• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Deskripsi Produk

3. Cerita Dilema Moral Model VCT

Menurut Hall dan Gall ada beberapa tahapan yang perlu diperhatikan dalam membuat cerita dilema moral, yaitu:

1. Menentukan topik cerita dilema moral 2. Menentukan kerangka cerita

3. Menentukan pelaku atau tokoh 4. Menentukan alur

5. Menentukan peristiwa-peristiwa 6. Menentukan dilema dalam cerita

Cerita dilema moral ini dibuat setelah menganalisis nilai-nilai dalam materi Proklamasi, ada delapan nilai yang didapat, yaitu: tanggung jawab, nilai keberanian, rela berkorban, saling menghargai, nilai kebebasan, cinta tanah air, kerja sama, dan musyawarah dan mufakat. Dari delapan nilai ini ada lima nilai utama yang diambil, yaitu: tanggung jawab, cinta tanah air, rela berkorban, keberanian, dan pantang menyerah. Cerita dilema moral model VCT pertama ini berdasarkan nilai tanggung jawab.

1) Cerita satu tanggung jawab

Ririn adalah anak yang sangat religius, baik, ramah, menyenangkan dan peduli terhadap orang-orang di sekitarnya. Di sekolah Ririn merupakan anak yang biasa saja, tidak terlalu terkenal, namun memiliki prestasi yang lumayan di kelasnya. Ririn tinggal bersama teman-temannya di sebuah kontraka karena merantau ke kota lain untuk bersekolah. Di rumah itu terdapat 5 orang yang berbeda suku dan bahasa namun memiliki rasa kebersamaan dan saling menghargai, bisa dibilang mereka orang-orang baik yang Ririn temui di perantauan. Hal itu mendorong Ririn untuk terus membentuk karakternya lebih baik lagi.

Ririn saat ini mempunyai seorang pacar yang bersekolah di kota yang berbeda dengannya karena masa Covid-19 saat ini membuat keduanya tidak bisa bertemu dalam waktu yang cukup lama. Suatu hari Salma teman sebelah kamar Ririn meminta tolong untuk menemaninya membeli barang yang akan dikirim kepada ibunya di kampung halamannya. Setelah mereka bersepakat untuk berangkat pada esok hari jam 09.00 pagi, keduanya kembali melanjutkan aktivitasnya masing-masing.

Sekitar jam 20.30 malam Rendi kekasih Ririn menelpon dan mengatakan bahwa ia akan ke kota tempat Ririn tinggal, karena ada yang harus ia kerjakan di sana dan ia sekalian ingin menemui Ririn. Mendengar hal tersebut Ririn begitu antusias karena pertemuan ini akan mengobati rasa rindunya setelah sekian lama tidak berjumpa. Rendi mengajak Ririn bertemu pada jam 10.00 pagi. Di saat itu Ririn bingung untuk menjawab iya atau tidak, karena pada jam yang hampir bersamaan ia akan pergi bersama Salma. Namun karena rasa rindunya serta rasa antusias yang menyelimuti hatinya membuat ia mengatakan setuju tanpa mempertimbangkannya lagi. Ia akan memikirkannya besok, dan ia yakin pasti bisa mengatur waktunya tanpa membatalkan janji baik dengan Rendi maupun dengan Salma.

Namun ternyata Salma tidak bisa pergi selain jam 09.00 karena barang yang akan ia beli harus segera dikirim ke kampung halaman hari itu juga, ditambah lagi pada jam 12.00 ia ada kelas matematika. Mendengar hal tersebut Ririn bingung harus bagaimana, Ririn mempertimbangkan untuk menyarankan Salma meminta bantuan kepada teman yang lain, namun di sisi lain hatinya mengatakan bahwa ia harus bertanggung jawab untuk apa yang sudah ia katakan dan janjikan kepada Salma. Melihat situasi yang membingungkan, Ririn akhirnya

menghubungi Rendi dan menjelaskan bagaimana situasi dirinya serta bertanya apa mereka bisa bertemu lebih cepat dari jam yang sudah ditentukan, untungnya Rendi memahami dan mau untuk bertemu lebih cepat dari yang disetujui.

