• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bermula dari Pengalaman Korban, Menghindari Penolakan Berangkat dari kondisi tersebut diatas, terjalinlah sebuah hubungan

Dalam dokumen LBH Masyarakat Jejak Langkah Menciptak (Halaman 67-70)

antara LBH Masyarakat dengan teman-teman dari komunitas pemakai (dan mantan pemakai) yang tergabung dalam Forkon. Atas dasar itu, dan dilandasi oleh niat yang sama-sama baik, kami menggagas serangkaian kegiatan penyuluhan hukum bagi teman-teman di komunitas Forkon. Muncul pembahasan tentang materi apa saja yang akan diberikan kepada mereka. Kebutuhan paling utama bagi mereka adalah di saat pertama kali mereka harus berhadapan dengan hukum, yaitu dalam proses upaya paksa kepolisian, yaitu tentang penangkapan, penahanan, penyitaan, penggeledahan, dan pemeriksaan surat.

Tak jarang pula keika melakukan penyuluhan, penyuluh LBH Masyarakat harus mendapat cemoohan, bahkan diinggalkan oleh peserta penyuluhan hanya karena mereka menilai bahwa praktek yang dihadapi jauh berbeda dengan apa yang disampaikan. “Penyuluhan ini ga guna buat kami,” ujar salah seorang peserta.

Upaya paksa kepolisian kami anggap sebagai materi yang tepat untuk diberikan pertama kali kepada mereka, mengingat mereka seringkali mengalami upaya paksa yang idak fair. Dalam implementasi upaya paksa, kerap berujung pada kesewenang-wenangan dari oknum kepolisian. Tentu hal tersebut harus dianisipasi dan idak boleh dibiarkan. Selain itu, upaya paksa juga menjadi salah satu materi penyuluhan yang pening karena upaya paksa juga merupakan pintu masuk dari sebuah rangkaian penyidikan indak pidana.

Kami menyampaikan informasi kepada para anggota Forkon tentang bagaimanakah seharusnya indakan polisi keika melakukan penangkapan, termasuk juga tentang bagaimana seharusnya penahanan dan penggeledahan seharusnya dilakukan. Turut pula kami sampaikan langkah apa saja yang dapat mereke tempuh keika terjadi praktek upaya paksa yang idak sah.

Awalnya, para pemakai narkoika menanggapi dengan dingin penyuluhan yang kami lakukan. Sebagai orang yang seringkali mengalami perlakuan buruk dari polisi, atau mendengar tentang bagaimana polisi memperlakukan orang-orang yang dicurigai berhubungan dengan narkoika, mereka selau kompak meneriakkan “prakteknya idak seperi itu!” Ini adalah tantangan tersendiri, bagaimana membuat penyuluhan hukum tentang upaya paksa itu tetap didengar dan bisa berjalan dengan lancar. Tak jarang pula keika melakukan penyuluhan, penyuluh LBH Masyarakat harus mendapat cemoohan, bahkan diinggalkan oleh peserta penyuluhan hanya karena mereka menilai bahwa praktek yang dihadapi jauh berbeda dengan apa yang disampaikan. “Penyuluhan ini ga guna buat kami,” ujar salah seorang peserta.

Belajar dari pengalaman ditolak, kami kemudian menyadari bahwa proses penyuluhan tentang upaya paksa idak bisa diawali dengan menjelaskan deinsi dan syarat-syarat tentang upaya paksa yang sah. Penyuluhan harus diawali dengan sesi sharing tentang pengalaman yang pernah dialami oleh pemakai narkoika terkait dengan upaya paksa. “Jadi kita hari ini akan diskusi tentang upaya paksa. Upaya paksa itu isilah untuk merangkum lima indakan yang boleh dilakukan oleh polisi, yaitu penangkapan, penahanan, penggeledahan, penyitaan, dan pemeriksaan surat. Saya yakin dari orang-orang yang ada di sini tentu pernah ada yang

mengalami salah satu dari lima indakan ini. Boleh gak kalau teman- teman bercerita tentang apa yang dialami,” ajak penyuluh dari LBH Masyarakat mengawali proses penyuluhan.

