• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

B. Identifikasi Masalah

Dari latar belakang masalah di atas, maka dapat dirumuskan identifikasi-identifikasi sebagai berikut :

1) Kurangnya analisis nilai-nilai yang terdapat dalam materi sejarah

2) Minimnya pengetahuan guru terhadap model pembelajaran, terutama dalam pembelajaran nilai-nilai karakter.

3) Pembelajaran sejarah yang kurang menarik dan kurang bervariasi

4) Bahan ajar sejarah yang bermuatan nilai-nilai karakter masih kurang dikembangkan.

5) Hubungan pendidikan karakter dengan merdeka belajar C. Batasan Masalah

Pada penelitian ini peneliti memfokuskan kepada pengembangan bahan ajar sejarah dengan model Value Clarification Technique (VCT) pada materi Proklamasi untuk siswa SMA kelas XI.

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah di atas maka peneliti merumuskan masalah sebagai berikut:

1. Analisis nilai-nilai sejarah model VCT, seperti apa?

2. Cerita dilema moral model VCT, seperti apa?

3. Alat tes dilema moral model VCT, seperti apa?

E. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk :

1. Mewujudkan suatu produk bahan ajar sejarah dengan model Value Clarification Technique (VCT) yang mengandung nilai-nilai sejarah untuk siswa SMA kelas

XI pada materi Proklamasi.

2. Mewujudkan sebuah produk bahan ajar berupa cerita dilema moral dengan model Value Clarification Technique (VCT)

3. Menyediakan alat tes sejarah dengan model Value Clarification Technique (VCT)

F. Spesifikasi Produk

1. Bahan ajar nilai-nilai sejarah model VCT

2. Bahan ajar sejaarah berupa cerita dilema moral yang dikemas dalam model VCT

3. Alat tes yang sesuai dengan model VCT dilema moral G. Manfaat Penelitian

a. Bagi Universitas

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber referensi untuk peneliti selanjutnya yang berkaitan dengan pengembangan bahan ajar dengan model Value Clarification Technique (VCT

b. Bagi Sekolah

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menaambah koleksi variasi bahan ajar sejarah dan dapat dijadikan masukan dalam menerapkan pembelajaran dengan Model Value Clarification Technique (VCT)

c. Bagi Guru

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan informasi bagi guru sejarah tentang penerapan model Value Clarification Technique (VCT) dalam pembelajaran serta mendorong guru agar lebih inovatif, kreatif dan bervariasi.

d. Bagi Siswa

Pengembangan bahan ajar dengan model VCT ini akan memberikan manfaat kepada siswa agar bisa mengerti nilai-nilai dalam sejarah, menyadari pentingnya serta dapat mempraktekan nilai-nilai tersebut dalam kehidupannya sehari-hari.

9 BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Kajian Teori 1. Bahan Ajar

a. Pengertian Bahan Ajar

Bahan ajar adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu pendidik dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas. Dalam bahasa inggris bahan ajar disebut intructional materials dan dikenal dengan bahan.1 Merupakan sebuah bahan yang digunakan seorang guru untuk menyampaikan isi kurikulum serta membantu pendidik dalam melaksankan kegiatan belajar mengajar. Bahan ajar merupakan bagian dari upaya pendidik untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Bahan ajar juga menentukan hasil belajar peserta didik.

Menurut Nation Center For Competency Based Training, bahan ajar adalah segala bentuk bahan ajar yang digunakan untuk membantu guru atau instruktur dalam melaksanakan proses pembelajaran di kelas dan bahan yang dimaksut dapat berupa bahan tertulis maupun tidak tertulis.2

Saylor dan Alexander memaparkan bahwa bahan ajar adalah sebuah fakta, observasi, data, persepsi, desain, dan pemecahan masalah yang telah dihasilkan

1 Surya Ika, Skripsi: ”Pengembangan Materi Ajar Sejarah Pokok Bahasan Kemerdekaan Indoneisa Dalam Penanaman Nilai Nasionalisme Siswa Kelas XI SMA Negeri 1 Kroya Tahun 2016/2017” (Semarang:Universitas Negeri Semarang, 2017) Hlm 57

2 Andi Prastowo, Panduan Kreatif membuat Bahan ajar Inovatif, Jogjakarta: Diva Press, 2011, Hal 16

dari pengalaman maupun hasil pikiran manusia yang tersusun dalam bentuk ide,konsep, perencanaan, serta solusi.3.