Mereka akhirnya bertemu, makan bersama dan saling berbagi cerita.

Setelah cukup lama bersama Ririn merasa harus segera pulang dan menemui Salma untuk belanja. Namun Rendi mengatakan bahwa ia ingin membeli sesuatu dan ia ingin Ririn menemaninya. Ririn mengatakan bahwa ia tidak bisa menemani karena sudah memiliki janji dengan Salma. Meskipun di dalam hatinya ia sangat ingin menemani kekasihnya. Dengan kata-kata manis, Rendi membujuk Ririn agar menemaninya. Terjadi tawar-menawar di dalam hati dan pikiran Ririn, di satu sisi ia sangat ingin pergi dengan Rendi apalagi pertemuan ini ternyata membuatnya semakin ingin dekat dengan nya namun di sisi lain hatinya mengingatkan bahwa ia memiliki janji yang harus ia tepati.

Cerita dilema moral ini dibuat setelah menganalisis nilai-nilai dalam materi Proklamasi, ada delapan nilai yang didapat, yaitu: tanggung jawab, nilai keberanian, rela berkorban, saling menghargai, nilai kebebasan, cinta tanah air, kerja sama, dan musyawarah dan mufakat. Dari delapan nilai ini ada lima nilai utama yang diambil, yaitu: tanggung jawab, cinta tanah air, rela berkorban, keberanian, dan pantang menyerah. Cerita dilema moral model VCT kedua ini berdasarkan nilai cinta tanah air.

2) Cerita kedua cinta tanah air

Pada hari Senin, Sulastri bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Ia menyiapkan sepedanya serta peralatan yang akan ia bawa, tak lupa ia membawa bekal yang sudah disiapkan oleh ibunya. Setelah berpamitan, Sulastri

mengendarai sepedanya dengan santai menuju sekolah. Sesampainya disekolah Sulastri masuk kelas dan bersiap untuk mengikuti pembelajaran. Pada jam istirahat Sulastri diminta tolong oleh kepala sekolah untuk mengambil berkas di atas meja kerjanya. Kepala sekolah memiliki ruangan khusus yang cukup jauh dari ruang guru hal itu kadang yang membuat Sulastri lesu saat diminta pertolongan oleh kepala sekolah, karena ia harus mengorbankan waktu makan siangnya. Saat Sulastri sudah dekat dengan ruangan kepala sekolah ia melihat dua siswa yang tidak ia kenal berada di depan kantor kepala sekolah dan sesekali melirik kekiri dan kekanan seperti sedang mengawasi sesuatu, tak lama kemudian seorang siswa muncul dari ruangan kepala sekolah.

Sulastri kaget karena ternyata itu adalah Calvaro anak yang terkenal dengan kenakalannya tetapi juga anak yang diperhitungkan oleh sekolah, karena orang tuanya merupakan salah satu donatur bagi sekolah tersebut. Sulastri mengambil ponselnya dan segera memotret anak-anak tersebut, untuk berjaga-jaga jika ada sesuatu yang terjadi. Tetapi sialnya tiba-tiba ponselnya berbunyi dengan cepat ia mematikan dan memasukan ponselnya ke saku roknya. Calvaro dan dua temannya menoleh kearahnya, Sulastri berusaha untuk tetap tenang.

Namun saat Calvaro dan dua temannya berjalan kearahnya ia mulai gemetar.

Dengan tatapan benci, ia mengancam jika Sulastri memberitahu siapa pun tentang apa yang sudah ia lihat, maka ia akan memastikan hidup Sulastri dan keluarganya tidak akan pernah damai lagi. Sulastri terdiam dengan takut mendengar acaman yang baru saja ia dengar. Satu sekolah tahu bagaimana sepak terjang seorang Calvaro, bukan hanya dari sekolahnya namun siswa dari sekolah lain juga menjadi korban kenakalan Calvaro. Bel berbunyi menyadarkan Sulastri, untuk segera mengambil berkas diruangan kepala sekolah.

