BAB II KAJIAN PUSTAKA
C. Kerangka Berpikir
Berikut ini adalah skema kerangka berpikir dalam pengembangan bahan ajar sejarah model Value Clarification Technique (VCT) untuk siswa SMA Kelas XI Pada Materi Proklamasi.
Gambar I: Kerangka Berpikir
33 BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Penelitian dan pengembangan atau yang dikenal dengan Reseach and Developments (R&D) adalah sebuah strategi atau metode penelitian yang cukup banyak
digunakan dalam memperbaiki suatu produk, penelitian ini merupakan suatu proses atau langkah-langkah untuk mengembangkan suatu produk baru atau menyempurnakan produk yang telah ada serta dapat dipertanggung jawabkan.
Penelitian Research and Development (R&D) sangat populer digunakan dalam bidang pendidikan, yang bertujuan untuk memperbaiki, memberi solusi bagi setiap permasalahan yang dialami. Menurut Sugiono, metode penelitian dan pengembangan atau Reseach and Development adalah metode penelitian yang digunakan untuk menghasilkan produk tertentu, dan menguji keefektifan produk tersebut.40
Lalu menurut Gay, penelitian pengembangan di bidang pendidikan bukan penelitian yang akan menguji hipotesis, tetapi menghasilkan produk-produk kependidikan yang secara efektif dapat dimanfaatkan di sekolah41. Sedangkan menurut Borg & Gall, penelitian pengembangan adalah suatu proses yang dipakai untuk mengembangkan dan memvalidasi produk pendidikan42. Secara detail lagi Nana menjelaskan bahwa Penelitian Pengembangan (R&D) merupakan suatu proses atau
40 Sugiono, Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D, Bandung:
Alfabeta, 2017 hlm,407
41 Budiyono, pengantar metodologi penelitian pendidikan, Kentingan: UNS, 2017 , hlm,169
42 Punaji, Metode Penelitian Pendidikan dan Pengembangan, Jakarta : Kencana Prenanda Media Group, 2010, hlm.194
langkah-langkah untuk mengembangkan suatu produk baru atau menyempurnakan produk yang telah ada, yang dapat dipertanggungjawabkan.43 Wina juga menjelaskan bahwa R & D merupakan sebuah proses pengembangan dan validitas produk pendidikan.44
Dari beberapa pandangan para ahli, terutama definisi Sugiono dan menurut Borg
& Gall, peneliti mengambil kesimpulan bahwa penelitian pengembangan adalah sebuah penelitian yang digunakan untuk menghasilkan suatu produk baru yang sesuai dengan topik yang diinginkan.
B. Prosedur Penelitian dan Pengembangan
Langkah-langkah atas tahapan pengembangan dalam penelitian pengembangan yang digunakan peneliti adalah penelitian menurut Borg and Gall (1983) sbb:
1) Penelitian dan pengumpulan data (Reseach and information). Pengukuran kebutuhan, studi literatur, penelitian dalam skala kecil, dan pertimbangan-pertimbangan dari segi nilai.
2) Perencanaan (planning). Menyusun rencana penelitian, rumusan tujuan yang hendak dicapai dengan penelitian tersebut, desain langkah-langkah penelitian, memungkinkan pengujian dalam lingkup terbatas.
3) Pengembangan draf produk (develop preliminary form of product). Pengembangan pada bahan pembelajaran, proses pembelajaran dan instrumen evaluasi.
4) Uji coba di lapangan tahap awal (preliminary field testing). Uji coba dilapangan dilakukan di 1-3 sekolah dengan 6-12 subjek uji coba(guru). Dalam proses uji coba akan dilakukan pengamatan, wawancara dan pengedaran angket.
43 Nana, Metode Penelitian Pendidikan, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2005, hlm,164
44 Wina Sanjaya, Penelitian Pendidikan: Jenis, Metode dan Prosedur , Jakarta: Kencana, 2013 hlm, 129
5) Revisi hasil uji coba (main product revision), yang bertujuan untuk memperbaiki atau menyempurnakan dari hasil coba.
