BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
F. Pembahasan
Produk bahan ajar sejarah model VCT bagi siswa SMA telah selesai dikerjakan.
Bahan ajar ini telah melalui tahap validasi dari 1 ahli pendidikan karakter. Selanjutnya dilakukan tahap validasi oleh dua orang guru, kemudian uji coba pada 21 orang siswa.
Selama melakukan validasi, penelitian telah melakukan revisi pada bahan ajar sesuai saran dari ahli pendidikan karakter. Hasil penelitian terhadap cerita dilema moral memperlihatkan penilaian dari ahli pendidikan karakter termasuk dalam kriteria
“Baik”, dengan perolehan rerata skor 3,8. Hasil penilaian dari guru I termasuk dalam kriteria “Sangat Baik” dengan memperoleh rerata skor 4,8. Sedangkan penilaian dari guru II termasuk dalam kriteria “Sangat Baik” dengan memperoleh rerata skor 4,8 dan uji coba pada 21 orang siswa menghasilkan daftar butir soal yang valid/layak digunakan.
Berdasarkan hasil skor validasi ahli pendidikan karakter, validasi praktisi dari dua guru sejarah SMA, dan uji coba pada siswa, maka dapat disimpulkan bahwa bahan ajar sejarah model VCT yang dikembangkan dapat dijadikan sebagai bahan ajar untuk membantu guru dalam proses pembelajaran sejarah terutama dalam penguatan karakter
pada peserta didik, serta dapat menjadi sarana untuk menyampaikan nilai-nilai kehidupan melalui cerita dilema moral, sehingga dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut Max Scheler nilai-nilai tidak dapat ditemukan secara langsung, karena tersembunyi dibalik peristiwa, kejadian dan perbuatan, sehingga nilai-nilai harus dibalik peristiwa kejadian dan perbuatan.5 Untuk menemukan atau menggali nilai-nilai tersebut maka digunakan tahapan yang sesuai pendapat Hall dan Harmin.6 Tahapan dalam menganalisis atau menggali nilai-nilai tersebut adalah membaca dan mencermati peristiwa-peristiwa sejarah yang tersembunyi dibalik peristiwa atau konsep sejarah.
berdasarkan tahapan dalam menganalisis nilai-nilai tersebut maka nilai-nilai utama pada materi proklamasi KD.3.7. Nilai-nilai tersebut adalah tanggung jawab, cinta tanah air, rela berkorban, keberanian, pantang menyerah. Maka nilai-nilai tersebut telah dituangkan dalam bentuk cerita moral model VCT.
Cerita dilema moral model VCT adalah nilai-nilai yang didilemakan yang terselubung dalam cerita. Berdasarkan teori Hall dan Harmin siswa diharapkan mampu untuk menemukan sendiri nilai-nilai yang melatarbelakangi sikap atau tingkah lakunya serta dapat mempertanggung jawabkannya7. Maka, dibuatkanlah cerita dilema moral model VCT, dimana pada setiap cerita terdapat satu nilai yang tersembunyi.
5 Paulus Wahana, Op.Cit hal 44
6 Sutarjo Adisusilo, Op.Cit hal 60
7 Sutarjo Adisusilo, Op.Cit, hal 147-150
Harapannya siswa dapat menemukan, memahami serta menerapkan nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. dalam cerita dilema moral model VCT ini ada lima nilai utama, yaitu nilai tanggung jawab pada cerita pertama, cinta tanah air pada cerita kedua, nilai rela berkorban pada cerita ketiga, nilai keberanian pada cerita keempat, dan nilai pantang menyerah pada cerita kelima.