Saat jam ketiga pelajaran dimulai, kepala sekolah dan guru BK tiba-tiba masuk kelas setelah berbicara sebentar dengan guru yang mengajar, kepala sekolah meminta semua tas diletakan diatas meja, meskipun dengan wajah kebingungan para siswa tetap melakukan apa yang sudah diperintahkan tak terkecuali Sulastri, Calvaro dan kedua temannya. Di dalam hati Sulastri sudah menebak-nebak apa yang telah terjadi. Guru yang mengajar dan guru BK segera memeriksa setiap tas para siswa dengan teliti dan detail. Sepertinya sesuatu yang hilang itu adalah barang berharga dan sangat bernilai.

Namun para guru tidak menemukan apa yang mereka cari. Salah satu siswa bertanya apa yang terjadi dan kepala sekolah menjelaskan bahwa barang berharga sekolah telah dicuri dari ruang kepala sekolah, dan ia yakin bahwa pelakunya ada disekolah ini. Setelah menjelaskan kepala sekolah segera keluar dan meminta Sulastri untuk datang kekantornya setelah pembelajaran usai.

Jantung Sulastri rasanya mau berhenti melihat kejadian yang telah terjadi.

Perasaan takut mulai menyelimutinya. Ia takut dikeluarkan dari sekolah karena dituduh mencuri, hal yang jelas-jelas tidak ia lakukan. Namun di sisi lain ia takut mengatakan yang sebenarnya, bukan hanya dia yang akan mendapatkan resikonya namun juga keluarganya.

Cerita dilema moral ini dibuat setelah menganalisis nilai-nilai dalam materi Proklamasi, ada delapan nilai yang didapat, yaitu: tanggung jawab, nilai keberanian, rela berkorban, saling menghargai, nilai kebebasan, cinta tanah air, kerja sama, dan musyawarah dan mufakat. Dari delapan nilai ini ada lima nilai utama yang diambil, yaitu: tanggung jawab, cinta tanah air, rela berkorban, keberanian, dan pantang menyerah. Cerita dilema moral model VCT ketiga ini berdasarkan nilai rela berkorban.

3) Cerita tiga rela berkorban

Di desa Makmur tinggallah Gendhis berdua dengan ibunya sedangkan ayahnya telah tiada sejak ia umur 12 tahun. Sejak ayahnya tiada Gendhis menjadi tulang punggung keluarga, ia harus membanting tulang untuk mencukupi kebutuhan hidup dan juga biaya sekolahnya. Kendati kehidupannya sederhana, ibunya yang sabar dan penuh kasih sayang mendidik Gendhis tumbuh menjadi anak perempuan yang berani, baik, jujur, dan bertanggung jawab. Hal ini terlihat dari karakter, sikap dan perilakunya yang ditunjukan dalam hidup sehari-hari.

Bahkan, disekolah Gendhis menjadi salah satu anak dengan perilaku baik dan berprestasi.

Daripada bermain seperti yang dilakukan teman yang lain, Gendhis memilih bekerja paruh waktu di ladang orang untuk membantu keuangan keluarganya. Suatu hari Gendhis bersiap-siap seperti biasa untuk berangkat kesekolah, Gendhis menghampiri ibunya untuk berpamitan, kebetulan pada saat itu ibu sedang tidak enak badan sehingga terbaring dikasur. Dengan wajah yang cemas dan khawatir, Gendhis duduk di samping ibunya memijat-mijat badan ibunya. Ibunya meyakinkan Gendhis bahwa dia baik-baik saja dan meminta Gendhis untuk segera berangkat sekolah supaya tidak terlambat.

Dengan berat hati, Gendhis berangkat sekolah meninggalkan ibunya yang sedang sakit, tidak lupa ia meminta tolong kepada ibu Mina tetangga samping rumahnya untuk menjaga Ibunya sampai ia pulang sekolah. Jam demi jam dilalui Gendhis dengan cemas di sekolah, baru kali ini Gendhis sangat ingin segera pulang dan melihat keadaan ibunya. Saat jam istirahat Gendhis menelpon

Bu Mina untuk meminta tolong memeriksa keadaan ibunya. Gendhis mengucap syukur mendengar ibunya baik-baik saja sehingga ia bisa belajar dengan tenang.

