B. Latar Belakang Historis
B.4. Max Havelaar dan Representasi Dunia Timur
Tahun-tahun berakhirnya cultuurstelsel ditandai oleh munculnya sebuah novel yang ditulis oleh Eduard Douwes Dekker yang diterbitkan pada tahun 1860. Novel ini berjudul “Max Havelaar atau Lelang Kopi Persekutuan Dagang Belanda”, yang menggambarkan kehidupan pribumi yang sangat buruk di tanah jajahan Hindia-Belanda. Di dalam novelnya Eduard Douwes Dekker menyembunyikan identitasnya dengan nama Multatuli. Di dalam penjelasan sejarah kolonial, periode cultuurstelsel diakhiri dengan munculnya kritik-kritik terhadap kebijakan cultuurstelsel yang melakukan eksploitasi pribumi, dan dimulai oleh sebuah keputusan pada tahun 1901 yang diumumkan oleh Ratu Wilhelmina. Namun, novel ini memberikan arti penting melebihi sebuah kritik
terhadap kebijakan cultuurstelsel. Novel ini dalam sejarah pemikiran menjadi sebuah peralihan, pergeseran dari ilmu-ilmu Barat yang diperankan oleh Javanologi. Javanologi dengan metode-metode kesarjanaannya pada periode cultuurstelsel menjadikan sejarah pemikiran Jawa tradisional sebagai obyek, namun dengan novel Max Havelaar dimulai sebuah periode baru dalam sejarah pemikiran yaitu representasi dunia kolonial di Jawa.
Cultuurstelsel tidak hanya menjadikan penduduk pribumi sebagai obyek dalam eksploitasi ekonomi, tetapi di dalam ruang kajian Javanologi, masyarakat dan pemikiran Jawa juga menjadi obyek. Dengan munculnya novel Max Havelaar, ilmu-ilmu Barat memiliki kekuatan untuk melakukan representasi atas kehidupan pribumi di tanah kolonial Jawa. Periode yang baru ini adalah periode yang menunjukkan otoritas-otoritas kesarjanaan Barat untuk melakukan representasi atas Jawa.
Pada pendahuluan novelnya, Multatuli mengatakan sebuah ucapan yang menunjukkan otoritas atas representasinya atas kehidupan di Jawa:
“Ja, Aku bakal Dibatja.”85
Kata-katanya ini menunjukkan bagaimana novel ini akan menjadi representasi terhadap kehidupan yang sangat buruk di Jawa akibat eksploitasi cultuurstelsel. Tidak hanya menjadi bacaan yang luas sebagai bukti dari kata-kata Multatuli tersebut, tetapi karyanya telah menjadi inspirasi bagi seorang novelis orientalis terkenal yang bernama Joseph Conrad.86 Di dalam novelnya yang berjudul The
85 Multatuli, 1972:Max Havelaar atau Lelang Kopi Persekutuan Dagang Belanda, Djambatan, Jakarta . hal. XI.
86 G.J. Resink, 1968:Indonesia’s History Between The Myths, Essays in Legal History and Historical Theory, W. Van Hoeve Publishers Ltd-The Hague. hal. 307.
Rescue, Joseph Conrad mengambil gambaran mengenai kampung-kampung di Jawa yang ditulis dalam Max Havelaar.87
Novel ini menempatkan Max Havelaar sebagai tokoh utama yang melakukan penceritaan atas apa yang dilihatnya di Hindia-Belanda. Ia adalah seorang wakil bagi Timur untuk bicara atas kondisi-kondisi yang buruk di tanah jajahan. Novel ini menceritakan seorang Barat yang hidup di Hindia yaitu, tempat yang berbahaya dan tidak aman bagi seorang Barat seperti dirinya.88 Selanjutnya tokoh Max Havelaar menggambarkan bagaimana sistem pemerintahan kolonial berjalan. Max Havelaar menggambarkan kehidupan pribumi yang hidup dalam kemiskinan, dan penindasan pemerintah jajahan. Pribumi merupakan tenaga yang harus melayani kepentingan kolonial.89 Max Havelaar juga menggambarkan mengenai birokrasi kolonial Belanda. Kekuasaan residen diceritakan selalu memberikan laporan yang tidak benar kepada pemerintah Belanda. Residen di Hindia selalu mengatakan keadaan di Hindia yang maju, aman, dan makmur, sebaliknya penduduk hidup di bawah kemiskinan, dan kesewenangan pemerintah jajahan.90 Selain residen, bupati-bupati di Hindia juga menindas penduduk pribumi. Bupati digambarkan oleh Max Havelaar sebagai seorang yang selalu hidup mewah agar di hormati oleh rakyat biasa.91 Seluruh penceritaan yang dilakukan oleh tokoh Max Havelaar adalah cerita mengenai kehidupan masyarakat
87 Sebagian besar novel Conrad terinspirasi dari perjalanannya ke Sumatra, Sulawesi, dan Jawa. Novelnya yang mendapat inspirasi dari daerah kepulauan Hindia antara lainThe Mirror of The Sea, The Arrow of Gold, Almayers Folly, The Nigger of The Narcissus. Mengenai biografinya lihat Encyclopedia Britanica, Vol.5, 1983, USA. hal. 28-31.
