C. KINERJA LAINNYA
1. Inovasi Manajemen/Pelayanan
a. Piloting Pembayaran dalam rangka Pelaksanaan APBN melalui Platform Pembayaran Pemerintah (SSC-Gaji).
Agar pembayaran untuk pelaksanaan APBN dapat dilaksanakan secara efektif, efisien, transparan, dan akuntabel, dilakukan penyederhanaan dan modernisasi terhadap tata cara pembayaran dalam pelaksanaan APBN melalui optimalisasi pemanfatan teknologi informasi berupa Platform Pembayaran Pemerintah (PPP). PPP merupakan interkoneksi system antara core system dengan pendukung, system mitra, dan system monitoring dalam rangka pelaksanaan pembayaran pemerintah. PPP tersebut mengakomodasi transaksi belanja dalam kanal elektronik (digitalisasi) dan meningkatkan secara signifikan kecepatan siklus pembayaran sekaligus menghemat tenaga administratif. Selain berdampak pada efisiensi
68 proses serta sumber daya, penerapan PPP juga memberi manfaat untuk mewujudkan economics of scale serta tracking penggunaan sumber daya.
Building block Platform Pembayaran Pemerintah
Sesuai PMK No.204/PMK.05/2020, Piloting pembayaran melalui PPP akan dilaksanakan untuk: belanja pegawai, belanja operasional, belanja pengadaan sederhana, belanja perjalanan dinas, dan belanja bantuan social dan belanja bantuan pemerintah secara bertahap mulai Tahun 2020 sampai 2023. Pada akhir tahun 2020, implementasi PPP dilaksanakan untuk jenis belanja pegawai, terutama untuk pembayaran gaji dan tunjangan yang melekat pada gaji untuk bulan Januari 2021 yang pengajuan pembayarannnya disampaikan ke KPPN pada bulan Desember 2020. Pelaksanaan Piloting PPP untuk pembayaran gaji tersebut dilakukan berdasarkan Perdirjen Perbendaharaan Nomor PER-25/PB/2020 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Belanja Pegawai dan Belanja Operasional Dalam Piloting Pembayaran Dalam Rangka Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Melalui Platform Pembayaran Pemerintah. Sebagai piloting, telah dilaksanakan Simulasi Transaksi Perdana Penerbitan SPP dan SPM untuk Pembayaran Gaji pada Platform Pembayaran Pemerintah untuk Satker DJPb dan Sekjen Kemenkeu pada tanggal 23 Desember 2020.
69 b. Otomasi Maksimum Pencairan (MP) PNBP Terpusat
Otomasi MP PNBP Terpusat merupakan proses penetapan Maksimum Pencairan PNBP yang dilakukan secara elektronik dengan memanfaatkan teknologi informasi yang disebut dengan aplikasi Modul Maksimum Pencairan Penerimaan Negara Bukan Pajak. Penerapan otomasi MP PNBP dilakukan dengan tujuan:
a. mewujudkan mekanisme pelaksanaan anggaran belanja PNBP yang efisien dan efektif;
b. time & cost saving melalui simplifikasi proses bisnis administrasi pengajuan dan persetujuan;
c. mempercepat kegiatan dan belanja Satker melalui penggunaan PNBP secara langsung sehingga output kegiatan lebih optimal;
d. mengeliminasi penumpukan pekerjaan pada akhir tahun; dan e. meningkatkan pelayanan Satker kepada masyarakat.
Proses Bisnis MP PNBP Secara Elektronik
Landasan hukum bagi implementasi Otomasi MP PNBP tersebut adalah Perdirjen Perbendaharaan Nomor Per- 21/Pb/2020 tanggal 27 Oktober 2017 Tentang Mekanisme Penetapan Maksimum Pencairan Penerimaan Negara Bukan Pajak Secara Elektronik. Pada tahun 2020, penyelesaian implementasi otomasi PNBP dilakukan secara bertahap melalui 3 tahap kegiatan, yaitu:
70 a. Piloting Tahap I, diikuti oleh Sekretariat Jenderal Kementerian ATR/BPN dan Dirjen
Hubla Kemenhub sesuai dengan Kepdirjen Perbendaharaan Nomor KEP-262/PB/2020 tanggal 17 November 2020.
b. Piloting Tahap II, diikuti oleh Ditjen Bimas Islam, Ditjen Perhubungan Udara dan Ditjen Perhubungan Darat sesuai Kepdirjen Perbendaharaan Nomor KEP-274/PB/2020 tanggal 30 November 2020.
c. Launching Modul Otomasi MP PNBP untuk satker PNBP terpusat yang dilakukan berbarengan dengan Sosialisasi Per-21/PB/2020, yang digunakan sebagai payung hukum implementasi modul pada Tanggal 30 November 2020.
c. Optimalisasi penggunaan Kartu Kredit Pemerintah (KKP) di Dalam Negeri dan Pengaturan KKP untuk Bagian Anggaran BUN
Dalam rangka optimalisasi penggunaan KKP dalam sistem pembayaran atas pelaksanaan APBN dalam negeri, Direktorat Jenderal Perbendaharaan telah bersinergi dengan Direktorat Jenderal Pajak dalam menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor PMK-231/PMK.03/2019 tentang Tata Cara Pendaftaran dan Penghapusan Nomor Pokok Wajib Pajak, Pengukuhan dan Pencabutan Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak, serta Pemotongan dan/atau Pemungutan, Penyetoran, dan Pelaporan Pajak bagi Instansi Pemerintah. Dalam PMK ini diatur ketentuan mengenai kebijakan pengecualian terhadap Bendahara Pengeluaran sebagai Wajib Pungut/Wajib Potong/Wajib Setor PPh Pasal 22 dan PPN atau PPN dan PPnBM apabila dilakukan pembayaran dengan KKP atas Belanja Instansi Pemerintah Pusat. Terbitnya aturan pengecualian pemungutan PPh Pasal 22 dan PPN atau PPN dan PPnBM mendorong adanya peningkatan transaksi KKP pada tahun 2020. Tercatat total transaksi selama Januari s.d. November 2020 meningkat menjadi sebesar Rp529,5 miliar.
