• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kongres Bahasa dan Kebudayaan 1918 dan Landasan Berdirinya Java- Java-Instituut

C. Politik Etis

C.2. Kongres Bahasa dan Kebudayaan 1918 dan Landasan Berdirinya Java- Java-Instituut

Sebagai permulaan, bagian sub-bab ini sangat berguna untuk memahami peta pemikiranJava-Instituut. Peta pemikiranJava-Insitituut ini memperlihatkan pada posisi mana pemikiran Java-Insitituut berdiri, pada kelompok manakah pemikiran Java-Instituut berkembang, dan pada konteks politik seperti apa

pemikiranJava-Instituut hadir. Melalui pemetaan ini akan diketahui beberapa hal pokok dalam tulisan ini, seperti: akan terbuka mengenai kekuasaan pengetahuan atas pribumi, akan diketahui pentingnya penguasaan pengetahuan dalam ruang kolonialisme, dan akan diketahui seberapa besar pengaruh Java-Instituut pada suatu lapisan masyarakat. Pemetaan ini memberikan indikasi bahwa teks-teks yang beredar memiliki batasan-batasannya dan memberikan batasan-batasan pada kelompok teks yang lain.

Kelompok kesatuan teks-teks ini akan tergambarkan melalui kelompok politik yang menjadi tempat teks-teks ini beredar. Gagasan Kenji Tsuciya mengenaiJava-Instituut sebagai kemunculan partisipasi pribumi dalam studi-studi Jawa sangatlah berarti untuk memberikan eksistensi Java-Instituut,104 tetapi konteks politik juga penting untuk dilihat, sehingga posisiJava-Instituut memiliki kekhususan pada zamannya. Java-Instituut berdiri pada tahun 1919 yaitu pada saat konteks politik di Hindia-Belanda mencapai titik yang penting. Titik tersebut adalah munculnya nasionalisme yang dicirikan dengan munculnya berbagai pergerakan di Hindia-Belanda. Konteks politik ini sangat penting untuk dijadikan dasar untuk melihat pada posisi lapisan manakahJava-Instituut berdiri.

Pada tahun 1918 di Sala diselenggarakan kongres bahasa dan kebudayaan Jawa. Kongres ini sangat penting dilihat sebagai pintu masuk untuk memahami Java-Instituut. Laporan kongres ini diterbitkan pada awal penerbitannya di jurnal Djawa tahun 1921. Penerbitan laporan kongres ini memperlihatkan pentingnya

kongres tersebut bagi pemikiran Java-Instituut. Berikut ini akan dideskripsikan mengenai kongres tersebut.

Kongres ini dimulai oleh Muhlenfeld, Tjipto, Van Hinlopen Laberton, Soetatma Soeriokoesoema, Radjiman, dan Stokvis sebagai pembicara pertama. Secara garis besar kongres ini adalah debat politik yang kedua antara Tjipto dengan Soetatma.105 Namun, selain pada debat politik akan dilihat juga pendapat-pendapat yang lain mengenai kebudayaan Jawa.

Di dalam kongres tersebut Muhlenfeld yang menjadi pembicara pertama mengkritik bahwa masyarakat Jawa telah memutuskan diri dari masa lalu, sementara itu Muhlenfeld memuji Boedi Oetomo yang pada gerakan ekonomi, dan politik memiliki dasar perkembangan intelektual daripada SI(Sarekat Islam) dan Insulinde.106 Mengenai permasalahan kebudayaan Jawa, Muhlenfeld dapat disejajarkan dengan Soetatma yang memandang bahwa hanya dengan dasar masa lalu dapat dibangun kebudayaan yang baru.107 Pengetahuan mengenai masa lalu menjadi titik perhatian Muhlenfeld. Baginya pengaruh Hindu sangat besar, dan sejak kedatangan Hindu, orang Jawa banyak mengenal seni. Mengenai pendidikan, Muhlenfeld mengemukakan bahwa bahasa Jawa tidak boleh diabaikan, dengan menunjuk pada sekolah pribumi (Indische Middelbarescool). Mengenai kebudayaan Jawa, Muhlenfeld berpendapat untuk berjaga-jaga terhadap kemungkinan adanya chauvinisme, sehingga menjauhkan perpecahan bangsa

105 Takashi Shiraisi, 1981: ’ The Disputes Between Tjipto Mangoenkoesoemo And Soetatmo Soeriokoesoemo: Satria vs Pandita’,Indonesia, No. 32, Cornell Southeast Asia Program, Oktober. hal. 93.