88Multatuli,op.cit. hal. 216-217.
89Ibid.,hal. 219
90Ibid.,hal. 224-225
pribumi yang ditindas tidak hanya oleh pemerintah Belanda, tetapi juga oleh para bupati.
Novel ini merupakan representasi mengenai kehidupan masyarakat pribumi yang hidup di bawah penindasan pemerintah jajahan di Hindia. Kondisi masyarakat jajahan ini menjadi sebuah disiplin intelektual, yaitu karya yang imajinatif. Representasi dari novel tersebut adalah kehadiran ulang dunia Jawa, yaitu sebuah kehadiran bagi dunia Jawa yang bisu dan tidak mampu bicara, mengenai keadaan kemiskinan masyarakat pribumi, dan mengenai kejahatan kolonial. Masyarakat di tanah jajahan telah dicabut, ditata ulang, dan disajikan dalam bentuk karya imajinatif, yaitu sebuah novel.
Melalui Max Havelaar, Multatuli memiliki otoritas atas masyarakat di tanah jajahan. Ia adalah seorang ahli, yang berhadapan dengan masyarakat di tanah jajahan yang tidak mampu bicara atas namanya sendiri, dan novel ini mengisi posisi yang dengan otoritasnya berbicara atas nama kebenaran.92 Kebenaran mengenai kejahatan-kejahatan kolonial, kemiskinan pribumi, dan dunia kolonial menjadi dunia tekstual yang dipisahkan dengan realitasnya.
Multatuli dengan novelnya menjadi sebuah titik awal untuk memahami Politik Etis. Di dalam novelnya, masyarakat Jawa adalah representasi dari kemiskinan, kejahatan-kejahatan kolonial yang mengukuhkan posisi Barat sebagai sebuah peradaban yang tercerahkan. Representasi dalam novel tersebut membawa Barat sebagai sebuah penolong bagi pribumi dari kemiskinan, keterbelakangan, namun di sisi lain menciptakan hubungan yang timpang antara peradaban maju
dengan peradaban yang terbelakang. Representasi ini juga menjadi jembatan bagi Barat dan menjadi tugas mulia bangsa Barat yang sering disebut sebagai ‘the white burdens.’ DibukalahPolitik Etis sebagai sebuah periode yang memberikan kemajuan dan kesejahteraan bagi pribumi.
Max Havelaar adalah sebuah penentangan atas kondisi pribumi dan kebijakan cultuurstelsel. Ricklef menyebut Max Havelaar sebagai senjata yang ampuh dalam menentang rezim penjajahan pada abad XIX di Jawa.93Kemunculan karya Max Havelaar ini kemudian mendorong Van Deventer untuk mengkritik kebijakan kolonial Belanda. Kritikan ini membuka kebijakan baru yang disebut Politik Etis, yaitu kebijakan yang bertujuan untuk mengangkat bangsa pribumi. Karya Max Havelaar merupakan sebuah representasi mengenai dunia Timur yang membawa Barat sebagai peradaban yang unggul melalui tujuan mulia mengangkat bangsa pribumi dari kejahatan kolonial.
Sebagai sebuah pemikiran, novel yang ditulis oleh Multatuli ini membawa ke sebuah periode yang baru, periode yang memberikan tempat pada kuasa ilmu-ilmu Barat untuk mempresentasikan masyarakat pribumi. Novel ini juga membawa pada pemahaman mengenai Java-Instituut sebagai sebuah representasi masyarakat pribumi. Kajian-kajiannya mengenai masyarakat Jawa, Sunda, Bali, dan Madura merupakan sebuah representasi.