C. Politik Etis
C.1. Dari Tagore hingga Terciptanya Elit Modern
Secara kronologis di atas telah dijelaskan mengenai Perang Jawa, cultuurstelsel, pembangunan pengetahuan Barat atas Jawa, hingga munculnya novel Max Havelaar yang menjadi retakan sejarah yang memisahkan masa cultuurstelsel dengan Politik Etis. Politik Etis secara resmi dimulai ketika pada tahun 1901, Ratu Wilhelmina mengumumkannya sebagai jawaban bagi kritik-kritik atas cultuurstelsel yang dinilai telah menyengsarakan masyarakat Hindia-Belanda, dan sudah saatnya jika pribumi merasakan kemajuan yang dibawa oleh pemerintah Belanda dalam penjajahannya. Kemajuan, menjadi sebuah kata yang tidak hanya populer sebagai sebuah cita-cita namun menjadizeitgeist dari periode Politik Etis. Untuk mencapai pengertian mengenai ‘kemajuan’ tersebut, maka pada bagian ini akan dijelaskan mengenai salah satu aspek dari praktek kebijakan Politik Etis yang dimaksudkan untuk mencapai ‘kemajuan’, yaitu pendidikan.
Pada tahun 1927 Rabindranat Tagore berkunjung ke Yogyakarta, yaitu ke Java-Instituut.94 Kunjungannya ke Java-Instituut tampak dalam sebuah foto yang diambil bersama Mangkoenegara VII, seorang yang mendanai kegiatan Java-Instituut. Di dalam kunjungannya di Yogyakarta, Tagore mengunjungi candi Baraboedoer yang menjadi simbol kejayaan masa Hindu-Budha. Tagore adalah salah satu penganut paham teosofi, yaitu sebuah paham mengenai bersatunya Barat-Timur. Melalui kunjungannya dapat dipahami bahwa Java-Instituut dekat dengan paham teosofi. Pandangan teosofi di Hindia-Belanda cukup banyak
mendapat simpati, dan paham ini masuk dalam perbincangan pada kongres kebudayaan tahun 1918 di Surakarta, melalui salah satu pemimpinnya yaitu Van Hinlopen Laberton. Di dalam pidatonya yang sangat khas kolonialis, ia menyatakan mengenai kemajuan Jawa yang harus menerima kemajuan Barat.95
Persatuan antara Barat-Timur tampak menjadi agenda besar yang harus dilaksanakan di wilayah koloni Hindia-Belanda. Persatuan antara Barat-Timur inilah yang akan dicapai oleh Java-Instituut, yaitu kebangkitan Jawa dengan menerima kemajuan Barat sebagai sebuah peradaban. Java-Instituut menjadi tempat diolahnya ide-ide kemajuan dalam kebudayaan Jawa.
Percampuran antara Barat-Timur menjadi program-program kerja kolonialis-kolonialis untuk menyatukannya. Barat-Timur bukanlah dua hal yang patut dipertentangkan lagi. Pandangan ini tampak dalam ide-ide kemajuan yang didukung oleh kebijakanPolitik Etis. Di dalam prakteknya ide pendidikan dibagi menjadi 2 aliran, yaitu dalam permasalahan bagaimana dan untuk siapa pendidikan diberikan.96
Aliran pertama didukung oleh Snouck Hurgronje, dan J.H. Abendanon yang mendukung pendekatan yang bersifat elitis, dan yang kedua oleh Fock yang mendukung pada pendidikan kejuruan. Bagi S. Hurgronje dan Abendanon, pendekatan elit dicapai dengan pendidikan yang bergaya Eropa dengan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar. Ide ini menghasilkan sebuah masyarakat baru, sebuah masyarakat yang tercerahkan. Lapisan masyarakat ini adalah bentuk dari kolaborasi antara penjajah dengan terjajah dan merupakan hegemoni dari
95‘Congres Voor Javaansche Cultuur-Ontwikkeling te Solo 5-7 Juli 1918’,Djawa,1921. hal. 315
pemerintah Belanda. Sutherland mengungkapkan lebih jauh mengenai sifat lapisan masyarakat ini yang merupakan korps kepegawaian pribumi untuk memerintah rakyat dibawahnya. Lapisan masyarakat ini merupakan tempat bermuara dua kekuasaan, yaitu posisi mereka sebagai wakil pemerintah Belanda, dan di sisi lain korps ini merupakan pewaris dari kekuasaan pra-kolonial. Korps kepegawaian pribumi ini sebagai sebuah kerja sama politik tidak selamanya tunduk dalam satu kekuasaan pada pemerintah Belanda, tetapi merupakan wilayah tawar menawar berbagai kepentingan.97
Hasil dari pendidikan elit ini dapat dilihat melalui seorang pangeran Bantam yang menjadi proyek asosiasi antara Barat-Timur di bawah asuhan Engelenberg dan Snouck Hurgronje. Sebuah perjalanan hidup Achmad Djajadiningrat yang dengan antusias menceritakan segala hal yang ditemui melalui bahasa Belanda, seperti memasuki sebuah kehidupan yang serba ‘putih’ dalam ruang yang sepenuhnya ‘hitam’.98 Bimbingan ala Barat ini juga diikuti oleh adik Achmad yaitu Hoesein Djajadiningrat yang di kemudian hari menjadi voorzitter, ketua, dariJava-Instituut, dan yang kelak mengikuti jejak S. Hurgronje sebagai seorang filolog sekaligus seorang yang ahli dalam bidang Aceh.
