BAB III METODE PENELITIAN
G. Teknik Validasi Soal
Teknik validasi data pada penelitian ini dilakukan oleh :
d. Dosen ahli pendidikan karakter; yang memvalidasi produk analisis nilai-nilai sejarah, cerita dilema moral dan alat tes.
e. Praktisi (2 guru sejarah), memvalidasi produk analisis nilai-nilai sejarah, cerita dilema moral dan alat tes
f. Siswa, memvalidasi alat tes
Menurut Sudjana, secara umum indeks kesukaran suatu butir soal sebaiknya terletak dalam kategori sedang yakni pada interval 0,31-0,70. Pada interval ini, informasi tentang kemampuan siswa akan diperoleh secara maksimal. Dalam merancang indeks kesukaran suatu perangkat tes. Kriteria tingkat kesukaran soal sebagai berikut :
Tabel 2: Tingkat kesulitan Soal
Kategori Kriteria
Sulit >0,7
Cukup Sulit 0,3-0,7
Tidak Sulit <0,3
Daya pembeda soal merupakan suatu kemampuan soal untuk membedakan kelompok peserta tes berkemampuan tinggi dan kelompok peserta tes berkemampuan rendah.46 Nilai
46 Nani Hanifah. Perbandingan Tingkat Kesukaran, Daya Pembeda Butir Soal Dan Reliabilitas Tes Bentuk Pilihan Ganda Biasa Dan Pilihan Ganda Asosiasi Mata Pelajaran Ekonomi. Hal 47. (Online)
daya pembeda dinyatakan melalui indeks daya pembeda. Makin tinggi atau makin besar indeks daya pembeda soal, makin besar rsoal tersebut membedakan antara kelompok tinggi dan kelompok rendah. Untuk menentukan daya pembeda dapat digunakan indeks diskriminas, indeks korelasi biserial, indeks korelasi point biserial, dan indeks keselarasan.
Pada analisis butir dalam penelitian ini, hanya digunakan
indeks korelasi poin biserial. Koefisien korelasinya untuk suatu butir soal ditentukan dengan rumusan:
r
pbis= [
𝑋−1−𝑋−𝑆𝑋
] √
1−𝑃𝑃11
Dengan (rpbis)= koefisien korelasi point biserial, X1 merupakan variabel kontinyu, (x), merupakan rerata skor X untuk peserta tes yang menjawab benar butir tersebut, (x) merupakan rerata skor X, sx merupakan standar deviasi dari skor X dan p1 merupakan proporsi peserta tes yang menjawab benar butir tersebut. Menurut Ebel dan Frisbie, indeks daya pembeda suatu butir yang kecil nilainya akan menyebabkan butir tersebut tidak dapat membedakan siswa yang kemampuannya tinggi dan siswa yang kemampuan rendah. Pada analisis tes dengan Cotent-Referenced Measures, indeks daya pembeda butir tidak terlalu perlu menjadi perhatian, asalkan tidak negatif. Jika nilainya kecil, menunjukkan bahwa kemencengan distribusi skor dari populasi, yang juga mengakibatkan validitas tes menjadi rendah.
Soal yang masuk kategori sulit dinyatakan tidak layak, jika dari 21 orang siswa yang menjawab benar hanya ada 20% sehingga tidak memenuhi kriteria. Kategori sulit yang dinyatakan layak adalah jika soal tersebut dapat diisi benar oleh siswa di diatas 20%. Soal dengan kriteria terlalu mudah dapat dinyatakan tidak layak dan soal dengan kriteria sulit juga dianggap tidak layak.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Analisis Kebutuhan
Penelitian pengembangan menurut Borg dan Gall terdapat 10 langkah yang harus diikuti dari awal sampai akhir. Namun ke-10 langkah tersebut tidak digunakan secara sempurna atau menyeluruh oleh peneliti dikarenakan situasi pandemi Covid-19 dan keterbatasan waktu yang dimiliki oleh peneliti. Kegiatan analisis kebutuhan yang dilakukan dalam penelitian ini, yakni mengumpulkan informasi berdasarkan potensi masalah pada saat kegiatan belajar mengajar di dalam kelas.