Selanjutnya menurut Sudjana, bahwa bahan ajar adalah isi materi yang akan disampaikan kepada siswa pada saat berlangsungnya proses belajar mengajar.

Melalui bahan ajar guru dapat menjelaskan tujuan dari pembelajaran tersebut 4 Berdasarkan beberapa pandangan di atas, dapat disimpulkan bahwa bahan ajar merupakan seperangkat mater pelajaran yang disusun secara sistematis dan mengacu kepada kurikulum yang berlaku dan berupa teks tertulis maupun tidak tertulis.

b. Fungsi Bahan Ajar

1. Fungsi bahan ajar bagi siswa

a. Siswa dapat belajar kapan saja dan dimana saja yang ia kehendaki serta dapat belajar tanpa harus ada pendidik

b. Membantu siswa untuk belajar sesuai dengan kecepatan masing-masing

c. Sebagai pedoman bagi peserta didik yang akan mengarahkan semua aktivitasnya dalam proses pembelajaran serta merupakan subtansi kompetensi yang seharusnya dipelajari atau dikuasai.

2. Fungsi bahan ajar bagi pendidik:

a. Dapat menghemat waktu pendidik dalam mengajar

b. Meningkatkan proses pembelajaran menjadi lebih efektif dan interaktif Sebagai pedoman bagi pendidik yang akan mengarahkan semua aktifitasnya dalam

3 Hendra Kurniawan, “Kajian Kurikulum dan Bahan ajar Sejarah SMA Menurut Kurikulum 2013”

Yogyakarta: Sanata Dharma University Press, 2018, Hal 269

4 Anna Fitri, Skripsi, “ Pengembangan Bahan Ajar Sejarah Berbentuk Booklet Pada Materi Proklamasi Kemerdekaan Indonesia Untuk Siswa Kelas XI SMA N 1 Kertek Wonosobo Tahun Pelajaran 2016/2017 ; Universitas Negeri Semarang, 2017, hal 25

proses pembelajaran dan merupakan subtansi kompetemsi yang semestinya diajarkan kepada peserta didik.

c. Sebagai alat evaluasi pencapaian atau penguasaan hasil pembelajaran.

c. Jenis-jenis Bahan Ajar

Menurut Rowntree bahan ajar dibedakan menjadi empat kelompok, yaitu 1. Bahan ajar berbasis teknologi

2. Bahan ajar berbasis cetak

3. Bahan ajar yang dibutuhkan untuk keperluan interaksi manusia (terutama dalam pendidikan jarak jauh)

4. bahan ajar yang digunakan untuk praktek5 d. Manfaat Bahan Ajar

Bahan ajar memberikan manfaat yang sangat besar bagi kegiatan pembelajaran serta hasil pembelajaran. Dengan adanya bahan ajar maka tersedianya sumber belajar alternatif yang relevan dengan kurikulum dan dengan karakteristik serta kebutuhan siswa, pembelajaran akan lebih menarik, karena menghadirkan konteks di sekitar siswa, bahan ajar akan lebih kaya karena dikembangkan dengan mengunakan berbagai referensi serta tersediannya media. Melalui bahan ajar yang dapat membangun komunikasi serta menciptakan pembelajaran yang efektif antara pendidik dan siswa.