Menurut Hall dan Simon proses pelaksanaan pembelajran model VCT dibagi menjadi tiga tahap; kognitif, afektif, dan pisikomotorik. Pada aspek kognitif diberikan kebebasan untuk memilih, peserta didik diberikan kebabasan dalam menentukan pilihannya sendiri, memilih dari berbagai alternatif, memilih setelah mempertimbangkan konsekuensi yang akan timbuk dari pilihannya. Pada aspek afektif menghargai dan memiliki rasa bangga akan nilai yang telah menjadi pilihannya, adanya rasa percaya diri dan bersedia mengakui nilai pilihannya di depan umum. Sedangkan, pada aspek psikomotorik berbuat ulang/ berperilaku sesuai pilihannya, berulang-ulang bertindak sesuai dengan nilai yang telah menjadi pilihannya sehingga akan menjadi karakter dalam dirinya.8 Bahan ajar sejarah dikembangkan berserta dengan alat tes, yang berupa soal-soal yang mencakup ranah kognitif, afektif, dan pisikomotorik. Pada aspek kognitif ada soal pernyataan yang berkaitan dengan nilai-nilai yang terkandung dalam cerita dilema moral. Aspek afektif berupa soal untuk menentukan sikap peserta
8 Ibid. Hal 147
didik terhadap cerita dilema moral, sedangkan pada aspek psikomotorik, terdapat soal essai untuk peserta didik yaitu menjawab pertanyaan.
Setelah melakukan uji coba pada siswa dan mendapatkan hasilnya, peneliti melakukan validasi butir soal pada aspek kognitif dan aspek afektif. Dari hasil validasi soal tersebut pada aspek kognitif ada 15 soal yang valid dan pada aspek afektif 14 soal valid. Sedangkan pada aspek psikomotorik tetap 10 soal. Sehingga total keseluruhan soal yang valid adalah 39 soal yang akan digunakan sebagai alat tes.
Bahan ajar sejarah model VCT pada materi Proklamasi ini telah melalui tahap validasi ahli pendidikan karakter, dua guru sejarah dan telah melalui uji coba pada siswa. Namun, produk ini tentunya memiliki kekurangan dan kelebihan. Berikut ini, peneliti akan menyajikan kekurangan dan kelebihan dari cerita dilema moral:
1. Kelebihan cerita dilema moral
a. Produk cerita dilema moral memudahkan guru dalam memperkenalkan serta menanamkan nilai-nilai karakter
b. Produk cerita dilema moral mengandung nilai-nilai karakter
c. Cerita dilema moras diberi kebebasan untuk memilih, menemukan, dan memperjuangkan nilai karakter yang ditemukannya didalam cerita dilema moral.
2. Kekurangan cerita dilema moral
a. Produk cerita dilema yang berupa kalimat yang terlalu panjang membuat siswa bosan dan malas membacanya.
b. Produk cerita dilema moral tanpa gambar dan ilustrasi lainnya.
c. Produk cerita dilema moral yang jarang digunakan dalam proses pembelajaran.
81 BAB V PENUTUP
A. KESIMPULAN
Melalui rumusan masalah yang disebutkan oleh peneliti pada BAB I yaitu analisis nilai-nilai sejarah model VCT, seperti apa, cerita dilema moral model VCT, seperti apa, alat tes dilema moral model VCT, seperti apa. maka kesimpulan dari penelitian ini adalah:
1. Hall dan Harmin menjelaskan bahwa ada tahapan dalam menganalisis atau menggali nilai-nilai, adapun tahapan tersebut adalah membaca dan mencermati peristiwa-peristiwa sejarah yang terdapat pada materi, mencari nilai-nilai dalam materi Proklamasi, menemukan nilai-nilai yang tersembunyi dibalik peristiwa proklamasi lalu membuat cerita dilema moral dari hasil analisis nilai-nilai. Berdasarkan tahapan dalam menganalisis nilai-nilai tersebut maka nilai-nilai utama yang diambil pada materi proklamasi adalah tanggung jawab, cinta tanah air, rela berkorban, keberanian, dan pantang menyerah. Dalam melaksanakan pembelajaran Value Clarification Technique (VCT) ada tiga tahap yang harus diperhatikan, yaitu
Kebebasan memilih (kognitif), menghargai (afektif), Pisikomotorik (berbagi).