Jika dibandingkan dengan total transaksi KKP pada tahun 2019 yaitu sebesar Rp289,6 miliar, terdapat peningkatan jumlah transaksi sebesar 82,8% pada tahun 2020, meskipun di tengah kondisi pandemi Covid-19.
71 Mekanisme penggunaan Kartu Kredit Pemerintah
Selanjutnya, dalam rangka perluasan penggunaan KKP di Dalam Negeri, telah diterbitkan Peraturan Dirjen Perbendaharaan Nomor PER-19/PB/2020 tentang Uji Coba Mekanisme Pembayaran dan Penggunaan KKP atas Beban BA BUN. Dalam rangka menindaklanjuti Perdirjen tersebut, telah dilaksanakan rapat koordinasi dengan tiga Satker BA BUN, yaitu Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi, Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam, dan Manajemen Pelaksana Program Kartu Prakerja, serta dengan Kantor Wilayah Ditjen Perbendaharaan dan KPPN terkait. Berdasarkan hasil koordinasi, ketiga Satker BA BUN sebagaimana dimaksud telah siap untuk mengikuti uji coba atau piloting pembayaran dan penggunaan KKP yang pelaksanaannya akan dilakukan pada Tahun Anggaran 2021. Dengan diimplementasikannya penggunaan KKP atas Beban BA BUN, diharapkan terwujudnya pengelolaan APBN BA BUN yang lebih transparan, aman, dan akuntabel.
d. Uji Coba Penggunaan Kartu Kredit Pemerintah (KKP) di Luar Negeri
KKP merupakan alat pembayaran menggunakan kartu untuk melakukan pembayaran belanja barang dan modal yang dapat dibebankan pada APBN, di mana kewajiban pembayaran terlebih dulu dipenuhi oleh bank penerbit, selanjutnya, satker berkewajiban melunasi pada waktu yang disepakati dengan pelunasan sekaligus. Uji coba KKP di Luar Negeri adalah penggunaan KKP oleh Satker perwakilan RI di Luar Negeri yaitu Kedutaan Besar RI atau Konsulat Jenderal RI.
Penggunaan KKP oleh Satker perwakilan RI di Luar Negeri memiliki beberapa tujuan, diantaranya:
72
• mendukung pengelolaan likuiditas keuangan negara dengan instrumen keuangan modern;
• meminimalisasi transaksi pembayaran dengan uang tunai;
• meningkatkan akuntabilitas dan transparansi pelaksanaan anggaran di LN; dan
• memastikan seluruh transaksi pembayaran di luar negeri dapat dilaksanakan tanpa bergantung pada ketersediaan UP.
Uji Coba pembayaran dengan menggunakan KKP dimulai pada tahun 2020, dengan 30 (tiga puluh) kantor Perwakilan Indonesia ditetapkan sebagai pelaksana uji coba dan ditargetkan sebanyak 15 (lima belas) Perwakilan Indonesia berhasil menggunakan KKP. Sebagai payung hukum pelaksanaan uji coba tersebut, Direktur Jenderal Perbendaharaan menerbitkan Peraturan Direktur Jenderal (Perdirjen) Perbendaharaan Nomor PER-03/PB/2020 tentang Uji Coba Pembayaran dan Penggunaan Kartu Kredit Pemerintah pada Satuan Kerja Perwakilan Republik Indonesia di Luar Negeri, dan menerbitkan Keputusan Direktur Jenderal (Kepdirjen) Perbendaharaan Nomor KEP-83/PB/2020 tentang Pelaksanaan Uji Coba Pembayaran dan Penggunaan Kartu Kredit Pemerintah pada Satuan Kerja Perwakilan Republik Indonesia di Luar Negeri.
Peta Sebaran Satker Perwakilan RI Peserta Uji Coba KKP di Luar Negeri
1. KJRI di Osaka
73 Pada tahun 2020, dalam rangka mengawal suksesnya pelaksanaan uji coba penggunaan KKP di luar negeri, Direktorat Jenderal Perbendaharaan melakukan koordinasi intensif dengan Kementerian Luar Negeri dan Bank Penerbit KKP. Penyempurnaan juga dilakukan pada sistem informasi internal Kementerian Luar Negeri untuk mengakomodasi pelaporan KKP sehingga pelaksanaan dapat berjalan dengan lancar dan tanpa kendala pada pertanggungjawabannya. Berdasarkan batas akhir pelaksanaan akhir coba, yaitu bulan November 2020, diperoleh capaian bahwa 15 (lima belas) perwakilan telah berhasil melaksanaan penggunaan KKP. Uji coba penggunaan KKP pada Perwakilan Indonesia di luar negeri memiliki makna yang sangat penting, yaitu inovasi KKP dapat diterapkan pada lokasi dengan situasi yang berbeda dengan Indonesia, sehingga ke depan dapat mewujudkan tujuan dan manfaat sebagai pendukung pengelolaan likuiditas keuangan Negara yang modern.