106Op.,cit. ‘Congres Voor Javaansche Cultuur-Ontwikkeling te Solo 5-7 Juli 1918’,Djawa, op.,cit. hal. 314-315.

Jawa, sehingga kesatuan kebudayaan bangsa Jawa dapat tercapai, yaitu persatuan antara kebudayaan Bali, Sunda, dan Madura. Sebuah kebersamaan untuk mengembalikan masa lalu.108

Kongres ini sangat berarti terutama bagi Tjipto dan Soetatma, karena kongres ini merupakan perdebatan yang kedua kalinya mengenai ide nasionalisme. Secara garis besar dapat dibagi dua macam ide nasionalisme yang berkembang di Hindia-Belanda, yaitu, nasionalisme etnis, seperti nasionalisme Jawa, atau Sumatera, dan nasionalisme Hindia. Secara prinsip dua ide nasionalisme ini berlawanan, karena nasionalisme Jawa mendasarkan pada kesamaan etnik, dan nasionalisme Hindia mencakup seluruh etnis di Hindia dengan memandang seluruh etnis memiliki kedudukan yang sama.109 Sebagai contoh yang baik mengenai debat antara nasionalisme Jawa dan nasionalisme Hindia adalah debat antara Tjipto dengan Soetatma yang memperdebatkan ide nasionalisme dan perkembangan kebudayaan Jawa.110

Di awal perdebatannya sebagai pembicara kedua pada awal kongres, Tjipto menyatakan bahwa Jawa bukanlah pemberian dari Hindu. Pendapatnya berlawanan dengan Muhlenfeld, dan juga berlawanan dengan Soetatma yang disebutnya seorang yang hanya melihat ke masa lalu yang indah. Tjipto berpendapat bahwa Jawa harus menerima pengetahuan Barat melalui teknik, dan eksaktanya. Sebagai kritik terhadap ide nasionalisme Soetatma, Tjipto

108 Lihat “Prae-adviezen van Muhlenfeld Loc.cit.,

109 Hans Van Miert, 2003:Dengan Semangat Berkobar, nasionalisme dan gerakan pemuda di Indonesia, 1918-1930, KITLV-Hasta Mitra-Pustaka Utan Kayu, Jakarta, 2003. hal. 15-33.

menyebutkanJong Java sebagai salah satu contoh bentukchauvinisme.111 Sebagai seorang priyayi rendah, Tjipto mengajukan contoh tradisi Jawa sebagai kritik atas masyarakat Jawa yang masih mewarisi sistem kasta dan feodal yang juga mengatur dalam pergantian jabatan bupati.112 Kritik tersebut tentunya tepat juga ditujukan pada Soetatma sebagai seorang priyayi yang tinggi. “Janganlah dibutakan oleh masa lalu” kata Tjipto kemudian, dan Tjipto berkomentar mengenai Soetatma, bahwa:

Het prae-advies van Soetatmo achtte hij dan ook in vele opzichten naief. Deze naam te veel schitterschijn van het verleden als waarheid aan.113

(Penjelasan Soetatmo, kemudian juga ia anggap pandangan yang naïf. Anggapan ini terlampau banyak dengan masa lampau yang berkilauan sebagai kenyataan.)