6) Uji coba lapangan (min field testing). Dilakukan uji coba dengan cakupan yang lebih luas 5-15 sekolah dengan 30-100 orang subjek uji coba. Data kuantitatif berupa penampilan guru sebelum dan sesudah menggunakan model yang akan diuji cobakan. Hasil dari pengumpulan data yang telah dievaluasi dan akan dibandingkan dengan kelompok pebanding.
7) Penyempurnaan produk hasil uji lapangan (operasional product revision). Untuk menyempurnakan produk hasil uji lapangan.
8) Uji pelaksanaan lapangan (operasional product revision). Dilaksanakan pada 10-30 sekolah dengan melibatkan 40-200 subjek. Pengujian akan dilakukan menggunakan angket, wawancara, dan observasi serta analisis hasilnya.
9) Penyempurnaan produk akhir (final product revision). Penyempurnaan didasarkan pada masukan atas uji pelaksanaan lapangan.
10) Diseminasi dan implementasi (Dissemination and implementation). Melaporkan hasilnya dalam pertemuan profesional dan dalam jurnal. Bekerjasama dengan penerbit untuk penerbitan.45
Gambar II : Tahapan Penelitian menurut Borg and Gall
45 Nana Syaodih,Metode Penelitian Pendidikan .... hlm, 169 Pegumpulan
Produk masal Uji Coba
Produk Potensi dan
Masalah
Berdasarkan proses tahapan penelitian pada gambar di atas, peneliti akan melakukan pengembangan bahan ajar hanya sampai pada tahap ke-tujuh yaitu penyempurnaan produk hasil uji lapangan. Peneliti tidak melanjutkan hingga tahap ke-sepuluh yaitu diseminasi dan implementasi oleh karena keterbatasan waktu peneliti.
Adapun draf produk yang dihasilkan peneliti akan divalidasi oleh tenaga ahli atau dosen ahli serta praktisi guru SMA yang memahami pengembangan nilai dan karakter. kemudian produk akan diuji coba kepada siswa/i.
C. Subyek dan Obyek Penelitian 1. Subyek Penelitian
d. Satu dosen ahli pendidikan karakter yang bertugas untuk menilai dari segi penanaman nilai karakter yang terdapat dalam cerita dilema moral dan memberikan penilaian melalui instrumen penilaian. Ahli pendidikan karakter dalam pengembangan produk ini adalah Ibu Laurensia Aptik Evanjeli, M.A yang merupakan dosen Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Beliau dipilih sebagai ahli pendidikan karakter karena ahli dalam bidang tersebut.
e. Dua orang guru sejarah yaitu Bapa Priyo Cahyono, S.Pd dan Bapa Bernaduse Pascal Alexander Wiharjo, S.Pd yang merupakan guru sejarah di SMA Bopkri 2 Yogyakarta
f. Siswa kelas XI IPS 1 SMA 2 BOPKRI 2. Obyek Penelitian
Obyek penelitian ini adalah pengembangan bahan ajar sejarah model Value Clarification Technique (VCT) pada Materi Proklamsi Kemerdekaan Indonesia.
D. Uji Coba Produk
Dalam menghasilkan produk yang layak bagi siswa, maka akan diperlukan tahap validasi, yang mana tahap ini bertujuan untuk mengevaluasi kekurangan-kekurangan yang harus diperbaiki dalam pengembangan produk. Tahap-tahap yang akan dilalui dalam merevisi isi produk bahan ajar sejarah dengan Model VCT untuk siswa SMA Kelas XI pada materi Proklamasi Kemerdekaan ini adalah:
1. Validasi dilakukan oleh dosen ahli pendidikan karakter yang akan memvalidasi produk bahan ajar pada aspek materi dan format
2. Validasi oleh praktisi (2 guru sejarah) SMA yang memvalidasi produk bahan ajar pada aspek materi dan kebahasaan
3. Revisi dilakukan sesuai dengan kritik dan saran dari kedua dosen ahli dan praktisi (guru sejarah)
4. Uji coba pada siswa
Uji coba pada siswa ini dilakukan oleh 21 orang siswa untuk mengetahui bahan ajar yang akan dikembangkan.
