• Tidak ada hasil yang ditemukan

C. KINERJA LAINNYA

2. Capaian Tahun 2020 Lainnya

a. Optimalisasi Pelaksanaan Pembinaan Serta Monitoring Dan Evaluasi Pelaksanaan Anggaran Belanja K/L Untuk Pengawalan Pelaksanaan Apbn Dan Capaian Output Belanja Prioritas Nasional Tahun 2020.

Sebagai implementasi atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 195/PMK.05/2018 tentang Monitoring dan Evaluasi Pelaksanaan Anggaran Belanja Kementerian Negara/Lembaga, dilaksanakan upaya pengawalan dan peningkatan kualitas pelaksanaan anggaran melalui penyusunan spending review (SR), perumusan langkah-langkah strategis pelaksanaan anggaran Tahun 2020, reviu pelaksanaan anggaran, dan evaluasi pelaksanaan anggaran. Pada Tahun 2020, kegiatan-kegiatan tersebut difokuskan pada program prioritas nasional yang menjadi perhatian pemerintah dan presiden, termasuk untuk mengawal belanja belanja priotitas K/L yang sebagian besar digunakan dalam rangka penanggulangan pandemi Covid-19.

Dalam rangka mendorong peningkatan Value for Money, khususnya pada Belanja Pemerintah yang dilaksanakan oleh K/L, telah dilaksanakan SR tahun 2020 yang meliputi 2 aspek, yaitu review efisiensi dan review efektivitas. Hasil review disampaikan untuk kebutuhan eksternal dan internal DJPb. Untuk eksternal, hasil review disampaikan kepada

74 DJA untuk masukan perbaikan penganggaran periode selanjutnya. Untuk keperluan internal DJPb, review efisiensi diarahkan untuk (1) Monitoring dan memastikan pelaksanaan kegiatan dan monitoring penyerapan belanja, (2) Penyediaan alokasi belanja dan kecukupan kas, dan (3) Memastikan value for Money Belanja (Kualitas Belanja).

Pada SR 2020, aspek efektivitas dilakukan dengan melihat keterkaitan antara realisasi belanja dengan capaian output belanja, untuk menilai apakah belanja Pemerintah disalurkan secara tepat waktu, tepat jumlah dan tepat penerima sehingga dampak/manfaat dari belanja tersebut dapat dirasakan masyarakat secara optimal. Dalam Spending Review Efektivitas, analisis dilakukan tidak hanya dari sisi penyaluran atau administrasi pengelolaan keuangan, namun spesifik berbasis output belanja K/L dan mengaitkan dengan berbagai sasaran/target yang ada selaras dengan concern berbagai pihak untuk mengetahui bagaimana capaian output dan outcome program pemerintah.

Dalam beberapa tahun terakhir, DJPb telah secara khusus melihat pentingnya monitoring atas capaian output dan secara aktif mendorong penataan kembali struktur/nomenklatur program, kegiatan, output belanja yang lebih mencerminkan realisasi belanja dan mendukung implementasi penganggaran berbasis kinerja. Concern tersebut pertama kali disampaikan kepada Menteri Keuangan dalam penyampaian hasil SR Efektivitas 2018, dan diangkat kembali pada Rapim BA 015 Kemenkeu di awal tahun 2019 dan Rapim Penganggaran Berbasis Kinerja (PBK) di akhir tahun 2019. Sebagai hasilnya, Kementerian Keuangan telah menginisiasi dan menyusun Redesain Sistem Perencanaan dan Penganggaran (RSPP) yang secara masif merubah struktur belanja dalam upaya peningkatan keselarasan perencanaan-penganggaran dan peningkatan kualitas belanja. Selanjutnya, dengan implementasi RSPP di tahun 2021, DJPb akan lebih siap dalam mengawal implementasi RSPP menggunakan hasil-hasil review beberapa tahun terakhir.

Dengan semangat koordinasi, DJPb telah bersinergi secara intensif dengan DJA untuk menyamakan perspektif review baik dari sisi obyek, jenis dan evaluasi belanja yang dibutuhkan. Hal ini dilakukan dalam rangka mengoptimalkan manfaat hasil review sekaligus meningkatkan sinergi antar tahapan baik tahapan perencanaan, tahapan penganggaran, dan

75 tahapan pelaksanaan anggaran. Untuk SR Efektivitas 2020, evaluasi dilakukan atas eksekusi belanja selama tahun anggaran berlangsung di tahapan pelaksanaan anggaran tentunya bermanfaat sebagai feedback untuk perbaikan perencanaan dan penganggaran periode selanjutnya. DJPb menyampaikan hasil Review Efektivitas ini kepada DJA sebagai salah satu masukan untuk Evaluasi Kinerja Anggaran yang selanjutnya digunakan dalam mempersiapkan perumusan Arah Kebijakan, Sasaran, Tema dan Prioritas Nasional 2021.

