• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kesungguhan dan Kesetiaan Mengabdi Pada Warga

Dalam dokumen LBH Masyarakat Jejak Langkah Menciptak (Halaman 148-152)

Oleh: Pebri Rosmalina

B

arisan kapal tradisional yang merapat di tembok pemisah jalan dengan kali-lah yang pertama kali akan menyambut keika kita iba di Kali Adem. Dari kapal yang berukuran kecil hingga kapal yang berukuran cukup besar. Warung-warung kopi yang keika malam hari penuh oleh para nelayan kota yang bercengkerama sambil menonton hiburan dari layar kaca televisi merupakan pemandangan sehari-hari yang akan kita jumpai sebelum memasuki pemukiman Kali Adem.

Pintu masuk kami menuju komplek perumahan Kali Adem adalah sebuah gapura sederhana bertuliskan MUSTIKA yang merupakan paguyuban masyarakat setempat. Jalan setapak dengan lebar idak lebih dari 1,5 meter merupakan satu-satunya jalan yang akan membawa kita hingga ujung dari pemukiman Kali Adem ini. Rumah-rumah petak yang terbuat dari triplek dan kayu membatasi jalan setapak tersebut di satu

sisi. Dan sisi lain dipagari oleh tembok inggi dari sebuah perumahan elite yang tepat berada di depan pemukiman warga Kali Adem.

Ada cerita unik mengenai jalan setapak ini. Ada saat di mana jalan tersebut akan tergenang oleh banjir yang berasal dari kali di sebelahnya dan idak juga jarang jalan tersebut kering kerontang. Banjir terjadi keika air laut sedang pasang, sehingga volume air di badan kali akan bertambah dan meluap ke bantaran di sebelahnya. Di puncak pasang, biasanya banjir yang terjadi bisa mencapai paha orang dewasa. Dikarenakan jalan tersebut akan selalu banjir, maka rumah-rumah warga Kali Adem in berbentuk rumah panggung. Yah, bagaimana pun mereka idak dapat membuat rumah dengan model lain selain rumah panggung karena rumah mereka berdiri diatas aliran sungai.

Kegiatan yang terjadi di Kali Adem sangatlah beragam. Pada pagi hari suasana relaif lengang. Tidak ada kegiatan yang menimbulkan keramaian. Semua kegiatan terfokus di rumah masing-masing. Namun, menjelang sore hari, satu per satu ibu-ibu bermunculan ke depan komplek perumahan Kali Adem. Ada satu pos kecil yang selalu menjadi tempat mereka berkumpul. Di sana, para ibu bercengkrama dan hal yang paling sering dibicarakan adalah mengenai gosip-gosip aris ibukota maupun gosip-gosip tentang tetangga mereka.

Kehadiran para ibu di depan komplek perumahan Kali Adem juga disertai dengan kehadiran anak-anak mereka yang hendak bermain-main dengan teman sebayanya. Banyaknya anak yang berkumpul ini menjadi suatu kebahagiaan tersendiri bagi para pedagang keliling karena dapat dipasikan anak-anak tersebut pasi akan membeli dagangannya.

Warga di pemukiman Kali Adem ini, khususnya para lelaki, memang berprofesi sebagai nelayan. Namun, profesi nelayan tersebut bukanlah yang menjadi nakah utama bagi kehidupan para warga di Kali Adem ini. Pendapatan utama dari iap-iap keluarga di Kali Adem adalah dari pekerjaan yang dilakukan oleh para ibu. Di bantaran Kali Adem ini, para Ibu banyak yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga di kompleks perumahan elite yang terletak di depan pemukiman mereka. Tidak sedikit juga dari para ibu yang bekerja sebagai pedagang dan juga sembari mengumpulkan botol-botol minuman air mineral yang akan dijual secara kiloan. Warga di Kali Adem adalah warga yang cukup

patriakal. Mungkin memang benar bahwa penghasilan utama mereka berasal dari usaha-usaha dan pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan oleh para kaum perempuan. Namun, keterlibatan kaum perempuan dalam mengambil keputusan sangatlah minim, jika idak ingin dikatakan idak ada sama sekali.

Anak-anak di Kali Adem ini, hampir semuanya pernah duduk di bangku sekolah. Namun, idak sedikit dari mereka yang berheni sekolah keika mereka telah lulus dari ingkat sekolah dasar. Mereka lebih memilih untuk membantu orang tua mencari nakah. Biasanya hal ini terjadi pada anak lelaki. Mereka lebih memilih membantu bapak mereka untuk melaut guna mencari ikan yang selanjutnya akan dijual di pelelangan ikan sehingga mereka mendapatkan sejumlah uang yang akan digunakan untuk menghidupi keluarga.

Pemuda Kali Adem adalah pemuda yang ramah. Sekalipun selalu tampil ramah, mereka idak memiliki rasa percaya diri yang rendah. Mereka idak mempunyai banyak keberanian untuk menemui atau memulai pembicaraan terlebih dahulu dengan orang yang baru mereka kenal. Hal ini sedikit banyak disebabkan rendahnya ingkat pendidikan yang mereka miliki. Mereka hanya akan tersenyum dengan menundukan kepala sambil menjawab seperlunya keika ditanyakan satu dua hal mengenai kehidupan mereka, akivitas mereka, atau mengenai pribadi mereka. Mereka akan saling tunjuk satu dengan yang lain keika mereka ditanya sesuatu hal. Keramahan mereka terlihat keika mereka menyambut orang-orang yang baru pertama kali mengunjungi mereka. Sapaan “Kakak” adalah sapaan mereka bagi orang-orang sebaya mereka yang mengunjungi mereka.

Kamera merupakan kesukaan para bocah-bocah Kali Adem. Mereka sangat antusias keika diajak foto bersama. Berbagai jenis gaya akan mereka keluarkan. Dari gaya yang lucu dan imut-imut sampai gaya yang berlompatan. Berada di posisi terdepan adalah suatu kewajiban bagi mereka saat mereka hendak difoto. Walhasil, hal ini selalu menimbulkan kegaduhan saat mereka hendak difoto. Satu kali foto, dua kali foto, dan itu belum cukup bagi mereka. Mereka akan terus minta difoto oleh sang pembawa kamera hingga dikatakan bahwa kamera tersebut sudah penuh ataupun sudah mai karena kehabisan baterai. Melihat hasil jepretan

kamera merupakan suatu keasyikan tersendiri bagi mereka. Tertawa dan terus tertawa adalah ekspresi mereka keika menemukan citra dirinya di foto atau layar LCD kamera digital.

Dalam dokumen LBH Masyarakat Jejak Langkah Menciptak (Halaman 148-152)