2. Kurikulum 2013

Undang-Undang Pasal 1 Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas secara rinci menjelaskan bahwa “kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengetahuan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara untuk mencapai tujuan

5 Puput Fatturahman dan M.Sobry Sutikno, Strategi Belajar Mengajar Melalui Penanaman Konsep Umum dan Konsep Islam (Bandung: Refika Aditama, 2007). P.14

pendidikan” 6 sedangkan menurut Sanjaya kurikulum pada dasarnya memiliki tiga dimensi pengertian yang merupakan hasil dari perkembangan makna kurikulum tersebutyaitu, kurikulum sebagai mata pelajaran, kurikulum sebagai pengalaman pembelajaran dan kurikulum sebagai perencanaan program pembelajaran.7

Kurikulum adalah seperangkat rencana tertulis atau pengaturan yang mengandung tujuan, isi dan bahan pelajaran yang digunakan sebagai pedoman dalam proses pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan. Dalam Kurung waktu yang berlaku, dunia pendidikan sudah menerapkan beragam kurikulum. kurikulum 2013 merupakan kurikulum yang diterapkan saat ini di dunia pendidikan, secara resmi pada tanggal 15 Juli 2013. Kurikulum 2013 ini merupakan serentetan rangkaian penyempurnaan dari kurikulum yang diterapkan sebelumnya yaitu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidika (KTSP). Urgensi dari penerapan Kurikulum 2013 ini adalah dibutuhkannya penekanan agar materi pembelajaran sesuai dengan tahapan perkembangan peserta didik, perlunya pembelajaran yang mampu mengembangkan kreativitas siswa dan sangat diperlukannya pendidikan karakter.8

Kurikulum 2013 dirancang dengan karakteristik sebagai berikut:

1. Kurikulum 2013 diarahkan untuk mengembangkan keseimbangan antara sikap, pengetahuan, kemampuan, nilai, spiritual, kreatifitas, dan sosial, tanggung jawab dengan kemampuan intelektual dan psikomotorik.

6 Zainal Arifin, Konsep dan Model Pengembangan Kurikulum, Bandung: PT Remaja Rosdajkarya Offset, 2011 hlm 1-8

7 Wina Sanjaya, Kurikulum dan Pembelajaran : Teori dan Praktik Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan(KTSP), Jakarta : Kencan-Prenada Media Group, 2013 hlm 3

8 Mulyoto,Strategi Pembelajaran di Era Kurikulum 2013, Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher, 2013, hlm 87

2. Memberikan waktu yang leluasa untuk mengembangkan berbagai sikap, pengetahuan, dan keterampilan. 9

3. Kurikulum 2013 menggunakan istilah Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar (KI

& KD). Kompetensi Inti merupakan gambaran secara kategorial mengenai kompetensi dalam aspek sikap, pengetahuan dan keterampilan (kognitif &

pisikomotorik). Kompetensi Dasar (KD) merupakan kompetensi yang dipelajari peserta didik untuk SD/MI, dan untuk mata pelajaran dikelas tertentu seperti SMP/MTS, SMA/MA, SMK/MAK.10

4. Menempatkan sekolah sebagai bagian dari masyarakat yang memeberikan pengalaman belajar agar peserta didik mampu menerapkan apa yang telah ia pelajari di sekolah dapat diterapkan di masyarakat dan memanfaatkan masyarakat sebagai sumber belajar.

5. Kurikulum 2013 merupakan kurikulum berbasis kompetensi dan pendidikan karakter.

Prinsip-prinsip bahan ajar sejarah yang sesuai dengan kurikulum 2013 adalah:

a. Bahan ajar yang sesuai dengan tahapan Saintifik serta Permendibuk No. 65 Tahun 2013 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah.

Pendekatan ini mencangkup tujuh komponen, yaitu: menciptakan, mencoba, mengelolah, menyimpulkan, menanyai, dan mengamati.

b. Kompetensi Inti yang mencangkup aspek kognitif (pengetahuan), afektif (pemahaman), dan pisikomotorik (sikap, yang harus dipelajari dan dimiliki

9 Mayang, dkk, Karakteristik Kurikulum 2013, hlm 5 (Online), Https://repositori.radenfatah.ac.id tanggal akses 30 Juli 2021, 12.54 WIB.