2. Dalam membuat cerita dilema moral ada enam tahapan yang harus dilakukan, yaitu menentukan topik cerita dilema moral, menentukan kerangka cerita, menentukan pelaku atau tokoh dalam cerita, menentukan alur cerita, menentukan peristiwa-peristiwa, dan menentukan dilema dalam cerita. Setiap cerita terdapat satu nilai yang tersembunyi. Harapannya siswa dapat menemukan, memahami serta menerapkan nilai tersebut dalam kehidupannya sehari-hari. Dalam cerita dilema moral model
VCT ini ada lima nilai utama, yaitu cerita pertama tanggung jawab, cerita kedua cinta tanah air, cerita ketiga rela berkorban, cerita keempat keberanian dan cerita kelima nilai pantang menyerah.
3. Alat tes dilema moral model VCT yang dikembangkan adalah alat tes yang telah memuat 3 komponen, yaitu aspek kognitif (memahami), aspek afektif (menginginkan dan tertarik untuk mempelajari nilai-nilai) dan aspek psikomotorik (melaksanakan dan melakukan nilai-nilai yang sudah pilihan dan ia yakini). Pada aspek kognitif memuat pernyataan dengan jawaban benar atau salah. Pada aspek afektif memuat pernyataan dengan jawaban setuju atau tidak setuju. Sedangkan pada aspek psikomotorik terdapat yang mana siswa diminta untuk memberikan jawaban sesuai dengan keputusannya.
A. Saran
Berdasarkan penelitian dan pengembangan yang telah dilakukan melalui berbagai tahap, maka peneliti dapat memberikan saran sebagai berikut :
1. Untuk Sekolah
Produk bahan ajar sejarah model VCT dengan bentuk cerita dilema moral yang dikembangkan hendaknya dapat digunakan oleh pihak sekolah untuk memfasilitasi peserta didik dalam pembelajaran sejarah.
2. Untuk Guru
Produk cerita dilema moral ini dapat dijadikan sebagai bahan ajar guru dalam menanamkan nilai karakter pada peserta didik. Agar proses pembelajaran lebih menarik.
3. Untuk Peserta Didik
Peserta didik dapat menggunakan bahan ajar sejarah model VCT ini sebagai bahan ajar guna meningkatkan terutama pada nilai karakter.
4. Untuk Peneliti Selanjutnya
Diharapkan pada peneliti selanjutnya dapat mengembangkan bahan ajar sejarah model VCT lebih baik lagi dari bahan ajar sejarah model VCT sebelumnya dengan menyesuaikan nilai-nilai karakter pada materi yang akan dibahas.
Daftar Pustaka
Sumber Buku:
Achmad Kosasi Djahiri. (1980) Teknik Mengklarifikasi Nilai. Jakarta: Proyek Pengembangan Pendidikan Guru Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
Eni, Nurdyansyah. (2016) Inovasi Model Pembelajaran, Surabaya, Nizamia Learning Center Sidoarjo
Hendra Kurniawan. (2018) Kajian Kurikulum dan Bahan Ajar Sejarah SMA Menurut Kurikulum 2013.Yogyakarta, Universitas Sanata Dharma
Hapsari, dkk. (2014) Sejarah Indonesia untuk SMA/MA Kelas XI, Jakarta: Erlangga Imas Kurniasih dkk. (2014) Implementasi Kurikulum 2013: Konsep dan Penerapan,
Surabaya: Kata Pena.
Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (2014) Sejarah Indonesia untuk Siswa SMA Kelas XI Semester I, Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Mulyoto. (2013) Strategi Pembelajaran di Era Kurikulum 2013,
JakartaPrestasi Pustaka Publisher.