Sekalipun awalnya malu-malu, biasanya ajakan ini kemudian akan bersambut dengan beberapa cerita. Tak sedikit dari cerita itu banyak mengandung unsur kekerasan dan kekejaman. Kadang kala cerita yang mereka alami juga menimbulkan gelak tawa di antara peserta penyuluhan yang lain. “Saya pernah ditangkap oleh polisi, terus saya dituduh membawa barang. Saya dipaksa untuk telanjang, karena polisi menuduh saya menyelipkan barang. Saya idak mau, dan saya malah dipukuli. Supaya gak dipukuli, saya terus memilih untuk buka status. Saya bilang, ampun Pak... ampun. Saya ini kena HIV. Harapan saya, polisinya berheni memukul. Dia sih beneran berheni mukul pakai tangan, tapi abis itu dia dapat sapu. Jadilah saya dipukuli ama sapu,” ujar salah seorang peserta penyuluhan di Bekasi. Cerita ini langsung disambung oleh teman-temannya, “makanya jangan bohong. Sial kan. Lagian ga posiif, ngaku-ngaku posiif HIV,” celetuk temannya yang lain.

Gambar 8 - Berbagi

pengalaman merupakan

salah satu proses pembelajaran yang efektif

dalam menyampaikan materi penyuluhan pada teman-

teman pecandu dan eks- pecandu NAPZA.

Dengan diawali oleh penuturan pengalaman, kita mendapatkan cerita-cerita tentang bagaimana prakik upaya paksa yang idak benar dan tentunya menimbulkan amarah dan dendam dari korban yang mengalaminya. “Terhadap apa yang dialami ini, pernah ada yang berusaha untuk melakukan perlawanan idak?” tanya penyuluh. “Boro- boro melawan, ntar makin parah. Ya sudah kita pasrah saja. Kita sih sebenarnya gak terima, tapi mau gimana lagi,” komentar peserta penyuluhan. “Ini dia masalahnya. Sebenarnya, menurut undang-undang kita punya kesempatan untuk melakukan perlawanan. Ada caranya. Tapi karena idak pernah diprakikkan, idak pernah diberitahu maka orang seringkali memilih pasrah. Caranya adalah dengan melakukan pra- peradilan. Praperadilan adalah cara untuk menuntut gani rugi kepada polisi terhadap upaya paksa yang idak sah,” papar penyuluh yang dilanjutkan dengan mekanisme pra-peradilan.

“Apa yang tadi teman-teman ceritakan di awal penyuluhan ini adalah bentuk upaya paksa yang idak sah. Mana ada orang yang mau ditangkap boleh dipukuli sampai menderita. Itu kan idak betul. Supaya kita bisa melakukan pra-peradilan, kita harus tahu yang sah itu yang seperi apa,” tambah penyuluh yang kemudian disambung dengan penjelasan dan paparan tentang deinisi dan syarat-syarat upaya paksa.

Kita memang harus membalikkan alur pembahasan tentang upaya paksa. Bukan dengan menjelaskan sesuai dengan apa yang terpapar di undang-undang, tapi justru mengawali dengan pengalaman korban. Melalui pemaparan tentang pengalaman korban kita membuat korban mengekspresikan apa yang menjadi kekesalan dan dendamnya. Selanjutnya dengan paparan tentang pra-peradilan, yang merupakan proses “balas dendam” secara resmi, peserta mendapatkan pengetahuan baru dan memiliki rasa ingin tahu. Rasa ingin tahu inilah yang menjadi pemicu utama supaya mereka mau mengikui penyuluhan dengan baik dan terib. Walau demikian, bukan berari kita akan dengan mudah melakukan penyuluhan. Seringkali ada kondisi-kondisi mengejutkan yang membuat rencana penyuluhan menjadi tak terkendali.

Dalam dokumen LBH Masyarakat Jejak Langkah Menciptak (Halaman 67-70)