10 Prastio, 2016, “Model Problem Base Learning (PBL) dalam meningkatkan hasil belajar siswa pada tema perkembangan teknologi untuk kelas III semestre 1 SDN Asmi Bandung” hlm 24 (Online),

https://repository.unpas.ac.id/1275/7/14%20BABII%2011.pdf, tanggal akses 30 Juli 2021, jam 15.48.

peserta didik. Kompetensi Inti harus mengambarkan kualitas yang seimbang antara hard skills dan soft skills

c. Dapat menumbuhkan rasa ingin tahu dan kreatif siswa d. Reflektif dengan penilaian diri

e. Memiliki keseimbangan antara tugas individu dan tugas kelompok.11

Bahan ajar dikatakan layak digunakan dalam proses belajar mengajar jika telah memenuhi segala prinsip diatas. Pengembangan bahan ajar bertujuan untuk melengkapi bahan ajar yang telah ada.

3. Nilai Karakter d. Pengertian Nilai

Nilai adalah segala sesuatu yang dihargai dan dijunjung tinggi serta dapat menjiwai tindakan seseorang. Dalam bahasa Latin nilai adalah Vale’re yang memiliki pengertian sebagai sesuatu yang dipandang baik, berguna, bermanfaat, dianggap paling benar menurut seseorang atau kelompok, dan berguna.12 Nilai yang muncul dapat bersifat negatif dan bersifat positif.

Linda dan Richard Eyre dikutip dari buku yang berjudul Pembelajaran Nilai Karakter karya Sutarjo Adisusilo, J.R menjelaskan bahwa nilai adalah standar perbuatan dan sikap yang menentukan siapa kita, dan bagaimana kita memperlakukan orang yang ada disekitar kita serta membuat hidup kita lebih baik.

Dengan adanya nilai-nilai yang baik maka kita dapat memperlakukan orang dengan baik, dan hidup kita juga menjadi lebih baik.13

11 Imas Kurniasih, Implementasi Kurikulum 2013: Konsep & Penerapan, Surabaya: Kata Pena, 2014 , hlm 149-140

12 Sutarjo Adisusilo,op.cit,hlm.56-57

13Ibid,hlm.57

Menurut Chabib Thoha nilai merupakan sifat yang melekat pada sesuatu (sistem kepercayaan) yang telah berhubungna dengan subjek yang memberi arti (manusia yang menyakini). Jadi nilai adalah sesuatu yang bermanfaat dan berguna bagi manusia sebagai acuan tingkah laku,21 sedangkan menurut Max Scheler yang dikutip dalam buku yang berjudul Nilai Etika Aksiologis Max Scheler karya Paulus Wahana, nilai adalah suatu kualitas yang tidak tergantung pada pembawaannya, dapat dirasakan oleh manusia tanpa melalui pengalaman indrawi terlebih dahulu.

Nilai itu merupakan sesuatu yang berguna bagi kehidupan manusia.14 Max Scheler juga menambahkan bahwa nilai-nilai tidak dapat ditemukan secara langsung karena tersembuyi dibalik peristiwa, kejadian, dan perbuatan oleh karena itu nilai-nilai harus dicari dan ditemu kan.

Menurut Lauis D.Kattsof yang dikutip oleh Ayamsul Maarif nilai adalah:

d. Sebuah kualitas empiris yang tidak dapat didefinisikan,tetapi kita dapat mengalami serta memahami cara langsung kualitas yang terdapat dalam objek tersebut. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa nilai tidak semata-mata subjektif, melainkan ada tolak ukur yang pasti terletak pada esensi objek itu.15 e. Nilai sebagai objek dari suatu kepentingan, suatu objek yang berada dalam

kenyataan maupun pikiran.

f. Nilai sebagai hasil dari pembetian nilai, diciptakan oleh situasi kehidupan. 16 Dari beberapa pendapat yang sudah diuraikan di atas maka peneliti mengambil kesimpulan bahwa nilai adalah sesuatu yang berguna bagi kehidupan manusia dan

21 Una Kartawistra. Strategi Klarifikasi Nilai (Jakarta:P3G Depdikbud,1980), hlm.01

14 Paulus Wahana, Nilai Etika Aksiologis Max Scheler,Yogyakarta: Kanisius, 2004, hlm.51

15 Syamsul Maarif, Revitalisasi Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2007), Hlm 114

16 Ibid. Hlm 115

bagi Tuhan yang dapat mengukur perbuatan serta sikap manusia. Nilai berhubungan dengan kebaikan dan kebajikan sehingga dapat diraih oleh seseorang untuk mengetahui nilai dirinya. Max Scheller membagi nilai menjadi 4 tingkatan, yaitu:

a) Nilai-nilai Kenikmatan, ada nilai-nilai yang mengenakan dalam tingkatan ini, yang menyebabkan orang senang misalnya kesukaan dan kesakitan.