Kegiatan pembelajaran yang masih menggunakan metode ceramah membuat peserta didik mudah bosan dan tidak memperhatikan penjelasan guru, apalagi pada saat ini, semua dilakukan secara daring. Akan semakin sulit untuk membuat peserta didik memiliki minat untuk mengikuti pembelajaran. Berdasarkan pengalaman peneliti pada saat PLP-KP dan juga melihat kondisi yang terjadi saat kegiatan pembelajaran, peserta didik cenderung merasa bosan dan tidak tertarik dengan pembelajaran yang diberikan.
Penggunaan model dan bahan ajar menjadi salah satu hal penting ketika mengajar.
Belum banyak bahan ajar yang menekankan pada nilai-nilai karakter, sehingga pembelajaran hanya sekedar memberikan informasi saja tanpa disertai nilai-nilai karakter
yang dapat ditemukan dalam setiap materi belajar. sehingga dalam penelitian ini peneliti akan mengembangkan suatu produk bahan ajar sejarah dengan model VCT.
Berdasarkan hal tersebut peneliti melakukan penelitian agar tercapainya tujuan pembelajaran yang semestinya dengan menginplementasikan nilai karakter pada materi.
Peneliti menganalisis nilai-nilai dalam materi pembelajran lalu mengembangkan menjadi cerita dilema moral dengan tujuan membantu peserta didik untuk lebih berpikir secara kritis, menemukan dan mengamalkan nilai karakter dalam kehidupannya. Dalam cerita dilema moral terdapat pertanyaan-pertanyaan segi kognitif, afektif, dan psikomotorik bagi peserta didik. Melalui soal-soal evalusia tersebut peserta didik akan menemukan, memilih dan menentukan perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai karakter yang ditemukan dan dapat menerapkannya dalan kehidupannya sehari-hari.
B. Deskripsi Produk
Produk yang dikembangkan dalam penelitian ini adalah cerita dilema moral sebagai bahan ajar bagi siswa. Bahan ajar ini memuat tentang nilai-nilai karakter tanggung jawab, nasionalisme, pantang menyerah, keberanian, dan rela berkorban yang dikembangkan dari materi Proklamasi. Dengan cerita dilema moral siswa menganalisis, memilih dan menemukan nilai karakter yang terdapat dalam cerita. Sehingga nilai tersebut akan menjadi pilihannya dan menjadi karakter dalam dirinya. Dibawah ini merupakan format desain produk awal cerita dilema moral.
1. Materi Ajar Sejarah Kelas XI Pada Materi Proklamasi KD 3.7 A. Peristiwa Sekitar Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
1. Kekalahan Jepang Dalam Perang Asia Timur Raya
Perjanjian penyerahan (Kapitulasi) Jepang kepada Sekutu ditandatangani secara resmi di atas kapal USS Missouri pada 2 September 1945, dengan wakil Sekutu
Jenderal Douglas McArtur dan Wakil Jepang Menteri Luar Negeri Mamoru Shigemitsu.
Peristiwa pengeboman besar di Hirosima dan Nagasaki membuat Jepang tidak punya pilihan lain selainmenyerah kepada Sekutu. Hal ini ditambah lagi pengeboman Sekutu atas kawasan-kawasan industri strategis di Jepang, termasuk industri galang kapal. Akibat pengeboman ini membuat Jepang semakin terpuruk apalagi hancurnya armada-armada dagang membuat pasokan bahan mentah terhambat. Seharusnya pengeboman ini tidak terjadi jika Jepang menerima isi Deklarasi dan yang dikeluarkan pada 26 Juli 1945 oleh Harry S.Truman
2. Perbedaan Pendapat tentang Proklamasi Kemerdekaan dan Peristiwa Rengasdengklok
Sekitar setahun sebelum penyerahan Jepang tanpa syarat kepada Sekutu, pada 7 September 1944, Perdana Menteri Jepang Kuniaki Koiso telah mengumumkan sikap resmi pemerintah Jepang: Bahwa daerah Hindia Timur akan diperkenankan merdeka.