Mulyasa. (2014)Pengembangan dan Implementasi Kurikulum 2013, Bandung : PT Remaja Rosdakarya
Mohamad Najib. (2014) Pendidikan Nilai, Kajian Teori dan Praktik di Sekolah, Bandung:Pustaka Setia
Nurdyansyah ,dkk. (2016) Inovasi Model Pembelajaran sesuai kurikulum 2013, Sidarjo: Nizamia Learning Center
Oemar Hamalik. (2007) Kurikulum dan Pembelajaran, Jakarta : PT Bumi Aksara Punaji. (2010) Metode Penelitian Pendidikan dan Pengembangan, Jakarta : Kencana Prenanda Media Group
Sugiono.(2017) Metode Penelitian Pendidikan Pendekan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D.
Bandung:Alfabeta
Sutarjo Adisusilo. (2012) Pembelajaran Nilai-Karakter Konstruktivisme dan VCT sebagai Inovasi Pendekatan Pembelajaran Afektif, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
Tukiran Taniredja, dkk. (2011), Model-Model Pembelajaran Inovatif, Bandung, Alfabeta
Wina Sanjaya, (2013)Penelitian Pendidikan: Jenis, Metode dan Prosedur, Jakarta:
Kencana
Zainal Arifin, (2011) Konsep dan Model Pengembangan Kurikulum, Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Sumber Jurnal/Skripsi
Ali Muhson. Analisis Butir Soal dengan Anbuso. Hlm 3 (Online)
http://staffnew.uny.ac.id/upload/132232818/pendidikan/ANALISIS+BUTIR+SOAL DENGAN+ANBUSO.pdf diakses tanggal 12 Agustus 2021, jam 23:18)
Gea Ardisti dan Nur Agustiningsih (2020) dalam Jurnal Istoria Prodi Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Batanghari Jambi yang berjudul Pengaruh Model Value
Clarification Technique (VCT) Terhadap Pemahaman Nilai-nilai Sejarah Kelas XI di SMA Islam Al-Falah Jambi.
http://istoria.unbari.ac.id/index.php/OJSISTORIA/article/view/82 diakses pada tanggal 16 Maret 2021 pukul 09.30 WIB
Putri Nur Ekasari, “Pembelajaran Berbasis Nilai pada Mata Pelajaran Sejarah Melalui Model VCT(Value Clarification Technique)”, dalam Sejarah dan Budaya, Tahun Kesebelas, No.2 Universitas Negeri Malang, Desember 2017 hlm. 193 https://journal2.um.ac.id/index.php/sejarah-dan-budaya/article/view/2265.
Sumber Makalah/Skripsi:
Anna Fitri, Skripsi : “Pengembangan Bahan Ajar Sejarah berbentuk Booklet pada Materi Proklamasi Kemerdekaan Indonesia untuk Siswa Kelas X SMA N 1 Kertek Wonosobo Tahun Pelajaran 2016/2017” (Semarang : UNNES, 2017), hlm 27.
Firma Dwi Ilmiyati, 2015. Pengaruh Metode VCT (Value Clarification Technique) Dalam Pembelajaran Pkn Terhadap Kecerdasan Moral Siswa Kelas V SD Negeri Tukangan, Yogyakarta, Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta.
https://core.ac.uk/download/pdf/33533432.pdf) diakses tanggal 16 Juli 2021 pukul 21.50 WIB.
LAMPIRAN
Lampiran I: Cerita Dilema
Cerita dilema moral ini dibuat setelah menganalisis nilai-nilai dalam materi Proklamasi, ada delapan nilai yang didapat, yaitu: tanggung jawab, nilai keberanian, rela berkorban, saling menghargai, nilai kebebasan, cinta tanah air, kerja sama, dan musyawarah dan mufakat. Dari delapan nilai ini ada lima nilai utama yang diambil, yaitu:
tanggung jawab, cinta tanah air, rela berkorban, keberanian, dan pantang menyerah. Cerita dilema moral model VCT pertama ini berdasarkan nilai tanggung jawab.