Achmad dengan penuh rasa hormat memuji S.Hurgronje yang telah membawanya ke sebuah dunia kemajuan. Kesulitan-kesulitan yang dirasakan ketika memasuki sistem pendidikan Barat menjadikan ia semakin yakin bahwa
97 Heather Sutherland, 1983:Terbentuknya Sebuah Elite Birokrasi, Sinar Harapan, Jakarta, 1983. hal. 26-27.
98 S.Hurgronje memberikan metode belajar pada Acmad untuk menceritakan segala sesuatu yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari dalam bahasa Belanda.lihat selengkapnya A. Djajadiningrat, 1936:Kenang-kenangan Pangeran Aria Achmad Djajadiningrat, Kolff-Buning – Balai Pustaka, 1936. hal. 77.
peradaban Barat adalah peradaban yang tinggi, dan mulia, bahkan jika harus dibayar dengan nama barunya Willem Van Bantam.99 Dengan ini Barat dapat dengan bangga telah membuahkan seorang yang Almost The Same But Not Quite/White.
Di dalam artikelnyaEen Stuk Van Den Arbeid Van Prof. Snouck Hurgronje in het Belang van de intelectueele Ontwikkeling van Het Indonesische Volk.100
Achmad memberikan pujian bagi pembimbingnya Snouck Hurgronje atas apa yang telah dilakukannya yang merupakan sebuah keuntungan bagi masyarakat Indonesia. Ide-ide pendidikan yang diutarakan distudeerkamer merupakan sebuah bukti kesungguhan Hurgronje untuk mengangkat bangsa Indonesia.101
Penciptaan masyarakat baru ini, seperti yang dapat dilihat pada Achmad dan Hoesein Djajadiningrat adalah sebuah bentuk masyarakat yang merupakan hasil dari pendidikan Barat, yaitu sebuah masyarakat ‘antara’. Menurut konsep mimikri Fanon:
“Inviting black subject to mimic white culture.”102
Sebuah masyarakat yang diciptakan untuk menirukan gaya hidup Barat. Bagi bangsa Barat peniruan ini tidak akan pernah menyamai persis seperti bangsa Barat, sehingga peniruan ini juga digunakan untuk memproduksi secara terus menerus perbedaan antara Barat dan Timur. Inilah sikap ambivalen bangsa Barat. Suatu hal yang lucu bagi bangsa Barat melihat seorang pribumi yang memakai jas, tetapi tetap memakai kain jarik. Tampilan-tampilan dalam berpakaian ini tentu
99ibid.,hal. 84.
100 R.A.A.A. Djajadiningrat, 1927: ‘Een Stuk van de Arbeid van Prof, Snouck Hurgronje in Het Belang van de Intelectueele Ontwikkeling van Het Indonesische Volk’,Djawa, Jaargang VII.
101ibid.,hal. 65.
saja bagi bangsa Barat menggambarkan seorang Jawa yang terlihat kekanak-kanakan, sehingga seorang seperti Achmad di mata bangsa Barat tidak akan pernah sepenuhnya menyamai apa yang ditirunya. Mimikri bagi Foulcher adalah sebuah arena yang dipenuhi kekaburan makna. Walaupun mimikri merupakan proses produksi perbedaan antara Barat-Timur, namun konsep mimikri Bhaba memberi ruang terjadinya olok-olok terhadap bangsa Barat. Bhaba berpendapat bahwa:
“Invitation it self undercuts colonial hegemony.”103
Selain digunakan untuk memproduksi perbedaan antara Barat dan Timur, peniruan ini juga ada akhirnya akan memotong hegemoni kolonial, karena peniruan tidak pernah berhasil menyamai dengan yang ditiru, sehingga membuat tidak mapannya kebudayaan Barat yang ditiru tersebut. Hal ini terlihat dalam upaya penjajaran masyarakat pribumi dengan Barat melalui pendidikan. Pendidikan yang semula menjadi alat untuk mengangkat derajat pribumi, akhirnya menjadi arena bagi segala kekuatan yang terlepas dan tanpa kontrol.
C.2. Kongres Bahasa dan Kebudayaan 1918 dan Landasan Berdirinya