Sementara itu, SR Efisiensi dilakukan dengan review atas angka kebutuhan ideal belanja K/L.

DJPb menyampaikan hasil Spending Review atas aspek efektivitas kepada DJA sebagai salah satu masukan untuk kebutuhan tinjau ulang (review) angka dasar dalam rangka penyusunan pagu indikatif Kementerian Negara/Lembaga (K/L). Review Efisiensi dilakukan terhadap 4 kelompok output, yaitu output cadangan, operasional, generik, dan teknis. Selanjutnya, DJPb menggunakan hasil review efisiensi tersebut untuk mendorong Satker dalam efisiensi belanjanya.

Selain melalui SR, dalam rangka mewujudkan peningkatan kualitas belanja (spending better) dan mewujudkan percepatan pelaksanaan program/kegiatan pada tahun 2020, sebelum tahun anggaran dimulai, diterbitkan Surat Menteri Keuangan S-837/MK.05/2019 hal Langkah-langkah Strategis Pelaksanaan Anggaran (LLSPA) K/L Tahun Anggaran 2020.

Terdapat beberapa poin penting yang menjadi penekanan dalam langkah-langkah strategis tersebut, yaitu: (1) Pelaksanaan reviu atas DIPA dan pengajuan usulan revisi DIPA di awal tahun terutama bagi K/L yang mengalami perubahan sehubungan dengan pembentukan Kabinet Indonesia Maju; (2) Peningkatan kualitas pelaksanaan anggaran; dan (3) Peningkatan kinerja pelaksanaan anggaran berdasarkan penilaian Indikator Kinerja Pelaksanaan Anggaran (IKPA). Dalam rangka memastikan langkah-langkah strategis pelaksanaan anggaran dilaksanakan dan dijalankan K/L secara optimal, secara periodik dilakukan kegiatan penyusunan Reviu Pelaksanaan Anggaran dan Evaluasi Pelaksanaan Anggaran dengan melibatkan pihak K/L melalui one on one meeting.

Untuk mendukung pelaksanaan kegiatan tersebut, telah disiapkan tools evaluasi berupa Indikator Kualitas Pelaksanaan Anggaran (IKPA) sesuai PER-4/PB/2020 tentang Petunjuk

76 Teknis Penilaian Indikator Kinerja Pelaksanaan Anggaran Belanja K/L. Sesuai ketentuan tersebut, mulai tahun 2020, pengukuran IKPA telah disempurnakan dan diperluas menjadi 13 indikator, dengan menambahkan konfirmasi capaian output. Untuk kemudahan, perhitungan IKPA dilakukan dan ditampilkan secara otomatis pada aplikasi Online Monitoring SPAN (OMSPAN). Bahkan, sebagai bagian dari upaya perbaikan sistem monev kinerja anggaran melalui implementasi Single Budget Monitoring System sebagai Single Source Of Truth untuk monitoring, yang juga merupakan salah satu milestone dalam IS RBTK #14 (Integrasi Proses Bisnis Perencanaan dan Penganggaran), dilakukan proses integrasi data penilaian Indikator Kualitas Pelaksanaan Anggaran (IKPA) dan Evaluasi Kinerja Anggaran (EKA) melalui melalui pertukaran data (data interchange) antara aplikasi OMSPAN DJPb dan SMART DJA.

Di tengah Tahun 2020, saat situasi pandemi Covid-19 mulai hadir, diterbitkan beberapa kebijakan pelaksanaan anggaran sebagai respon dalam rangka membantu pelaksanaan penanganan pandemi Covid-19 dan program pemulihan ekonomi nasional (PC-PEN).

Beberapa kebijakan yang diterbitkan tersebut bersifat relaksasi terhadap mekanisme pelaksanaan anggaran dan pembayaran yang berlaku secara umum dan diharapkan dapat mengakselerasi pelaksanaan anggaran, seperti:

a. Simplifikasi mekanisme/proses pelaksanaan komitmen dan alokasi belanja, berupa kebijakan yang mengatur bahwa dalam rangka PC-PEN, PA/KPA dapat melakukan perikatan walaupun danana tidak tersedia/cukup tersedia dalam DIPA.

b. Simplifikasi mekanisme/proses pelaksanaan pembayaran APBN, berupa kebijakan yang mengatur bahwa: (1) pembayaran dapat dilakukan sebelum barang/jasa diterima setelah rekanan menyampaikan jaminan; (2) mekanisme pembayaran dapat dilakukan dengan mekanisme LS atau TUP; (3) relaksasi pembayaran TUP untuk keperluan operasional dan Nonoperasional serta dapat dipergunakan untuk pembayaran pekerjaan kontraktual.

c. Kemudahan penyampaian SPM ke KPPN untuk percepatan pencairan dana berupa penyampaian SPM secara elektronik melalui e-SPM serta pengaturan batas dan persyaratan penyampaian spm yang lebih longgar.