Lalu dibentuklah sebuah lembaga untuk mempersiapkan kemerdekaannya yang disebut Dokuritsu Junbi Coosakai atau BPUPI (Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan). Pada saat Sekutu menjatuhkan bom atom di kota Nagasaki membuat Jepang menyerah secara resmi, berita pengeboman ini menyebar di seluruh aktivis muda di Indonesia, membuat rencana kemerdekaan itu menjadi topik yang harus dibahas.
Meskipun masih banyak pertimbangan untuk segera memproklamasikan Kemerdekaan tapi para aktivis muda memaksa membawa Soekarno dan Hatta ke Rengasdengklok untuk segera memproklamasikan kemerdekaan. Setelah adanya perundingan antara golongan muda dan golongan tua akhirnya disepakati bahwa kemerdekaan akan segera diproklamasikan selambat-lambatnya tanggal 17 Agustus
3. Penyusunan Naskah Proklamasi
Saat dalam proses menuju penyusunan teks Proklamasi, Nishimura memberikan kabar bahwa Tokyo tidak mengizinkan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia sebab perjanjian kapitulasi mensyaratkan Jepang menjaga status que di semua negara yang didudukinya. Namun Sukarno dan Moh. Hatta tidak menghiraukan kabar tersebut, mereka bergegas menuju rumah Laksamana Maeda untuk menyiapkan teks Proklamsi ada pun yang hadir dalam penyusunan teks Proklamasi itu adalah, Achmad Soebardjo, Soekarni, Burhanudin Muhammad Diah, Sudiro, dan Syauti Melik.
Setelah teks Proklamsi selesai Sukarno meminta Sayuti Melik untuk mengetik teks tersebut dan ditanda tangani oleh Sukarno dan Hatta. Upacara Proklamsi Kemerdekaan akan dilaksanakan di halaman rumah Soekarno, yaitu di Jalan Pegangsaan Timur No.56 Jakarta.
4. Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
Saat pagi hari, halaman rumah Sukarno sudah penuh dengan sejumlah pemuda yang sudah siap mendengarkan dan menyaksikan pelaksaan Proklamsi Kemerdekaan. Tiang bendera yang terbuat dari bambu telah berdiri kokoh dihalaman rumah Sukarno dan disanalah bendera Merah Putih yang dijahit ibu Fatmawati akan dikibarkan. Dengan diawali dengan pidato yang bergelora Sukarno membacakan teks Proklamsi. Bagi Indonesia, Proklamsi telah membawa perubahan besar bagi bangsa Indonesia serta juga memberikan makna yang terdalam seperti:
1. Merupakan titik puncak perjaungan Bangsa Indonesia 2. Indonesia terlepas dari belenggu penjajahan
3. Negara Republik Indonesia Lahir 5. Penyebaran Berita Proklamasi
Setelah Proklamsi kemerdekaan dilaksanakan, pada saat itu juga salinan teks Proklamsi disampaikan kepada Kepala Hoso Kanri Kyoku atau Pusat Jawatab Radio, berita Proklamasi diberitakan tiga kali berturut-turut, meskipun pada saat itu berita Proklamsi sempat dihentikan oleh tentara Jepang tapi atas perintah Palenewen, berita Proklamsi tetaap disiarkan. Selain melalui siaran radio, berita tentang Kemerdekaan Indonesia disebarluaskan juga melalui surat kabar, Pamflet, poster, serta coretan-coretan di gerbong kereta api dan dinding-dinding kota. Berita kemerdekaan juga disebarkan secara langsung oleh para utusan Proklamasi yang menghadiri sidang PPKI.