1) Cerita satu tanggung jawab
Ririn adalah anak yang sangat religius, baik, ramah, menyenangkan dan peduli terhadap orang-orang di sekitarnya. Di sekolah Ririn merupakan anak yang biasa saja, tidak terlalu terkenal, namun memiliki prestasi yang lumayan di kelasnya. Ririn tinggal bersama teman-temannya di sebuah kontraka karena merantau ke kota lain untuk bersekolah. Di rumah itu terdapat 5 orang yang berbeda suku dan bahasa namun memiliki rasa kebersamaan dan saling menghargai, bisa dibilang mereka orang-orang baik yang Ririn temui di perantauan. Hal itu mendorong Ririn untuk terus membentuk karakternya lebih baik lagi.
Ririn saat ini mempunyai seorang pacar yang bersekolah di kota yang berbeda dengannya karena masa Covid-19 saat ini membuat keduanya tidak bisa bertemu dalam waktu yang cukup lama. Suatu hari Salma teman sebelah kamar Ririn meminta tolong untuk menemaninya membeli barang yang akan dikirim kepada ibunya di kampung halamannya. Setelah mereka bersepakat untuk berangkat pada esok hari jam 09.00 pagi, keduanya kembali melanjutkan aktivitasnya masing-masing.
Sekitar jam 20.30 malam Rendi kekasih Ririn menelpon dan mengatakan bahwa ia akan ke kota tempat Ririn tinggal, karena ada yang harus ia kerjakan di sana dan ia
sekalian ingin menemui Ririn. Mendengar hal tersebut Ririn begitu antusias karena pertemuan ini akan mengobati rasa rindunya setelah sekian lama tidak berjumpa.
Rendi mengajak Ririn bertemu pada jam 10.00 pagi. Di saat itu Ririn bingung untuk menjawab iya atau tidak, karena pada jam yang hampir bersamaan ia akan pergi bersama Salma. Namun karena rasa rindunya serta rasa antusias yang menyelimuti hatinya membuat ia mengatakan setuju tanpa mempertimbangkannya lagi. Ia akan memikirkannya besok, dan ia yakin pasti bisa mengatur waktunya tanpa membatalkan janji baik dengan Rendi maupun dengan Salma.
Namun ternyata Salma tidak bisa pergi selain jam 09.00 karena barang yang akan ia beli harus segera dikirim ke kampung halaman hari itu juga, ditambah lagi pada jam 12.00 ia ada kelas matematika. Mendengar hal tersebut Ririn bingung harus bagaimana, Ririn mempertimbangkan untuk menyarankan Salma meminta bantuan kepada teman yang lain, namun di sisi lain hatinya mengatakan bahwa ia harus bertanggung jawab untuk apa yang sudah ia katakan dan janjikan kepada Salma.
Melihat situasi yang membingungkan, Ririn akhirnya menghubungi Rendi dan menjelaskan bagaimana situasi dirinya serta bertanya apa mereka bisa bertemu lebih cepat dari jam yang sudah ditentukan, untungnya Rendi memahami dan mau untuk bertemu lebih cepat dari yang disetujui.
Mereka akhirnya bertemu, makan bersama dan saling berbagi cerita. Setelah cukup lama bersama Ririn merasa harus segera pulang dan menemui Salma untuk belanja. Namun Rendi mengatakan bahwa ia ingin membeli sesuatu dan ia ingin Ririn menemaninya. Ririn mengatakan bahwa ia tidak bisa menemani karena sudah memiliki janji dengan Salma. Meskipun di dalam hatinya ia sangat ingin menemani kekasihnya. Dengan kata-kata manis, Rendi membujuk Ririn agar menemaninya.
Terjadi tawar-menawar di dalam hati dan pikiran Ririn, di satu sisi ia sangat ingin
pergi dengan Rendi apalagi pertemuan ini ternyata membuatnya semakin ingin dekat dengan nya namun di sisi lain hatinya mengingatkan bahwa ia memiliki janji yang harus ia tepati.