77 Bahkan, untuk mengawal pelaksanaan program PC-PEN secara lebih optimal, maka pelaksanaan kegiatan monitoring dan evaluasi pelaksanaan anggaran (Monev PA) K/L dilakukan secara lebih intensif, melalui:

a. Pemantauan secara harian/regular melalui koordinasi dengan K/L pengelola belanja PEN.

b. Penyusunan laporan rutin progress pelaksanaan belanja PEN dan penanganan Covid (2 kali per minggu).

c. Melakukan one-on-one meeting dengan K/L (EPA) secara bulanan dalam rangka mendorong akselerasi belanja dan debottlenecking pelaksanaan belanja PEN. Sejak Agustus 2020, bahkan EPA dilakukan secara bulanan.

d. Melakukan survey atas pelaksanaan program PEN, seperti; (i) Survei bansos Program Keluarga Harapan (PKH) dan Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT); serta (ii) Survei insentif tenaga Kesehatan.

Melalui sarana monev PA K/L tersebut di atas, dibahas capaian kinerja pelaksanaan anggaran yang diukur dengan menggunakan IKPA, isu-isu strategis pelaksanaan anggaran, tantangan/permasalahan teknis yang teridentifikasi dan dihadapi K/L dalam rangka pelaksanaan program/kegiatan maupun optimalisasi penyerapan anggaran serta pencapaian target outputnya.

Berbagai upaya yang dilakukan sepanjang tahun 2020 memberikan hasil yang positif terhadap kualitas pelaksanaan anggaran belanja K/L. Meskipun di tahun 2020 dihadapi berbagai ketidakpastian akibat pandemi Covid-19 yang berakibat pada pembatasan sosial yang menghambat berbagai kegiatan, keterbatasan resource, dan perubahan alokasi keuangan yang menyertainya, realisasi belanja dan capaian output K/L tetap dapat tercapai dengan cukup baik. Hal tersebut turut berkontribusi pada upaya menahan laju penurunan pertumbuhan ekonomi serta percepatan pemulihan ekonomi sebagai dampak pandemi Covid-19.

78 Capaian output strategis nasional Tahun 2020 (posisi per 15 Desember 2020)

b. Penyaluran Dana Transfer Ke Daerah Dan Dana Desa Tahun 2020

Pada Tahun Anggaran 2020, penyaluran TKDD yang dilakukan pada Direktorat Jenderal Perbendaharaan yang sebelumnya terdiri dari penyaluran Dana Alokasi Khusus Fisik dan Dana Desa, bertambah dengan penyaluran Dana Alokasi Nonfisik Bantuan Operasional Sekolah (Dana BOS). Hal tersebut sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 9/PMK.07/2020 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 48/PMK.07/2019 Tentang Pengelolaan Dana Alokasi Khusus Nonfisik.

Penyaluran DAK Fisik, Dana Desa dan Dana BOS yang dilakukan oleh seluruh KPPN bertujuan untuk (i) mendekatkan pelayanan Kementerian Keuangan terhadap Pemerintah

79 Daerah melalui 173 Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) yang tersebar di seluruh Indonesia; (ii) meningkatkan efisiensi koordinasi dan konsultasi antara Pemerintah Daerah dengan Kementerian Keuangan; dan (iii) meningkatkan efektivitas monitoring dan evaluasi serta analisis kinerja pelaksanaan anggaran pusat dan daerah.

Dampak dari pandemi Covid-19 membuat Kementerian Keuangan membuat berbagai macam kebijakan-kebijakan dalam pelaksanaan penyaluran DAK Fisik dan Dana Desa yang bertujuan agar dampak dari pandemi Covid-19 yang dirasakan oleh masyarakat dapat ditangani dengan baik. Kebijakan-kebijakan tersebut adalah penggunaan Dana Desa untuk keperluan BLT Desa, penggunaan DAK Fisik Bidang Kesehatan untuk penanganan Covid-19, serta program Cadangan DAK Fisik yang diarahkan untuk kegiatan-kegiatan yang dapat menyerap tenaga kerja.

Regulasi-regulasi yang dikeluarkan tersebut, mampu di-deliver dengan baik oleh KPPN dan dikoordinasikan dengan Pemda. Hal ini berdampak positif dalam penyaluran TKDD sepanjang tahun 2020. Sampai dengan tanggal 31 Desember 2020, realisasi penyaluran TKDD melalui KPPN sebagai berikut: realisasi penyaluran DAK Fisik adalah sebesar Rp50,18 T atau 93,29% dari pagu sebesar 53,78 T Dana Desa disalurkan sebesar Rp71,1 T atau 99,87% dari pagu sebesar Rp71,19 T dan Dana BOS disalurkan sebesar Rp51,59 T atau 96,50% dari pagu sebesar Rp53,45 T.