E. Jenis Data
Jenis data yang akan dipakai dalam penelitian ini adalah data kuantitatif dan data kualitatif. Data kuantitatif berupa alat tes, hasil validasi. Sedangkan data kualitatif mencakup kritik dan saran yang diberikan oleh ahli dan praktisi (guru sejarah).
F. Metode Pengumpulan Data
1. Analisis Materi pada bahan ajar sejarah kelas XI SMA yaitu pada buku Sejarah Indonesia untuk SMA/MA Kelas XI oleh Ratna Hapsari dan M.Adil. 2016 (Edisi Revisi)
2. Menentukan nilai-nilai yang terdapat pada materi Proklamasi 3. Membuat cerita dilema moral model VCT
4. Membuat alat tes model VCT
5. Angket merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan peneliti untuk mendapatkan informasi terkait produk yang dikembangkan melalui daftar pertanyaan secara tertulis. Menggunakan instrumen berupa kuesioner. Kuesioner adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang akan digunakan untuk memperoleh informasi dari responden.
Kuesioner digunakan untuk mendapatkan penilaian dari produk. Dalam penelitian ini kuesioner yang digunakan adalah kuesioner tertutup dimana peneliti menyediakan jawaban sehingga responden tinggal memilih. Melalui teknik ini diharapkan mendapatkan komentar dan saran dari ahli pendidikan karakter dan siswa, sehingga peneliti mampu menyempurnakan produk bahan ajar sejarah model VCT.
Tabel 1: Kisi-kisi Instrumen Pendidikan Karakter
No. Aspek Indikator
1. Aspek Materi Kejelasan isi cerita
Keruntutan alur cerita dilema moral
Kesesuaian nilai dengan tingkat kognitif siswa
Cerita dilema moral yang disajikan memberikan wawasan baru bagi siswa
Pesan dalam ceriata dilema moral mudah dipahami 2. Aspek Format Kesesuaian alur cerita dengan nilai-nilai sejarah
Keruntutan alur cerita dilema moral
Disajikan dengan pemilihan kata yang tepat dan mudah dipahami
Kejelasan alur cerita sehingga mudah dipahami Kelengkapan soal pada cerita dilema moral 3. Aspek
Kebahasaan
Kesesuaian bahasa dengan tingkat berpikir siswa Penggunaan bahasa sesuai dengan kaidah kebahasaan
Bahasa yang digunakan tidak menimbulkan makna ganda
Ketepatan pemilihan kata sehingga informasi yang disampaikan dapat tersampaikan dengan tepat
Bahasa yang digunakan mudah dipahami oleh siswa
G. Teknik Validasi soal
Teknik validasi data pada penelitian ini dilakukan oleh :
d. Dosen ahli pendidikan karakter; yang memvalidasi produk analisis nilai-nilai sejarah, cerita dilema moral dan alat tes.
e. Praktisi (2 guru sejarah), memvalidasi produk analisis nilai-nilai sejarah, cerita dilema moral dan alat tes
f. Siswa, memvalidasi alat tes
Menurut Sudjana, secara umum indeks kesukaran suatu butir soal sebaiknya terletak dalam kategori sedang yakni pada interval 0,31-0,70. Pada interval ini, informasi tentang kemampuan siswa akan diperoleh secara maksimal. Dalam merancang indeks kesukaran suatu perangkat tes. Kriteria tingkat kesukaran soal sebagai berikut :
Tabel 2: Tingkat kesulitan Soal
Kategori Kriteria
Sulit >0,7
Cukup Sulit 0,3-0,7
Tidak Sulit <0,3
Daya pembeda soal merupakan suatu kemampuan soal untuk membedakan kelompok peserta tes berkemampuan tinggi dan kelompok peserta tes berkemampuan rendah.46 Nilai
46 Nani Hanifah. Perbandingan Tingkat Kesukaran, Daya Pembeda Butir Soal Dan Reliabilitas Tes Bentuk Pilihan Ganda Biasa Dan Pilihan Ganda Asosiasi Mata Pelajaran Ekonomi. Hal 47. (Online)
daya pembeda dinyatakan melalui indeks daya pembeda. Makin tinggi atau makin besar indeks daya pembeda soal, makin besar rsoal tersebut membedakan antara kelompok tinggi dan kelompok rendah. Untuk menentukan daya pembeda dapat digunakan indeks diskriminas, indeks korelasi biserial, indeks korelasi point biserial, dan indeks keselarasan.