Berseberangan dengan Tjipto, Soetatma berpendapat bahwa hakekat diri manusia diperoleh dari pengetahuan jati dirinya. Jika bangsa Timur dengan kepercayaan Tuhan, maka bangsa Barat dengan alamnya, oleh sebab itu kebudayaan Jawa harus menuju pada kebangkitan rohaniah.114 Soetatma menambahkan bahwa pendidikan yang terpenting bagi bangsa Jawa adalah budi pekerti, dan tidak cocok jika bangsa Barat yang mengajarkannya. Perdebatan antara Tjipto dengan Soetatma merupakan tipikal perdebatan pada masa kolonial yang mengetengahkan wacana Barat sebagai wacana superior. Jika Tjipto mengetengahkan keharusan masyarakat Jawa menerima pengetahuan Barat, maka sebaliknya Soetatma menekankan kembalinya masa lalu.

111 LihatPrae-adviezen Van Tjipto op.cit, hal. 315.

112Ibid., bandingkan dengan Takashi Shiraishi.op. cit. hal. 95.

113 Ibid.,

Pada hari berikutnya yaitu tanggal 6 Juli 1918, Hoesein Djajadiningrat, yang merupakanvoorzitter Java-Instituut di kemudian hari, memberikan pandangannya pada kongres sebelumnya pada tanggal 5 Juli 1918. Ia membuka kalimat dengan mengucapkan tujuan kongres yaitu:“De Ontwikkeling van een eigen cultuur.”115

Selanjutnya menanggapi pendapat Muhlenfeld, ia mengatakan pendapat Muhlenfeld tidak benar, karena Muhlenfeld melihat seakan-akan pada tahun 1500 puncak kejayaan kebudayaan Jawa direbut dengan kekerasan oleh Islam, tetapi mungkin terjadi di abad sebelumnya pada kerajaan Hindu. Ia juga berpendapat bahwa pendapat Tjipto tidak benar, pendapatnya mengenai keharusan kebudayaan Jawa yang harus menerima kemajuan Barat seakan-akan menggambarkan kebudayaan Jawa Kuna tidak akan bertahan dalam kebudayaan yang telah berubah.116

Melalui uraian di atas yaitu mengenai kongres kebudayaan Jawa yang berlangsung dari tanggal 5-7 Juli 1918, dapat diketahui konteks politik saat itu. Melalui topik-topik yang dibicarakan oleh pembicara-pembicara tersebut di atas dapat dipahami bahwa nasionalisme merupakan pembicaraan utama, baik bagi Muhlenfeld, Tjipto, Soetatma, maupun Hoesein Djajadiningrat. Nasionalisme yang mulai diperdebatkan oleh Tjipto dihadapkan pada kebudayaan Jawa yang mendapat tanggapan oleh Soetatmo dan Hoesein Djajadiningrat. Konteks ini sangat penting untuk melihat berdirinyaJava-Instituut satu tahun kemudian.

Tjipto menjadi lawan yang baik dalam memperdebatkan superioritas kebudayaan Jawa. Tjipto yang mengusung nasionalisme Hindia menjadi garis

115 ibid.,hal. 319.

batas antara pembicara yang lain, yang mengusung nasionalisme Jawa, seperti Soetatma, Muhlenfeld atau Hoesein Djajadiningrat. Melalui perdebatan yang menggambarkan dua kelompok, yaitu antara nasionalisme Hindia dan nasionalisme Jawa, dapat diketahui di posisi manakahJava-Instituut berdiri.

Pendapat Muhlenfeld yang menghendaki adanya kesatuan kebudayaan antara kebudayaan Jawa, Sunda, Bali, dan Madura mencirikan tujuan Java-Instituut yang berdiri pada wilayah-wilayah kebudayaan tersebut. Java-Instituut dengan tujuan berdirinya yang mengumpulkan kebudayaan Jawa, Sunda, Bali, dan Madura, berdiri pada dasar ide-ide nasionalisme yang didukung oleh Soetatma, Hoesein Djajadingrat, dan Muhlenfeld.