Cerita dilema moral ini dibuat setelah menganalisis nilai-nilai dalam materi Proklamasi, ada delapan nilai yang didapat, yaitu: tanggung jawab, nilai keberanian, rela berkorban, saling menghargai, nilai kebebasan, cinta tanah air, kerja sama, dan musyawarah dan mufakat. Dari delapan nilai ini ada lima nilai utama yang diambil, yaitu: tanggung jawab, cinta tanah air, rela berkorban, keberanian, dan pantang menyerah. Cerita dilema moral model VCT kedua ini berdasarkan nilai cinta tanah air.
2) Cerita kedua berdasarkan cinta tanah air
Pada hari Senin, Sulastri bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Ia menyiapkan sepedanya serta peralatan yang akan ia bawa, tak lupa ia membawa bekal yang sudah disiapkan oleh ibunya. Setelah berpamitan, Sulastri mengendarai sepedanya dengan santai menuju sekolah. Sesampainya disekolah Sulastri masuk kelas dan bersiap untuk mengikuti pembelajaran. Pada jam istirahat Sulastri diminta tolong oleh kepala sekolah untuk mengambil berkas di atas meja kerjanya. Kepala sekolah memiliki ruangan khusus yang cukup jauh dari ruang guru hal itu kadang yang membuat Sulastri lesu saat diminta pertolongan oleh kepala sekolah, karena ia harus mengorbankan waktu makan siangnya. Saat Sulastri sudah dekat dengan ruangan kepala sekolah ia melihat dua siswa yang tidak ia kenal berada di depan kantor kepala sekolah dan sesekali melirik kekiri dan kekanan seperti sedang mengawasi sesuatu, tak lama kemudian seorang siswa muncul dari ruangan kepala sekolah.
Sulastri kaget karena ternyata itu adalah Calvaro anak yang terkenal dengan kenakalannya tetapi juga anak yang diperhitungkan oleh sekolah, karena orang tuanya merupakan salah satu donatur bagi sekolah tersebut. Sulastri mengambil ponselnya dan segera memotret anak-anak tersebut, untuk berjaga-jaga jika ada sesuatu yang terjadi. Tetapi sialnya tiba-tiba ponselnya berbunyi dengan cepat ia mematikan dan memasukan ponselnya ke saku roknya. Calvaro dan dua temannya menoleh kearahnya, Sulastri berusaha untuk tetap tenang.
Namun saat Calvaro dan dua temannya berjalan kearahnya ia mulai gemetar.
Dengan tatapan benci, ia mengancam jika Sulastri memberitahu siapa pun tentang apa yang sudah ia lihat, maka ia akan memastikan hidup Sulastri dan keluarganya tidak akan pernah damai lagi. Sulastri terdiam dengan takut mendengar acaman yang baru saja ia dengar. Satu sekolah tahu bagaimana sepak terjang seorang Calvaro, bukan hanya dari sekolahnya namun siswa dari sekolah lain juga menjadi korban kenakalan Calvaro. Bel berbunyi menyadarkan Sulastri, untuk segera mengambil berkas diruangan kepala sekolah.
Saat jam ketiga pelajaran dimulai, kepala sekolah dan guru BK tiba-tiba masuk kelas setelah berbicara sebentar dengan guru yang mengajar, kepala sekolah meminta semua tas diletakan diatas meja, meskipun dengan wajah kebingungan para siswa tetap melakukan apa yang sudah diperintahkan tak terkecuali Sulastri, Calvaro dan kedua temannya. Di dalam hati Sulastri sudah menebak-nebak apa yang telah terjadi. Guru yang mengajar dan guru BK segera memeriksa setiap tas para siswa dengan teliti dan detail. Sepertinya sesuatu yang hilang itu adalah barang berharga dan sangat bernilai.