b) Nilai-nilai kehidupan : terdapat nilai-nilai yang paling penting bagi kehidupan seperti, kesehatan, ketertiban, kedisiplinan, dan kesejahteraan umum

2) Nilai-nilai kejiwaan: dalam tingkatan ini terdapat nilai-nilai kejiwaan yang sama sekali tidak tergantung pada keadaan jasmani maupun lingkungannya misalnya, kejujuran, kebenaran, dan keadilan

3) Nilai-nilai kerohaniaan : dalam tingkatan ini terdapat modalitas nilai dari yang suci dan tidak suci. Nilai-nilai semacam ini terdiri dari nilai-nilai pribadi terutama kepada Tuhan Yang Maha Esa sebagai Pribadi Tertinggi seperti kesucian dan ketakwaan. 17

Max Scheller dengan hiearki nilainya ingin menyampaikan pesan penting kepada kita, bahwa manusia perlu terus-menerus berusaha mencapai nilai-nilai yang lebih tinggi. Oleh karena itu dia memberikan lima pedoman untuk menentukan tinggi rendahnya nilai, yaitu: semakin tinggi hierarki sebuah nilai maka semakin dapat dibagikan tanpa mengurangi maknanya, semakin

17 Sutarjo Adisusilo, Pembelajaran Nilai-Karakter Konstruktivisme dan VCT Sebagai Inovasi Pendekatan Pembelajaran Afektif, Hal 65

membahagiakan nilai tersebut dan semakin tak tergantung pada kenyataan tertentu, maka semakin tinggi hierarki nilai tersebut. 18

e. Peranan nilai

Menurut Raths, et al. Paran nilai dikategorikan menjadi beberapa poin yaitu:

5. Nilai mengarahkan seseorang untuk bertingkah laku dan bersikap sesuai dengan meralitasi masyarakat.

6. Nilai memberikan aspirasi atau inspirasi kepada orang lain untuk hal yang berguna serta berdampak untuk kehidupannya.

7. Nilai memberikan tujuan atau arah atau (Inspirasigoals or purposes), kemana kehidupan harus menuju, dikembangkan atau diarahkan.

Sesuai dengan teori Raths, maka peneliti merangkum peran nilai sebagai berikut: nilai merupakan teori umum yang membimbing tingkah laku manusia untuk mencapai tujuan.

f. Tahapan melaksanakan nilai menjadi karakter

Nilai menjadi tahap dasar untuk membentuk karakter dalam kehidupan manusia. Menurut pandangan Lickona, ada tiga komponen karakter yang baik yaitu, Moral knowing atau pengetahuan, Moral feeling atau perasaan tentang mental, dan Moral action atau perbuatan moral. Pada dasarnya tiga komponen ini menunjukan bahwa tahap pemahaman pelaksanaan nilai/moral dalam kehidupan sehari-hari. Setiap individu diharapkan sampai pada tahap yang seharusnya moral action sehingga tercapailah tujuan untuk menghasilkan manusia yang tidak hanya cerdas tapi bermoral.

18 Ibid, Hal 66

Seperti yang sudah diuraikan di atas bahwa nilai memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan manusia, nilai berfungsi memberikan pedoman bagi manusia dalam bertingkah laku berdasarkan nilai-nilai yang ia yakini baik dan benar.

Oleh karena itu nilai sangat penting diajarkan kepada siswa, dengan harapan bahwa nilai tersebut dapat dipahami dan dipraktekan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga nilai tersebut dapat menjadi karakter dalam diri siswa.

Nilai juga merupakan sebuah prinsip dasar yang berguna dan bermanfaat bagi kehidupan manusia sehari-hari terlebih bagi Tuhan.