Namun saat jam pelajaran kedua tiba-tiba HP Gendhis bergetar, melihat nama yang tertera di layar membuat jantung Gendhis berdetak tak karuan.

Dengan cepat, ia mengangkat teleponnya dan berjalan keluar tanpa meminta ijin kepada guru yang mengajar. Tentu saja hal ini membuat bingung seisi kelas namun tak lama kemudian Gendhis masuk dengan tergesa-gesa dan dengan wajah menahan tangis. Ia menjelaskan kepada guru bahwa ibunya masuk ruang UGD ia meminta ijin pulang lebih dahulu kemudian berlari menuju parkiran dan memacu motornya dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit.

Perasaan Gendhis bercampur aduk cemas, sedih, merasa bersalah dan khawatir. Rasanya ia ingin segera sampai di rumah sakit. Karena jalan ke rumah sakit cukup jauh, Gendhis mengambil jalan pintas dan malah membuatnya terjebak di lampu merah yang memang biasanya sangat lama. Dengan sedikit rasa sabar, ia menunggu lampu berubah menjadi hijau, namun telpon dari Bu Mina membuat rasa sabarnya habis. Ibu Mina mengatakan bahwa Gendhis harus segera sampai dirumah sakit, karena Ibunya dalam keadaan kritis. Gendhis bingung, marah, kesal dan air matanya rasanya sudah siap tumpah, ia ingin cepat sampai dirumah sakit. Melihat beberapa kendaraan yang melanggar, Gendhis berpikir untuk ikut melanggar apalagi saat itu polisi tidak sedang berjaga namun kembali hatinya berperang karena selama ini tidak pernah ia melanggar aturan namun ia ingin segera sampai di rumah sakit.

Cerita dilema moral ini dibuat setelah menganalisis nilai-nilai dalam materi Proklamasi, ada delapan nilai yang didapat, yaitu: tanggung jawab, nilai

keberanian, rela berkorban, saling menghargai, nilai kebebasan, cinta tanah air, kerja sama, dan musyawarah dan mufakat. Dari delapan nilai ini ada lima nilai utama yang diambil, yaitu: tanggung jawab, cinta tanah air, rela berkorban, keberanian, dan pantang menyerah. Cerita dilema moral model VCT keempat ini berdasarkan nilai keberanian.

4) Cerita keempat keberanian

Pak Haji Samsudin merupakan salah satu orang terkaya di kampung Batutunggal. Ia mempunyai ladang berhektar-hektar dan mempunyai lahan peternakan yang luas serta mempunyai banyak karyawan, salah satunya adalah Pak Bambang. Di peternakan Pak Bambang bertanggung jawab untuk kebersihan kandang. Meskipun tidak mendapatkan gaji yang besar, dan hidup pas-pasan Pak Bambang sudah sangat bersyukur dengan apa yang ia terima. Ia juga merupakan orang yang jujur, pekerja keras dan sangat suka membantu. Hal itulah yang membuat Pak Bambang banyak disukai banyak orang di kalangan karyawan di tempat tersebut.

Pada suatu hari, sekolah tempat anaknya belajar mengirim surat kepaada Pak Bambang. Surat tersebut mengatakan bahwa Pak Bambang harus segera membayar uang sekolah putrinya yang sudah 2 bulan belum dibayar. jika tidak dilunasi, maka putrinya akan dikeluarkan dari sekolah

Pak Bambang bingung harus mencari uang kemana untuk membayar uang sekolah anaknya. Kehidupan yang pas-pasan dan gaji yang tidak banyak membuat uang tunggakan sekolah semakin besar. Gajinya tidak mungkin cukup untuk membayar uang sekolah, apalagi gaji bulan ini sudah dipakai untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. ditambah lagi istrinya hanyalah ibu rumah

tangga yang tidak berpenghasilan. Ia juga tidak bisa meminjam uang dari tetangga karena sudah sangat sering berhutang.

Terlintas dalam pikirannya untuk meminjam uang kepada Pak Haji Samsudin sebesar 7 bulan gaji. Setelah sepakat dengan istrinya ia segera menemui Pak Haji Samsudin untuk menyampaikan niatnya. Namun ternyata Pak Haji Samsudin pun tidak bisa memberikan pinjaman karena pemasukan bulan ini sangat turun.

