengungkan Barat menjadi mendunia.

Kecenderungan ekonomi terjadi karena pergeseran pusat perekonomian dunia ke arah kawasan negara-negara Pasifik. Perusahaan-perusahaan Amerika Serikat dan Kanada bergeser ke Barat karena melihat kesempatan yang lebih besar. Jepang muncul menjadi raksasa

ekonomi. Negara-negara Eropa yang takut ditinggalkan berupaya ―tampak‖ ikut berperan. Rusia juga bereaksi dengan berusaha menampakkan kekuatannya di kawasan Pasifik,

Kecenderungan sosial budaya juga diakibatkan oleh kemajuan teknologi

telekomunikasi dengan makin berkembangnya teknik informatika. Apa yang terjadi di dunia pada saat yang bersamaan dapat diketahui melalui media elektronik di rumah-rumah

masyarakat lainnya. Budaya dan kearifan lokal bersaing ketat dengan budaya pop yang mendunia. Kecenderungan yang mengutamakan hak daripada kewajiban mulai ditinggalkan sehingga muncul Gerakan Tanggung Jawab Insani (Human Responsibilities Movement). Oleh karena itu, pendidikan kepribadian dan karakter perlu dibangun dengan baik dan

terus-menerus.

Kecenderungan bentuk pertahanan keamanan dipengaruhi oleh runtuhnya blok Timur yang merupakan isyarat perubahan pada visi, misi, strategi, dan konsep politik nasional. Konsep visi dan misi pertahanan keamanan diciptakan oleh masing-masing negara. Namun yang patut diwaspadai adalah keinginan Barat, terutama negara-negara Anglo-Sakson (Amerika Serikat, Inggris, Kanada, Australia, dan Selandia Baru) untuk tetap menguasai dunia. Kalau pada abad pertengahan kolonialisme berbentuk fisik, maka kini berbentuk demokrasi dan ekonomi liberal. Isu-isu yang mereka kembangkan adalah perang melawan terorisme internasional dan penegakan demokrasi.

Pada era ini, dunia seolah-olah pecah karena pengaruh perkembangan kebangkitan budaya bangsa (Huntington, 1998: 207). Timbul benturan budaya yang berlanjut dengan pecahnya negara nasional menjadi negara yang bersifat etnik atau agama. Sudan menjadi negara terakhir (sampai dengan tahun 2011) yang pecah menjadi negara nasional yang bersifat etnik dengan menjadi Sudan (dengan mayoritas penduduk beragama Islam) dan Sudan Selatan (dengan mayoritas penduduk Kristen dan yang belum beragama).

Berdirinya negara-negara nasional baru dengan pendekatan budaya/etnik dan agama menambah pengelompokan satuan budaya. Banyaknya satuan budaya dapat dikelompokkan menjadi satuan budaya besar yang merupakan garis perbatasan (frontier) budaya. Menurut

104 Huntington kini ada sembilan satuan budaya besar atau utama. Kesembilan garis perbatasan budaya tersebut adalah 1) budaya Barat yang meliputi negara-negara dengan mayoritas penduduk Kristen Barat yang juga dikenal sebagai negara-negara Barat modern sekuler; 2) budaya Amerika Latin, mulai dari Mexico hingga Argentina (kecuali tiga negara Guyana (eks jajahan Inggris, Belanda, dan Perancis); 3) budaya Afrika, mulai dari Afrika Tengah sampai ke Selatan; 4) budaya Islam di wilayah yang mayoritas penduduknya beragama Islam yang mencakup a) Afrika Utara, b) sebagian Balkan, c) Somalia, d) sebagian wilayah eks Uni Sovyet, dan e) Indonesia; 5) budaya Sinik yang meliputi wilayah Cina, Vietnam, dan Korea; 6) budaya Hindu; 7) budaya Kristen Ortodoks yang meliputi wilayah dengan mayoritas penganut agama Kristen Ortodoks di perbatasan sebelah Timur dari Eropa Tengah hingga eks Uni Sovyet; 8) budaya Buddha di daerah Asia Tenggara; dan 9) budaya Jepang (Sinto) yang meliputi Jepang, termasuk Sachalin Utara. Garis perbatasan ini saling mempengaruhi melalui budaya, sosial, ajaran agama, etnik, dan perdagangan dan mungkin dapat mengarah ke politik kekuatan (Huntington, 1998: 27, 28, 159).

Dalam dokumen Mpkt a Buku Ajar 3 (Halaman 101-104)