Pada analisis butir dalam penelitian ini, hanya digunakan
indeks korelasi poin biserial. Koefisien korelasinya untuk suatu butir soal ditentukan dengan rumusan:
r
pbis= [
𝑋−1−𝑋−𝑆𝑋
] √
1−𝑃𝑃11
Dengan (rpbis)= koefisien korelasi point biserial, X1 merupakan variabel kontinyu, (x), merupakan rerata skor X untuk peserta tes yang menjawab benar butir tersebut, (x) merupakan rerata skor X, sx merupakan standar deviasi dari skor X dan p1 merupakan proporsi peserta tes yang menjawab benar butir tersebut. Menurut Ebel dan Frisbie, indeks daya pembeda suatu butir yang kecil nilainya akan menyebabkan butir tersebut tidak dapat membedakan siswa yang kemampuannya tinggi dan siswa yang kemampuan rendah. Pada analisis tes dengan Cotent-Referenced Measures, indeks daya pembeda butir tidak terlalu perlu menjadi perhatian, asalkan tidak negatif. Jika nilainya kecil, menunjukkan bahwa kemencengan distribusi skor dari populasi, yang juga mengakibatkan validitas tes menjadi rendah.
Soal yang masuk kategori sulit dinyatakan tidak layak, jika dari 21 orang siswa yang menjawab benar hanya ada 20% sehingga tidak memenuhi kriteria. Kategori sulit yang dinyatakan layak adalah jika soal tersebut dapat diisi benar oleh siswa di diatas 20%. Soal dengan kriteria terlalu mudah dapat dinyatakan tidak layak dan soal dengan kriteria sulit juga dianggap tidak layak.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Analisis Kebutuhan
Penelitian pengembangan menurut Borg dan Gall terdapat 10 langkah yang harus diikuti dari awal sampai akhir. Namun ke-10 langkah tersebut tidak digunakan secara sempurna atau menyeluruh oleh peneliti dikarenakan situasi pandemi Covid-19 dan keterbatasan waktu yang dimiliki oleh peneliti. Kegiatan analisis kebutuhan yang dilakukan dalam penelitian ini, yakni mengumpulkan informasi berdasarkan potensi masalah pada saat kegiatan belajar mengajar di dalam kelas.
Kegiatan pembelajaran yang masih menggunakan metode ceramah membuat peserta didik mudah bosan dan tidak memperhatikan penjelasan guru, apalagi pada saat ini, semua dilakukan secara daring. Akan semakin sulit untuk membuat peserta didik memiliki minat untuk mengikuti pembelajaran. Berdasarkan pengalaman peneliti pada saat PLP-KP dan juga melihat kondisi yang terjadi saat kegiatan pembelajaran, peserta didik cenderung merasa bosan dan tidak tertarik dengan pembelajaran yang diberikan.
Penggunaan model dan bahan ajar menjadi salah satu hal penting ketika mengajar.
Belum banyak bahan ajar yang menekankan pada nilai-nilai karakter, sehingga pembelajaran hanya sekedar memberikan informasi saja tanpa disertai nilai-nilai karakter
yang dapat ditemukan dalam setiap materi belajar. sehingga dalam penelitian ini peneliti akan mengembangkan suatu produk bahan ajar sejarah dengan model VCT.
Berdasarkan hal tersebut peneliti melakukan penelitian agar tercapainya tujuan pembelajaran yang semestinya dengan menginplementasikan nilai karakter pada materi.
Peneliti menganalisis nilai-nilai dalam materi pembelajran lalu mengembangkan menjadi cerita dilema moral dengan tujuan membantu peserta didik untuk lebih berpikir secara kritis, menemukan dan mengamalkan nilai karakter dalam kehidupannya. Dalam cerita dilema moral terdapat pertanyaan-pertanyaan segi kognitif, afektif, dan psikomotorik bagi peserta didik. Melalui soal-soal evalusia tersebut peserta didik akan menemukan, memilih dan menentukan perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai karakter yang ditemukan dan dapat menerapkannya dalan kehidupannya sehari-hari.