B. Pembentukan Pemerintahan Indonesia dalam Sidang PPKI (18-22 Agustus 1945)
1. Hari Pertama:Mengesahkan Undang-Undang Dasar serta Memilih Presiden dan Wakil Presiden. Pada 18 Agustus 1945 PPKI menggelar sidang pertama pada masa Jepang. Dalam sidang tersebut berhasil mengeluarkan beberapa keputusan, yaitu:
a) Mengesahkan dan menetapkan undang-undang dasar sebagai konstitusi negara (yang dikenal dengan Undang-Undang Dasar 1945)
b) Memilih Ir. Sukarno sebagai presiden dan Drs.Moh.Hatta sebagi wakil, yang berarti Indonesia menerima sistem pemerintahan presidensial
c) Untuk semestara waktu Presiden akan dibantu oleh sebuah komite nasional Sebelum Undang-Undang Dasar 1945 disahkan, terdapat beberapa perubahan didalamnya, yaitu:
a) Kata “ Muqaddimah” diubah menjadi “Pembukaan”
b) Perubahan pada alinea keempat anak kalimat “Ketuhanan Yang Maha Esa, dengan kewajiban menjalannya syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” diubah menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa”
c) “Menurut Kemanusiaan yang adil dan beradab” diubah menjadi “Kemanusian yang adil dan beradab”
d) Pasal 6 Ayat (1) “Presiden ialah orang Indonesia asli dan beragama Islam” diubah menjadi “Presiden adalah oran Indonesia asli”
Perubahan-perubahan tersebut terjadi setelah tikoh-tokoh dari Indonesia yang beragama Kristen, mengajukan keberatan terhadpa rumusan lama yang terlalu bercorak Islam. Dengan jiwa besar serta dilandasi semnagt untuk menjaga persatuan bangsa, para tokoh Islam mengubah kalimat tersebut.
2. Hari kedua:Pembentukan Kementerian dan Pembagian Wilayah
Pada sidang kedua pada tanggal 19 Agustus PPKI menetapkan membentuk 12 departemen, menunjuk para pejabat departemen, serta menetapkan wilayah Republik Indonesia yang meliputi delapan provinsi sekaligus menunjuk gubernurnya, selain itu ditetapkan pula adanya 12 kementerian dalam kabinet dan lembaga negara
Pembentukan kabinet menjadi hak prerogatif (istimewa) presiden. Pada 2 september 1945, bertempat di Hotel Miyako Presiden Sukarno melantik kabinet pertama Republik Indonesia, yang terdiri dari 12 menteri depertemen, 4 menteri negara, dan 4 pejabat negara. Inilah kabinet pertama Republik Indonesia.
3. Hari ketiga:Membentuk Tiga Badan Baru (KNI,PNI, dan BKR)
Pada sidang hari ketiga, presiden memutuskan berdirinya tiga badan baru, yaitu Komite Nasional Indonesia (KNI), Partai Nasional Indonesia (PNI), dan Badan Keamanan Rakyar (BKR). Dengan dibentuknya ketiga badan baru maka PPKI resmi dibubarkan
C. Dukungan dan Reaksi Rakyat Indonesia terhadap Proklamasi Kemerdekaan
Kemerdekaan yang dikumandangkan pada 17 Agustus 1945, disambut dengan gembira dan penuh semangat untuk mempertahankannya, bendera merah putih
dikibarkan dimana-mana. Pekik “Merdeka” menjadi salam nasional. Keadaan tersebut mengambarkan dukungan luas rakyat terhadap Proklamasi, reaksi langsung dan dukungan tampak di mana-mana, diantaranya sebagai:
1. Comite van Actie (Komite Aksi) 2. Dukungan pemimpin keresidenan
3. Pernyataan Sri Sultan Hamengku Buwono IX 4. Reaksi Lapangan Ikadar di Jakarta
2. Analisis Nilai-nilai Sejarah Pada Materi Proklamasi
Menurut Max Scheler nilai-nilai tidak dapat dilihat secara langsung, karena tersembunyi dibalik peristiwa, kejadian dan perbuatan, sehingga nilai-nilai harus dicari dan ditemukan dibalik peristiwa dan perbuatan.4 Tahapan menganalisis nilai-nilai adalah :