Tidak tahu lagi harus meminjam kepada siapa, Pak Bambang hanya bisa pasrah dan berserah kepada Tuhan. Di tengah kegelisahannya terdengar dua orang karyawan sedang membicarakan rencana untuk korupsi hasil penjualan ternak milik Pak Haji Samsudin. Mendengar hal tersebut, Pak Bambang menjadi sangat marah dan kesal, ia bergegas menghampiri kedua karyawan tersebut dengan maksud menengur mereka. Bukannya takut pada Pak Bambang, kedua karyawan tersebut malah menawarkan Pak Bambang untuk ikut bergabung karena hasilnya akan sangat berguna untuk mengatasinya kesulitan keuangan yang sedang ia hadapi. Mendapat ajakan yang menguntungkan, Pak Bambang menjadi ragu dengan pendiriannya. Keinginan mendapatkan uang banyak untuk membayar biaya sekolah putrinya membuat pikirannya bergejolak.

Di rumah Pak Bambang tidak dapat tidur memikirkan ajakan kedua karyawan Pak Haji Samsudin. Jika ia ikut korupsi, ia bisa membayar uang sekolah putrinya dan juga bisa memenuhi kebutuhan keluarganya. Tapi, tindakan itu tidak benar dan jika ketahuan. Ia akan dipenjara, dikeluarkan dari pekerjaannya, keluarganya tidak memiliki penghasilan dan masyarakat akan mengejek dan mencibir. Namun jika ia lapor Pak Haji, ia akan kehilangan kesempatan untuk membayar uang sekolah putrinya dan hidup berkecukupan.

Cerita dilema moral ini dibuat setelah menganalisis nilai-nilai dalam materi Proklamasi, ada delapan nilai yang didapat, yaitu: tanggung jawab, nilai keberanian, rela berkorban, saling menghargai, nilai kebebasan, cinta tanah air, kerja sama, dan musyawarah dan mufakat. Dari delapan nilai ini ada lima nilai utama yang diambil, yaitu: tanggung jawab, cinta tanah air, rela berkorban, keberanian, dan pantang menyerah. Cerita dilema moral model VCT kelima ini berdasarkan nilai pantang menyerah.

5) Cerita kelima pantang menyerah

Mamba tumbuh besar di jalanan, bersama kedua orang tuannya, hampir setiap hari mereka harus berpindah tempat tinggal. Dalam keadaan yang sangat berkekurangan Mamba tidak patah semangat, ia tetap bersekolah sambil membantu ibu dan ayahnya mencari uang dengan cara mencari barang bekas untuk dijual, Mamba punya mimpi yang besar untuk keluar dari kemiskinan dan mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

Tahun ini Mamba dinyatakan lulus dan diterima di SMA Favorit dikotanya, keadaan saat ini membuat sekolah tutup dan ia tidak bisa menghadiri kelas, ia kesulitan mengikuti pembelajaran daring, beberapa kendala seperti Handphone yang kurang memadai, kuota internet yang sulit didapat, serta

lingkungan jalanan yang sangat ramai, membuat pembelajaran daring menjadi semakin sulit. Ketika malam hari Mamba belajar menggunakan lampu jalan yang redup. Sering kali mereka diusir oleh pemilik toko dan preman-preman dijalan mengharuskan mereka untuk berpindah tempat, sangat sulit untuk belajar dalam situasi seperti itu. Namun kadang Mamba dan keluarganya ikut membantu menjaga keamanan wilayah yang mereka singgahi untuk beristirahat bagi mereka

meskipun mereka berkekurangan tapi mereka satu bangsa Indonesia yang harus saling tolong menolong.

Mamba bersyukur memiliki keluarga yang terus mendukungnya namun Mumba melihat keadaan yang sulit, sangat mustahil untuk terus bersekolah, meskipun ia memiliki tekat dan semangat yang besar tapi keadaan seperti memaksanya untuk menyerah, biaya sekolah dan keperluaan lain-lainnya yang harus dipenuhi sangat memberatkan ia dan keluargannya.