Kongres kebudayaan Jawa yang berlangsung di Sala ini merupakan perdebatan politik yang diikuti oleh kaum terdidik pribumi, yang sebagian besar adalah para priyayi. Melalui kelompok ini dapat diketahui di manakah posisi sistem pemikiranJava-Instituut, yaitu pada kelompok intelektual hasil pendidikan Belanda. Mereka adalah kaum tercerahkan oleh pendidikan Belanda, dan topik-topik yang diperdebatkan mencirikan posisi mereka di antara lapisan masyarakat yang lain yang tidak menerima pendidikan Barat. Jika menurut konsep Homi Bhaba, kelompok ini adalah masyarakat ‘antara’. Lapisan masyarakat yang diciptakan oleh kolonial Belanda untuk menjadi perantara bagi masyarakat di bawahnya, sehingga tidak mengherankan, jika dikemudian hari Java-Instituut hanya didiami oleh kelompok-kelompok ini, yaitu kalangan yang mengenyam pendidikan Barat.

Pendapat Kenji Tsuciya yang menempatkan Java-Instituut sebagai partisipasi pribumi di wilayah kajian ilmu masyarakat pribumi, akan sangat berarti jika ditempatkan dalam konteks politik pada saat Java-Instituut berdiri. Tidak hanya partisipasi dalam wilayah keilmuan, tetapi keikutsertaan pribumi pada wilayah politik kolonial Belanda. Sebuah masyarakat ‘antara’ yang diciptakan sebagai perantara antara penjajah dan terjajah. Konteks politik ini yang akan membedakan gaya berpikir Javanolog awal dengan periode Java-Instituut. Ideologi kemajuan pada abad XX menjadi ciri dan memberikan gaya berpikir baru dalam telaah-telaah teks-teks Jawa.

Kelompok masyarakat ‘antara’ inilah yang menerima banyak pengaruh dari sistem pemikiran Barat. Pengaruh sistem pemikiran Barat dalam pengetahuan mengenai pribumi ini sangat besar, dan akan terlihat dengan jelas pada sistem pemikiran Java-Instituut. Gaya berpikir Barat dalam kajiannya mengenai masyarakat Jawa yang diambil oleh Java-Instituut mencerminkan penguasaan kesadaran, penguasaan pengetahuan pada kalangan terdidik pribumi. Melalui kajian mengenai sistem pemikiran ini, juga diketahui kekuasaan kesarjanaan Barat dalam aktivitas pengetahuan mengenai masyarakat Jawa.

Dapat disimpulkan bahwa terdapat pergeseran-pergeseran dalam studi Jawa dari periode cultuurstelsel hingga Politik Etis dengan berdirinya Java-Instituut. Sejak abad XVII hingga abad XX, studi Jawa yang dilakukan oleh Javanolog adalah untuk membangun sebuah pengetahuan mengenai Jawa melalui studi-studi lexicon, kamus, dan grammatika. Studi ini tetap berlanjut hingga berdirinya Java-Instituut, namun periode Politik Etis memberikan kekhususan bagi Java-Instituut

untuk mempraktekkan studi Jawa, dan dengan tujuan yang sangat khas yaitu demi kemajuan masyarakat pribumi. Studi-studi Jawa yang berupalexicon, kamus, dan grammatika pada periode cultuurstelsel menjadi penunjang untuk mendidik para eleves yang akan menjadi Javanolog, dan melaluiJava-Instituut studi-studi Jawa ini menjadi alat untuk mencerahkan masyarakat pribumi. Studi Jawa oleh Javanolog yang sebelumnya merupakan pembangunan pengetahuan bagi Barat telah bergeser menjadi pembangunan pengetahuan demi kemajuan pribumi. Munculnya Max Havelaarlah yang memungkinkan adanya pergeseran, dan menjadi tanda keretakan sejarah pemikiran antara periode cultuurstelsel hingga Politik Etis dengan berdirinya Java-Instituut, sehingga dapat tercapai sebuah pemahaman mengenai studi Jawa pada kedua periode tersebut.

BAB III