a) Membaca dan mencermati peristiwa-peristiwa sejarah yang terdapat pada materi Proklamasi
b) Mencari nilai-nilai dalam materi Proklamasi
c) Menemukan nilai-nilai sejarah yang ada pada materi sejarah d) Memilih nilai-nilai utama yang akan dikembangkan
e) Membuat cerita dilema moral model VCT
Berdasarkan tahapan-tahapan dalam menganalisis nilai-nilai tersebut, peneliti telah melakukan analisis pada materi Proklamasi KD 3.7 dalam buku paket Sejarah Indonesia untuk SMA/MA Kelas XI dan Buku Sejarah Nasional. Maka nilai-nilai yang terkandung dalam materi tersebut sebagai berikut:
4Paulus Wahana, Op.Cit hlm 44
Tabel 3 : Analisis Nilai-nilai Sejarah
No Materi Sejarah Nilai sejarah Cerita Dilema
Moral
menghargai Cerita dilema 1
2. Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
Kebebasan, cinta tanah air, kerja sama, musyawarah dan mufakat.
Tabel 4: Nilai-nilai yang dikembangkan No Nilai yang
Dikembangkan
Uraian
1. Tanggung Jawab Sikap atau tindakan yang bersungguh-sungguh dalam segala hal, disiplin dapat dipercaya, dan jujur dalam bertindak
2. Cinta Tanah Air Sikap atau tindakan cinta tanah air melalui cara berpikir, bersikap, dan perbuatan.
Tindakan mencintai bangsa dan negara serta memiliki hasrat untuk bersatu sebagai satu bangsa Indonesia
3. Rela Berkorban Sikap atau tindakan yang bersedia mengorbankan segala-galanya untuk kejayaan dan kemakmuran tanah airnya, semangat demi bangsa dan negara.
4. Keberanian Sikap atau tindakan yang tidak pernah takut terhadap tantangan berani membela kebenaran, ebrani mengakui kesalahan dan berani berjuang untuk hidup lebih baik.
5. Pantang Menyerah Sikap atau tindakan yang tidak mudah putus asa dalam melakukan segala hal, perasaan yang optimal serta bangkit dari keterpurukan.
3. Cerita Dilema Moral Model VCT
Menurut Hall dan Gall ada beberapa tahapan yang perlu diperhatikan dalam membuat cerita dilema moral, yaitu:
1. Menentukan topik cerita dilema moral 2. Menentukan kerangka cerita
3. Menentukan pelaku atau tokoh 4. Menentukan alur
5. Menentukan peristiwa-peristiwa 6. Menentukan dilema dalam cerita
Cerita dilema moral ini dibuat setelah menganalisis nilai-nilai dalam materi Proklamasi, ada delapan nilai yang didapat, yaitu: tanggung jawab, nilai keberanian, rela berkorban, saling menghargai, nilai kebebasan, cinta tanah air, kerja sama, dan musyawarah dan mufakat. Dari delapan nilai ini ada lima nilai utama yang diambil, yaitu: tanggung jawab, cinta tanah air, rela berkorban, keberanian, dan pantang menyerah. Cerita dilema moral model VCT pertama ini berdasarkan nilai tanggung jawab.
1) Cerita satu tanggung jawab
Ririn adalah anak yang sangat religius, baik, ramah, menyenangkan dan peduli terhadap orang-orang di sekitarnya. Di sekolah Ririn merupakan anak yang biasa saja, tidak terlalu terkenal, namun memiliki prestasi yang lumayan di kelasnya. Ririn tinggal bersama teman-temannya di sebuah kontraka karena merantau ke kota lain untuk bersekolah. Di rumah itu terdapat 5 orang yang berbeda suku dan bahasa namun memiliki rasa kebersamaan dan saling menghargai, bisa dibilang mereka orang-orang baik yang Ririn temui di perantauan. Hal itu mendorong Ririn untuk terus membentuk karakternya lebih baik lagi.