4. Pendidikan Karakter

a. Pengertian Pendidikan Karakter

Menurut Doni Koesoema A. pendidikan karakter adalah sebuah usaha dari individu secara pribadi, maupun secara sosial untuk membantu menciptakan lingkungan pertumbuhan yang baik dan dapat dihargai. Pendidikan karakter memiliki tujuan yaitu menjadikan seorang individu menjadi pribadi yang memiliki integritas moral dalam kehidupan bermasyarakat.19

Menurut pandangan Kevin Ryan dan Bohlin yang dikutip dari buku Pengembangan Pendidikan Karakter Karya H. Puput Fathurrohman, dkk pendidikan karakter adalah suatu upaya sungguh-sungguh untuk membantu seseorang memahami, peduli dan bertindak dengan berlandasan nilai-nilai, sehingga dapat memicu kepada serangkaian pengetahuan, sikap, motivasi, perilaku, dan keterampilan.20 Pelaksanaan Pendidikan Karakter dilaksanakan di Indonesia

19 Doni Koesoema A, Pendidikan Karkater Strategi Mendidik Anak Zaman Global, Jakarta:PT Gramedia,2010, hlm. 194

20 Pupuh Faturrohman,dkk, Pengembangan Pendidikan Karakter, Bandung: PT Refika Aditama, 2013, hlm. 17

berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2017 Tentang Pendidikan Karakter merupakan peraturan perundangan yang diterbitkan dengan tujuan mendukung penguatan pendidikan karakter yang wujud konkret dari Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM) dan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 20 Tahun 2018 tentang Penguatan Pendidikan Karakter pada Satuan Pendidikan Formal.21

Tujuan dari kedua peraturan perundang-undangan ini adalah supaya pelaksanaan pendidikan karakter lebih memperkuat karakter peserta didik melalui proses belajar mengajar dan materi yang disampaikan. Pasal 6 ayat 2 menekankan bahwa pendekatan berbasis kelas dilakukan dengan mengutamakan nilai-nilai karakter dalam proses pembelajaran. Zubaedi mengelompokan tiga fungsi utama dalam pendidkan karakter, yaitu:

4. Pembentukan dan pengembangan potensi. Pendidikan karakter berfungsi membentuk dan mengembangkan kemampuan peserta didik agar dapat berpikir lebih baik serta memiliki karakter yang sesuai dengan nilai-nilai moral yang berlaku di masyarakat.

5. Perbaikan dan penguatan. Pendidikan berfungsi memperkuat serta memperbaiki peran keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakat dalam menciptakan bangsa yang maju, mandiri, dan berkarakter.

6. Penyaringan. Pendidikan karakter berfungsi menyaring budaya-budaya lain yang tidak sesuai dengan nilai-nilai budaya bangsa Indonesia.22

21 Hendarman, Pendidikan Karakter Era Milenial, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2019 hlm 35

22 Zubaedi, Desain Pendidikan Karakter Konsepsi dan Aplikasinya dalam Lembaga Pendidikan, Jakarta: Prenada Media Group , 2011. Hlm 165

b. Langkah-langkah Pendidikan Karakter

Pendidikan nilai berperan penting dalam pembentukan karakter. Menurut Notonagoro ada empat langkah yang harus ditempuh agar pendidikan bermanfaat, yaitu.

1. Para pendidik harus tahu dan memahami terlebih dahulu nilai apa saja yang akan ia ajarkan kepada peserta didik.

2. Para pendidik menampilkan nilai-nilai tersebut kepada peserta didik dengan sentuhan hati dan perasaan, metode yang dapat ditempuh misalnya metode modeling (memberi model), metode VCT, dan lain-lain.

3. Selanjutnya adalah membantu peserta didik untuk memilih, menginternalisasikan nilai-nilai tersebut tidak saja dalam akal budinya, dan menjadikan nilai tersebut sebagai sifat dan sikap hidupnya serta menjadi landasan bertingkah laku.