Namun para guru tidak menemukan apa yang mereka cari. Salah satu siswa bertanya apa yang terjadi dan kepala sekolah menjelaskan bahwa barang
berharga sekolah telah dicuri dari ruang kepala sekolah, dan ia yakin bahwa pelakunya ada disekolah ini. Setelah menjelaskan kepala sekolah segera keluar dan meminta Sulastri untuk datang kekantornya setelah pembelajaran usai.
Jantung Sulastri rasanya mau berhenti melihat kejadian yang telah terjadi.
Perasaan takut mulai menyelimutinya. Ia takut dikeluarkan dari sekolah karena dituduh mencuri, hal yang jelas-jelas tidak ia lakukan. Namun di sisi lain ia takut mengatakan yang sebenarnya, bukan hanya dia yang akan mendapatkan resikonya namun juga keluarganya.
Cerita dilema moral ini dibuat setelah menganalisis nilai-nilai dalam materi Proklamasi, ada delapan nilai yang didapat, yaitu: tanggung jawab, nilai keberanian, rela berkorban, saling menghargai, nilai kebebasan, cinta tanah air, kerja sama, dan musyawarah dan mufakat. Dari delapan nilai ini ada lima nilai utama yang diambil, yaitu: tanggung jawab, cinta tanah air, rela berkorban, keberanian, dan pantang menyerah. Cerita dilema moral model VCT ketiga ini berdasarkan nilai rela berkorban.
3) Cerita tiga rela berkorban
Di desa Makmur tinggallah Gendhis berdua dengan ibunya sedangkan ayahnya telah tiada sejak ia umur 12 tahun. Sejak ayahnya tiada Gendhis menjadi tulang punggung keluarga, ia harus membanting tulang untuk mencukupi kebutuhan hidup dan juga biaya sekolahnya. Kendati kehidupannya sederhana, ibunya yang sabar dan penuh kasih sayang mendidik Gendhis tumbuh menjadi anak perempuan yang berani, baik, jujur, dan bertanggung jawab. Hal ini terlihat dari karakter, sikap dan perilakunya yang ditunjukan dalam hidup sehari-hari.
Bahkan, disekolah Gendhis menjadi salah satu anak dengan perilaku baik dan berprestasi.
Daripada bermain seperti yang dilakukan teman yang lain, Gendhis memilih bekerja paruh waktu di ladang orang untuk membantu keuangan keluarganya. Suatu hari Gendhis bersiap-siap seperti biasa untuk berangkat kesekolah, Gendhis menghampiri ibunya untuk berpamitan, kebetulan pada saat itu ibu sedang tidak enak badan sehingga terbaring dikasur. Dengan wajah yang cemas dan khawatir, Gendhis duduk di samping ibunya memijat-mijat badan ibunya. Ibunya meyakinkan Gendhis bahwa dia baik-baik saja dan meminta Gendhis untuk segera berangkat sekolah supaya tidak terlambat.
Dengan berat hati, Gendhis berangkat sekolah meninggalkan ibunya yang sedang sakit, tidak lupa ia meminta tolong kepada ibu Mina tetangga samping rumahnya untuk menjaga Ibunya sampai ia pulang sekolah. Jam demi jam dilalui Gendhis dengan cemas di sekolah, baru kali ini Gendhis sangat ingin segera pulang dan melihat keadaan ibunya. Saat jam istirahat Gendhis menelpon Bu Mina untuk meminta tolong memeriksa keadaan ibunya. Gendhis mengucap syukur mendengar ibunya baik-baik saja sehingga ia bisa belajar dengan tenang.
Namun saat jam pelajaran kedua tiba-tiba HP Gendhis bergetar, melihat nama yang tertera di layar membuat jantung Gendhis berdetak tak karuan.
Namun saat jam pelajaran kedua tiba-tiba HP Gendhis bergetar, melihat nama yang tertera di layar membuat jantung Gendhis berdetak tak karuan.