Ririn saat ini mempunyai seorang pacar yang bersekolah di kota yang berbeda dengannya karena masa Covid-19 saat ini membuat keduanya tidak bisa bertemu dalam waktu yang cukup lama. Suatu hari Salma teman sebelah kamar Ririn meminta tolong untuk menemaninya membeli barang yang akan dikirim kepada ibunya di kampung halamannya. Setelah mereka bersepakat untuk berangkat pada esok hari jam 09.00 pagi, keduanya kembali melanjutkan aktivitasnya masing-masing.
Sekitar jam 20.30 malam Rendi kekasih Ririn menelpon dan mengatakan bahwa ia akan ke kota tempat Ririn tinggal, karena ada yang harus ia kerjakan di sana dan ia sekalian ingin menemui Ririn. Mendengar hal tersebut Ririn begitu antusias karena pertemuan ini akan mengobati rasa rindunya setelah sekian lama tidak berjumpa. Rendi mengajak Ririn bertemu pada jam 10.00 pagi. Di saat itu Ririn bingung untuk menjawab iya atau tidak, karena pada jam yang hampir bersamaan ia akan pergi bersama Salma. Namun karena rasa rindunya serta rasa antusias yang menyelimuti hatinya membuat ia mengatakan setuju tanpa mempertimbangkannya lagi. Ia akan memikirkannya besok, dan ia yakin pasti bisa mengatur waktunya tanpa membatalkan janji baik dengan Rendi maupun dengan Salma.
Namun ternyata Salma tidak bisa pergi selain jam 09.00 karena barang yang akan ia beli harus segera dikirim ke kampung halaman hari itu juga, ditambah lagi pada jam 12.00 ia ada kelas matematika. Mendengar hal tersebut Ririn bingung harus bagaimana, Ririn mempertimbangkan untuk menyarankan Salma meminta bantuan kepada teman yang lain, namun di sisi lain hatinya mengatakan bahwa ia harus bertanggung jawab untuk apa yang sudah ia katakan dan janjikan kepada Salma. Melihat situasi yang membingungkan, Ririn akhirnya
menghubungi Rendi dan menjelaskan bagaimana situasi dirinya serta bertanya apa mereka bisa bertemu lebih cepat dari jam yang sudah ditentukan, untungnya Rendi memahami dan mau untuk bertemu lebih cepat dari yang disetujui.
Mereka akhirnya bertemu, makan bersama dan saling berbagi cerita.
Setelah cukup lama bersama Ririn merasa harus segera pulang dan menemui Salma untuk belanja. Namun Rendi mengatakan bahwa ia ingin membeli sesuatu dan ia ingin Ririn menemaninya. Ririn mengatakan bahwa ia tidak bisa menemani karena sudah memiliki janji dengan Salma. Meskipun di dalam hatinya ia sangat ingin menemani kekasihnya. Dengan kata-kata manis, Rendi membujuk Ririn agar menemaninya. Terjadi tawar-menawar di dalam hati dan pikiran Ririn, di satu sisi ia sangat ingin pergi dengan Rendi apalagi pertemuan ini ternyata membuatnya semakin ingin dekat dengan nya namun di sisi lain hatinya mengingatkan bahwa ia memiliki janji yang harus ia tepati.
Cerita dilema moral ini dibuat setelah menganalisis nilai-nilai dalam materi Proklamasi, ada delapan nilai yang didapat, yaitu: tanggung jawab, nilai keberanian, rela berkorban, saling menghargai, nilai kebebasan, cinta tanah air, kerja sama, dan musyawarah dan mufakat. Dari delapan nilai ini ada lima nilai utama yang diambil, yaitu: tanggung jawab, cinta tanah air, rela berkorban, keberanian, dan pantang menyerah. Cerita dilema moral model VCT kedua ini berdasarkan nilai cinta tanah air.