B. Deskripsi Produk
Produk yang dikembangkan dalam penelitian ini adalah cerita dilema moral sebagai bahan ajar bagi siswa. Bahan ajar ini memuat tentang nilai-nilai karakter tanggung jawab, nasionalisme, pantang menyerah, keberanian, dan rela berkorban yang dikembangkan dari materi Proklamasi. Dengan cerita dilema moral siswa menganalisis, memilih dan menemukan nilai karakter yang terdapat dalam cerita. Sehingga nilai tersebut akan menjadi pilihannya dan menjadi karakter dalam dirinya. Dibawah ini merupakan format desain produk awal cerita dilema moral.
1. Materi Ajar Sejarah Kelas XI Pada Materi Proklamasi KD 3.7 A. Peristiwa Sekitar Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
1. Kekalahan Jepang Dalam Perang Asia Timur Raya
Perjanjian penyerahan (Kapitulasi) Jepang kepada Sekutu ditandatangani secara resmi di atas kapal USS Missouri pada 2 September 1945, dengan wakil Sekutu
Jenderal Douglas McArtur dan Wakil Jepang Menteri Luar Negeri Mamoru Shigemitsu.
Peristiwa pengeboman besar di Hirosima dan Nagasaki membuat Jepang tidak punya pilihan lain selainmenyerah kepada Sekutu. Hal ini ditambah lagi pengeboman Sekutu atas kawasan-kawasan industri strategis di Jepang, termasuk industri galang kapal. Akibat pengeboman ini membuat Jepang semakin terpuruk apalagi hancurnya armada-armada dagang membuat pasokan bahan mentah terhambat. Seharusnya pengeboman ini tidak terjadi jika Jepang menerima isi Deklarasi dan yang dikeluarkan pada 26 Juli 1945 oleh Harry S.Truman
2. Perbedaan Pendapat tentang Proklamasi Kemerdekaan dan Peristiwa Rengasdengklok
Sekitar setahun sebelum penyerahan Jepang tanpa syarat kepada Sekutu, pada 7 September 1944, Perdana Menteri Jepang Kuniaki Koiso telah mengumumkan sikap resmi pemerintah Jepang: Bahwa daerah Hindia Timur akan diperkenankan merdeka.
Lalu dibentuklah sebuah lembaga untuk mempersiapkan kemerdekaannya yang disebut Dokuritsu Junbi Coosakai atau BPUPI (Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan). Pada saat Sekutu menjatuhkan bom atom di kota Nagasaki membuat Jepang menyerah secara resmi, berita pengeboman ini menyebar di seluruh aktivis muda di Indonesia, membuat rencana kemerdekaan itu menjadi topik yang harus dibahas.
Meskipun masih banyak pertimbangan untuk segera memproklamasikan Kemerdekaan tapi para aktivis muda memaksa membawa Soekarno dan Hatta ke Rengasdengklok untuk segera memproklamasikan kemerdekaan. Setelah adanya perundingan antara golongan muda dan golongan tua akhirnya disepakati bahwa kemerdekaan akan segera diproklamasikan selambat-lambatnya tanggal 17 Agustus
3. Penyusunan Naskah Proklamasi
Saat dalam proses menuju penyusunan teks Proklamasi, Nishimura memberikan kabar bahwa Tokyo tidak mengizinkan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia sebab perjanjian kapitulasi mensyaratkan Jepang menjaga status que di semua negara yang didudukinya. Namun Sukarno dan Moh. Hatta tidak menghiraukan kabar tersebut, mereka bergegas menuju rumah Laksamana Maeda untuk menyiapkan teks Proklamsi ada pun yang hadir dalam penyusunan teks Proklamasi itu adalah, Achmad Soebardjo, Soekarni, Burhanudin Muhammad Diah, Sudiro, dan Syauti Melik.
Setelah teks Proklamsi selesai Sukarno meminta Sayuti Melik untuk mengetik teks tersebut dan ditanda tangani oleh Sukarno dan Hatta. Upacara Proklamsi Kemerdekaan akan dilaksanakan di halaman rumah Soekarno, yaitu di Jalan Pegangsaan Timur No.56 Jakarta.
4. Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
Saat pagi hari, halaman rumah Sukarno sudah penuh dengan sejumlah pemuda yang sudah siap mendengarkan dan menyaksikan pelaksaan Proklamsi Kemerdekaan. Tiang bendera yang terbuat dari bambu telah berdiri kokoh dihalaman rumah Sukarno dan disanalah bendera Merah Putih yang dijahit ibu Fatmawati akan dikibarkan. Dengan diawali dengan pidato yang bergelora Sukarno membacakan teks Proklamsi. Bagi Indonesia, Proklamsi telah membawa perubahan besar bagi bangsa Indonesia serta juga memberikan makna yang terdalam seperti:
1. Merupakan titik puncak perjaungan Bangsa Indonesia 2. Indonesia terlepas dari belenggu penjajahan
3. Negara Republik Indonesia Lahir 5. Penyebaran Berita Proklamasi
Setelah Proklamsi kemerdekaan dilaksanakan, pada saat itu juga salinan teks Proklamsi disampaikan kepada Kepala Hoso Kanri Kyoku atau Pusat Jawatab Radio, berita Proklamasi diberitakan tiga kali berturut-turut, meskipun pada saat itu berita Proklamsi sempat dihentikan oleh tentara Jepang tapi atas perintah Palenewen, berita Proklamsi tetaap disiarkan. Selain melalui siaran radio, berita tentang Kemerdekaan Indonesia disebarluaskan juga melalui surat kabar, Pamflet, poster, serta coretan-coretan di gerbong kereta api dan dinding-dinding kota. Berita kemerdekaan juga disebarkan secara langsung oleh para utusan Proklamasi yang menghadiri sidang PPKI.
B. Pembentukan Pemerintahan Indonesia dalam Sidang PPKI (18-22 Agustus 1945)
1. Hari Pertama:Mengesahkan Undang-Undang Dasar serta Memilih Presiden dan Wakil Presiden. Pada 18 Agustus 1945 PPKI menggelar sidang pertama pada masa Jepang. Dalam sidang tersebut berhasil mengeluarkan beberapa keputusan, yaitu:
a) Mengesahkan dan menetapkan undang-undang dasar sebagai konstitusi negara (yang dikenal dengan Undang-Undang Dasar 1945)
b) Memilih Ir. Sukarno sebagai presiden dan Drs.Moh.Hatta sebagi wakil, yang berarti Indonesia menerima sistem pemerintahan presidensial
c) Untuk semestara waktu Presiden akan dibantu oleh sebuah komite nasional Sebelum Undang-Undang Dasar 1945 disahkan, terdapat beberapa perubahan didalamnya, yaitu:
a) Kata “ Muqaddimah” diubah menjadi “Pembukaan”
b) Perubahan pada alinea keempat anak kalimat “Ketuhanan Yang Maha Esa, dengan kewajiban menjalannya syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” diubah menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa”
c) “Menurut Kemanusiaan yang adil dan beradab” diubah menjadi “Kemanusian yang adil dan beradab”
d) Pasal 6 Ayat (1) “Presiden ialah orang Indonesia asli dan beragama Islam” diubah menjadi “Presiden adalah oran Indonesia asli”
Perubahan-perubahan tersebut terjadi setelah tikoh-tokoh dari Indonesia yang beragama Kristen, mengajukan keberatan terhadpa rumusan lama yang terlalu bercorak Islam. Dengan jiwa besar serta dilandasi semnagt untuk menjaga persatuan bangsa, para tokoh Islam mengubah kalimat tersebut.
2. Hari kedua:Pembentukan Kementerian dan Pembagian Wilayah
Pada sidang kedua pada tanggal 19 Agustus PPKI menetapkan membentuk 12 departemen, menunjuk para pejabat departemen, serta menetapkan wilayah Republik Indonesia yang meliputi delapan provinsi sekaligus menunjuk gubernurnya, selain itu ditetapkan pula adanya 12 kementerian dalam kabinet dan lembaga negara
Pembentukan kabinet menjadi hak prerogatif (istimewa) presiden. Pada 2 september 1945, bertempat di Hotel Miyako Presiden Sukarno melantik kabinet pertama Republik Indonesia, yang terdiri dari 12 menteri depertemen, 4 menteri negara, dan 4 pejabat negara. Inilah kabinet pertama Republik Indonesia.