Kinerja penyaluran TKDD pada tahun 2020 ini apabila dibandingkan dengan 3 (tiga) tahun sebelumnya merupakan penyaluran yang tertinggi. Hal ini mengindikasikan bahwa ditengah situasi pandemi Covid-19, kinerja KPPN dalam mengawal TKDD tetap berjalan dengan baik dan maksimal. Diharapkan, dengan semakin cepatnya TKKD disalurkan kepada Pemda dan Sekolah proses pelaksanaan kegiatan yang dilaksanakan di daerah yang didukung dari pendanaan DAK Fisik, Dana Desa dan BOS dapat segera dilaksanakan dan memberikan dampak positif bagi kesejahteraan masyarakat.

80 Selanjutnya, dalam rangka meningkatkan kualitas penyaluran DAK Fisik Tahun 2020, telah dilakukan beberapa upaya, antara lain (i) pengalokasian dana melalui mekanisme proposal based; (ii) penerapan prinsip penyaluran dana berbasis kinerja; (iii) penetapan reviu yang dilakukan oleh Inspektorat Daerah sebagai persyaratan penyaluran; (iv) pelaksanaan sosialisasi kepada Pemda, bimtek kepada KPPN, dan (v) pemantauan dan Evaluasi Penyaluran DAK Fisik secara berjenjang dari KPPN, Kanwil Ditjen Perbendaharaan, dan Dit.PA. Sementara itu, dalam rangka meningkatkan kualitas penyaluran Dana Desa, telah dilakukan beberapa upaya, diantaranya: (i) penyempurnaan formulasi pengalokasian Dana Desa; (ii) penyaluran yang berdasarkan kinerja dan memberikan kesempatan penyaluran lebih cepat bagi desa yang berkinerja baik; (iii) pemantauan dan Evaluasi Penyaluran Dana Desa secara berjenjang dari KPPN, Kanwil Ditjen Perbendaharaan, dan Direktorat Pelaksanaan Anggaran.

Dari sisi proses bisnis, untuk mengurangi kesalahan dalam pelaksanaan penyaluran DAK Fisik, Dana Desa dan Dana BOS maka mulai tahun 2020 telah dilakukan interkoneksi antara aplikasi OMSPAN dengan aplikasi SAKTI, sehingga dalam proses pembuatan SPP/SPM yang dilakukan oleh KPA Penyaluran DAK Fisik dan Dana Desa telah dilakukan otomatisasi.

81

BAB IV PENUTUP

Laporan Kinerja (LAKIN) Direktorat Pelaksanaan Anggaran Tahun 2020 merupakan bentuk pertanggungjawaban pelaksanaan kegiatan Direktorat Pelaksanaan Anggaran selama tahun 2020 yang disusun berdasarkan Indikator Kinerja Direktorat Pelaksanaan Anggaran dan rencana kinerja yang ditetapkan pada awal tahun anggaran sekaligus sebagai pelaksanaan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2014 tanggal 21 April 2014 tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah.

Reformasi birokrasi dan reformasi manajemen keuangan negara yang melahirkan tiga paket undang-undang, Undang-Undang Nomor 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara, Undang-Undang Nomor 1 tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara, dan Undang-Undang Nomor 15 tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara, telah mendorong Direktorat Pelaksanakan Anggaran untuk selalu meningkatkan kinerjanya agar dapat memenuhi tugas-tugas yang berkaitan dengan penyelesaian dokumen pelaksanaan anggaran secara profesional, transparan, dan akuntabel.

Seluruh rangkaian kegiatan tersebut merupakan titik awal pelaksanan anggaran negara yang berbasis kinerja serta menjadikan Direktorat Pelaksanaan Anggaran salah satu unit organisasi Eselon II pada Direktorat Jenderal Perbendaharaan yang memegang peranan penting dalam pengelolaan keuangan negara untuk melaksanakan self assessment atas kinerjanya selama ini guna perbaikan di masa mendatang dan juga sebagai salah satu pengelola anggaran dan pemberi informasi pelaksanaan anggaran yang profesional dan bertanggung jawab.

Disusunnya Laporan Kinerja Direktorat Pelaksanaan Anggaran Tahun 2020 ini diharapkan dapat memberikan informasi secara transparan, baik kepada Direktur Jenderal Perbendaharaan maupun pihak yang terkait dengan tugas dan fungsi Direktorat Pelaksanaan Anggaran, sehingga pada akhirnya dapat dijadikan sebagai barometer pencapaian kinerja Direktorat Pelaksanaan Anggaran dan memberikan masukan guna peningkatan kinerja di masa yang akan datang.