4. Peserta didik bersikap sesuaai dengan nilai-nilai yang telah ia pilih, serta mewujudkannya dalam tingkah lakunya sehari-hari.23

c. Tujuan Pendidikan Karakter

Pendidikan karakter memiliki lima tujuan yang akan sekiranya dapat membantu peserta didik, yaitu:

1. Mengembangkan potensi afektif peserta didik sebagai warga negara yang memiliki nilai-nilai karakter bangsa.

2. Mengembaangkan kebiasaan dan perilaku yang terpuji sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.

3. Menanamkan jiwa leadership peserta didik sebagai generasi penerus bangsa.

4. Mengembangkan lingkungan sekolah sebagai lingkungan belajar yang menarik

23 Sutarjo Adisusilo, op.cit. hlm. 73

5. Mengembangkan kemampuan peserta didik menjadi manusia yang bertanggung jawab, kreatif, berwawasan luas, dan mandiri.24

5. Pembelajaran Sejarah

a. Pengertian Pembelajaran Sejarah

Menurut Mulyasah pembelajaran sejarah merupakan proses interaksi antara peserta didik dan lingkungannya, sehingga terjadi perubahan perilaku ke arah yang lebih baik, dimana disetiap interaksi ada banyak faktor yang mempengaruhi baik dari faktor internal maupun faktor eksternal.

Pemendikbud Nomor 103 Tahun 2014 mengungkapkan bahwa pembelajaran sejarah merupakan sebuah proses dari masa lampau, masa kini, dan masa depan dimana ketiganya memiliki keterkaitan satu dengan yang lain. Tujuan dari pendidikan sejarah adalah agar peserta didik memiliki kesadaran akan pentingnya ruang dan waktu. Melalui pembelajaran ini peserta didik menyadari bahwa dirinya merupakan bagian dari bangsa Indonesia yang memiliki rasa bangga dan cinta tanah air.24

b. Tujuan dan Peran Pembelajaran Sejarah

Moh Ali menyebutkan ada empat tujuan dari pembelajaran sejarah, yaitu:

1. Menyadarkan peserta didik akan cita-cita nasional

2. Membangkitkan hasrat peserta didik untuk mewujudkan cita-cita bangsa dalam segala aspek.

3. Membangkitkan serta memelihara semangat kebangsaan dalam diri peserta didik.

24 Zubaedi, Desain Pendidikan Karakter, Jakarta: Kencana,2011,hlm.18

4. Membangkitkan keinginan yang kuat untuk memahami dan mempelajari sejarah kebangsaan.25

c. Prinsip-prinsip Pembelajaran Sejarah

Menurut Heri Susanto, pembelajaran sejarah mempelajari peristiwa masa lampau yang terdiri dari konsep perilaku pada seseorang, ruang, dan waktu. Menurut Heri Susanto ada tiga prinsip-prinsip dalam pembelajaran sejarah, yaitu:

1. Pembelajaran sejarah berkaitan dengan karakter siswa.

2. Pembelajaran sejarah harus dilaksanakan dengan kreatif dan inovatif, tidak terpaku pada materi dan hafalan.

3. Proses pembelajaran disesuaikan dengan perkembangan zaman dan siswa26

Berdasarkan prinsip-prinsip di atas, dapat disimpulkan bahwa selain memberikan pengetahuan, guru harus memperkenalkan dan menanamkan nilai-nilai yang tedapat dalam materi sejarah. Menggunakan metode pembelajaran yang menarik dan tidak hanya bergantung pada buku teks saja.

d. Peran Pendidikan Karakter Dalam Pembelajaran Sejarah

Pembelajaran sejarah sangat berpengaruh dalam pembentukan karakter anak bangsa. Pembelajaran sejarah mendorong siswa menjadi pribadi yang baik, mengenal nilai-nilai yang ada dalam dirinya serta menjadi pribadi yang terbuka (open minded person)27

Menurut Sapriya mpembelajaran sejarah berfungsi untuk menyadarkan peserta didik akan adanya proses perubahan dan eprkembangan masyarakat dalam

25 Heri Susant. “ Seputar Sejarah (Isu Gagasan dan Strategi Pembelajaran),”Banjarmasin, Aswaja Pressindo 2014, Hal 57.

26 Heri Susanto, op.cit., hlm. 56.

27 Ibid hlm. 14.

dimensi waktu dan untuk membangun perspektif serta kesadaran untuk menemukan,

dimensi waktu dan untuk membangun perspektif serta kesadaran untuk menemukan,