3. Hari ketiga:Membentuk Tiga Badan Baru (KNI,PNI, dan BKR)
Pada sidang hari ketiga, presiden memutuskan berdirinya tiga badan baru, yaitu Komite Nasional Indonesia (KNI), Partai Nasional Indonesia (PNI), dan Badan Keamanan Rakyar (BKR). Dengan dibentuknya ketiga badan baru maka PPKI resmi dibubarkan
C. Dukungan dan Reaksi Rakyat Indonesia terhadap Proklamasi Kemerdekaan
Kemerdekaan yang dikumandangkan pada 17 Agustus 1945, disambut dengan gembira dan penuh semangat untuk mempertahankannya, bendera merah putih
dikibarkan dimana-mana. Pekik “Merdeka” menjadi salam nasional. Keadaan tersebut mengambarkan dukungan luas rakyat terhadap Proklamasi, reaksi langsung dan dukungan tampak di mana-mana, diantaranya sebagai:
1. Comite van Actie (Komite Aksi) 2. Dukungan pemimpin keresidenan
3. Pernyataan Sri Sultan Hamengku Buwono IX 4. Reaksi Lapangan Ikadar di Jakarta
2. Analisis Nilai-nilai Sejarah Pada Materi Proklamasi
Menurut Max Scheler nilai-nilai tidak dapat dilihat secara langsung, karena tersembunyi dibalik peristiwa, kejadian dan perbuatan, sehingga nilai-nilai harus dicari dan ditemukan dibalik peristiwa dan perbuatan.4 Tahapan menganalisis nilai-nilai adalah :
a) Membaca dan mencermati peristiwa-peristiwa sejarah yang terdapat pada materi Proklamasi
b) Mencari nilai-nilai dalam materi Proklamasi
c) Menemukan nilai-nilai sejarah yang ada pada materi sejarah d) Memilih nilai-nilai utama yang akan dikembangkan
e) Membuat cerita dilema moral model VCT
Berdasarkan tahapan-tahapan dalam menganalisis nilai-nilai tersebut, peneliti telah melakukan analisis pada materi Proklamasi KD 3.7 dalam buku paket Sejarah Indonesia untuk SMA/MA Kelas XI dan Buku Sejarah Nasional. Maka nilai-nilai yang terkandung dalam materi tersebut sebagai berikut:
4Paulus Wahana, Op.Cit hlm 44
Tabel 3 : Analisis Nilai-nilai Sejarah
No Materi Sejarah Nilai sejarah Cerita Dilema
Moral
menghargai Cerita dilema 1
2. Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
Kebebasan, cinta tanah air, kerja sama, musyawarah dan mufakat.
Tabel 4: Nilai-nilai yang dikembangkan No Nilai yang
Dikembangkan
Uraian
1. Tanggung Jawab Sikap atau tindakan yang bersungguh-sungguh dalam segala hal, disiplin dapat dipercaya, dan jujur dalam bertindak
2. Cinta Tanah Air Sikap atau tindakan cinta tanah air melalui cara berpikir, bersikap, dan perbuatan.
Tindakan mencintai bangsa dan negara serta memiliki hasrat untuk bersatu sebagai satu bangsa Indonesia
3. Rela Berkorban Sikap atau tindakan yang bersedia mengorbankan segala-galanya untuk kejayaan dan kemakmuran tanah airnya, semangat demi bangsa dan negara.
4. Keberanian Sikap atau tindakan yang tidak pernah takut terhadap tantangan berani membela kebenaran, ebrani mengakui kesalahan dan berani berjuang untuk hidup lebih baik.
5. Pantang Menyerah Sikap atau tindakan yang tidak mudah putus asa dalam melakukan segala hal, perasaan yang optimal serta bangkit dari
5. Pantang Menyerah Sikap atau tindakan yang tidak mudah putus asa dalam melakukan segala hal, perasaan yang optimal serta bangkit dari