2) Cerita kedua cinta tanah air
Pada hari Senin, Sulastri bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Ia menyiapkan sepedanya serta peralatan yang akan ia bawa, tak lupa ia membawa bekal yang sudah disiapkan oleh ibunya. Setelah berpamitan, Sulastri
mengendarai sepedanya dengan santai menuju sekolah. Sesampainya disekolah Sulastri masuk kelas dan bersiap untuk mengikuti pembelajaran. Pada jam istirahat Sulastri diminta tolong oleh kepala sekolah untuk mengambil berkas di atas meja kerjanya. Kepala sekolah memiliki ruangan khusus yang cukup jauh dari ruang guru hal itu kadang yang membuat Sulastri lesu saat diminta pertolongan oleh kepala sekolah, karena ia harus mengorbankan waktu makan siangnya. Saat Sulastri sudah dekat dengan ruangan kepala sekolah ia melihat dua siswa yang tidak ia kenal berada di depan kantor kepala sekolah dan sesekali melirik kekiri dan kekanan seperti sedang mengawasi sesuatu, tak lama kemudian seorang siswa muncul dari ruangan kepala sekolah.
Sulastri kaget karena ternyata itu adalah Calvaro anak yang terkenal dengan kenakalannya tetapi juga anak yang diperhitungkan oleh sekolah, karena orang tuanya merupakan salah satu donatur bagi sekolah tersebut. Sulastri mengambil ponselnya dan segera memotret anak-anak tersebut, untuk berjaga-jaga jika ada sesuatu yang terjadi. Tetapi sialnya tiba-tiba ponselnya berbunyi dengan cepat ia mematikan dan memasukan ponselnya ke saku roknya. Calvaro dan dua temannya menoleh kearahnya, Sulastri berusaha untuk tetap tenang.
Namun saat Calvaro dan dua temannya berjalan kearahnya ia mulai gemetar.
Dengan tatapan benci, ia mengancam jika Sulastri memberitahu siapa pun tentang apa yang sudah ia lihat, maka ia akan memastikan hidup Sulastri dan keluarganya tidak akan pernah damai lagi. Sulastri terdiam dengan takut mendengar acaman yang baru saja ia dengar. Satu sekolah tahu bagaimana sepak terjang seorang Calvaro, bukan hanya dari sekolahnya namun siswa dari sekolah lain juga menjadi korban kenakalan Calvaro. Bel berbunyi menyadarkan Sulastri, untuk segera mengambil berkas diruangan kepala sekolah.
Saat jam ketiga pelajaran dimulai, kepala sekolah dan guru BK tiba-tiba masuk kelas setelah berbicara sebentar dengan guru yang mengajar, kepala sekolah meminta semua tas diletakan diatas meja, meskipun dengan wajah kebingungan para siswa tetap melakukan apa yang sudah diperintahkan tak terkecuali Sulastri, Calvaro dan kedua temannya. Di dalam hati Sulastri sudah menebak-nebak apa yang telah terjadi. Guru yang mengajar dan guru BK segera memeriksa setiap tas para siswa dengan teliti dan detail. Sepertinya sesuatu yang hilang itu adalah barang berharga dan sangat bernilai.
Namun para guru tidak menemukan apa yang mereka cari. Salah satu siswa bertanya apa yang terjadi dan kepala sekolah menjelaskan bahwa barang berharga sekolah telah dicuri dari ruang kepala sekolah, dan ia yakin bahwa pelakunya ada disekolah ini. Setelah menjelaskan kepala sekolah segera keluar dan meminta Sulastri untuk datang kekantornya setelah pembelajaran usai.
Jantung Sulastri rasanya mau berhenti melihat kejadian yang telah terjadi.
Perasaan takut mulai menyelimutinya. Ia takut dikeluarkan dari sekolah karena
Perasaan takut mulai menyelimutinya. Ia takut dikeluarkan dari sekolah karena